
Rizki terus terdorong oleh serudukan babi itu, ia memegangi taring babi itu. Dengan sekuat tenaga Rizki mencoba menahan kekuatan babi itu.
Namun usahanya sia-sia, Rizki tetap terdorong karena kekuatan babi itu sangatlah kuat. Namun perlahan Rizki berhasil menahan serudukan babi itu, lalu dengan sekuat tenaga Rizki melemparkan babi itu kesamping.
Babi itu terjatuh dan terbaring. Melihat itu Rizki yang merasakan adanya kesempatan langsung berlari untuk menjauh dari babi itu.
"Coba kuingat, apa yang dikatakan kakek tua itu kemarin..." kata Rizki sembari berlari kencang.
..........
Kembali ke hari sebelumnya, terlihat Rizki dan Doni yang sedang berdiri didepan sebuah kandang peternakan.
"Anu, sebenernya apa yang mau kita lakukan? bukannya latihan kan?" ucap Rizki ke Doni yang sedang berdiri didepan pintu kandang.
"Ya kita latihan lah. Kau memakai jet kune do, kan?" sahut Doni, ia berbalik ke arah Rizki, "aku punya latihan yang cocok untukmu," katanya.
"Latihan yang cocok untukku? bukannya aku cuman harus mukulin samsak dari kayu?" balas Rizki.
"Latihan yang kuno sekali. Aku mulai!" ucap Doni serentak dengan nada tinggi, ia juga membuka pintu kandang itu.
Lalu seekor babi yang berukuran lumayan besar, keluar dari kandang itu. Babi itu mengendus-endus tanah, lalu ia mengangkat kepalanya dan memfokuskan pandangannya ke Rizki.
Dari belakang babi itu, terlihat Doni yang berdiri.
"Hei bocah, kau harus mematahkan taring babi ini dengan pukulan. Itu saja, semoga kau masih hidup." katanya.
Tiba-tiba babi itu langsung berlari dan mencoba menyeruduk Rizki dengan taringnya. Namun Rizki berhasil menghindar dengan tepat waktu.
"Ini sudah pukul 18:50, dan kau memintaku untuk mematahkan taring babi ini?! SIAALL!!!"
Teriak Rizki sembari berlari kabur dari kejaran babi itu.
..........
Kembali ke hutan, Rizki yang sedang berlari dari kejaran babi hutan, tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. Ia berniat menghadapi babi itu, ia pun membalikkan badannya dan bersiap-siap melawan babi itu.
Rizki melompat-lompat kecil, bersiap untuk menyerang babi itu. Begitupun babi hutan yang sedang Rizki hadapi, mahkluk itu menaikan kecepatan berlarinya untuk memberikan serudukan yang lebih kuat.
Disaat jarak antara mereka berdua hampir dekat, Rizki berlari mendekati babi itu dan melayangkan pukulan yang penuh tenaga ke arah tengah kepala babi itu.
"HIYAATT!!!"
Pukulan itu mendarat di kening babi tersebut, pukulan Rizki terlihat membekas dalam. Babi itu perlahan kehilangan kesadarannya dan terjatuh di tanah.
"Dia pingsan? oh iya, taringnya!"
__ADS_1
Rizki langsung memukul-mukul taring kanan milik babi itu dengan tangan kanannya, ia berharap tangannya bisa mematahkan taring yang keras itu.
Tak lama kemudian ia berhasil mematahkan taring kanan babi itu, namun tangan kanannya terlihat berdarah karena usahanya untuk mematahkan taring itu.
Disaat ia akan mematahkan taring kirinya, tiba-tiba babi itu terbangun dengan mata yang memerah. Melihat itu, Rizki segera mundur dan bersiap akan amukan babi hutan tersebut.
"ROOAAAAARRRRR!!!!!"
Benar saja. Babi itu mengeluarkan suara yang keras. Lalu tanpa ancang-ancang, babi itu menyundul Rizki sampai terlempar jauh.
...***...
Beralih ke tempat Naufal dan Rain. Terlihat darah mengucur dari sebuah tangan, penyebabnya adalah sebuah keris yang menancap di tangan tersebut.
Terlihat juga Naufal dengan ekspresi kaget melihat punggung seseorang yang ada didepannya. Orang itu adalah Parfait. Ia menahan tusukan keris milik Rain.
"Tanganku berdarah nih," kata Parfait.
Melihat itu Rain segera melepaskan keris yang masih tertancap di tengah-tengah telapak tangan Parfait. Ia perlahan mundur, kakinya nampak gemetaran karena syok.
"Rainala, apa kau mencoba membunuh Naufal?" tanya Parfait sembari mencabut keris yang tertancap di tangannya.
Rain terlihat ketakutan, ia merasa bahwa ia hampir menjadi seorang pembunuh. Namun dalam pikirannya, ia malah heran dengan Parfait yang menahan serangannya tanpa kesakitan.
"Apa-apaan ini?! kau tidak kesakitan oleh senjata itu?"
"Oh ini? harusnya ini sakit. Mungkin karena kau masihlah lemah, jadi ini tak terasa," jawab Parfait.
Lalu sebuah tangan meraih dan menarik kerah pakaian Rain. Itu adalah Naufal dengan wajah yang terlihat kesal sekaligus marah.
"Hei Rain! apa maksudmu?" kata Naufal dengan keras.
Rain tak berani menatap wajah Naufal, ia terlalu takut untuk menatap orang yang hampir ia bunuh.
"Sialan. Jika kau tak suka dengan Twenty Seven pergilah!" ucap Naufal sembari menyingkirkan Rain.
Naufal pergi dari tempat itu, ia terlihat marah dengan perbuatan Rain.
...***...
Beralih ke tempat berlatih di padepokan. Terlihat seseorang sedang menendang-nendang angin dengan gerakan teknik taekwondo. Orang itu adalah Dani.
Disana juga terlihat Doni yang sedang memantau latihan Dani, ini disebabkan karena Dani adalah orang yang paling lemah diantara kawan-kawannya.
Di pergelangan kaki Dani terlihat sebuah pemberat. Pemberat itu memiliki berat sekitar 3 KG perkaki.
__ADS_1
"Stop!!"
Doni memberhentikan latihan Dani. Lalu ia berjalan mendekati Dani.
"Bagaimana? berat?" tanya Doni.
"Tentu saja! ini terlalu berat untuk kakiku!" jawab Dani.
Mendengar itu Doni menendang Dani, sehingga menyebabkan Dani terlempar oleh tendangan itu.
"Dilihat dari manapun, kau ini yang paling lemah diantara yang lain," kata Doni, "aku tanya kau, apa kau bisa melakukan split dengan sempurna?" tanyanya.
"Split? tentu saja tidak!" jawab Dani dengan tegas.
"Pantas saja. Itulah mengapa semua teknik tendangan mu tidak sempurna. Darimana kau belajar semua teknik itu?" lanjut Doni.
"Aku hanya melihat Sabeum memperagakannya, lalu aku meniru dan melatihnya di rumah. Itu saja," jawab Dani.
(Sabeum adalah julukan bagi seorang instruktur Taekwondo.)
"Masuk akal sekali. Bagaimana jika kita berlatih menyempurnakan Taekwondo-mu itu? tubuhmu juga sangat menyedihkan," ucap Doni sembari menatap sedih tubuh Dani.
"Lepaskan pemberat itu," katanya kepada Dani.
Dani langsung melepaskan pemberat itu, ia langsung melompat-lompat kegirangan karena lega. Namun sebaliknya, Doni malah tersenyum menyeringai melihat sikap Dani.
"Lakukan split sebisanya, cepat!" tegas Doni.
Tanpa pikir panjang, Dani langsung menurutinya. Ia mencoba melakukan split, namun tak sempurna. Dani juga terlihat menahan rasa sakit karena tak terbiasa dengan split.
"Tahan!" tegas Doni lagi.
Ia berjalan mengitari Dani yang sedang melakukan split. Ia mengamati kondisi tubuh Dani. Lalu ia berhenti di belakangnya, perlahan ia memegangi bahunya.
"Aaa-anu...., anda sedang apa?" tanya Dani dengan gugup sekaligus menahan rasa sakit.
"Tidak ada kok. hehehehe."
Doni tertawa kecil. Lalu tanpa basa basi, ia menekan bahu Dani dengan sekuat tenaga.
"ARRRRRRGGGGGGHHHHHHH!!!!!!!" Dani berteriak kesakitan.
Itu membuat Dani yang berhasil melakukan split sempurna walaupun harus menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Bagaimana bocah? kau bisa melakukan split loh." ucap Doni sembari tersenyum jahat.
__ADS_1
"Brengs*k, kau benar-benar seorang pria tua brengs*k!!!"
...##Sistem Raja Pecundang##...