
"Menjodohkan anak kita, Naufal dan Fanni." Kata Surya sembari tersenyum lebar.
"Hah? Maksud anda apa? Mereka masih sangat muda loh,," sahut Bambang dengan ekpresi kesal.
"Bambang dengar, bukankah lebih baik jika kita menjodohkan mereka dari kecil?" Balas Surya, "ini juga bisa menyatukan perusahaan kita,"
"Memang benar sih, tapi bagaimana dengan perasaan mereka? Saya tidak mau Fanni memaksakan perasaannya!" Tegas Bambang sembari menatap Surya dengan tajam.
Surya menanggapi ucapan Bambang, ia meminum sebuah kopi, "aku juga tidak mau memaksakan perasaan mereka, ini semua tergantung kepada mereka." Kata Bambang sembari menoleh kearah kiri.
...~...
Berpindah ke Naufal dan Fanni yang sedang berada di luar restoran Sebenarnya Naufal tidak mengajak Fanni bermain dengannya, itu dikarenakan Naufal belum mengenal Fanni.
Terlihat juga Fanni yang hanya berdiam diri sembari melihat Naufal yang sedang berlari-larian kesana-kemari. Fanni terlihat sangat malu dihadapan Naufal, ia sangat ingin mengobrol dengan Naufal namun malu untuk berbicara.
Naufal yang melihat itu merasa kesal, ia menghampiri Fanni. Naufal berdiri tepat di hadapan Fanni, "kamu dari tadi liatin aku terus, ada apa hah?" Geram Naufal dengan kelakuan Fanni.
"E-eh, nggak kok! Aku gak liatin kamu," bantah Fanni sembari memalingkan wajahnya.
"Hah? Jelas-jelas kamu liatin aku terus!" Lanjut Naufal, ia pun meredakan rasa kesalnya, "jadi, kamu anak om tadi?" Tanya Naufal dengan nada tenang.
Fanni pun menoleh ke arah Naufal, "iya, kenapa memangnya?" Tanya Fanni.
"Tidak ada, aku hanya mencari topik pembicaraan saja," jawab Naufal, ia pun duduk di sebuah kursi yang disediakan oleh restoran, "yaudah, ayo ini duduk," ajak Naufal.
Fanni pun duduk di sebelah Naufal, "omong-omong, kamu sekolah dimana?" Tanya Fanni.
"Aku? Aku sih sekolah di SDN 230 Permatasari. Oh iya, panggil aja aku Naufal," balas Naufal sembari tersenyum kecut.
"230 Permatasari?! Kita satu sekolah dong! Aku Fanni, dari kelas 3B," ungkap Fanni dengan ekspresi riang.
"Kebetulan banget! Aku dari kelas 3C Fan," ucap Naufal, ia pun berdiri dan mengulurkan tangannya ke Fanni, "ayo main di sekitar sini Fan," ajak Naufal.
Fanni meraih tangan Naufal. Setelah itu, mereka berdua pergi meninggalkan restoran itu. Naufal membawa Fanni ke sebuah taman bermain.
Disana Naufal dan Fanni bermain perosotan bersama-sama. Raut wajah yang bahagia terukir pada wajah mereka berdua. Terutama Fanni yang senang karena mendapatkan teman baru.
Setelah itu mereka beristirahat sejenak. Naufal berbaring di pasir, ia menatap langit, "pasti akan lebih seru jika adikku juga ikut," ucap Naufal kepada Fanni.
__ADS_1
"Adik kamu? Yang rambutnya di kuncir dua tadi ya?"
"Iya. Omong-omong, kamu punya teman di sekolah?"
Fanni pun tersenyum, "tentu saja. Aku lumayan punya banyak temen, yang paling sering main sama aku sih cuman Alisa," ujar Fanni. Ia pun berdiri dan menaiki tangga menuju ke perosotan.
Belum sempat Fanni naik, ia terhenti karena tangannya di pegang oleh Naufal.
"Enak ya, kamu punya temen yang tulus. Kalau aku merasa tidak punya teman walaupun banyak orang di sisiku,"
"Maksudnya? Aku gak ngerti Naufal,"
Naufal pun berdiri dan menarik Fanni. Saat itu, Naufal memeluk Fanni dengan erat. Air mata mulai membasahi matanya, "aku hanya di kelilingi oleh orang yang hanya menginginkan uangku!" Rengek Naufal mengeratkan pelukannya.
Fanni merasakan sebuah rasa kesedihan dan kesepian yang di rasakan oleh Naufal. Ia balik memeluk Naufal, tangannya mengelus-elus rambut Naufal.
"Tenang aja Naufal, aku mau kok jadi temen kamu! Hehehe." Fanni tersenyum lebar, ia melepaskan pelukannya. Lalu menarik tangan Naufal, mengajaknya ke sebuah tempat.
"Aku haus, ayo cari beli minuman!" Ajaknya dengan senyum indah yang terukir di wajahnya.
(Itulah kedekatan pertama, antara putriku dan Naufal. Lalu,)
...~...
Singkat cerita, Naufal dan Fanni tiba di sebuah kedai minuman. Mereka berdua memesan jus mangga. Naufal dan Fanni sedikit berbincang sembari menunggu pesanan mereka berdua sampai.
"Fan, si Alisa itu yang rambutnya pendek kan?"
"Iya. Dia anak polisi loh, lalu ada satu lagi temenku,"
"Siapa itu? Cowok?" Tanya Naufal berharap di berikan jawaban yang pasti.
"Iya. Dia cowok. Namanya Dani," Fanni membungkukkan badannya, "katanya dia pacaran sama Alisa lho," bisik Fanni sembari tersenyum.
"Eh?! Yang bener?!" Sahut Naufal dengan suara yang kencang, "mereka kan masih kecil, kok udah pacaran?" Lirih Naufal dengan mengernyitkan dahinya karena heran.
Fanni hanya mengangguk-angguk. Tak lama setelah itu, pesanan mereka telah tiba. Fanni langsung membayar kedua jus yang mereka pesan. Lalu beranjak pergi dari tempat itu bersama Naufal.
...~...
Diperjalanan, tepatnya di sebuah tempat parkiran kendaraan. Naufal dan Fanni singgah untuk menikmati minuman yang mereka beli. Namun, dari kejauhan terlihat seorang anak dengan badan gemuk dan kulit berwarna sawo matang mengawasi mereka.
__ADS_1
"Itu kan si Naufal," anak itu berlari menuju teman-temannya yang sedang bermain bola di pantai. Dengan nafas terengah-engah, ia berteriak, "Woy! Gua liat si Naufal tadi. Bareng cewek lagi!" Teriaknya.
Teriakan itu terdengar di telinga bocah bernama Aldo. Badannya besar dan terlihat di pelipisnya terukir tatto harimau. Aldo menghampiri bocah gemuk tadi, "dimana dia?" Tanya nya dengan aura yang menyeramkan.
"Di-disana!"
Bocah gemuk itu pun menunjukkan tempat Naufal dan Fanni berada. Lalu, semua anak-anak itu berjalan bersama-sama ke tempat yang ditunjukkan.
"Aku gak nyangka bakal ketemu sumber uang ku disini."
Aldo berjalan sembari terkekeh-kekeh, ia senang karena ingin memeras Naufal.
Sesampainya di tempat Naufal. Aldo melihat Naufal yang sedang berduaan dengan gadis cantik, yaitu Fanni. Seketika Aldo langsung merasakan perasaan suka ke Fanni.
"Hei Naufal, lagi apa?"
Naufal pun menoleh. Seketika ia terkaget dengan kedatangan Aldo. Di mata Naufal, Aldo adalah orang yang mendekatinya hanya karena uang.
"Eh Aldo, kok ada disini? Lagi liburan juga?"
"Iya. Omong-omong, siapa cewek di samping kamu itu ?" Tanya Aldo sembari melirik kearah Fanni dengan genit.
"Oh ini? Kenalin, dia Fanni. Temenku,"
"Temen kamu?" Kata Aldo mengernyitkan dahinya, "beneran kamu punya temen?" Ucap Aldo menyindir Naufal.
"Loh, kok nyindir gitu sih? Fanni memang temenku," tegas Naufal membalas sindiran Aldo.
***"Kalau mau terlihat keren, aku harus jatuhin Naufal biar cewek itu suka aku," batin Aldo sembari tersenyum ke arah Fanni.
Fanni yang tak nyaman langsung bersembunyi di punggung Naufal. Begitu juga Naufal, ia merasa tak nyaman dengan kedatangan Aldo dan teman-temannya.
"Kalian bisa pergi gak? Fanni kayaknya gak nyaman deket-deket sama kalian,"
Aldo yang mendengar itu langsung merasa kesal, ia mengepalkan tangannya dan mengarahkannya ke Naufal.
"Sekarang kamu sombong ya Naufal," Aldo mengangkat tangannya. Lalu mengarahkannya ke arah Naufal, "kalian, serang Naufal!" Teriaknya.
Setelah itu, dua anak dari kelompok Aldo berjalan mendekati Naufal. Mereka bersiap-siap untuk memukuli Naufal.
Dua anak itu berlari ke arah Naufal dengan tangan mengepal dibelakang, mereka akan memukul Naufal secara bersaman. Namun, hal yang tak terduga terjadi. Naufal malah menyerang balik keduanya dengan pukulan Jab yang cepat dan keras, sehingga membuat kedua anak itu jatuh.
__ADS_1
"Kalian lupa aku siapa? Juara boxing kelas 2 SDN Permatasari." Tegas Naufal dengan tatapan membunuh.
...##Sistem Raja Pecundang##...