
Dua Minggu telah berlalu.
Saat ini, di SMK Plus 27 dibuat heboh oleh pengumuman yang disampaikan oleh Kepala sekolah, Parfait Saputra. Sang kepala sekolah itu mengumumkan bahwa SMK Plus 27 akan memiliki sebuah Fight Club.
Tentu berita ini juga didengar oleh seluruh anggota kru Twenty seven, termasuk Naufal. Semua anggota kru sangat senang akan hal itu.
Selama ini, anggota kru Twenty seven melakukan kerja serabutan untuk kebutuhan kru. Mereka melakukan ini atas perintah Naufal yang juga bekerja sebagai pengawal.
Dengan munculnya Fight Club, maka mereka hanya harus bertarung untuk mendapatkan uang. Akan tetapi mereka tak tahu siapa saja yang akan mereka lawan nanti.
...~~~...
Beralih ke ruang kelas TKJ. Terlihat seorang pemuda tengah tidur dengan posisi duduk. Ia tertidur sangat lelap. Disampingnya terlihat seorang perempuan yang mengelus-elus rambutnya.
Mereka adalah Naufal Setyadi, dan Fanni Wijaya Kusuma. Nampaknya mereka berdua sedang bermesraan di kelas. Tentu saja mereka menjadi pusat perhatian, apalagi bagi para murid jomblo. Mereka terlihat kesal, namun disaat bersamaan mereka juga meratapi kehidupannya yang suram.
"Sial, beruntung banget si Naufal!!" gerutu salah satu murid.
Fanni hanya tersenyum. Ia terus memandang wajah Naufal yang ketiduran. "Hihi... lucunya" lirihnya. Lalu Fanni mengalihkan pandangannya kebelakang.
Terlihat 2 lelaki yang sedang berbincang-bincang, mereka adalah Rizki dan Zulfi. Kini Rizki mewarnai rambutnya menjadi putih. Dia mulai aktif kembali sebagai idol.
[FYI: Di SMK Plus 27 tidak ada larangan pewarnaan rambut. Makanya sekolah ini menjadi incaran bagi para remaja yang tak suka dengan aturan razia rambut.]
"Hei!" Fanni memanggil mereka berdua. Membuat Naufal terbangun dari tidurnya. Namun Naufal berusaha tidur kembali.
Zulfi dan Rizki menoleh ke arah Fanni. "Apa?" sahut Rizki.
"Kalian gak ikutan, kan? perihal 'Fight Club' itu" tanya gadis itu.
"Tentu ka-" Zulfi berniat menjawabnya, namun terpotong oleh Naufal.
"Kalau kami ikutan, memangnya kamu mau apa?" tanya Naufal, memotong ucapan Zulfi. Lalu Naufal mengubah posisinya, duduk tegak. "Hoaaam.."
Fanni terlihat kesal dengan pertanyaan Naufal. Lalu ia menjewer telinganya. Sontak membuat Naufal kesakitan. "Oh... kamu ikutan, ya?!"
"Aw... Sakit, Fan. Sakit!"
Rizki mendekat ke arah mereka berdua, disusul oleh Zulfi. "Kalau itu bukan kami yang mau, tapi kepala sekolah yang nyuruh" ujar Rizki.
"Kok bisa?" Fanni sedikit terkejut. Ia berhenti menjewer telinga Naufal.
"Panjang ceritanya..."
...~~~...
Di tempat lain. Tepatnya di kelas 11 TKJ 1. Terlihat seorang murid lelaki duduk di tumpukan tubuh murid lainnya. Ia memakai hoodie berwarna putih, berlambangkan sayap burung di punggungnya.
"Fight club, ya?" murid itu tersenyum menyeringai. "Kepala sekolah itu mulai bertingkah lagi."
__ADS_1
Murid ini bernama Purnama Aryadi. Salah satu pemuda yang pernah dilatih oleh Parfait. Lalu seorang murid lain yang berbadan besar, dan tinggi menghampiri Purnama.
"Kau mengotori kelas lagi, Purnama" ucap murid itu. Ia bernama Varel Januar. Ia memakai sebuah bandana yang diikatkan ke kepalanya.
"Heh... santai saja, Varel. Nanti juga akan kubersihkan" sahut Purnama sembari menoleh ke arah Varel. Ia masih tersenyum menyeringai.
"Haha sialan. Sebab itulah hidupmu tak pernah maju." ejek seorang murid yang berada di pojok kelas. "Kau mau bertarung lagi denganku?"
Murid itu bernama Jefri. Tubuhnya terlihat pendek, namun auranya sangatlah kuat.
"Kayaknya seru tuh," Purnama melompat, dan mendarat tepat didepan Jefri. "mau coba?" wajah Purnama terlihat sangat menyeramkan.
Bugh!
Sebuah pukulan dilayangkan ke wajahnya, sampai membuat Purnama mundur beberapa langkah. Lalu sebuah pukulan datang dari bawah, dan mengenai perutnya.
"Bajing*n, kau kira aku takut?" kata Jefri sembari memberikan tatapan yang mengintimidasi.
Bugh!
Lalu sebuah pukulan uppercut mendarat tepat di dagu Jefri. Membuatnya melayang beberapa saat. Lalu pukulan lain melesat ke arah pelipisnya.
Akan tetapi, pukulan itu tak sampai mengenai Jefri. Seseorang menggunakan tangannya untuk menahan pukulan itu.
"Sudah-sudah." ucap seorang murid dengan postur tubuh tinggi. Ia mencoba memisahkan mereka berdua. "Di saat seperti ini, harusnya kita pergi mencari anggota kita yang lain"
Murid itu bernama Rengga. Ia adalah ketua kelas di 11 TKJ 1. "Kru eternity akan bangkit kembali, kan?" tanyanya sembari tersenyum.
"Twenty seven."
...~~~...
Seksi keamanan sekolah adalah sekumpulan siswa yang dipercaya bisa mengamankan murid-murid nakal. Di SMK Plus 27 juga mempunyai seksi keamanan.
Disebuah bangunan kecil yang berada di belakang gedung olahraga. Didalamnya terlihat beberapa murid sekolah sedang melakukan rapat.
Mereka duduk mengelilingi meja bundar. Sepertinya mereka sedang membahas hal yang serius.
"Twenty seven, ya?" ujar salah seorang murid sembari menutupi wajahnya dengan beberapa lembar kertas.
"Ya. Menurut analisis-ku, mereka berpotensi mengacaukan acara Fight Club nanti." sahut murid lainnya. Ia memakai kacamata bundar
"Maksudnya? aku bingung. Kok bisa sampe mengacaukan?"
"Ah ketua ini belum dengar, ya? mereka pernah berhadapan dengan kru Unlimited Money dari daerah selatan. Bahkan, Santoso pun mereka kalahkan!" jelas murid yang berkacamata tadi.
"Wah, keren sekali. Aku dengar salah satu anggota mereka adalah Rainala Devan, ya. Sungguh membuatku nostalgia"
"Kurasa kita memang harus mengawasi mereka. Terlebih lagi, mereka sudah berani menyentuh daerah selatan. Mungkin saja giliran kita selanjutnya, kan? kru Unholy" murid itu menyingkirkan kertas-kertas yang ada di wajahnya.
__ADS_1
Ternyata dia adalah Rehan Ahmad, seseorang yang tengah dicari oleh Rain.
...***...
Sepulang sekolah. Naufal dan yang lainnya berkumpul di markas Twenty Seven. Terlihat beberapa anggota yang juga ada disana.
Terkecuali Dani, ia masih murung karena ditinggal oleh Alisa. Dani juga sudah jarang berkumpul dengan Naufal.
"Ah. Si nolep itu hari ini juga gak dateng" gerutu Naufal sembari memukul-mukul samsak.
Lalu Rizki datang sembari membawakan camilan. "Wajar saja, kan? dia lagi patah hati soalnya" ujarnya.
"Kasian ya, Alisa..." kata Fanni, lalu menunduk.
Naufal mengubah posisinya, berdiri. Ia berjalan mendekati Fanni. Perlahan ia mengusap kepalanya. "Tenang aja. Pasti sekarang dia udah bahagia"
"Toh disini juga berbahaya."
Tiba-tiba pintu ditendang oleh seseorang sampai terlempar, mengarah ke Naufal dan Fanni. Dengan sigap, Naufal memeluk Fanni, dan menggunakan punggungnya sebagai penghalang.
4 orang asing masuk ke dalam. Salah satu dari mereka tertawa kecil, sedikit terdengar menakutkan. Seseorang dengan hoodie putih langsung melompat dan mencoba menyerang Naufal.
Namun dengan sigap, Zulfi menahan orang itu saat masih melayang di udara. Lalu Zulfi melayangkan pukulan ke wajah orang berhoodie putih itu. Akan tetapi pukulannya itu ditahan, lalu dibalas dengan tendangan.
Zulfi masih sempat menahannya, walaupun ia sedikit terhempas. Orang yang memakai hoodie putih itu adalah Purnama, sang ketua dari kru Eternity.
"Sepertinya aku kenal dengan gerakan itu" ujar Purnama. Lalu satu orang dibelakangnya langsung menimpuk kepalanya.
"Oi bodoh, saat ini kita tak sedang cari masalah" kata orang itu, ia adalah Varel. Lalu Varel menghampiri Naufal, dan berdiri tepat didepannya.
"Kau Naufal Setyadi?" tanya Varel. Tatapannya mengintimidasi.
Tiba-tiba dari belakang Varel, seseorang menariknya, dan membantingnya ke lantai. Ia adalah Rainala Devan. "Oi... Oi, berani sekali kalian, ya?"
Purnama hanya memandangi mereka. Lalu tiba-tiba Zulfi melesat ke arahnya, dan memberikan pukulan straight yang kuat. Purnama terkena serangan itu, dan terhempas sampai menabrak tembok, membuatnya sedikit retak.
Namun alangkah terkejutnya Zulfi ketika menyadari bahwa Purnama telah menangkis tinjunya itu.
"Forged Boxing, ya?" lirih Purnama, lalu melesat ke arah Zulfi, dan memberikan tendangan Dwichagi tepat di perutnya. "Kalian pasti pernah berguru ke orang tua 'itu'."
Zulfi masih bisa menahan tendangan itu, ia malah terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh purnama. "Apa maksudmu?"
"Oi, cukup sudah!" teriak Rengga, memisahkan mereka. Lalu berjalan mendekati Naufal yang masih memeluk Fanni.
Naufal mendongak menatap Rengga. Wajahnya datar, namun matanya menatap tajam Rengga. "Ada apa, ya?"
"Aku ingin meminta maaf atas keributan yang ditimbulkan oleh mereka. Akan tetapi, kami ingin membahas sesuatu denganmu" jelas Rengga sembari beradu tatapan dengan Naufal.
"Sebelum itu, kami akan memperkenalkan diri terlebih dahulu." Rengga membuka kancing seragam sekolahnya, dan membukanya di sana. Namun ia masih memakai baju lain, baju itu berlambangkan symbol tak terbatas/infinity.
__ADS_1
"Kami adalah kru Eternity. Satu tahun lalu, kami dipercaya oleh pak Parfait untuk membubarkan kru dari daerah lain."
...##Sistem Raja Pecundang##...