
"Sialan. Kurasa Whitewind tidak main-main." Geram Surya yang langsung tancap gas keluar dari rumah miliknya.
(Saat itu, kami merasa sudah jauh dari bahaya.)
Mobil milik Surya berjalan dengan kencang menelusuri jalan yang ada. Didalamnya terlihat Surya dan Bambang dengan wajah panik, namun Naufal dan Fanni terlihat senang-senang saja seperti tidak terjadi apa-apa.
Naufal dan Fanni malah bermain-main saat itu. Namun, tiba-tiba mobil menabrak sesuatu sehingga menyebabkan mobil terguncang.
"Ayah apa itu?!" Teriak Naufal sembari memegang tangan Fanni.
Surya tak merespon teriakan Naufal. Ia terus melaju mencari jalan yang aman.
Dooorrrr!
Sebuah peluru mengenai jendela mobil milik Surya, untungnya tidak ada yang terluka. Surya semakin panik akan hal itu, ia menaikan kecepetan hingga 50 Km/h.
"Ayah! Ada apa sih ini? Jendela mobil kita pecah,"
"Diam Naufal! Ayah harus fokus, jangan ganggu."
Seketika suasana di mobil langsung hening. Naufal meneteskan air mata, ia mulai menangis karena dibentak oleh ayahnya.
Bambang yang melihat Naufal menangis, langsung mengelus-elus kepalanya dengan pelan.
"Naufal, kita sedang dalam situasi genting. Jangan ganggu ayah kamu dulu ya,"
"Baik Paman,"
Naufal pun mengusap air matanya. Lalu, ia menoleh ke arah jendela. Di sebrang jalan, ia melihat sebuah minimarket. Naufal langsung meraih Fanni dan mengajaknya untuk melihat minimarket itu.
"Ayah, di situ ada minimarket. Mampir dong, aku lapar," ajak Naufal dengan mata yang berbinar-binar.
"Apa?! Naufal! Ngertiin situasinya dong!" Balas Surya sembari menyetir.
Muak dengan itu, Bambang memegang pundak Surya dengan kencang. Lalu menatapnya dengan kesal, "Pak Surya, ada baiknya kita turuti saja keinginan mereka,"
"Bambang! Kita sedang dalam bahaya, kenapa kita harus kesana?"
"Tenang saja Pak. Kita bisa bersembunyi disana,"
Surya pun menghentikan mobilnya. Ia menundukkan kepalanya ke setir mobil. Surya berpikir sejenak, ia sedikit bimbang dengan keadaannya.
__ADS_1
"Jika berhenti, posisi kami akan diketahui. Tapi jika tidak, akan lebih gawat," batin Surya sembari menggesekkan kepalanya ke setir.
"Baiklah. Ayo ke mini market," ucap Surya yang langsung memutar balikkan arah mobilnya ke mini market.
Sesampainya disana, Naufal dan Fanni langsung membuka pintu mobil lalu pergi masuk kedalam mini market itu. Surya langsung menyusul ke dalam, meninggalkan Bambang sendirian.
"Whitewind benar-benar serius. meskipun ada anak-anak di dalam mobil, mereka tetap menembak," gumam Bambang.
Dengan kesal, ia menendang sebuah tong sampah sampai terpental jauh. Lalu, ia memukul tiang listrik yang ada disana dengan sekuat tenaga, "sial!"
Setelah itu, ia diam sejenak. Bambang menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, "tenang Bambang. Kau pasti bisa melewati ini," gumamnya lagi.
Bambang pun masuk ke dalam mini market. Di dalam, ia tak melihat Naufal dan Fanni, malahan ia melihat Surya yang terkapar di lantai dengan darah yang mengalir dari pundak kanannya.
Bambang langsung menghampirinya dan membangunkan Surya, "Pak Surya!" Teriaknya sembari menampar pipi Surya berkali-kali. Bambang berusaha membangunkan Surya.
Tak lama kemudian, Surya terbangun. Ia merintih kesakitan. Darah yang mengalir dari pundaknya disebabkan oleh tusukan pisau. Surya pun berdiri, "Bambang! Anak-anak sedang dikejar. Ayo susul mereka!" Teriaknya.
(Kami berdua sangat panik saat itu. Namun, Pak Surya tak menyerah sedikitpun.)
Mereka berdua berlari ke luar mini market lewat pintu belakang. Sayangnya, mereka berdua kehilangan jejak Naufal dan Fanni.
"Ayah!!!"
"Ayah!!!"
Teriakan itu terdengar kembali, sekarang asalnya dari tempat kontruksi. Surya menyadari kalau itu teriakan Naufal, ia tanpa basa basi langsung masuk ke dalam. Dari lantai 2 tempat itu, terlihat Naufal dan Fanni yang sedang di todong pistol oleh seseorang dengan pakaian serba hitam.
Melihat itu, Surya dan Bambang langsung berlari ke arah Naufal dan Fanni. Namun, sebuah pukulan mendarat di wajah Surya dan Bambang. Lalu muncul 2 orang dari bayangan. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, dan di lehernya terdapat tatto bertuliskan huruf UA (Underground Arena).
Tanpa basa-basi, kedua orang itu langsung menyerang Surya dan Bambang dengan keras. Surya dan Bambang terpental jauh kebelakang. Sembari merintih kesakitan, Surya melihat salah satu dari mereka menggunakan bela diri Taekwondo.
"Cara melawan taekwondo? Aku tau caranya!" Teriak Surya.
Surya berlari ke arah orang dengan bela diri taekwondo itu. Surya langsung menendang paha orang itu dengan tumit, sehingga membuatnya kesakitan.
Disisi lain, Bambang berdiri sembari memegang sebuah besi yang lumayan panjang. Bambang pun menatap orang didepannya dengan tatapan membunuh, "hei, aku pernah juara Kendo lho." Ucapnya.
Bambang langsung menyerang orang itu secara membabi-buta. Sampai-sampai lawannya terbaring di tanah tak berdaya.
Setelah itu, Surya dan Bambang langsung menuju ke lantai 2 dimana tempat Naufal dan Fanni di kejar. Sesampainya di atas, alangkah terkejutnya mereka. Mereka melihat Naufal dan Fanni yang sudah terkapar di tanah dengan darah yang mengucur deras dari kepala mereka.
"Aaaaaaa!!!!!!" Teriak Bambang yang langsung memeluk Fanni dengan histeris.
__ADS_1
Begitupun Surya, ia melihat Naufal yang terbaring di lantai. Air mata mulai berjatuhan dari matanya melihat anaknya mati dengan mengenaskan. Samar-samar ia melihat seorang pria yang sedang memegang pistol dari kejauhan.
"Kalian berdua telah menerima akibatnya. Jangan pernah mengganggu kami lagi," ucap Pria itu dengan nada tinggi.
Pria itu berjalan meninggalkan mereka sembari tertawa kecil. Sejenak ia berbalik, "tempati ini sudah ku tanami sebuah bom. Jadi cepatlah keluar jika kalian masih ingin hidup. Hehehe." Lanjut pria itu.
Namun, Surya dan Bambang terlihat tak memperdulikan ucapan pria itu. Apalagi Bambang dengan tatapan mata yang kosong, ia melihat putri satu-satunya meninggal dengan tembakan di kepalanya.
"Pak Surya, WK group sedang naik daun," lirih Bambang.
Meskipun ucapan itu lirih, Surya samar-samar dapat mendengarnya.
"Apa katamu? Aku tak dapat mendengarnya," sahut Surya.
Bambang menoleh ke arah Surya, ia menatap Surya dengan tajam, "WK group sedang naik daun, brengs*k!" Bentak Bambang kepada Surya.
Surya yang kaget langsung menarik kerah baju Bambang. Ia mengadukan kepalanya dengan Bambang, "lantas apa bangs*t?!".
"Aku membangunnya untuk putriku!" Bentak Bambang kembali, "setelah kematian istriku, aku hanya punya Fanni. Tapi sekarang, ia sudah menyusul ibunya!" Ungkap Bambang.
Bambang menepis tangan Surya yang memegangi kerahnya. Lalu memukulnya dengan keras hingga terjatuh, "ini salahmu karena mengusik Underground Arena!"
"Maafkan aku." Ucap Surya dengan menundukkan kepalanya.
(Saat itu aku tak tahu. Bahwa, Pak Surya lebih menderita. Lalu munculah mahluk itu.)
Tiba-tiba, sebuah cahaya terang berbentuk bulat muncul dari langit dan mendarat di tempat itu. Cahaya itu semakin terang, sampai-sampai membuat seluruh planet itu berubah menjadi cahaya.
Waktu terhenti. Hanya 2 orang yang bisa bergerak, yaitu Surya dan Bambang. Lalu, cahaya bulat tadi mulai berubah bentuk membentuk manusia.
Rambut panjang dan berwarna putih, wajahnya tampan rupawan, dan penampilannya bagaikan seorang kaisar dari jepang. Dia adalah The Creator.
"Selamat datang di alam ku," sapa makhluk itu.
Ia menggerakkan kedua tangannya ke arah Naufal dan Fanni. Dengan ajaib, tubuh Naufal dan Fanni bergerak sesuai gerakan tangan mahluk itu. Lalu, ia meremas kan tangannya. Seketika tubuh Naufal dan Fanni menghilang tanpa jejak.
Bambang yang melihat itu langsung marah. Ia mendekati makhluk itu dengan penuh amarah, "kau kemana kan anakku brengs*k!" Bentaknya.
Tiba-tiba, tubuh Naufal dan Fanni muncul kembali dengan kondisi utuh tanpa luka sedikitpun.
"Aku adalah The Creator. Aku memiliki penawaran untuk kalian berdua," ucap The Creator sembari tersenyum lebar.
...##Sistem Raja Pecundang##...
__ADS_1