Sistem Raja Pecundang

Sistem Raja Pecundang
Rainala Devan saat SMP (part 4)


__ADS_3

Rainala Devan, seorang remaja laki-laki yang berusia 15 tahun. Hidup bersama kedua orang tuanya dengan keadaan yang tidak menentu.


Ayah Devan adalah seorang mantan preman yang ditakuti di daerahnya. Ia bernama Bagas. Seringkali ia menyiksa dan menganiaya istrinya dan Devan.


Ibu Devan tak banyak yang tahu dengan asal usulnya, namun Bagas mengatakan bahwa kemampuan silat Devan diwariskan oleh ibunya. Bagas juga tak pernah memberitahukan nama istrinya baik kepada Devan ataupun orang lain.


Terlepas dari itu semua Devan tak pernah merasa kesepian ataupun depresi, ia selalu ditemani oleh kedua temannya. Rehan Ahmad dan Siti Andrita.


Berkat kedua temannya itu, kehidupan Devan menjadi jauh lebih baik. Devan, Rehan, dan Siti sudah seperti saudara dimata orang lain.


...~~~...


Di suatu pagi yang cerah. Terlihat seorang remaja bersama 2 temannya. Mereka bertiga bersama-sama pergi ke sekolah.


"Rasanya sekolah ini udah bosenin, gak sih?" tanya Siti tiba-tiba.


"Bosenin gimana? aku seneng aja sih sekolahnya, karena ada kalian," saut Devan sembari tersenyum kecil.


"Ya, itu kan perasaan kamu Devan. Pokoknya sekolah ini udah bosenin," kata Siti.


"Terus, kamu maunya apa? pindah sekolah?" tanya Rehan dengan tiba-tiba.


Seketika raut wajah Siti berubah menjadi cemberut. Siti menatap Rehan dengan tajam.


"Humft! kamu kenapa sih? tiba-tiba nanya gitu, aku kan cuman ungkapin perasaanku aja," ucap Siti kepada Rehan.


Rehan tak menanggapi ucapan Siti, ia malah memalingkan wajahnya.


"Emang bener kata dia, kamu itu orangnya kasar!" kata Siti.


Setelah itu, Siti langsung berlari menuju ke sekolah, meninggalkan Devan dan Rehan.


Devan dan Rehan kebingungan dengan sikap Siti yang berbeda dengan biasanya.


"Aneh banget dia hari ini. Heh Van, "dia" itu siapa sih?" ucap Rehan yang bertanya kepada Devan.


"Hmmm, "dia" itu kayaknya.... temen baru dia deh," jawab Devan.


"Temen baru? Emang sih dia itu suka banget cari temen, tapi kok gak ngasih tau aku dulu, biasanya juga ngasih tau," kata Rehan.


"Gak tau tuh, katanya temen rahasia. Emang dia gak ngasih tau kamu?"


"Gak."


"Oh yaudah, kasian dicuekin hahaha."


...~~~...


Sesampainya disekolah, Devan dan Rehan berpisah karena berbeda ruang kelas.


Saat diperjalanan menuju ruang kelasnya, Devan melihat Siti bersama dengan Ridwan. Mereka terlihat sedang berbincang, keduanya tampak akrab.


Siti melirik kearah Devan, seketika raut mukanya berubah dari riang menjadi ketus. Siti menepuk pundak Ridwan dan membisikkan sesuatu.


Entah apa yang dibisikkan oleh Siti kepada Ridwan, namun setelah itu mereka segera berpamitan dan pergi.


"Apa-apaan itu?" batin Devan yang keheranan.


Devan pun masuk ke ruang kelasnya.


...~~~...


14:00 kegiatan sekolah telah usai.


Devan beranjak dari kursi belajarnya. Ia segera pergi menuju ruang osis.


Di depan pintu masuk ruang osis, telah ada Rehan yang berdiri sendirian.

__ADS_1


"Yo, Rehan," sapa Devan sembari menghampiri.


"Lama!" sahut Rehan.


Devan merasa kebingungan. Dahinya mengernyit, ia bingung karena hanya melihat Rehan sendirian, tanpa bersama dengan Siti.


"Aneh, biasanya Rehan bareng sama Siti." batin Devan.


Tak mau pusing dengan hal itu, Devan langsung membuka kunci pintu masuk, lalu ia masuk bersama dengan Rehan. Mereka berdua langsung duduk di tempatnya masing-masing.


Kasus pembullyan, pemalakan, dan mabuk-mabukan yang disebabkan oleh siswa berandalan kini sudah terhenti, bahkan sampai tak terdengar kabar tentang kenakalan di sekolah Devan.


Rehan dan Devan hanya duduk tanpa berbicara sepatah kata apapun. Semenjak kejadian Rehan bertarung dengan Franz, Siti sudah tak pernah mengunjungi ruang osis.


"Membosankan," keluh Rehan sembari menghembuskan nafas yang panjang.


"Yap, dulu pas banyak kasus itu ngerepotin. Tapi pas gak ada kasus, malah bosenin," sahut Devan sembari memainkan ponselnya.


"Oh iya, lu tau gak?" tanya Devan tiba-tiba.


"Ya nggak lah, Van," jawab Rehan.


"Ya diem dulu, gue kan belum ngasih tau," kata Devan, ia berdiri dan menghampiri Rehan, "tadi gue liat si Siti barengan sama si Ridwan njir. Tapi pas dia liat gue, dia langsung pergi gitu aja," lanjut Devan.


Namun reaksi Rehan tak sesuai dengan ekspektasi Devan, ia malah menundukkan kepalanya sampai poni rambutnya menutupi matanya.


"Van, si Ridwan kan anak SMK, kok bisa dia masuk ke sekolah ini?" tanya Rehan.


"Iya juga ya, kok bisa-" belum sempat ia berbicara, dari jendela Devan malah melihat Siti dan Ridwan yang berduaan didepan gerbang sekolah, "itu bukannya mereka, ya?" ucap Devan sembari menunjuk kearah mereka berdua.


Mendengar itu, sontak membuat Rehan berdiri. Ia langsung keluar ruangan osis.


"Berani banget dia, anj*ng." kata Rehan.


Namun, Devan malah gemetaran melihat perilaku Rehan. Wajah Devan terlihat terkejut sekaligus ketakutan.


"MATANYA MERAH BANGET!" teriak Devan sembari berlari.


Diluar sekolah Rehan langsung menghampiri Ridwan. Rehan memegang tangan Siti dan menariknya kebelakang punggung Rehan.


Setelah itu ia menjambak rambut Ridwan, lalu memukulnya dengan keras. Pukulan keras itu sampai membuat Ridwan terpental cukup jauh.


"Baj*ngan! berani-beraninya lo deketin Siti," ucap Rehan dengan mata yang merah karena marah.


Siti menarik-narik kerah baju Rehan.


"REHAN UDAH!" ucap Siti sembari menahan tangan kiri Rehan.


Rehan berbalik kepada Siti, ia menatapnya dengan mata yang masih dipenuhi amarah.


"Kamu diem aja." kata remaja itu dengan tatapan matanya yang merah.


Disisi lain, Ridwan kembali berdiri dan bersiap membalas Rehan. Satu pukulan keras dilayangkan oleh Ridwan kearah pipi Rehan.


Pukulan itu tepat mengenai pipi Rehan, namun itu tidak menjatuhkannya sama sekali. Sebaliknya, Rehan malah melotot kepada Ridwan dengan tangan yang masih ada di pipinya.


Mata Rehan seolah menyala berwarna merah, lalu tiba-tiba ia menghilang dari pandangan Ridwan. Itu membuat Ridwan terkejut sekaligus kaget dengan kemampuan Rehan yang sudah meningkat pesat.


Tiba-tiba sebuah kepalan tangan muncul didepan wajah Ridwan. Itu adalah pukulan dari Rehan. Pukulan itu tepat mengenai wajah Ridwan, lalu Rehan mengarahkan pukulannya itu ke tanah, sehingga membuat kepala Ridwan terbentur dan membuat tanahnya sedikit hancur.


Setelah itu, tanpa ampun Rehan langsung memukuli Ridwan yang sudah tak berdaya.


Devan yang baru saja tiba, langsung mengambil tindakan untuk memisahkan mereka. Ia berlari dan langsung menangkap Rehan, membuat keduanya terjatuh dan berbaring di tanah.


"Woi udah Rehan!" teriak Devan sembari menahan tubuh Rehan.


"Sini lo sialan! gua belum selesai!" teriak Rehan kepada Ridwan yang sudah terbaring tak berdaya.

__ADS_1


"Woi udah! lu mau dia mati?!" kata Devan sembari mengencangkan tangannya.


Rehan yang sudah dibutakan amarah, langsung menggunakan sikut nya kepada Devan.


BUGHH!


Itu membuat Devan langsung melepaskan Rehan, ia begitu kesakitan dengan serangan sikut yang diberikan oleh Rehan.


Setelah itu Rehan langsung berdiri dan berlari ke arah Ridwan. Namun...


BUGGHH... PLAAKK...


Sebuah pukulan dan tamparan keras mendarat di wajah Rehan, dan seketika itu ia menghentikan langkahnya. Rehan terkejut sekaligus tak menyangka, bahwa Siti tega memukul dan menampar dirinya.


Mata Rehan terbuka lebar sembari memandang Siti. Didepan Rehan ia melihat mata Siti yang meneteskan air mata.


"Kamu kenapa sih? Hiks," tanya Siti sembari menangis.


"A-aku..." ucap Rehan.


"Kamu kok jadi kayak begini sih? emang dia ngapain? orang lagi ngobrol tiba-tiba dipukul," tanya Siti lagi.


"Aku sama Ridwan cuman temenan, gak lebih dari itu. Aku tau kok kamu habis punya masalah sama dia," kata Siti sembari menatap Rehan, "tapi Ridwan bilang, kalau dia udah berubah. Apa salah kalau dia jadi orang baik?" lanjut Siti.


Siti berbalik kearah Ridwan, lalu berjalan mendekatinya. Ia membantu Ridwan berdiri dan membopongnya.


Rehan hanya bisa memandangi pemandangan itu, hatinya terasa hancur.


"Bukan begitu, aku hanya takut kalau kamu di apa-apain sama dia." batin Rehan.


Siti pergi dari tempat itu sembari membopong tubuh Ridwan, meninggalkan Rehan dan Devan di depan gerbang sekolah.


Devan pun kemudian bangkit dan langsung menghampiri Rehan. Ia menepuk-nepuk bahu Rehan, lalu membawanya kembali masuk ke ruang osis.


"Udah-udah, ayo kita pulang aja." ucap Devan sembari tersenyum menahan sakit.


.........


Beberapa minggu kemudian, Devan, Rehan, dan Siti sudah tak terlihat bersama lagi. Mereka bertiga sudah memiliki kesibukan masing-masing.


Devan mulai belajar silat lebih dalam lagi, dan ia juga sibuk belajar untuk ujian akhir di sekolahnya. Menurutnya, ia ingin menghilangkan rasa ragu-ragu yang ada pada dirinya.


Rehan yang sekarang sudah tak memiliki gairah hidup. Aktivitasnya hanyalah berangkat sekolah, menyendiri di ruang osis, dan pulang ke rumahnya.


Siti mulai berteman dengan bawahan Ridwan. Ia sering pulang ke rumahnya larut malam, dan sering bolos sekolah juga. Siti sudah tak berhubungan dengan Rehan maupun Devan, kini ia hanya sibuk bersama teman-teman barunya.


Namun siapa sangka, hal yang akan terjadi selanjutnya adalah akhir dari persahabatan mereka bertiga.


.........


Di suatu sore setelah Devan selesai berolahraga.


Drrrtt... kringg... kringgg.. tenonet..


Handphonenya berdering keras, membuat Devan langsung mengecek Handphonenya itu.


...[Panggilan masuk]...


...[Nomor tidak diketahui]...


Tanpa curiga, ia langsung mengangkat telfon itu. Setelah ia mengangkatnya, samar-samar ia mendengar suara yang tak asing.


"Uh... Halo, apa ini dengan Rainala Devan si bocah silat? haha, aku Franz,"


Ternyata yang menelfonnya adalah Franz Saputra.


"Apa kau penasaran dengan identitas ibumu?"

__ADS_1


...##Sistem Raja Pecundang##...


__ADS_2