Sistem Raja Pecundang

Sistem Raja Pecundang
Kencan bersama tunangan? (End)


__ADS_3

"Kamu gak apa-apa?"


Sontak Dani terkejut dengan Alisa yang tiba-tiba melindunginya. Lalu Dani dengan cepat melumpuhkan orang-orang yang memeganginya.


Dani langsung menendang wajah mereka sampai babak belur.


Lalu Alisa tiba-tiba terjatuh. Dani langsung menghampirinya, dan memeluknya.


"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Dani histeris.


"Bukankah aku udah bilang, jangan ikut campur!"


Alisa hanya tersenyum. Lalu ia membuka tas kecilnya, dan mengeluarkan tisu.


"Nih," Alisa memberikan tisu itu kepada Dani, "lap darahku, hehe" ia masih bisa tersenyum kecil.


"Hah? kamu! ah!" Dani mengelap darah yang mengalir dari kening Alisa.


Di saat seperti ini, Alisa malah merasa bahagia. Alisa terlihat sangat bahagia karena Dani peduli dengannya.


...~~~...


Setelah kejadian tadi, Dani menggendong Alisa menuju kursi taman. Ia menggendong Alisa bagaikan pangeran yang menggendong seorang putri.


Orang-orang yang ada di sana memandangi Dani dan Alisa, mereka merasa sedang melihat pasangan romantis. Dani menurunkan Alisa di kursi, dan menaruh tangannya di kening Alisa.


"Sepertinya pendarahannya udah berhenti," ujar Dani lalu duduk disebelah Alisa, "kamu pengen apa?" tanya Dani tiba-tiba.


"Eh?" Alisa sedikit kaget, "itu... aku tak tau. Aku masih merasa pusing,"


Dani merenung. Saat ini ia merasa gagal sebagai seorang laki-laki yang harus menjaga wanitanya. Terlebih, ia baru saja dikhianati oleh pujaan hatinya, Putri.


Mereka berdua hanya bisa berdiam diri kursi itu. Alisa terlihat sangat lelah, Dani juga terlihat tertekan.


"Kencannya belum berakhir, tapi kami mengacaukannya" batin Dani, "apalagi Alisa terluka karena bawahan Aldi. Ayahnya pasti marah kepadaku"


Dani melirik ke wajah Alisa, ia menyaksikan tetesan air mata yang mulai berjatuhan dari mata Alisa.


"Eh?"


"Aku mengacaukannya, lagi" ucap Alisa sembari menangis.


Dani sontak terkejut, ia kebingungan harus berbuat seperti apa. Dani mengusap-usap rambut Alisa dengan lembut.


"Kamu... e-eee" Dani terlihat gugup, ini kali pertamanya ia mengusap rambut seorang perempuan "kamu masih ingin main" tanya Dani.


Alisa melirik Dani dengan matanya yang masih berkaca-kaca. Alisa dengan wajah merengek menjawab pertanyaan Dani, "mau banget."


"Imut!" Dani terpaku dengan kecantikan Alisa.


Lalu Dani berdiri, dan mengajak Alisa berjalan-jalan.


Mereka berdua berjalan bersama, terlihat kebahagiaan terukir di wajah mereka berdua.


"Karena kamu lagi terluka, kita gak akan naik wahana" ujar Dani.


"Heh...." keluh Alisa.


Lalu keduanya tertawa bersama.


...~~~...


Dani dan Alisa berjalan bersama. Namun Dani memalingkan wajahnya. Berbeda dengan Dani, Alisa fokus memandang sepasang kekasih yang berjalan di depan mereka berdua.


"Romantis sekali, ya" batin Alisa sembari memandang pasangan itu bergandengan tangan.


Lalu Alisa melirik Dani, "orang kayak dia gak bakalan peka"


"Sial, aku jadi berhutang dengan Alisa. Cih" gerutu Dani karena kesal.


Tiba-tiba Dani menoleh ke arah Alisa. Saat ia memandang wajah Alisa, Dani merasa sangat terpesona.


"Orang yang sering membully ku, memang secantik ini?" batin Dani sembari memandangi paras cantik Alisa.


Lalu Alisa menoleh kepada Dani, dan sontak membuat Dani langsung membuang mukanya.


"Mas Dani, hari ini udahan dulu ya. Ini udah sore, aku telfon supir ku, ya?" ujar Alisa lalu mengeluarkan hp dari tasnya.


Namun saat Alisa hendak menelfon supirnya, dihentikan oleh Dani dengan menggandeng tangannya.

__ADS_1


"Gak. Ini masih sore. Kamu bilang, kan? kalau ini akhir dari pertunangan kita?" ucap Dani dengan wajah yang memerah redup.


Sontak Alisa terkejut dengan tingkah Dani, matanya sampai melebar. Tentu saja Alisa langsung merasa senang.


"Heem" sahut Alisa sembari tersenyum.


Setelah itu, kedua pasangan itu berjalan dengan bergandengan tangan. Dani terlihat memerah karena malu, berbeda dengan Alisa yang sangat merasa senang.


"hihi..." Alisa tertawa kecil.


"Ada apa?" tanya Dani.


"Gak ada"


"Hah?! apa sih?!"


"Gak ada, gak usah dipikirin. Hihi.."


...****...


Keesokan harinya.


Terlihat Dani di markas Twenty seven, ia sedang berbicara dengan Naufal, dan yang lainnya. Dari situasinya mereka sedang membahas hal yang serius.


"Jadi apa? kau mau bercerita tentang kencan mu? sudah kubilang bukan, itu tak akan mengecewakan" celoteh Naufal yang duduk di kursinya.


"Kencan?" Zulfi terlihat kebingungan.


"Ah tidak, Naufal. Aku tidak akan membahas hal itu. Ini sesuatu yang lebih penting" jelas Dani dengan wajah serius.


"Lalu apa?" tanya Naufal.


"Ini perihal Putri," ujar Dani, "selama ini, dia adalah mata-mata UM di sekolah kita. Penculikan yang dilakukan UM saat itu, adalah rencana Putri"


"Sudah kuduga" ucap Rain tiba-tiba. Lalu ia menghampiri Naufal, "ini serius, Naufal. UM bisa saja menyerang kita!"


"Eh, benarkah? kurasa kekuatan kita saat ini bisa menandingi mereka" sahut Naufal dengan santai, "tapi ya..."


"Dani! bukankah kau harus pergi ke kelas mu?" tanya Naufal tiba-tiba.


"Eh, apa maksudmu?" Dani kebingungan.


"Aku dapat kabar dari Fanni, kalau hari ini Alisa tak bisa dihubungi" jelas Naufal.


Saat ini masih pukul 06:40. Dani sengaja datang pagi-pagi ke markas Twenty Seven untuk memberitahukan kejadian saat ia kencan dengan Alisa.


Pemuda itu berlari melewati murid-murid lain yang berada di koridor sekolah. Ia berlari menuju ruang kelasnya.


Saat ia sudah dekat dengan ruang kelasnya, ia melihat pintu masuk tertutup. Lalu tanpa pikir panjang, Dani langsung membukanya dengan kuat, sehingga membuat suara bising yang mengagetkan murid-murid lain.


"Hah... Hah... Hah.." nafas Dani terengah-engah karena kecapekan.


Lalu ia mengamati ruang kelasnya itu, ia tak melihat keberadaan Alisa di sana. Hanya ada teman Alisa yang sedang berbincang bersama temannya.


"Dia gak ada..." lirih Dani.


Lalu Dani menghampiri siswa yang biasanya bersama dengan Alisa. Siswa itu terlihat sedang mengobrol bersama siswa lainnya.


"Anu," panggil Dani.


Siswa itupun menoleh ke Dani, dan langsung memberikan tatapan tak senang.


"Apa?" tanya siswa itu.


"Aku ingin bertanya sesuatu... Alisa ada dimana?" ujar Dani lalu menaruh tas di mejanya.


"Hah? kau tak tau? kejamnya" sahut siswa itu, memberikan tatapan jijik ke Dani


"Eh, apa?" Dani terlihat kebingungan.


"Hari ini Alisa sudah pindah sekolah!" ungkap siswa itu singkat. Lalu siswa itu menunjuk dada Dani, "masa lu gak tau sih?"


"Ya, aku benar-benar tak tau. Dia tak membicarakan ini kepadaku!" balas Dani, menyangkal.


"Eh, Alisa pindah? t-tapi kenapa?!" batin Dani.


Siswa tadi berdiri, lalu ia mendorong Dani hingga terduduk di kursinya. Tatapan siswa itu sangatlah tajam, dan merendahkan. "Hey sampah!"


Ia mengarahkan jari telunjuknya kepada Dani. "Lu tau gak, Alisa itu udah berjuang banyak buat lu!" ujarnya. Tatapannya semakin merendahkan.

__ADS_1


Tentu Dani kesal dengan pernyataan siswa itu, lalu ia berdiri. "Hah, maksudnya?" tanya Dani kebingungan.


"Denger... ini cerita yang cukup panjang" siswa itu menghela nafas.


"Setelah kau lulus SD, Alisa selalu membayar para murid nakal untuk membully dirimu" ungkap siswa itu.


"Ya, aku tau itu!" Dani mulai terlihat kesal.


"Murid-murid nakal itu ia bayar untuk membuatmu berubah. Alisa sengaja berpura-pura untuk membully dirimu, agar kau bisa mendapatkan motivasi"


"Saat Alisa terlambat membayar murid-murid nakal itu, ia akan dipukuli. Sudah banyak luka yang ia tanggung sendiri"


"Tapi saat ini, lu udah berubah. Dan lu udah gak butuh Alisa lagi. Makanya Alisa milih buat pergi dari hidup lu!"


Dani tercengang mendengar penjelasan siswa itu. Didalam pikirannya, ia menganggap bahwa Alisa selalu membully-nya tanpa sebab.


Siswa tadi pun duduk. Seisi kelas langsung terasa hening, semua pandangan hanya menuju kepada Dani yang terlihat melamun.


"Jadi selama ini, Alisa..."


Tring! Tring!


Bel sekolah berbunyi. Seorang guru masuk ke ruang kelas Dani, dan memulai pelajaran.


...~~~...


Jam pulang sekolah sudah tiba.


Terlihat Dani sedang berlari tergesa-gesa, meninggalkan ruang kelasnya. Ia berlari di koridor sekolah, dan menabrak murid lain saking tergesa-gesa nya.


Saat ini, Dani berniat pergi ke rumah Alisa. Tak lupa, ia juga membawa motor sportnya.


Dengan kecepatan penuh, Dani pergi menuju rumah Alisa. Sesampainya di sana, Dani langsung turun dari motornya. Ia berlari menuju pintu rumah itu, dan mengetuk-ngetuk nya dengan keras.


"Permisi! Alisa!"


Dani terus mengetuk pintunya. Namun tiba-tiba ia berhenti. Pintunya dibuka oleh seseorang dari dalam. Tentu, Dani berharap yang membuka pintu itu adalah Alisa.


Akan tetapi harapan Dani sirna. Tatkala ia menyadari orang yang membuka pintu bukanlah Alisa, melainkan ayahnya, Broto.


"Eh?" Broto keheranan.


"Om, Alisa ada di mana?" tanya Dani dengan panik.


"Ee.. Ya... kalau Alisa..." Pria itu ragu untuk menjawab.


"Dimana om!?" Dani mendesak Broto.


"Haha... gimana kalau kita bicarakan ini di dalam?"


...~~~...


Di dalam rumahnya, tepatnya di ruang tamu. Terlihat Dani dan Broto duduk berhadapan. Ketegangan mulai Dani rasakan ketika ia tak merasakan keberadaan Alisa di rumah itu.


"Jadi bagaimana, om?" tanya Dani.


"Jadi begini. Nak Dani, sebenarnya Alisa tak ada disini" Broto mengangkat cangkir yang berisikan kopi. "Dia pergi tadi pagi" lanjut Broto lalu menyeruput kopinya.


Tentu saja, Dani tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Broto. Bagaimana bisa seorang ayah membiarkan anaknya pergi begitu saja.


"Kok bisa? alasannya apa, om?" protes Dani.


"Alasan? aku kira dia tak butuh Alasan." Broto menaruh cangkir kopi yang ia pegang ke meja, "memangnya kamu siapa?" Broto menatap tajam Dani.


"Hal yang selalu kamu lakukan ke Alisa, hanya membuat hatinya sakit." ujar pria itu. "Beberapa minggu kebelakang. Alisa mendapat tawaran bersekolah di luar daerah ini"


"Tadi pagi, anak itu berangkat ke sekolah itu." Broto mengubah posisinya, berdiri. "Asal kamu tau, saya gak akan ngasih tau tempatnya dimana"


"Sekarang, kamu keluar dari rumah ini. Saya kecewa sama kamu." Broto masuk ke kamarnya. Meninggalkan Dani seorang diri di ruang tamu.


Pemuda itu hanya bisa termenung sendirian. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tertawa kecil, "aku pernah menyebutnya gadis nakal, kan?"


"Aku bodoh sekali..." kedua tangan Dani menutup matanya. Air mata mulai mengalir. Kini yang tersisa hanyalah penyesalan. Dani tak bisa mendapatkan Putri, lalu ia juga telah kehilangan Alisa.


...[Kencan bersama tunangan? End]...


...##Sistem Raja Pecundang##...


...----------------...

__ADS_1



...Alisa Nur Putri...


__ADS_2