
"Sebenarnya, Saya adalah mantan suami kakaknya Naufal."
Rain dan Fanni langsung terkejut, mereka akhirnya menyadari kenapa Naufal bersikap aneh dari tadi. Terlebih lagi, Rain merasakan aura yang kuat dari Parfait.
"Apa-apaan orang ini?! Aura nya saat serius menjadi menyeramkan." Batin Rain.
"Jadi pak, apa alasan anda mengundang kami kemari?" Tanya Fanni dengan ekspresi polos.
"Sebenarnya, saya ingin kalian berteman dekat dan melindungi Naufal. Dia dari dulu sering di bully." Jawab Parfait.
"Maksud bapak apa ya? Orang yang berhasil mengalahkan 6 pengawal saya, dibilang lemah?" Tegas Fanni sembari mengepalkan tangannya.
"Apa? Mengalahkan 6 pengawal?" Ucap Parfait seperti kebingungan.
"Benar pak, di hari pertama sekolah. Naufal mengalahkan 4 orang yang lebih kuat darinya." Sela Rain.
"Benarkah itu? Jadi aku tak perlu khawatir." Ucap Parfait sembari menghembuskan nafas lega. "Kalau gitu, kalian makan dulu." Lanjutnya.
Mereka berdua pun memesan makanan, semua makanan yang di santap oleh Rain dan Fanni akan di traktir oleh Parfait.
...~...
Diluar, Naufal sedang melamun tak jelas. Tiba-tiba dia teringat dengan kartu yang ada di belakang amplop dari Pak Bambang yaitu Ayahnya Fanni.
Di kartu itu, tertulis sebuah nomor. Karena menurutnya nomor itu penting, Naufal langsung menghubungi nomor tersebut. Telefon pun di terima. Terdengar suara Pak Bambang dari telfon itu.
"Aih, lama sekali kamu telfon saya!" Ucap Bambang dengan kesal
"Ah, maaf Pak. Saya baru menyadari kalau ini nomor bapak." Ucap Naufal dengan tenang.
"Langsung ke intinya, bagaimana sekolah? Apakah Fanni senang?" Tanya Bambang.
"Semuanya baik-baik saja Pak. Fanni sangat senang disekolah." Jawab Naufal sembari tertawa kecil
"Ada apa? Kok kamu ketawa?" Ucap Bambang.
"Ah tidak, saya hanya senang melihat nya tersenyum." Ucap Naufal dengan nada pelan. "Omong-omong, Pak, Fanni seperti nya pernah mengalami hal buruk ya?" Tanya Naufal.
"Seperti yang aku bilang, aku menyuruh mu menjadi pelindungnya. Masalah itu, kau tanyakan sendiri kepada Fanni." Jawab Bambang dengan dingin. "Oh iya, satu lagi. Jangan naksir pada putriku!" Lanjut Bambang dengan nada mengancam.
"Mustahil, bagaimana aku tidak naksir? Dia aja cantik banget." Batin Naufal.
"Ya sudah kalau begitu, aku mengirim mobil jemputan untuk Fanni. Aku tutup telfon nya." Ucap Bambang.
Telfon pun di tutup. Pas dengan itu, Fanni dan Rain baru saja keluar dari restoran. Mereka langsung menghampiri Naufal.
"Naufal, aku kira kamu ninggalin aku!" Ucap Fanni dengan nada merajuk.
"Haha, maaf-maaf. Fanni, bentar lagi mobil jemputan mu datang, mau tunggu bareng atau sendiri?" Tanya Naufal.
__ADS_1
"Tunggu bareng aja. Aku takut kalau sendiri." Jawab Fanni.
"Anu. Fal, Aku pulang duluan ya, Dah." Rain pamit pulang.
Sekian lama menunggu, Akhirnya mobil jemputan Fanni datang. Mereka berdua pun berpisah disana. Naufal yang akan pulang, tiba-tiba Ia melihat Parfait pergi dengan gerak gerik mencurigakan.
Naufal pun mengikuti Parfait, Ia terus mengikuti Parfait sampai ke sebuah gang. Disana, Ia melihat Parfait memakai masker dam topi untuk menutupi wajahnya. Kemudian, Parfait kembali berjalan ke arah sebuah kafe.
Kafe tersebut adalah tempat berkerja Vinka, Kakaknya Naufal. Parfait terus memandangi Vinka dari kejauhan, mata nya terlihat berkaca-kaca.
Tiba-tiba, Naufal yang merasa bahwa Parfait sedang menguntit Kakaknya, Ia langsung berlari dan menyerang Parfait menggunakan serangan Superman Punch.
Tidak disangka, serangan Naufal gagal karena di tangkis oleh Parfait. Parfait mencengkeram tangan Naufal dengan kuat, Naufal hanya bisa meringis kesakitan dengan hal itu.
Ternyata, Parfait adalah orang yang membantai preman pengganggu Vinka.
"Hei, ada apa ini? Naufal?" Tanya Parfait dengan tatapan dingin dan mengencangkan cengkeraman tangannya.
"Arrghh! Jangan.... Ganggu Kakakku!" Teriak Naufal sembari memukul-mukul Parfait.
Pukulan Naufal tidak ada yang berguna, semuanya tidak berefek kepada Parfait. Parfait menatap dingin Naufal dan mengintimidasi nya.
"Ku tanya, apa maksud mu menyerang ku?" Tanya Parfait.
"Jangan ganggu Kakakku!" Jawab Naufal sembari melompat memutar badannya, agar terlepas dari cengkeraman Parfait. Setelah terlepas, Layar ungu muncul di depan Naufal dan memberikan misi
...----------------...
...Waktu: 60 menit...
...Reward: 1000 Poin stats...
...----------------...
"Apa ini? Hadiahnya sangat besar!" Batin Naufal. "Sistem, tunjukan stats dan jenis bela diri nya." Gumam nya
...----------------...
...Nama: Parfait Saputra...
...Tinggi 185 Cm...
...Kekuatan: SS+...
...Ketahanan: SS+...
...Kecepatan: S+...
...Kepintaran: SS+...
...Potensial: S...
__ADS_1
...Bela diri: Karate, Taekwondo...
...----------------...
"APA?! STATS MACAM APA ITU? MENAKUTKAN!" Batin Naufal sembari menjaga jarak dari Parfait.
Parfait berlari dan melakukan tendangan Dwichagi sehingga Naufal terpental sejauh 10 meter. Setelah itu, Parfait melakukan serangan 1080° Kick yang tepat mengenai kepala nya.
Naufal yang terkena serangan itu, Ia sempoyongan. Jika dipikir-pikir, seharusnya Naufal sudah pingsan dari tadi. Tetapi, entah kenapa dia masih berdiri walaupun sempoyongan.
"Naufal, kamu tidak sopan kepada mantan Kakak ipar mu." Ucap Parfait sembari berlari dan menendang wajah Naufal. Naufal terjatuh tak sadarkan diri.
Misi kali ini gagal. Wajar saja karena jika dilihat dari status mereka, pertarungan bagaikan sebuah telur yang di lempar ke sebuah batu
...----------------...
...Mission Failed...
...Reward akan menghilang...
...----------------...
Parfait pun pergi dari sana meninggalkan Naufal yang tak sadarkan diri. Sampai malam, Naufal terus tak sadarkan sendiri. Kebetulan, Vinka lewat kesana. Vinka terkejut melihat adiknya terbaring di tanah sendirian.
Vinka membangunkan Naufal.
"Dek! Kok kamu tiduran disini? Dek sadar!" Teriak Vinka yang mencoba membangunkan Naufal.
Naufal terus tak kunjung bangun, akhirnya Vinka menamparnya beberapa kali sehingga Naufal terbangun.
"Aw! Sakit kak!" Teriak Naufal yang akhirnya terbangun karena di tampar oleh Vinka
"Kamu ngapain tidur disini? Terus kok kamu berdarah kayak gini? Abis berantem ya?" Tanya Vinka dengan nada khawatir.
"Iya, seseorang dengan tinggi 185 cm dan pengguna karate." Jawab Naufal dengan nada kecil. "Kak, andai kamu tau siapa yang memukul ku." Batinnya
"Kamu semenjak masuk SMK jadi sering berantem ya, inget Ibu sama Ayah. Kasian, mereka kalau tau kamu suka berantem." Ucap Vinka yang menasihati Naufal.
"Iya... Kakak mau pulang?" Tanya Naufal.
"Iyalah, tapi antar Kakak dulu beli ayam goreng buat makan." Jawab Vinka sembari berdiri dan mengajak Naufal.
"Harusnya ga usah kak, uang yang aku kasih sama Ibu kan masih ada. Pasti Ibu udah bikin hidangan makan malam." Ucap Naufal.
"Gak apa-apa, ini udah kewajiban kakak. Lagian biasanya kakak yang beli." Ucap Vinka sembari tersenyum tulus kepada Naufal.
"Kakak..... Aku pasti akan menghajar Parfait untuk Kakak." Batin Naufal. "Oh iya kak, tadi aku ketemu Kepala Sekolah. Kak Parfait." Ucap Naufal.
"Hah? Iya...." Vinka merespon dingin akan ucapan Naufal. "Sudahlah, ayo kita beli ayam dulu." Lanjut Vinka menyuruh Naufal untuk bergegas.
Mereka berdua pun pergi ke penjual ayam goreng dan membelinya, Sesudah itu mereka pulang dengan perasaan bahagia.
__ADS_1