Sistem Raja Pecundang

Sistem Raja Pecundang
Kembali sekolah


__ADS_3

****


Kembali ke masa sekarang. Disebuah bangunan tua didalam hutan, terlihat beberapa laki-laki sedang duduk melingkari api unggun yang menyala terang.


"Jadi seperti itulah, alasan kenapa aku membenci orang berbakat," ucap seorang remaja laki-laki. Ia adalah Rainala Devan.


Setelah itu keadaan menjadi hening. Hanya terdengar suara kobaran api. Tujuh laki-laki itu hanya menyantap ikan yang mereka bakar.


"Terus, kenapa kau menyerang ku dengan keris? itu berbahaya," seorang laki-laki dengan rambut hitam bertanya kepada Rain. Ia adalah Naufal Setyadi, sang tokoh utama.


"Maafkan aku. Saat itu aku tidak sadar," Rain mengungkapkan alasan.


"Tidak. Kau salah Rainala. Saat itu kau sedang dalam keadaan sadar," sela seorang pria dewasa. Lalu ia berdiri diantara yang lainnya, "saat itu kau digelapkan oleh rasa benci yang sudah lama terbendung didalam dirimu," pria itu menjelaskan.


"Kebencian yang terbendung?" Rain bertanya kepada pria itu.


"Pada saat kejadian, aku melihat matamu memerah. Lalu tatapan saat itu benar-benar berniat melukai Naufal. Makanya aku dengan cepat menahan keris itu dengan tanganku," jelas pria itu. Ia adalah Parfait Saputra sang kepala sekolah SMK Plus 27.


"Ehh?! yang bener aja, Rain beneran make keris buat lawan Naufal?!" tanya salah satu remaja dengan sedikit terkejut, ia adalah Dani Singjaya.


"Yah, itu benar. Itu sebenarnya udah lama banget, sekitar hari ketiga kita disini," Naufal menjawab pertanyaan Dani sembari menatapnya dengan dingin.


Jawaban Naufal nampaknya membuat Dani merasa puas akan rasa penasarannya, sekaligus membuat Dani langsung menundukkan kepalanya, karena malu ditatap oleh Naufal.


Naufal menoleh ke Rain, ia menatap Rain dengan tajam.


"Apa Rain sebenarnya merasa kesepian? diceritanya tadi, ia menceritakan kedua sahabatnya" Naufal membatin keheranan.


"Hei Rain," panggil Naufal pelan.


Rainala pun menoleh kearah Naufal, dan meresponnya, "Apa?" sahut remaja itu.


"Jika kau punya masalah, ceritakan saja kepada kami," kata Naufal sembari membuka tangannya seolah menunjukkan jika Rain memiliki teman.


"Sikapmu berubah setelah dihajar oleh kak Parfait. Cobalah ceritakan masalahmu sekarang," ujar Naufal sembari tersenyum kecil.


Seketika ucapan Naufal itu membuat bulu kuduk Rainala berdiri, ia merasa terharu dengan rangkaian kata yang Naufal sampaikan.


"Aku membenci diriku sendiri, Naufal," ucap Rainala dengan mata yang mulai berkaca-kaca, "Aku kehilangan dua sahabatku, lalu aku membenci salah satunya,"


"Lalu dengan bodohnya, aku menyamakan dirimu dan dengan Rehan. Kalian berdua sama-sama memiliki bakat meniru. Hanya itu alasanku,"


Diam-diam Parfait mendekati Rainala yang sedang bercerita. Lalu ia duduk disampingnya, dan memegang pundak Rainala.


Perbuatan Parfait langsung membuat Rainala menangis, melepaskan semua masalahnya dengan rasa ketenangan yang diberikan oleh Parfait.


Parfait dan Naufal saling bertatapan. Keduanya mengangguk-angguk seolah berkomunikasi dengan batin mereka.


Selang 10 menit kemudian. Semuanya telah tampak membaik, Naufal dan yang lainnya berpesta dengan memakan ikan bakar, dan daging sapi yang mereka masak.


Mereka semua saling mengobrol dan berbagi cerita, tak lupa dengan bercanda satu sama lain.


Malam itu mereka habiskan dengan bersenang-senang bersama. Besoknya Naufal dan yang lainnya bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya masing-masing, tak lupa mereka berpamitan dengan Doni.



2 hari telah berlalu. Mentari mulai menyala terang, menyinari dunia. Naufal terbangun dari tidurnya, membuatnya langsung bersiap-siap, walaupun dengan kesadaran yang belum pulih akibat masih mengantuk.



Naufal membuka pintu kamarnya, dan menuju ke ruang dapur. Dalam perjalanannya menuju dapur, Naufal mencium bau yang sangat sedap, membuatnya langsung mengeluarkan air liur dari mulutnya.



ibu masak apaan nih? baunya enak banget, batin lelaki itu sembari mengusap air liurnya.



Setibanya di ruang dapur, Naufal langsung duduk disebuah kursi dan menunggu sarapannya siap.



"Buuu, masak apa? hoaammm....," pemuda itu bertanya kepada ibunya sembari menguap.



"Cuci muka dulu sana, Naufal." Balas sang ibu, menyuruh anaknya untuk membersihkan wajahnya.



"Ehhhh...."



Naufal pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setibanya didepan pintu kamar mandi, Naufal langsung mencoba membuka pintunya. Namun pintu itu terkunci.



"Eh, kok dikunci? aku dobrak aja, ah"



1... 2... 3



Naufal menendang pintu itu, membuat pintunya langsung terbuka. Lalu Naufal pun masuk kedalamnya, ia langsung menuju ke wastafel untuk mencuci wajahnya dengan air.



\[Tuan, apapun yang terjadi, saya memperingatkan anda untuk tidak menoleh kesamping kanan anda.\]



Sebuah suara bergema ditelinga Naufal, dan langsung membuatnya kebingungan. Perlahan kesadaran Naufal mulai pulih.



Suara Luxxy? batin Naufal.



"Hei Luxxy, udah lama ya? kapan ya terakhir aku denger suaramu?" remaja lelaki bergumam, merespon suara tadi.



\[Tuan, cepat keluar dari sana! sekarang!\]



"Hah, apa sih? aku kan disuruh...." lelaki itu menoleh kearah kanannya.



Tiba-tiba Naufal melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. Naufal melihat seorang wanita dewasa didekat bak mandi. Ia adalah Vinka, sang kakak.



Vinka tak mengenakan busana apapun, hanya handuk yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Naufal dan Vinka saling memandang satu sama lain. Keduanya hanya diam bak patung.


__ADS_1


"KYAAA..!!!!!"



Wanita itu berteriak keras dibarengi dengan sebuah tamparan yang mendarat di pipi Naufal.



PLAAKKKK!



Setelah itu semua berlalu, kini semua anggota keluarga berada di meja makan.


Terlihat Naufal dengan bekas tamparan di pipinya. Ia terlihat menyesal karena masuk ke kamar mandi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf kak," ujar Naufal sembari menatap Vinka dengan pupil mata yang membesar.


Vinka tak memberikan reaksi apapun, ia malah memalingkan wajahnya dari Naufal. Pipi dan telinganya memerah, bibirnya melengkung ke bawah.


"Hahaha, lagian kamu gimana sih, Fal," ucap seorang pria paruh baya sembari menertawai Naufal, "Bisa-bisanya kamu gak sadar ada orang, sih? Kan itu pintunya dikunci,"


"Eh..., aku masih setengah sadar loh, ayah!" sahut Naufal membalas perkataan ayahnya.


"Udahlah, makan dulu!" tegur ibu sembari menarik telinga suami dan anaknya.


"Aw...., sakit ibu!" teriak kedua lelaki itu.


"Naufal, habis makan langsung mandi, ya." Katanya lalu melepaskan telinga kedua lelaki itu.


Naufal langsung meraba-raba telinganya untuk meredakan sakit. Setelah itu ia menyantap Nasi goreng yang telah ibunya sajikan.


Sarapan pagi pun berlangsung dengan keheningan. Baik Naufal ataupun yang lainnya tak bertukar cerita satu sama lain, mereka hanya fokus menyantap sarapannya.


"Eh Naufal," Vinka memanggil Naufal dan memecah keheningan,"Kamu kan baru pulang dari Bandung, ya?" tanyanya.


"Heem...." Jawab Naufal sembari mengunyah makanan. Ia menatap Vinka dengan mengangkat satu alisnya, seolah menanyakan lanjutan dari pertanyaan kakaknya itu.


"Jadi gini....," Vinka menunda pertanyaannya, ia seperti ragu untuk melanjutkannya, "anu... jadi gini,"


Naufal menelan makanan yang ia kunyah, lalu ia membuka mulutnya, "Jadi gini jadi gini, apa sih?!" bentak Naufal dengan kesal.


"Ah. ini soal Parfait, jadi kakak sedikit canggung nanya-nya!" balas Vinka dengan sedikit marah.


"Aku ingin tahu, apa Parfait ada cerita sesuatu tentang diriku?"


Seketika Naufal langsung menutup mulutnya dengan tangannya, "pft..,"


"Hahaha! kakak kangen sama kak Parfait, ya?" Naufal menertawakan kakaknya itu. Ia pun berhenti tertawa, dan mulai menatap wajah Vinka dengan tajam.


"Dia baik kok. Aku udah ditolong beberapa kali olehnya. Dia cuman bilang, kalo dia masih suka jagain kakak dari kejauhan," jelas Naufal, tatapannya semakin tajam.


Mendengar itu Vinka memalingkan wajahnya, matanya tertutup oleh poni rambutnya, "apaan sih, menjaga dari kejauhan," gumamnya dengan wajah yang mulai memerah.


Naufal hanya memandang kakaknya dengan tatapan sendu. Tiba-tiba ia terpikirkan suatu hal penting yang baru saja diingatnya.


"Kak," lelaki itu memanggil kakaknya, "aku tahu kok, kalian belum sepenuhnya cerai. Perceraian kalian masih ditunda, kan?" ujarnya dengan semangat.


Namun Naufal tak mendapatkan respon yang ia harapkan dari kakaknya. Vinka hanya menoleh kearah Naufal dengan ekspresi yang aneh, ia menatap Naufal dengan mata yang kosong.


Tatapan itu membuat Naufal sedikit ketakutan, ia dibuat sedikit berkeringat oleh kakaknya. Suasana pun menjadi hening kembali, namun Vinka masih tak melepaskan pandangannya dari Naufal.


"Heh, sudah-sudah!" tegur ayah memecah keheningan, "cepat abisin sarapannya, Naufal kan harus sekolah."


"E-eh iya, ya. Aku harus sekolah," gumam Naufal lalu dengan cepat menghabiskan makanannya.


Setelah makanannya habis, Naufal bergegas masuk ke kamar mandi.





"Hih, menakutkan sekali!" gumam Naufal sembari merinding, "aku gak tau kakak bisa menatapku seperti itu,"



Lelaki itu terus menyusuri jalan menuju ke sekolahnya. Suasana hatinya sedikit gugup, ini adalah hari pertama ia sekolah setelah dua bulan dispens untuk latihan.



"Hei Luxxy," gumam Naufal memanggil Luxxy.



\[Ada apa, tuan?\]



"Gini loh, aku sudah lama gak liat statusku. Jadi, apa hasil dari latihan ku selama 2 minggu itu? bukannya jika aku mempunyai sistem sepertimu, aku tak memerlukan sebuah latihan?"



\[Ck. Latihan itu sangat penting, tuan. Sebagai contoh, bagaimana jika suatu saat saya tiba-tiba tidak aktif, lalu bagaimana cara tuan untuk bertarung?\]



"Ya gak tau lah. Lagian mana mungkin kau menghilang, ada-ada saja,"



\[Saya bisa saja menghilang, tuan. Jika ada sesuatu terjadi pada kesadaran tuan, bisa saja saya menghilang-\]



"Iya-iya, berisik. Aku gak mau diomeli oleh sistem sepertimu. Jadi, bagaimana dengan statusku? ah, sekalian dengan status teman-temanku, ya,"



\[Siap laksanakan, tuan\]



...\[Status sedang diproses......



...10%\>\>40%\>\>80%\>\>100%...



...Proses selesai. Segera menampilkan status.\]...



...\=\=\=...


...Naufal Setyadi (Raja Pecundang)...


...177 cm/ 67 kg...

__ADS_1


...Kekuatan: 90/S...


...Ketahanan: 79/S-...


...Kecepatan: 67/A\+...


...Kecerdasan: 45/B\+...


...Potensi: A\+...



...skill: Taekwondo, Muay Thai, Average Copy skill....


...\=\=\=...



...\=\=\=...


...Rainala Devan (Pendekar)...


...170 cm/ 65 kg...



...Kekuatan: S...


...Kekuatan: S\+...


...Kecepatan: S-...


...Ketahanan: A-...


...Kecerdasan: A\+...


...Potensi: S...



...Skill: Silat, Weapon mastery \[Keris, Karambit\]...


...\=\=\=...



...\=\=\=...


...Zulfi Hermawan (The Boxer)...


...181 cm/ 78 kg...



...Kekuatan: S-...


...Ketahanan: S-...


...Kecepatan: S\+...


...Kecerdasan: A-...


...Potensi: A...



...Skill: Boxing, Forged Boxing...


...\=\=\=...



...\=\=\=...


...Dani Singjaya (young master)...


...174 cm/ 60 kg...



...Kekuatan: A\+\+...


...Ketahanan: S-...


...Kecepatan: S\+...


...Kecerdasan: A\+\+...


...Potensi: S...



...Skill: Taekwondo, High Tier Taekwondo...


...\=\=\=...



...\=\=\=...


...Rizki Aditya (One Punch)...


...180 cm/ 78 kg...



...Kekuatan: S...


...Ketahanan: A\+\+...


...Kecepatan: S\+...


...Kecerdasan: S-...


...Potensi: A...



...Skill: Jet kune do, MMA...


...\=\=\=...



Naufal sangat terkesan dengan peningkatan statusnya dan teman-temannya, mata Naufal sampai berbinar-binar tak karuan, "Ini mah keren banget!"



"Dengan begini, kapanpun UM akan menyerang, aku tidak perlu khawatir."


__ADS_1


...\#\#Sistem Raja Pecundang\#\#...


__ADS_2