Sistem Raja Pecundang

Sistem Raja Pecundang
Fight Club (Rainala vs Rehan)


__ADS_3

Beberapa jam sudah berlalu, kini menunjukkan jam 14:00.


Pertarungan antara Naufal dan Arkan menjadi pembuka acara yang lumayan menarik. Saat ini, dua orang lelaki tengah bertarung di ring. Salah satunya adalah anggota dari Twenty Seven.


Singkat cerita pertarungan itu usai, anggota Twenty Seven kalah di pertandingan itu. Semua orang bersorak kepada pemenangnya.


"SUNGGUH KEMENANGAN YANG DRAMATIS!" teriak pembawa acara. Pemenang pertarungan tadi langsung keluar dari ring.


Pembawa acara tertawa. "Pertarungan tadi sangatlah hebat. Oke, mari kita lihat partisipan pertarungan berikutnya...." Ujarnya.


"Oh! ini menarik!"


"Pertarungan selanjutnya adalah... Rainala Devan vs Rehan Ahmad!"


...~~~...


Satu jam sebelumnya.


Terlihat Naufal, Rizki, dan Zulfi yang tengah duduk di bangku penonton. Mereka tengah menikmati pertarungan peserta lain, apalagi Zulfi yang terlihat sangat antusias.


"Whoa! yang ini keren juga, padahal mukanya udah bonyok gitu." Ujar Zulfi, senang. Ia menyoraki dua petarung yang tengah bertanding.


"Berisik banget, sialan." Gerutu Rizki yang kesal, saat ini ia tengah merekam pertarungan itu dengan Hp-nya.


Naufal tertawa melihat tingkah kedua temannya. Tiba-tiba dibelakangnya mereka berdiri seorang laki-laki berambut coklat. Naufal bisa merasakan kehadiran.


Pemuda itu menoleh ke belakang, dan melihat seseorang berdiri dibelakangnya. Naufal mengernyit, bingung. Ia tak mengenal orang yang ia lihat saat ini.


"Siapa, ya?" tanya Naufal. Laki-laki berambut coklat itu tersenyum, sembari menatap Naufal penuh intimidasi.


"Rehan." Kata Laki-laki itu. "Namaku adalah Rehan Ahmad. Kau si Raja Pecundang, kan?" Laki-laki itu bicara, ternyata ia adalah Rehan.


Sontak mendengar nama itu, Naufal langsung tersentak. Ia langsung berdiri dan bersiap-siap bertarung. "Kau!" Teriak Naufal.


Beberapa penonton yang mendengar Naufal berteriak langsung memusatkan perhatian pada Rehan, dan Naufal. Mereka semua kebingungan sampai bertanya-tanya.


Rehan tersenyum menyeringai, ia menunjuk Naufal dengan jari telunjuknya. "Hei Raja! Ayo bertarung denganku, aku sangat penasaran denganmu!" Teriak Rehan, suaranya sampai terdengar di seluruh penjuru tempat itu.


Naufal mengatupkan rahangnya. Ia merasakan intimidasi yang kuat dari Rehan. Naufal tertawa kecil. "Memangnya kau bisa mengalahkan ku?" Tanya Naufal meremehkan Rehan.


Rehan semakin merasa senang, tangannya mengepal erat sampai urat-uratnya muncul. Pemuda itu menyeringai. "Kita coba saja." Ujar Rehan.


Tiba-tiba saja, Rehan melesatkan tendangan yang begitu cepat pada Naufal. Saking cepatnya tendangan itu, mata Naufal tak bisa menangkapnya.


Bughh!


Tendangan itu mengenainya. Namun, Naufal tak merasakan apapun. Semua orang nampak terkejut, begitupun Naufal. Ternyata tendangan Rehan ditahan oleh Rain.


"Hmm..?" Rehan tersenyum, ia menarik kembali kakinya.


Rain menatap tajam Rehan, tatapannya penuh akan dendam. "Kita ketemu disini, ya, Rehan?" Ujar Rain.


Rehan mengangkat ringan bahunya. "Entahlah. Tapi, kau ini siapa?" Tanya Rehan. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Rain. "Soalnya aku tak pernah mengingat orang lemah." Ejek Rehan sembari tertawa meremehkan.

__ADS_1


Di samping itu, Naufal nampak masih kaget dengan kemampuan Rehan. Matanya melebar. "Apa-apaan itu? tendangannya sama sekali tak bisa aku lihat!" Batin Naufal.


Amarah Rain berada di puncak. Matanya sampai memerah karena marah. "Sialan." Lirih Rain.


Walaupun lirih, namun Rehan masih bisa mendengar ucapan Rain. "Hah? Apaan?" Tanyanya dengan raut wajah seperti mengejek.


Tanpa aba-aba, Rain langsung melayangkan pukulan ke wajah Rehan. Pukulan itu nampak kuat dan cepat, namun tak secepat seperti Rehan tadi. Rehan dapat menghindari serangan itu dengan mudah, lalu membalasnya dengan pukulan straight tepat ke wajah Rain.


Pukulan itu hampir mengenai wajah Rain, namun ia berhasil menghindarinya. Melihat perkembangan Rain, seketika membuat Rehan senang, ia tersenyum. "Bagus juga, Devan." Kata Rehan.


Rain tersenyum puas, ia menatap tajam wajah Rehan. Pandangan mereka saling bertemu. "Akhirnya kau ingat aku, Rehan!"


"Kau tidak akan melawan Naufal. Kau akan menjadi lawanku. Para eksekutif sudah mengaturnya untukku!" Ungkap Rain, ia menarik kerah baju Rehan.


Mendengar itu, bukannya marah, Rehan malah terlihat sangat senang. Ia tersenyum menyeringai sembari menatap Rain penuh intimidasi. "Omoshiroi¹." Ucapnya, lalu mendorong tubuh Rain.


[Omoshiroi \= Menarik]


Rehan membalikkan badannya, lalu berjalan meninggalkan Rain dan yang lainnya. Sebelum pergi Rehan berkata, "Aku menantikannya, Devan." Katanya lalu pergi meninggalkan Rain.


Rain menatap kepergian Rehan, ia terpaku akan kepergian mantan sahabatnya itu. Tiba-tiba, Naufal memegang pundak Rain, lalu menggoyangkannya.


"Apa maksudmu, bodoh!" Teriak Naufal. Ia kesal dengan kelakuan Rain.


Rain tak menggubris Naufal, ia malah menepis tangannya. Setelah itu meninggalkan Naufal.


"Ini bukan urusanmu, Fal." Kata Rain. "Orang ini biar aku yang urus."


Naufal diam menatap kepergian Rain, lalu ia kembali duduk di kursi. Naufal menahan dagu, wajahnya terlihat kesal.


...~~~...


Kembali ke masa sekarang. Kini di arena pertarungan telah berdiri 2 pemuda. Mereka berdua adalah Rainala Devan dan Rehan Ahmad yang sedang bersiap bertarung.


Semua penonton dan para partisipan sangatlah antusias dengan pertarungan ini. Top Rank 2 akan melawan partisipan yang bahkan tak masuk Top Rank sama sekali.


Rehan tertawa kecil sembari memijit-mijit keningnya. "Berisik sekali, ya, Van?"


Rain tak menjawab pertanyaan Rehan, ia malah menatap Rehan dengan tajam. Bukannya marah, Rehan malah senang akan sikap Rain.


Suara pembawa acara mulai terdengar kembali.


"BAIKLAH PARA HADIRIN, APAKAH KALIAN SEMUA SIAP?!"


Semua penonton langsung bersorak bersamaan. Lampu dimatikan dan membuat tempat itu menjadi gelap.


"Pertarungan kali ini adalah pertarungan partisipan biasa melawan partisipan Top Rank 2."


Lampu menyala dan menyorot Rain yang tengah berdiri di arena.


"Dari sisi penantang, Rainala Devan! Seorang dengan ilmu bela diri silat yang bahkan sampai mendapat julukan pendekar!"


"Ngomong-ngomong rumornya Rainala Devan pernah menjatuhkan satu sekolah sendirian saat masa smp nya. Ya, tapi siapa yang tau, itu hanya rumor. Lalu..."

__ADS_1


Lampu yang menyorot Rain berpindah menyorot ke Rehan.


"Dari sisi yang ditantang, Rehan Ahmad. Salah satu Top Rank di Fight Club, terlebih lagi orang ini adalah peringkat 2. Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Rainala. Tapi, tapi aku yakin pertarungan ini akan menjadi seru!"


"PENONTON MANA SUARANYA?!"


Semua penonton langsung bersorak kembali. Lampu yang menyorot Rain dan Rehan pun padam, kemudian lampu yang lainnya menyala dan menyorot area arena pertarungan saja.


"Baiklah. Pertarungan dimulai!"


Pembawa acara berteriak sekaligus memulai pertarungan antar Rehan dan Rain.


Di area, Rain tengah bersiap-siap menyerang Rehan, ia melakukan sedikit pemanasan kemudia memasang kuda-kuda silat miliknya.


Melihat itu Rehan tersenyum kecil, ia meremehkan Rain. Kemudian Rehan juga melakukan sedikit pemanasan, namun tak memasang kuda-kuda apapun.


Rain melesat lalu menyerang Rehan. Rain menendang Rehan dengan lihai, namun Rehan berhasil menghindarinya. Rain tak menyerah dan kembali menendang-nendang Rehan, namun semua tendangannya berhasil dihindari.


Rehan tersenyum sembari menghindari tendangan Rain. "Hei, memangnya kau sudah sekuat apa?"


Rehan tersenyum menyeringai berniat memancing amarah Rain. Namun Rain tak menggubris Rehan, dan lanjut menyerangnya meskipun tak mengenainya.


Lalu Rehan melompat jauh ke belakang menjauh dari Rain, kini ia berada di ujung arena. Kemudian ia melakukan boxing stance, dan bersiap menyerang balik Rain.


Rain berhenti menendang, ia memandang Rehan. Rain mulai ragu dengan kemampuannya.


"Boxing? tapi kenapa? dari sekian banyak bela diri yang sudah dia tiru, kenapa cuman boxing? A-aku harus berhati-hati." Batin Rain.


Rehan tertawa kecil. "Kau pasti terkejut, ya? kenapa aku memilih boxing."


"Boxing ini adalah tingkat paling rendah dari semua kemampuanku. Makanya aku hanya akan menggunakan ini kalau melawanmu." Ucap Rehan.


Mendengar ucapan Rehan seketika membuat Rain kesal. Kemudian Rain mengganti kuda-kudanya, lalu kembali melesat ke Rehan. Rain memberikan pukulan bertubi-tubi pada Rehan, namun selalu berhasil dihindari.


Rehan mengambil step ke kiri, lalu dengan kuat ia memukul bagian tulang rusuk Rain. Pukulan itu membuat Rain sampai melayang rendah di udara, bahkan pukulan itu menghasilkan hembusan angin yang kuat tepat di sisi lain tubuh Rain.


Rain menahan sakitnya, lalu berputar di udara, melepaskan tendangan yang kuat ke arah kepala Rehan. Tendangan itu lepas begitu saja tanpa mengenai Rehan, kemudian Rehan menangkap kaki Rain lalu membantingnya ke lantai arena.


Bum!


Tubuh Rain membentur lantai, membuat pemuda itu sangat kesakitan. Namun ia tak menyerah, dengan gerakan akrobatik ia kembali berdiri. Lalu segera bersiap dengan kuda-kuda jurus menangkap ular.


Rehan kebingungan. Dengan kuda-kuda jurus itu Rain tak bergerak sama sekali. Namun Rehan tak peduli, dengan kuat ia melayangkan pukulan straight ke Rain.


Namun tak disangka-sangka, Rain menarik pergelangan tangan Rehan dan melemparnya ke belakang. Rehan melayang di udara, lalu dengan cepat Rain langsung melesat dan melepaskan tendangan keras ke Rehan.


Bam!


Tendangan itu mengenai wajah Rehan sekaligus membuatnya terlempar lebih jauh sampai menabrak ujung arena. Kemudian bagaikan berteleportasi, Rain melesat dengan cepat ke depan Rehan. Sebuah pukulan keras kembali dilancarkan Rain ke wajah Rehan.


Syuut.... BUGGHH!


Rain berhasil mendaratkan pukulannya itu. Nampak wajah Rain yang dipenuhi keringat akibat pukulan terakhir yang ia layangkan itu.

__ADS_1


Sembari terengah-engah Rain berkata, "Ini adalah silat yang sudah aku latih selama ini, Rehan"


...##Sistem Raja Pecundang##...


__ADS_2