Sistem Raja Pecundang

Sistem Raja Pecundang
Rainala Devan saat SMP (end)


__ADS_3

Tak ingin berlama-lama, Devan langsung memasuki pabrik tua itu. Setelah masuk kedalamnya, Devan melihat tempat yang begitu luas.


Setelah itu, ia langsung mencari keberadaan Franz. Devan membuka pintu dari semua ruangan yang ada disana.


Devan terus-terusan membuka pintu-pintu ruangan, tanpa menemukan keberadaan Franz.


"Cih, dimana baj*ngan itu?" ucap Devan dengan kesal.


Lalu tiba-tiba ia melirik sebuah ruangan di lantai atas, ruangan itu bertuliskan Manager Room. Lalu tanpa berlama-lama Devan langsung menaiki tangga dan menuju ke ruangan itu.


Setelah sampai di depan pintu masuk ruangan itu, Devan langsung mendobraknya dengan kuat. Pintu itu langsung terpental ke dalam.


Setelah ruangan itu terbuka, terlihat Seseorang yang sedang duduk santai sembari menghisap rokok, membelakangi Devan.


Orang itu membalikkan kursi nya, ia menghadap ke arah Devan. Orang itu mengenakan kacamata, ia juga memiliki rambut berwarna kuning. Ia adalah Franz Saputra.


"Kau terlambat 1 menit 15 detik," ujar Franz lalu membuang rokok yang ada ditangannya.


Franz bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekati Devan.


"Kau ini anak sekolah bukan, sih?" tanyanya kepada Devan.


Tiba-tiba sebuah pukulan yang cepat mendarat di wajah Franz. Pukulan itu dilayangkan oleh Devan. Namun Franz menahan pukulan itu sebelum mengenai wajahnya.


"Sudah, ceritakan saja apa yang kau tau," ucap Devan dengan tatapan mata yang tajam.


Franz sedikit terkejut dengan tatapan mata Devan, lalu ia membuka kacamatanya dan balik menatap Devan dengan tajam.


"Aduh, anak ini sepertinya tak sabaran yah." ujar Franz


...~~~...


Beralih ke Rehan. Saat ini Rehan berada di wilayah SMK PLUS 27. Rehan sedang menuju ke markas Ridwan, yaitu gudang tua dibelakang SMK.


Sesampainya disana, Rehan sudah ditunggu oleh 10 bawahan Ridwan. Mereka sudah bersiap menghentikan Rehan, mereka juga membawa senjata tumpul.


"Woi! Rehan udah datang!" teriak salah satu berandalan itu.


Lalu para berandalan itu langsung menyerang dengan senjatanya secara bersamaan. Rehan terkena serangan baseball bat di kepalanya.


Darah mulai bercucuran dari kepalanya. Sepertinya Rehan sengaja tak menghindari serangan itu. Salah satu berandalan yang menyerang Rehan tampak terkejut, begitupun berandalan yang lainnya.


Mereka melihat Rehan yang tak berkedip sedikitpun walaupun darah terus mengalir dari kepalanya. Lalu Rehan menatap salah satu dari berandalan itu. Tatapan Rehan yang tajam membuat berandalan itu takut.


Lalu dengan sekejap, 10 berandalan itu terpental akibat diserang oleh Rehan. Serangan Rehan tak bisa terlihat oleh mereka.


Setelah itu Rehan melanjutkan perjalanannya, ia memasuki gudang itu.


Didalamnya, sudah berdiri puluhan berandalan yang siap menyerang Rehan kapan saja. Namun Rehan tak merasa takut sedikitpun, ia malah tersenyum lebar dan matanya juga terbuka lebar.


"Kalian semua...." ujar Rehan dengan tubuh yang mulai meloncat-loncat.


"Akan mati disini!!!" lanjut Rehan sembari menyerang para berandalan itu satu-satu.


Rehan menggunakan semua teknik bela diri yang sudah ia tiru. Kemampuan teknik-teknik nya itu bahkan lebih sempurna daripada pengguna aslinya.


Straight punch, Jab, Low Kick, Superman Punch, dan teknik-teknik lainnya. Devan melancarkan semua serangan itu tanpa ragu, walaupun dirinya juga terkena serangan dari musuhnya.


Dari atas, Ridwan melihat pemandangan mengerikan itu. Pemandangan dimana seorang bocah SMP membantai habis preman-preman SMK.


"Mengerikan sekali," ucap Ridwan.


"Sial*n. Kurasa ini akhir hidupku."


Kembali ke pertarungan Rehan. Dari tadi Rehan dibuat sibuk oleh para berandalan yang ia hadapi. Rehan tak selalu sanggup untuk menahan serang mereka.


Ada satu berandalan dengan perawakan tinggi dan besar. Ia memukul Rehan dengan kuat, saking kuatnya pukulan itu sampai mengeluarkan suara angin.


Rehan terpental jauh oleh pukulan itu, namun ia juga berhasil menahan pukulan itu. Seketika wajah Rehan berubah menjadi menyeramkan.


Rehan memandang berandalan besar itu sembari menyeringai. Rehan mengambil boxing stance dan melakukan footwork.


Lalu dengan cepat ia membalas berandalan itu. Rehan melayangkan pukulan yang sangat amat kuat, lebih kuat dari pukulan berandalan tadi.


Pukulan itu tepat mengenai wajah berandalan besar itu, sampai-sampai pukulan itu membuat retak tulang wajahnya.


"Sialan.. punya pukulan kuat itu, harus kau jaga agar tidak aku tiru!!!" teriak Rehan sembari menyeringai.


Setelah itu Rehan melanjutkan pembantaian nya. Ia bertarung sembari menaiki tangga untuk mendekati Ridwan.


Rehan kembali mendapatkan serangan bertubi-tubi, sampai-sampai seragamnya yang berwarna putih berubah menjadi merah karena darah.


..........

__ADS_1


Rehan telah sampai di atas, tepatnya tempat Ridwan berada. Ia berdiri tegak, dengan bersimbah darah.


Salah satu berandalan memeluk Rehan untuk menahannya, namun sayang sekali. Berandalan itu sudah sampai di batasnya, ia melepaskan pelukannya dan tergeletak di lantai.


Kini hanya tersisa Rehan dan Ridwan. Tampaknya Ridwan telah bersiap-siap, ia terlihat memakai satu buah knuckle di tangan kanannya.


"Hebat juga kau bisa sampai kesini," ujar Ridwan sembari memasang boxing stance.


"Tapi, kau akan berakhir disini!" teriak Ridwan yang langsung menyerang Rehan.


Satu pukulan dari Ridwan mendarat tepat mengenai pelipis Rehan. Membuat Rehan langsung terjatuh dan terkapar di lantai.


Rehan nampak sudah tak berdaya untuk menahan serangan lagi. Kesadaran Rehan mulai menghilang, pandangannya menjadi kabur. Akhirnya Rehan pun tak sadarkan diri.


..........


Tiba-tiba Rehan terbangun disebuah tempat. Tempat yang amat gelap sampai tak terlihat apapun. Rehan duduk disebuah kursi.


Rehan hanya duduk diam saja disana, tanpa bergerak sedikitpun. Tiba-tiba sebuah cahaya berwarna merah datang mendekatinya.


Lalu cahaya itu perlahan berubah bentuk menjadi manusia. Ia menjelma menjadi Devan.


"Lu ngapain disini, Han?" tanya Devan.


Rehan mengangkat kepalanya.


"Devan? kok bisa..." sahut Rehan dengan ekspresi terkejut sekaligus kebingungan.


"Devan! bantu gua, gua udah gak ada tenaga buat bertarung," ujar Rehan.


Namun Devan malah menutup mulut Rehan dengan jarinya.


"Sssstt.... itu tanggung jawab lu. Sekarang lu bangun, dan selamatkan Siti!"


..........


Rehan kembali sadar, perlahan ia membuka matanya. Pandangan Rehan kabur, namun ia bisa melihat Siti yang sedang diikat di kursi.


"Iya juga, ya. Kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa menyelamatkan Siti?" ujar Rehan di dalam hatinya.


Rehan pun bangkit dengan terkekeh-kekeh. Ia tersenyum kepada Ridwan, menandakan bahwa Rehan masih bisa bertarung.


"Hoh, masih bisa tersenyum, ya? bangs*t!"


Satu, dua, tiga, empat pukulan Ridwan layangkan kepada Rehan, namun itu tak membuat Rehan terjatuh.


Saat pukulan kelima akan mendarat di wajah Rehan, ia menahan pukulan itu dengan tangannya. Lalu Rehan menjambak rambut Ridwan, dan memukulinya habis-habisan.


"Tak peduli kau se-gigih apapun, Ridwan. Kau tak akan pernah bisa mengalahkan aku!" teriak Rehan.


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"


Rehan memukul wajah Ridwan dengan keras. Serangan itu membuat Ridwan langsung tak sadarkan diri.


Setelah itu Rehan langsung menghampiri Siti. Ia melepaskan ikatan yang mengikat Siti. Ia juga melepaskan tutup mata yang dipakaikan di wajah Siti.


Perlahan Siti membuka matanya. Seketika ia melihat Rehan yang bersimbah darah tersenyum kepadanya.


"Kamu gak apa-apa? hehe," tanya Rehan sembari tertawa kecil.


Siti langsung meneteskan air mata, dan menangis melihat perjuangan Rehan. Ia pun langsung memeluk Rehan dengan erat.


"Rehan.... Maafin aku. Hiks... Hiks." kata Siti sembari merengek.


"Iya, udah gak apa-apa. Yang penting sekarang kamu aman." sahut Rehan sembari mengusap rambut Siti.


...~~~...


Beralih kembali ke Devan. Nampaknya ia sedang berbicara dengan Franz.


"Biar kuberi tahu satu hal, bocah silat." Ucap Franz kepada Devan.


"Ibumu itu adalah seorang pendekar wanita yang sangat amat ditakuti. Namun sayang sekali, ia malah memilih memulai hubungan bersama ayahmu," ungkap Franz.


"Apa maksudmu?" tanya Devan dengan kesal.


"Yah, benar. Ibumu dan dirimu adalah keturunan Asli keluarga Rainala. Sebuah keluarga besar padepokan silat dan rumah bagi para pendekar kuat,"


"Suatu hari, ibumu memutuskan untuk berhenti menjadi pendekar dan memilih untuk mencintai ayahmu. Namun, hubungan ayah dan ibumu berjalan tak begitu baik, ibumu malah menjadi korban kdrt-,"


"hentikan..."


"HENTIKAN BANGS*T!!!!"

__ADS_1


Devan berteriak dan langsung memukul Franz. Namun Franz menangkap pukulannya, lalu melemparkannya ke sudut ruangan.


Devan terlempar ke sudut ruangan, ia menabrak dinding dengan keras, sehingga membuat temboknya hancur.


"Hei, apa kau tak khawatir dengan ibumu?" tanya Franz.


Devan tak bisa menjawab, ia merasa kesakitan karena dilemparkan cukup keras.


"Habisnya, aku sudah membayar ayahmu untuk membunuh ibumu! hahahaha!" pekik Franz.


Tiba-tiba Devan teringat perkataan ibunya saat ia akan berangkat sekolah. Dengan terburu-buru, Devan langsung berlari keluar dari pabrik itu. Meninggalkan Franz sendirian.


"Bocah bodoh, mau saja aku tipu," ucap Franz.


Franz mengambil bungkus rokok dari sakunya, lalu mengambil satu rokok. Lalu Franz membakar dan menghisap rokoknya.


"Sosok pendekar yang menyeramkan seperti ibumu itu, tak bisa kubiarkan hidup." ujar Franz sembari membayangkan aura dari ibu Devan.



Devan berlari kencang menuju ke rumahnya. Bahkan ia melewati jalan yang dipenuhi dengan mobil, ia meloncati semua mobil itu.



Saat hampir sampai di rumahnya, Devan mendengar suara sirine mobil ambulans dan polisi. Suara itu membuat Devan bergegas menuju ke rumahnya.



Sesampainya di rumahnya, semuanya sudah terlambat. Devan melihat ayahnya yang diborgol sedang berjalan sembari dikawal oleh beberapa polisi.



Terlihat banyak darah yang mengotori tangannya. Wajahnya juga sangat terlihat depresi.



Melihat itu Devan langsung berlari dan menendang ayahnya dengan keras. Ia mengetahui kalau ayahnya telah membunuh ibunya.



"Sial\*n!!! kau ayah yang tidak berguna!" teriaknya sembari memukuli Ayahnya itu.



Lalu beberapa petugas rumah sakit keluar dari rumah, sembari membawa seorang wanita yang penuh akan darah.



Melihat itu, Devan langsung merasa putus asa. Ia melihat ibunya terkapar tak berdaya, dengan tubuh yang dipenuhi oleh darah.



Tiba-tiba ia ditarik dan di tahan oleh beberapa polisi. Mereka menahan Devan karena membuat kekacauan, walaupun mereka tak tahu bahwa Devan adalah anak dari korban pembunuhan itu.



Devan hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara. Kemudian ia pingsan dan tak sadarkan diri.



Setelah itu semuanya berubah menjadi kacau. Rehan dinyatakan hilang oleh orang tuanya. Siti dipindahkan ke sekolah lain dan mendapatkan rehabilitasi karena ia kecanduan obat-obatan terlarang.


Ridwan dan para bawahannya dirawat di rumah sakit karena mengalami luka berat.


Sedangkan Rainala Devan kini hanya tinggal sendirian dirumahnya. Saat ini ia ini hidupnya dibiayai oleh pemerintah, karena ayahnya kini harus mendekam di penjara seumur hidupnya.


(Kurasa itulah akhir kehidupanku. Dengan diriku yang tak mempunyai apapun lagi. Akhirnya aku tak mempunyai semangat hidup.


Suatu hari saat aku sedang berada di kantin sekolah. Semua preman disekolah mengepungku disana. Saat itu mereka mencoba mengeroyokku, untuk membalaskan dendam mereka kepada Rehan.


Namun yang terjadi adalah aku menghajar mereka semua. Banyak orang mengatakan, bahwa saat itu aku tak peduli dengan keadaan lawanku, bahkan mereka mengira aku akan membunuh mereka.


Akhirnya kejadian itu diceritakan dan tersebar luas. Membuatku terkenal di daerah Jakarta tengah.)


Suatu hari Devan mengikuti turnamen pertandingan silat, dan ia masuk ke babak final. Namun yang menjadi lawan terakhirnya adalah Rehan. Sahabat Devan yang sudah dinyatakan hilang.


Akhirnya Devan kalah oleh Rehan di babak final. Tanpa sepatah kata apapun, Rehan pergi meninggalkan Devan sendirian di arena pertandingan.


Namun samar-samar, Devan melihat Rehan pergi bersama dengan Franz.


Setelah kejadian itu, Devan menjadi benci dengan orang-orang yang memiliki bakat bertarung.


...[Rainala Devan arc is end.]...

__ADS_1


...##Sistem Raja Pecundang##...


__ADS_2