Sistem Raja Pecundang

Sistem Raja Pecundang
Rainala Devan saat SMP (part 1)


__ADS_3


Cerita kembali ke 1 tahun yang lalu. Saat ini Rainala Devan masih duduk di bangku kelas 9 smp.


...****************...


(Semuanya dimulai saat aku masih duduk di bangku smp. Aku terlahir di keluarga yang tidak harmonis, ayahku yang sering mabuk-mabukan, ibuku yang terus di pukuli oleh ayahku. Bahkan aku mempunyai bekas sayatan pisau di tangan kiri ku, itu adalah perbuatan ayahku.)


Di sebuah gang kecil, terlihat 7 orang pelajar smp. Salah satu dari mereka sedang dipukuli oleh 6 pelajar lainnya. Orang yang sedang dipukuli itu adalah Rainala Devan.


"Woi cepet kasih uang lu ke kita,"


Kata salah satu pelajar. Pelajar yang satu ini mempunyai rambut ikal dan badan yang berisi, kulitnya berwarna hitam. Ia bernama Juned.


"Iya cepet siniin duit lu! gw laper nih pengen makan,"


Ujar pelajar lain sembari memukuli Rain.


(Lemah dan sering di pukuli, itulah aku.)


Lalu Rain berdiri sembari gemetar kesakitan, ia mengeluarkan 3 lembar uang dari saku nya, lalu memberikannya kepada keenam orang yang ada di depannya.


"I-ini.... cuman ada segini, ampun dong jangan sakitin gue lagi," ucap Rain sembari memegang-megang perutnya karena sakit.


Namun sebuah tendangan keras mendarat tepat di ulu hatinya, sehingga membuat Rain terjatuh.


BUGHH!!


"Hah apaan?! uang lu cuman 30 ribu, mana cukup buat kita berenam!"


Kata orang yang menendang Rain. Dia adalah Arif, seorang preman pentolan di tempat sekolah Rain. Sembari memegang rokok di tangannya, ia berdiri didepan Rain yang terbaring lemas.


"Miskin amat sih keluarga lu! mana bapak lu tukang mabok lagi, dasar bokap pengangguran!" ejek Arif dengan wajah yang mengesalkan.


(Aku tak berani membantah perkataan itu, namun tiba-tiba kedua temanku datang.)


"Woiii! sial*n lu berenam!"


Seseorang berteriak dari kejauhan, seseorang berlari kencang menuju ke arah mereka, ia melompat dan melakukan tendangan 1080° tepat ke arah kepala Juned.


Juned yang tak bisa menghindar, malah terkena oleh serangan tersebut, sehingga ia langsung terpental sampai menabrak tumpukan barang bekas di ujung gang itu.


Lalu dengan cepat orang itu langsung melakukan weaving untuk mengecoh 5 orang lainnya, pukulan jab dan pukulan straight terus melayang dan mengenai para perundung itu.


Tak membutuhkan waktu yang lama, orang itu sukses menghajar orang-orang yang merundung Rain. Ia mengulurkan tangannya ke Rain untuk membantunya berdiri.


Orang ini adalah Rehan Ahmad, teman sekaligus sahabat Rain. Rehan memiliki rambut berwarna coklat, matanya berwarna hitam pekat, dan rupa wajahnya juga tampan rupawan.


"Rain, lu gimana sih? lu kan bisa silat, kenapa gak dipake buat lawan mereka?" tanya Rehan dengan sedikit kesal.


Namun dibelakang Rehan, sudah ada Arif yang bangkit dengan memegang balok kayu. Tanpa ancang-ancang ia langsung memukul tengkuk Rehan.


"Sial*n lo Rehan!!!!" teriak Arif.


BUGH!


Namun sayang, Arif terkena sebuah tendangan di wajahnya dan membuat ia kembali jatuh tak sadarkan diri. Tendangan itu dilakukan oleh seorang remaja perempuan.


Remaja perempuan itu bernama Siti Andrita. Wajahnya cantik, tubuhnya juga sangat ideal, namun jangan tertipu dengan itu. Dibalik penampilan luarnya, Siti adalah seorang dengan kemampuan kick boxing.


"Pft, kalian berdua ini nggak pernah berubah ya?" ucap Siti sembari tertawa kecil.


.........


(Aku, Rehan, dan Siti adalah anggota OSIS di sekolah kami. Kalau diingat-ingat, itu masa-masa yang menyenangkan.)


Beralih ke sebuah sekolah menengah pertama atau SMP, di dalam ruangan OSIS. Terlihat Rain yang sedang diobati oleh Siti, disana juga ada Rehan yang melihat mereka dengan tatapan cemburu.


"Ck, dasar Rain. Harusnya lu gak usah diobatin begitu," batin Rehan sembari memasang wajah cemberut.


"Aw!" rintih Rain yang kesakitan.


"Sakit? makanya kalau dikeroyok tuh lawan!" ejek Siti dengan kesal.


Rehan yang sedari tadi melihat pemandangan yang membuatnya kesal, tiba-tiba berdiri sembari memegang beberapa kertas di tangannya. Kertas itu adalah data kasus jelek disekolah mereka.

__ADS_1


"Ini aneh banget gak sih? kita bertiga dan osis yang lain udah beberapa kali grebek para pelaku pembuat onar disekolah kita," kata Rehan sembari berjalan mendekati Siti dan Rain, "tapi masalah ini gak kelar-kelar, padahal ini tahun terakhir kita di sekolah ini," lanjutnya.


"Bener tuh, aku juga capek ngurusin para preman itu," ujar Siti dengan wajah kesal.


Rain hanya bisa melihat pekerjaan kedua temannya itu, Rain tak pernah memenangkan duel dengan siapapun. Meskipun Rehan mengenal Rain dengan silat, namun Rain tak pernah sekalipun melawan balik atau mengintimidasi orang di sekitarnya.


Berbeda dengan Rain, Rehan sangatlah berbakat dan pintar berkelahi, ia juga memiliki aura intimidasi yang kuat. Semua kemampuan Rehan selalu ia dapatkan setelah melihat orang menggunakan teknik yang belum ia pelajari, bisa dibilang ia adalah peniru.


"Woi Rain! lu ada saran gak?" tanya Rehan sembari melambai-lambaikan tangannya di depan mata Rain.


"Hah? a-aa... gimana ya??" kata Rain.


"Hahehahoh, bantuin mikir!" sentak Rehan dengan tegas.


Rain menggaruk-garuk kepalanya, perlahan ia menutup matanya dan mulai berpikir. Tak lama kemudian Rain terpikirkan oleh beberapa film yang pernah ia tonton, salah satu film itu menceritakan polisi yang kesusahan mencari dalang pelaku pembunuhan.


Rain mengetahui ending film tersebut, endingnya adalah semua pelaku kejahatan memiliki seseorang yang punya kekuasaan lebih besar mengontrol mereka.


"Hei, apa mungkin para preman itu mempunyai bos yang lebih besar?" tanya Rain dengan wajah serius.


"Bos yang lebih besar? maksudnya apa?" tanya Siti yang sedang membereskan bekas mengobati Rain tadi.


"Pasti ada!" celetuk Rehan, dia mengambil sebuah kertas yang ada foto wajah arif, "liat dia, gak mungkin banget ada ketua preman selemah ini!" ucapnya.


"Rain kau hebat! besok kita akan mulai operasi mencari bos utama mereka," kata Rehan dengan sangat bersemangat.


"Bos utama? maksudnya?" ucap Rain yang heran dengan Rehan.


"Pokoknya kayak gitu lah!" tegas Rehan, lalu ia berjalan mendekati pintu dan membukanya, "kegiatan OSIS hari ini selesai! kita bertemu lagi esok pagi." katanya sembari meninggalkan ruangan itu.


"Ya sudah. Aku pulang bareng Rehan ya, dadah!" kata Siti sembari berlari menyusul Rehan.


Kemudian Rain juga berdiri, sebenarnya ia selalu memperhatikan kedua temannya itu. Rain juga menyadari bahwa kedua temannya itu saling menyukai satu sama lain, hanya saja mereka malu untuk menyatakannya.


Rain mengambil kunci ruangan itu, lalu ia bergegas keluar dan mengunci pintunya. Setelah itu Rain beranjak pulang ke rumahnya.


.........


Di tempat lain, tepatnya di sebuah perumahan. Terlihat Rain berdiri sembari memandangi sebuah rumah. Rumah itu seperti sudah tak layak huni, halamannya sangat berantakan, jendelanya di penuhi oleh selotip. Rumah itu adalah tempat yang ia tinggali bersama ayah dan ibunya.


"AAWWWW!"


"Selalu saja seperti ini, kapan aku bisa hidup tenang?" batin Rain, "para tetangga juga hanya memandangku. Hentikan tatapan kalian itu, padahal kalian punya televisi, kenapa malah melihat seorang remaja sepertiku?"


Lalu seorang lelaki dewasa keluar dari rumah itu, ia adalah Yudi ayah Rainala Devan. Badannya terlihat atletis, namun tatapannya sangatlah kosong. Yudi lebih terlihat seperti alat daripada manusia.


Langkah Yudi terhenti, ia melihat putranya yang hanya berdiri di depan rumah sembari dipandangi oleh para tetangga. Tiada angin tiada hujan, Yudi seketika terlihat marah dan menghampiri Rain.


"Woi tol*l! lu ngapain disini?!"


Yudi mencekik leher Rain, lalu ia menamparnya berkali-kali. Namun pandangannya tak tertuju pada Rain, tapi ia memandangi semua tetangga yang menonton langsung kejadian ini.


"Lu pada liat apaan hah? bubar anj*ng!" teriak Yudi ke para tetangganya.


Seketika para tetangga itu langsung berlari kocar-kacir karena takut oleh Yudi, sampai-sampai ada salah satu orang yang terjatuh masuk ke dalam got karena saking takutnya.


Yudi membanting Rain ke pintu rumah, lalu menginjak-injak tangannya. Yudi terlihat sangat kesal dengan Rain, bahkan Yudi seperti tak melihat Rain sebagai putranya.


"Lu apa-apaan sih? kalau udah sampe rumah tuh masuk, bukan malah bengong gak jelas!" tegur Yudi sembari terus menginjak-injak tangan Rain, "ngerti gak?!"


"Aarrgghh!! ampun pak!" rintih Rain.


"Minta maaf atau gue injek-injek kek gini terus, hah?" kata Yudi dengan nada tinggi.


"Iya pak! ampun Devan minta maaf! maafin Dev-"


Namun naas, sebelum dapat menyelesaikan permintaan maafnya, wajah Rain diinjak sekuat tenaga sampai ia pingsan. Melihat Rain yang pingsan, Yudi tak peduli dan segera keluar dari rumah itu.


Setelah itu, dari dalam kamar muncul seorang wanita dengan rambut yang berantakan dan wajah yang dipenuhi oleh luka lebam, ia menarik tubuh Rain dan segera menutup pintu rumahnya.


Wanita itu adalah Yani, ibu dari Rainala yang baru saja sadar dari pingsannya akibat ulah Yudi.


.........


Keesokan harinya di ruangan kamar mandi, terlihat Rain yang sedang mandi. Hari ini ia akan menyelidiki tentang kasus preman disekolahnya bersama kedua temannya.

__ADS_1


Setelah mandi, Rain langsung memakan sarapan yang telah ia buat sebelumnya. Tak lama kemudian, ia telah menghabiskan sarapannya dan langsung berangkat sekolah.


.........


Pukul jam 13:00


Seluruh kegiatan sekolah telah selesai, kini hanya ada 3 orang siswa dan beberapa guru di sekolah. Rehan, Siti, dan Rain sedang bersiap memulai aksi mereka mencari bos dari para preman-preman sekolah.


Pertama-tama mereka bertiga pergi ke sebuah warung besar tempat nongkrong Arif dan teman-temannya. Namun Siti dan Rain malah ragu dengan apa yang sedang mereka lakukan.


Setibanya di warung yang dimaksud, mereka bertiga bersembunyi di seberang jalan di dekat warung itu. Siti yang dari tadi tak yakin dengan apa yang mereka lakukan, mulai berbicara.


"Rehan, apa gak masalah kita langsung datang kesini?" ucap Siti dengan nada rendah.


"Iya Rehan, lu pikir kita akan selamat jika ketahuan?" timpal Rain.


"Ha? apaan kalian ini? kalian takut?" sindir Rehan, lalu ia berjalan melintasi jalan dan langsung masuk ke dalam warung itu, ia meninggalkan Siti dan Rain yang masih ada di seberang jalan.


Di dalam warung itu, Rehan malah keheranan dengan isinya. Tempat itu lebih terlihat seperti sebuah cafe daripada sebuah warung, tempat itu memiliki banyak ruangan di dalamnya, salah satunya adalah ruangan dimana Arif dan teman-temannya berkumpul.


"Aneh sekali, tempat ini lebih terlihat seperti markas mafia di film-film,"


Rehan berjalan menelusuri seluruh penjuru warung ini. Tiba-tiba ia mendengar suara beberapa orang tertawa di salah satu ruangan. Rehan mendatangi ruangan itu, lewat celah di tembok ia melihat Arif dan teman-temannya sedang meminum minuman beralkohol.


Selain itu, wajah Arif dan teman-temannya juga terlihat memerah akibat mabuk. Hal itu membuat Rehan marah, sebagai ketua OSIS di sekolahnya, ia sangat membenci orang pemabuk.


"Sial*n, ternyata ini yang bikin mereka betah nongkrong disini, awas aja kalian."


Rehan langsung mendobrak pintu tempat Arif mabuk. Lalu dengan emosi yang memuncak, Rehan menarik kerah baju Arif dan melemparkannya keluar ruangan itu.


"Woi Arif, kali ini lu ketangkap basah. Lu udah ketahuan mabuk disini dan gue akan laporin lu!" kata Rehan dengan lantang.


"Hah? Huwahahaha," Arif tertawa mendengar ucapan Rehan.


"Lah, kok lu ketawa?" tanya Rehan dengan heran.


"Coba aja kalau bisa, lu kira mudah keluar dari tempat ini?" kata Arif, lalu ia langsung terkapar pingsan karena mabuk.


Rehan kebingungan dengan perkataan Arif, namun ia langsung masuk kembali ke ruangan tempat Arif mabuk-mabukan. Rehan memotret semuanya dengan ponselnya.


Namun saat sedang memotret, tiba-tiba Rehan ditarik oleh seseorang dengan kuat. Dengan sigap Rehan melepaskan diri dari tarikan itu, ternyata ada seorang remaja laki-laki yang menariknya.


Remaja itu terlihat memakai baju seragam SMK plus 27. Ia adalah Ridwan, ketua dari perkumpulan semua preman di warung itu.


"Hei, lu kesini buat cari gue kan?" tanya Ridwan dengan tatapan yang tajam.


"Nyariin lu? emang lu siapa?" Rehan menanyakan balik.


"Bangs*t, yang kayak gini nih, harus dikasih paham!" kata Ridwan sembari melesat ke arah Rehan.


Ridwan menghajar wajah Rehan sampai tubuh Rehan melayang di udara.


"Lu nyari ketua anak-anak sini kan? gue ketuanya!" ucap Ridwan dengan lantang.


Rehan yang masih ada melayang di udara, seketika tersenyum menyeringai mendengar ucapan Ridwan itu. Rehan memutarkan badannya dan menendang wajah Ridwan.


"Gobl*k amat lu, lu kira gue takut?" ucap Rehan dengan nada mengejek.


Lalu dengan sigap keduanya langsung melesat dan memberikan pukulan satu sama lain. Rehan dengan kemampuannya untuk meniru teknik lawannya, berhasil seimbang melawan Ridwan.


Pukulan demi pukulan terus mereka layangkan, sampai-sampai saat wajah mereka terkena pukulan pun mereka tak peduli dan terus beradu pukulan.


Tiba-tiba Rehan melakukan tendangan 360° ke arah kepala Ridwan sampai lawannya itu terjatuh. Dari sini tingkat pertarungan mereka meningkat. Ridwan bangkit dan memasang kuda-kuda silat.


Rehan tak peduli dengan kuda-kuda Ridwan, ia malah langsung berlari menuju Ridwan. Namun sayang, Rehan terkena tendangan memutar oleh Ridwan.


Ridwan menggunakan bagian belakang kakinya untuk menendang Rehan. Tentu saja tendangan itu membuat Rehan kesakitan.


"Dasar bocah smp. Lu gak akan bisa menandingi gue!" ejek Ridwan sembari tersenyum menyeringai.


...##Sistem Raja Pecundang##...


...------------------------------------------------------------------------------------------------...


...!!!!ILUSTRASI PENAMPILAN RAIN, REHAN, DAN SITI SAAT SMP!!!!!...

__ADS_1



...Sekian. Sampai ketemu Minggu/Senin depan....


__ADS_2