
(Reminder. Ini adalah side character story)
"Oi, Naufal!"
Seorang remaja laki-laki berlari ke arah Naufal dengan tergesa-gesa. Lalu ia menepuk punggung Naufal dengan keras.
Bugh!
"Aw sakit! siapa si-"
Naufal menoleh ke belakangnya sembari menahan sakit. Seorang remaja lelaki dengan wajah yang tampak panik berdiri dibelakangnya.
"Bro tolongin gua!" dengan napas yang terengah-engah, ia menambahkan, "gua disuruh kencan sama ayahnya Alisa!" ujarnya.
Ia adalah Dani Singjaya, salah satu petinggi kru Twenty Seven. Perawakannya kini tampak berubah, ia bertambah tinggi. Parasnya berubah menjadi tampan rupawan.
"Hah?" mulut Naufal ternganga. Tentu saja ia terkejut dengan perkataan Dani, apalagi mereka berdua tidak sering bicara satu sama lain.
"Eh, ngapain aku terkejut?" batin lelaki itu.
Lalu Naufal membalas perbuatan Dani. Ia menendang kaki Dani dengan tenaga sedang, tentu saja tendangan itu Dani sedikit kesakitan.
"Oi, sakit bego." kata Naufal setelah menendang.
...~~~...
"Oh jadi gitu ceritanya," Naufal mengangguk-angguk sembari memejamkan matanya, "terus, kenapa kamu malah panik? bukannya itu bagus?" tanya lelaki itu.
Seketika wajah Dani berubah, ia menatap Naufal dengan tajam, "Bagus darimana, hah?" balas Dani dengan menyeringai.
"Gini ya, aku tuh gak suka sama dia. Memang sih dulu kami saling suka, tapi sekarang tidak," kata lelaki itu, lalu ia membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada Naufal.
"Aku tuh lebih suka yang ini,"
Tenyata Dani menunjukkan foto Putri, sang pujaan hatinya. Naufal pun hanya memberikan setengah senyuman, ia sendiri kebingungan dengan apa yang diinginkan oleh Dani.
"Apapun itu terserah. Tapi menurutku Alisa lebih cantik sih," ucap Naufal sembari melanjutkan perjalanannya menuju ke sekolah.
"Hah? lebih 'cantik' apanya? dia itu kebantu sama dandanannya," Dani menyusul Naufal. Sepertinya Dani benar-benar tak menyukai Alisa.
"Dandan? nggak pake tuh, matamu buta, kah?" ejek Naufal. Naufal juga menambahkan, "kamu tau, kan? Alisa itu terluka parah saat 'itu',"
"Ah, tentu saja. Itu salahnya sendiri," sahut Dani dengan ekspresi kesal, ia mengepalkan tangannya, "gara-gara dia-"
__ADS_1
"Sudahlah, terima saja." Tegas Naufal, ia menatap tajam kearah Dani. Seketika langsung membuat Dani merasakan sebuah aura intimidasi yang kuat.
Setelah itu mereka berhenti berbicara, dan membuat keadaan menjadi hening. Naufal nampak sedikit kesal, terlihat dari wajahnya yang mengeras.
"Omong-omong, hubunganmu dengan Alisa apa?" tanya lelaki itu tiba-tiba. "Aneh juga, kan? kok bisa ayah Alisa mau anaknya kencan sama si Nolep ini?" batinnya dengan keheranan.
"Tunangan." jawab Dani dengan suara kecil.
Mendengar itu Naufal sangat terkejut sampai-sampai badannya bergetar. Lalu ia berbalik dan memandang Dani.
"HAH......?!" Naufal sangat terkejut.
...****...
Keesokan harinya, terlihat Dani berdiri didepan sebuah rumah yang amat sangat besar dan megah. Ia mengenakan pakaian yang sangat rapih, dan juga mengenakan parfum yang sangat wangi.
Dani sepertinya sedang menunggu seseorang keluar dari rumah itu. Lalu ia melirik kebelakang, terlihat sebuah motor SBR yang terparkir dijalan.
"Ah sialan, sampai harus bawa motor juga," gumam Dani sembari menghembuskan nafas panjang. "selain itu, nih cewek lama banget!"
Lalu Dani masuk ke halaman rumah itu, dan menuju ke pintu masuk. Setelah itu ia hanya berdiri didepan pintu tanpa melakukan apapun.
"Sial Sial Sial. Mau ngetuk pintu tapi malu, aaaaaaa." batin Dani, bersamaan dengan tubuhnya yang mulai gemetaran.
Lalu tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya. Dan munculah seorang gadis dengan paras yang sangat cantik. Ia adalah Alisa Nur Putri, sang gadis yang akan berkencan bersama Dani.
"Aduh maaf ya, pasti nunggunya lama. Aku dandan dulu tadi, hehe," kata gadis itu sembari menatap Dani.
Perlahan wajah Dani mulai memerah. Tanpa ia sadari, ia terpikat dengan kecantikan gadis yang ada dihadapannya. "Biasanya juga ngebully aku, kok sekarang jadi cantik kayak gini?" Batin Dani.
"Eh, Dani kamu.."
Alisa menyentuh kening Dani, "kamu sakit, ya? muka kamu merah banget," ujarnya sembari membolak-balikkan tangannya.
"Hah?! ng-nggak kok!" timpal Dani, ia menyingkirkan lengan Alisa. "ini aku tadi nungguin cukup lama, jadi kepanasan sedikit, hehe." ujarnya.
"Gilak! lebih cantik dari waifuku!"
"Kalau gitu, ayo berangkat!" ajak Dani lalu bergegas keluar, dan menuju ke motornya.
Alisa mengikuti Dani dari belakang. Namun sesampainya disana, ia terkejut dengan kendaraan yang dibawa oleh Dani.
"Dani..., aku sebenarnya gak mau ngecewain kamu, tapi..." Alisa sedikit keberatan dengan motor SBR yang dibawa oleh Dani. Saat ini ia tak mengenakan setelan baju yang cocok untuk naik motor.
__ADS_1
"Ah, gitu ya? gak jadi dong?" Tanya Dani dengan sedikit sedih. Namun didalam hatinya ia sangat senang jika kencannya dibatalkan.
"Jadi. Tapi kita naik mobil pribadi punyaku aja, ya." ujar Alisa yang seketika membuat semangat Dani menurun.
Dani pun hanya bisa mengangguk dan memberikan setengah senyumnya.
...~~~l...
25 menit kemudian. Kini Dani dan Alisa tampak duduk didalam mobil, mereka duduk bersebelahan dikursi belakang.
Mobil berjalan dengan kecepatan yang lumayan cepat, namun tak menimbulkan suara didalam mobil itu. Akan tetapi, suasana didalamnya sangatlah hening. Dani dan Alisa tak berbicara satu sama lain.
"Anu... Alisa, kita akan kencan ke mana?" tanya Dani untuk mencairkan suasana.
Alisa yang sedari tadi pandangannya lurus ke depan, langsung menoleh ke arah Dani, "Wahana Divan," jawab Alisa sembari tersenyum simpul.
"Oh." sahut Dani singkat. Lalu ia teringat sesuatu, "luka kamu udah sembuh?" tanya Dani kembali.
"Luka apa?" Alisa sedikit kebingungan dengan pertanyaan Dani. Namun sesaat kemudian, ia mengerti apa yang ditanyakan oleh Dani.
"Udah sembuh, kok! ya walaupun aku dirawat hampir satu bulan di rumah sakit," jelas Alisa. Lalu ia menatap tubuh Dani, "kamu sendiri gimana? katanya kamu terluka parah,"
"Haha, tenang saja. Aku udah sembuh, Doni sensei sudah mengobatiku,"
"Kamu gak keberatan, kan?" ujar Alisa. Lalu ia memandang wajah Dani dengan tatapan yang terasa sedih. "aku sering bully kamu di sekolah, jadi aku pikir kam-"
"Iya. Aku keberatan sekali, sial. haha," Dani tertawa sembari meremas rambutnya. Lalu tatapannya berubah menjadi tajam, "iya kamu benar. Aku keberatan kalau kencan sama kamu,"
"Kamu selalu membully aku saat di sekolah. Apa karena aku terlihat lemah? atau karena aku sangat culun? maaf saja, ya!" celoteh Dani sembari menunjuk-nunjuk Alisa.
"Sejak hari itu kamu menjauh , dan mulai membully aku! karena aku lemah, kan? kamu telah memberikan tahun-tahun yang buruk bagiku!"
Mendengar itu membuat mata Alisa melebar, ia sangat terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Dani. Alisa sendiri tak menyangka bahwa sikapnya sudah keterlaluan.
Alisa merasakan sakit hati yang amat luar biasa. Ia menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya, walaupun matanya sedikit berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Dani. Aku tak berniat memperlakukanmu seperti itu," jawab Alisa. Gadis itu menundukkan kepalanya, sehingga membuat wajahnya tertutupi oleh rambut, "tapi,"
"Tapi apa, hah?"
"Tapi jika kamu mau menjalani kencan ini, aku akan meminta ayah untuk membatalkan pertunangan kita. Seperti yang kamu inginkan 'saat itu'." jelas Alisa lalu menggenggam tangan Dani.
"Ini akan menjadi momen terakhir kita, Dani. Aku harap kamu mau menyetujuinya." Batin Alisa.
__ADS_1
Apakah pertunangan ini akan berakhir? ya entahlah. hanya The Creator yang tau.
...##Sistem Raja Pecundang##...