Sistem Raja Pecundang

Sistem Raja Pecundang
Fight club (Zulfi vs Jefri)


__ADS_3

Singkat cerita, 2 jam berlalu setelah pertarungan sengit antara Dani dan Santoso. Pihak acara selama 2 jam ini melakukan istirahat bagi para petarung terlebih dahulu, lalu mereka juga membersihkan puing tembok yang hancur di arena.


Seluruh anggota twenty seven kini berada di ruang kelas Naufal, tak terkecuali Rain, ia tetap memaksakan diri untuk berkumpul bersama teman-temannya.


"Kau tak usah memaksakan diri untuk datang, Rain." Ujar Naufal. Di kedua tangannya sudah terpakai sepasang gelang pemberat, seberat 25 kg di satu gelangnya.


"Apa-apaan kau ini? Hal seperti ini tidak berpengaruh padaku." Sahut Rain, kemudian tertawa pelan. "Tapi aku tak menyangka, loh. Bahwa aku satu-satunya orang yang kalah disini."


Mendengar itu, Zulfi tertawa pelan. "Hei, santai saja. Aku juga belum bertarung. Kau lihat si Rizki itu," Zulfi menunjuk Rizki yang tengah berada di pojok ruangan bersama dengan seorang gadis, "abis bertarung bisa dapet pacar, keren bukan?" Tanyanya.


"Benar. Kekalahan mu itu tak usah kau pikirkan. Bahkan jika aku melawan orang 'itu' pasti aku juga sudah babak belur." Kata Naufal.


Tiba-tiba, seseorang merangkul pundak Naufal dari belakang. Ia adalah Dani. "Tapi, sebentar lagi kau akan melawannya, bukan? Kuharap kau bisa memenangkannya." Ujar Dani.


Naufal menyingkirkan tangan Dani yang merangkul pundaknya. "Yang lebih penting, kenapa kalian berdua tidak datang kesini saat acara akan dimulai? Harusnya kalian datang sesuai dengan perjanjian kita." Tanya Naufal kepada Rain dan Dani.


"Yah, kami sibuk meminta kepala sekolah untuk mengatur pertarungan kami. Berkatnya, aku bisa bertarung dengan teman lamaku." Jawab Rain. Dani mengangguk-angguk untuk meyakinkan jawaban Rain.


"Ah, begitu ya? Kak Parfait yang mengatur pertarungan kalian." Ujar Naufal. "Lalu, siapa dari kita yang bertarung selanjutnya?"


"Kebanyakan peserta melarikan diri setelah melihat pertarungan brutal kita. Kurasa mereka juga menyayangi tubuh mereka sendiri." Tambah Naufal.


Dari belakang Naufal, Zulfi memegang pundaknya. "Selanjutnya adalah aku loh, doakan ya!" Ucap Zulfi.


Naufal melempar senyum miring pada Zulfi, lalu menganggukkan kepalanya seperti berkata 'Tentu!'.


Tiba-tiba Rizki berjalan menuju mereka bersama dengan seorang gadis di sampingnya. "Aku dapat bocoran. Nanti setelah pertarungan Zulfi, akan ada pertarungan triple." Ungkapnya.


"Pertarungan triple?" Naufal dan yang lainnya bertanya serentak.


"Ya. Pertarungan triple. Mempertemukan tiga orang peserta dalam satu arena untuk mencari siapa yang pantas menuju babak final. Melawan ketua osis, Kenshin Adiputra." Rizki menjelaskan dengan santainya.


"Begitu ya? Kenshin Adiputra, ya... Memangnya dia sekuat apa?" Tanya Naufal.


"Kenshin? Kurasa dia mungkin lebih kuat daripada Rehan, atau bisa dibilang satu tingkat dibawah 'pak tua' itu." Jawab Rizki.


"Ini hanya tebakan ku saja, tapi kurasa yang akan bertarung di pertarungan triple adalah," Rizki menunjuk Naufal dengan tangannya, "Naufal, Purnama, dan Rehan." Katanya.


...


Beberapa menit kemudian, acara dimulai kembali. Kali ini adalah pertarungan duel terakhir sebelum menuju ke pertarungan triple. Para penonton telah memenuhi kursi, bahkan Naufal dan yang lainnya juga sudah siap menonton.


Di arena sudah terlihat dua orang yang akan bertarung satu sama lain. Mereka adalah Zulfi dan Jefri. Pembawa acara mulai mengangkat mic lalu berbicara.


"Yeah! Ini adalah pertarungan duel terakhir sebelum kita masuk ke bagian ******* acara ini!"


"Di sisi kanan sudah ada sang penantang, dek Zulfi Hermawan. Adek ini adalah murid kelas 10 dari jurusan Tkj, terlebih dia juga salah satu petinggi dari kru Twenty Seven! Berikan tepuk tangan!"


Para penonton bersorak dan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Nampaknya para penonton betul-betul sudah menikmati pertarungan.


"Adek katanya? Bukan kah itu keterlaluan, bahkan yang sebelumnya tidak dipanggil adek!" Batin Zulfi sedikit kesal.


"Lalu, disebelah sisi kiri sudah ada Jefri, sang Eksekutor dari kru Eternity. Jefri ini adalah murid kelas 11 jurusan tkj."

__ADS_1


"Apakah ini akan menjadi pertarungan antar jurusan tkj yang terbaik? Saksikanlah! Pertarungan dimulai!"


Pembawa acara memulai pertarungannya. Zulfi dan Jefri langsung bersiap dengan boxing stance. Keduanya saling berjalan berputar satu sama lain, berniat mencari celah.


"Kita bertemu lagi, ya, Zulfi? Aku menyesal tak memilihmu sebagai lawanku saat pertarungan di markas kru-mu itu," Jefri maju selangkah. "Kau juga belajar 'itu' kan?" Tanya Jefri.


Zulfi tersenyum kecil, kemudian maju satu langkah. "Benar. Aku juga belajar 'itu' dari si pak tua." Jawab Zulfi. Setelah itu dengan cepat ia mengambil step ke kanan, dan memukul Jefri sekuat tenaga.


Buggh!


Suara pukulannya terdengar keras. Namun pukulan itu tak membuat Jefri kesakitan, ia malah melayang di udara karena menahan pukulan Zulfi. Jefri tersenyum miring, lalu berputar di udara, dan melayangkan pukulan ke wajah Zulfi dengan keras.


Braakkk!


Wajah Zulfi tersungkur jatuh ke lantai, menyebabkan lantainya sedikit retak. Zulfi sedikit melirik Jefri dengan tatapan yang sangat terkejut.


"Pivot blow?" Batin Zulfi. Setelah itu Zulfi bergegas berdiri, mengangkat tubuhnya dengan tangan, lalu menendang keras ulu hati Jefri.


Jefri meludahkan liur dari mulutnya, ia sangat amat merasakan sakit akibat tendangan Zulfi. Pemuda itu nampak sangat-sangat kesakitan sampai memegang area yang ditendang tadi.


Zulfi memanfaatkan kesempatan itu. Ia mengangkat tinggi kakinya kebelakang, lalu dengan sekuat tenaga melancarkan low kick pada Jefri. Tendangan itu sangat kuar, bahkan Jefri sampai terbalik dan jatuh.


"Low kick? Memangnya itu diperbolehkan?!" Jefri tak terima.


"Kau tak terima? Pivot blow juga salah satu pelanggaran loh." Balas Zulfi, kemudian tertawa. "Sudahi saja bercanda ini, Jefri. Mari kita beradu Iron boxing yang sudah kita pelajari."


Mata Jefri membulat, ia merasakan gejolak hawa panas di dalam tubuhnya. Sosok Zulfi saat ini sangat membuatnya termotivasi dan semangat. Pemuda itu berdiri, kemudian mengambil boxing stance, namun sedikit berbeda dari biasanya.


Zulfi yang melihatnya, juga melakukan hal yang sama. Lalu, Zulfi mulai melancarkan satu pukulan, namun berhasil dihindari oleh Jefri, dan malah dibalas dengan pukulan mengenai tulang rusuknya.


Darah bercipratan kemana-mana. Jefri terhempas lumayan jauh kebelakang, namun ia menahan tubuhnya dengan kaki. Dalam sekejap, Jefri langsung melesat dengan cepat ke arah Zulfi, dan memberikan serangan balik.


Keduanya terus saling bertukar pukulan. Wajah dibalas dengan wajah, dada dibalas dengan dada, perut dibalas perit. Pertarungan semakin menjadi-jadi membuat para penonton semakin puas dengan apa yang mereka saksikan.


Sementara itu di bangku penonton, Naufal tengah bersantai bersama teman-temannya, menikmati pertarungan yang dipersembahkan oleh Zulfi sebagai hiburan.


Tiba-tiba dari belakang muncullah seorang lelaki, ia adalah Purnama. Dengan wajah yang riang, Purnama menyapa, "Yo, Naufal!"


Naufal menoleh kebelakang dengan wajah tak senang. "Ganggu banget kau," Naufal berdiri lalu menghampiri Purnama. "Ada apa? Apa ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Naufal.


Purnama malah tertawa sok asik. Ia menggebuk pelan punggung Naufal. "Bukan itu loh... Ini soal Jefri yang sedang bertarung sih," ujarnya.


"Hah? Ada apa dengannya?" Tanya Naufal lagi.


"Bukan apa-apa sih. Cuman aku tak yakin kalau temanmu itu bisa mengalahkan Jefri," Purnama mengarahkan telunjuknya pada Jefri yang tengah bertarung. "Dia itu sudah seperti seorang Mike Tyson, kau tahu? Bahkan dia sudah berada di level petinju nasional."


"Jefri selalu berlatih sembari menonton pertarungan Mike Tyson. Dia menganalisis seluruh gerakan, pengaturan kekuatan, dan stamina milik Mike Tyson." Purnama mulai menjelaskan. "Terakhir kali aku bertarung dengannya, aku seperti bertarung dengan Mike Tyson asli." Tambahnya.


Kemudian di arena, nampak Jefri yang memberikan pukulan-pukulan keras dengan cepat dan akurat, bahkan membuat Zulfi sangat kesulitan untuk menahannya. Pukulan Jefri datang dari segala arah, bahkan sampai ke titik buta Zulfi.


Pukulan Jefri yang begitu kuat, nampaknya membuat Zulfi kewalahan dan mulai kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya sedikit terhempas kemana-mana, tanpa diberikan kesempatan untuk membalas oleh Jefri.


"Noh, liat sendiri. Temenmu itu kesusahan melawan Jefri." Ujar Purnama pada Naufal. "Gerakan serangannya seperti seorang Mike Tyson, kan?"

__ADS_1


Naufal tak meresponnya. Ia malah tersenyum dengan santai, sembari menatap remeh Purnama. "Kau tahu, dari tadi temanmu itu terus menyerang Zulfi dengan penuh potensi. Tapi," Naufal bicara.


"Hah? Tapi apa?" Tanya Purnama, kebingungan.


"Zulfi itu dari tadi belum bertarung dengan penuh potensi loh....," Naufal melirik ke arah Zulfi.


Saat Jefri melayangkan satu pukulan, tiba-tiba Zulfi menghindar ke depan, dan langsung melancarkan pukulan uppercut tepat di dagu Jefri. Jefri langsung kehilangan kesadarannya.


[Anggota: Zulfi mulai merasakan pengalaman bertarung dari kartu!]


Jefri terhuyung-huyung akan jatuh. Namun Zulfi tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu, dengan cepat ia mengambil sikap sempurna, lalu melancarkan teknik dempsey roll pada Jefri.


Pukulan demi pukulan terus saja menerjang wajah Jefri tanpa henti. Purnama yang melihatnya merasa ngeri, dan iba kepada Jefri. Purnama melirik ke Naufal dengan tatapan kebingungan.


"Zulfi itu lemah kalo disuruh bertarung licik, tapi kalau bertarung sesuai aturan dia bisa saja menjadi raja tinju di negara ini, haha." Ujar Naufal, kemudian menoleh ke arah Purnama sembari tersenyum mengejek.


"Yah, ini sebenarnya berkat kartu pengalaman bertarung Mike Tyson yang aku punya. Sebelum bermain aku sudah memberikannya ke Zulfi." Batin Naufal.


Kembali ke pertarungan. Zulfi terus-terusan melancarkan serangannya dengan teknik dempsey roll, darah Jefri menodai tangannya. Dirasanya sudah cukup, sebagai serangan akhir, Zulfi memukul wajah Jefri dengan sangat kuat sampai membuat lawannya itu terhempas menabrak ujung arena.


[Anggota: Zulfi telah sepenuhnya beradaptasi dengan pengalaman bertarung Mike Tyson.]


Zulfi berbalik, dan berjalan menuju keluar Arena. Ia mengangkat tangannya, mengibarkan bendera kemenangan. Namun tak ada satu penonton pun yang bersorak, bahkan pembawa acara tidak bersuara. Hal itu membuat Zulfi kebingungan.


"Eh, gak ada yang bersorak untukku?" Tanya Zulfi dalam hati.


Tiba-tiba, sebuah pukulan melayang dari belakang Zulfi. Untungnya itu masih bisa dihindari olehnya. Zulfi berbalik ke belakang, dan kembali memasang posisi boxing stance. Alangkah terkejutnya ia melihat Jefri yang masih bisa berdiri setelah dibuat babak belur olehnya.


Mata Jefri menyala berwarna merah, matanya melotot. Nampak ekspresi kemarahan terukir di wajahnya. Tak lama-lama, ia langsung menyerang Zulfi dengan membabi buta tanpa henti.


Melihat itu, Zulfi terus berusaha menghindari semua serangan Jefri. Bahkan tak ada satupun pukulan Jefri yang menyentuh kulitnya. Saat ini Zulfi benar-benar seperti seorang Mike Tyson saat sedang bertarung.


"Oi, kukira kau sudah mati," Ucap Zulfi, sembari menghindari serangan Jefri. Mata Zulfi juga mulai menyala merah, kedua matanya itu terbuka lebar.


"Kenapa!" Jefri berteriak. Ia masih berusaha mendaratkan pukulan kepada Zulfi. "Kenapa kalian lebih kuat dariku?!" Tanyanya lantang.


"Kau, dan si bocah silat itu.... Kenapa kalian bisa mengalahkan aku?!"


Lalu, dengan sengaja Zulfi membuat pukulan Jefri mengenai bahunya. Dengan kesempatan itu, Zulfi melakukan Shoulder roll, lalu bersiap memukul dengan teknik uppercut.


Sebelum melancarkan tekniknya itu, Zulfi berkata, "Hah? Mana aku tahu, Sat!"


Bugh!


Jefri tersungkur jatuh ke lantai. Ia langsung tak bergerak. Setelah itu, para penonton mulai berteriak kegirangan, mereka bersorak untuk Zulfi.


"Woi! Itu keren sekali anjir!" Teriak salah satu penonton.


Zulfi tersenyum, kemudian membuat love sign di tangannya, dan mengarahkan ke pacarnya yang tengah berada di bangku penonton.


"Pe-Pemenangnya adalah Zulfi Hermawan!" Suara pembawa acara bergema ke seluruh wilayah.


Naufal tertawa bahagia, lalu berbalik dan berjalan melewati Purnama yang masih tak menyangka akan kekalahan Jefri. Naufal berhenti sejenak di samping Purnama, dan memegang bahu Purnama.

__ADS_1


"Setelah ini adalah pertarungan antara Aku, Kau, dan si Rehan sialan itu. Lebih baik kau bersiap-siap." Ucap Naufal. Kemudian berjalan meninggalkan Purnama sendirian sembari tersenyum.


...##Sistem Raja Pecundang##...


__ADS_2