
Di arena, terlihat seorang lelaki berdiri tegak dengan noda darah di pakaiannya. Ia sedikit menjulurkan lidahnya, dan menatap ke dua orang yang telah ia tumbangkan. Lelaki itu adalah Rehan Ahmad.
"Kalian sudah menyerah?" Tanyanya kepada dua orang itu.
Ternyata, kedua orang yang telah ditumbangkan oleh Rehan adalah Naufal dan Purnama. Keduanya nampak tak berdaya, dan terbaring di lantai arena.
"Apa-apaan ini?" Keluh Naufal dengan suara lemas, ia mencoba untuk berdiri walau kesusahan. "Dia ini... Terlalu kuat!" Katanya.
Rehan tersenyum, kemudian memasang kuda-kuda tangan pisau, sama seperti yang dilakukan oleh Rain sebelumnya. Nampaknya Rehan sudah meniru teknik tersebut.
.........
Beberapa menit sebelumnya.
Naufal dan Parfait mengadakan pertemuan rahasia di belakang gedung olahraga, tempat fight club diselenggarakan. Mereka berdua nampak sedang membincangkan sesuatu.
"Jadi apa yang harus aku lakukan, kak?" Tanya Naufal.
"Aku pikir kau hanya perlu melawannya dengan sungguh-sungguh," Ucap Parfait. "Kemungkinan kemenangan mu melawan anak itu sangatlah kecil, jadi lawanlah dia dengan sungguh-sungguh."
"Jadi kakak juga merasakannya, ya? Kekuatan bertarungnya melebihi seluruh anggota twenty seven." Ujar Naufal.
"Wajar saja. Dia dilatih langsung oleh adikku, sudah sewajarnya dia lebih kuat darimu," balas Parfait menjelaskan. "Jika kau kalah, aku ingin kau menyatakan perang pada kru nya." Pinta Parfait.
Mendengar itu, Naufal langsung merasa terkejut. Ia tak pernah tahu kalau Rehan memiliki sebuah kru.
"Apa maksudnya? Perang melawannya, memang dia punya kru?" Tanya Naufal.
"Tentu. Seluruh anggota keamanan siswa disekolah ini adalah bagian dari kru Unholy, dan Rehan lah yang memimpin kru itu." Jawab Parfait.
"Apa?! Kenapa ada kru lain di daerah tengah?" Tanya Naufal, lagi.
"Itu lah yang menjadi masalahnya. Unholy itu adalah kru dari daerah barat," Ujar Parfait. "Mereka adalah mata-mata."
"Apa?! Bagaimana bisa? Terus kenapa kakak...."
"Aku tak bisa mengurus mereka dengan posisiku saat ini, terlalu beresiko bagi kalian." Ucap Parfait.
Parfait mulai berjalan meninggalkan Naufal. Sembari menjauh, ia berkata, "Ini adalah waktunya memulai peperangan, Naufal."
.........
Naufal kembali ke area arena, dan berjumpa dengan teman-temannya. Mereka nampak sedang berbincang-bincang dengan gembira, merayakan kemenangan Zulfi bersama-sama.
"Oh, oi Naufal!" Panggil Zulfi.
Naufal sedikit mendongak, kemudian tersenyum. "Ah, yo!"
Naufal mendekati teman-temannya itu. Mereka nampak sangat bahagia, bahkan sampai membuat Naufal sedikit termenung dengan apa yang dikatakan Parfait sebelumnya.
Tiba-tiba saja, seseorang menggenggam tangannya dengan halus, membuat Naufal terkejut. Ia menoleh ke samping dan melihat Fanni yang terlihat khawatir padanya.
"Naufal, ada apa? Mukamu kayak tertekan gitu." Tanya Fanni.
__ADS_1
"Ah, nggak kok, Fan. Aku biasa aja ini," jawab Naufal kemudian tertawa pelan.
"Bohong. Kamu pasti tertekan gara-gara pertarungan kamu selanjutnya, kan?" Ujar Fanni meyakinkan.
"..." Naufal tak bisa berkata-kata.
Tiba-tiba saja, sepasang tangan menyentuh pipi Naufal. Seketika pemuda itu terkejut, dan langsung mengarahkan pandangannya pada gadis yang ada didepannya.
"F-Fan?" Naufal masih terkejut.
Namun tiba-tiba saja, mata Naufal membulat sempurna dan berbinar-binar. Ia memandang Fanni yang tersenyum manis padanya, membuat keseluruhan wajah Naufal menjadi merah.
"Kamu harus semangat dong. Soalnya kamu kan... K-kamu itu pengawal yang paling aku sayangi." Ucap Fanni. Kemudian menyatukan keningnya dengan kening Naufal.
Seketika semangat Naufal kembali membara. Ia menjauhkan wajahnya dari Fanni. Tubuhnya langsung tegak, ditambah dengan sedikit peregangan yang ia lakukan.
Semua teman-teman Naufal tersenyum melihatnya. Kemudian mereka serentak berkata, "Cieee... Udah, jadian aja!"
"Berisik Kalian," Ucap Naufal sembari tersenyum. Kemudian dia berdiri dan bergegas pergi untuk bersiap bertarung, "Aku berangkat dulu." Ucap Naufal sembari mengangkat tangan kanannya ke atas.
...
Di arena, kini sudah berdiri 3 orang petarung. Mereka adalah Naufal, Purnama, dan Rehan. Mereka bertiga telah sama-sama siap bertarung.
Dalam pandangan Naufal, tiba-tiba saja muncul sebuah layar yang memberikan peringatan.
[Peringatan! Level lawan 'Rehan Ahmad' terlalu kuat. Menyarankan menggunakan skill buff]
"Level lawan? Apa maksudnya, Luxxi?" Batin Naufal bertanya.
"Sial. Ini akan menjadi susah. Oke, gunakan Rage mode!"
Seketika tubuh Naufal langsung bercahaya, dan mengeluarkan aura merah. Namun hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.
"Para penonton! Apakah kalian sudah siap?!" Tiba-tiba suara pembawa acara terdengar di seluruh arena. "Pertarungan kali ini adalah puncak acara fight club!" Tegas pembawa acara.
"Kali ini, 3 petarung terbaik fight club akan dipertemukan untuk bertarung satu sama lain, dan memperebutkan posisi finalis untuk melawan top rank ke 1!"
"Baiklah, di posisi pertama kita punya Rehan Ahmad sang ketua keamanan siswa di sekolah ini. Di posisi kedua, kita punya Purnama Aryadi seorang dari jurusan TKJ. Dan di posisi terakhir, kita punya sang raja pecundang Naufal Setyadi!"
Semua penonton langsung bersorak penuh semangat. Kebanyakan dari mereka menyoraki Rehan, apalagi para perempuan yang sampai membuat bendera bergambarkan foto Rehan.
Ketiga pemuda yang hendak bertarung itu perlahan mulai memasang kuda-kuda siap bertarung. Purnama dengan Taekwondo nya, Rehan dengan boxing nya, dan Naufal dengan Muay Thai nya.
"Tanpa berlama-lama lagi...! Triple fight match, DIMULAI!"
Setelah aba-aba dari pembawa acara, tanpa segan-segan Naufal langsung melesat ke arah Purnama dengan melancarkan teknik Flying knee andalannya. Serangan itu langsung membuat sang ketua kru Eternity itu langsung tersungkur.
Kemudian, dengan cepat Naufal juga melesat ke arah Rehan dan menggunakan teknik low kick ke kakinya. Seketika tubuh Rehan terbalik karena saking kuatnya tendangan Naufal.
Saat melayang di udara, tubuh Rehan langsung di tendang oleh Naufal menggunakan tendangan yang mengarah ke bawah. Dalam sekejap, Naufal tampak bisa mengalahkan kedua lawannya tersebut.
Tiba-tiba saja saat Naufal tak sengaja mengalihkan pandangannya, tiba-tiba saja Purnama dan Rehan sudah berdiri kembali, dan langsung melancarkan serangan pada Naufal.
__ADS_1
Purnama dan Rehan memberikan pukulan yang kuat pada Naufal. Kedua terjangan itu hampir menghantam wajah Naufal, namun tiba-tiba saja Naufal mengingat saat ia berlatih dengan Parfait.
Dengan cepat Naufal menggenggam dua tangan yang hendak memukulnya, kemudian melemparkan keduanya ke dua sisi. Gerakan yang Naufal lakukan adalah jurus menangkap ular.
"Tak kusangka, Raja!" Rehan tiba-tiba saja berteriak.
Naufal langsung mengarahkan pandangannya pada Rehan, "Hah?!"
"Kau juga bisa melakukannya, ya? Meniru teknik orang," ujar Rehan. Kemudian dengan cepat ia melompat dan berputar, lalu melesatkan tendangan kuat ke arah bawah.
Naufal menghindari tendangan itu, namun dampaknya lantai menjadi hancur akibat tendangan kuat itu. Kemudian Naufal mengarahkan tangannya, dan menarik kerah baju Rehan. Naufal bersiap memukul wajah Rehan.
Namun tiba-tiba, sebuah tendangan lurus menghantam wajah Naufal. Membuatnya terhempas dan menabrak ujung arena. Naufal sedikit merasa pusing, namun dalam pandangannya ia melihat bahwa tendangan tadi dilakukan oleh Purnama.
Naufal tersenyum sinis, sembari mengusap darah yang keluar dari mulutnya. Ia kembali berdiri lalu memasang kuda-kuda Muay thai-nya.
"Jangan lupakan bahwa aku juga ada disini, dasar anak-anak nakal!" Tegas Purnama. Ia tersenyum bak seorang psikopat.
Dengan cepat Naufal dan Purnama saling melesat menuju satu sama lain, mereka saling bertukar serangan yang kuat. Namun semua pukulan Purnama hanya terasa sedikit menyakitkan, itu dikarenakan Naufal sedang berada dalam Rage mode. Kondisi dimana ia tak bisa merasakan rasa sakit selama 3 jam kedepan.
Purnama berputar-putar bak gasing, memberikan tendangan-tendangan yang kuat pada Naufal. Begitupun juga Naufal yang terus-menerus melakukan kombinasi serangan Muay Thai.
Lalu tiba-tiba saja Purnama melihat celah. Dengan cepat, ia menginjak punggung kaki kanan Naufal. Hal itu membuat Naufal tak bisa menggerakkan kakinya. Kemudian dengan cepat Purnama melesatkan tendangan lurus ke atas, menghantam dagu Naufal sehingga membuatnya langsung terjatuh.
Melihat Naufal terjatuh, Purnama langsung mengarahkan tendangan lurus ke bawah mengarahkannya pada wajah Naufal. Namun tendangan itu berhasil dihindari oleh Naufal.
Dengan cepat Naufal sudah berpindah di belakang Purnama, kemudian ia melakukan spining elbow tepat mengenai bagian pelipis Purnama. Membuatnya langsung tersungkur, jatuh dan tak sadarkan diri.
Tak lama setelah itu, Naufal langsung menaruh perhatiannya pada Rehan lagi. Dengan penuh hasrat ingin menghabisi pemuda itu memusatkan tenaganya hanya untuk memukul Rehan.
Tentu saja, Rehan menghindari pukulan Naufal dengan lihai. Ia sendiri tak rela membiarkan dirinya terkena pukulan. Kini waktu seolah berhenti, Rehan bertatapan dengan Naufal.
"Lemah sekali."
Brakk!!!
Tiba-tiba saja Naufal sudah terpental, dan menabrak tembok ujung arena sampai hancur. Ia meludahkan darah dari mulutnya, tak kuasa menahan rasa sakit.
Naufal tergeletak di lantai, tak berdaya. Ia mendongak ke arah Rehan dengan kesusahan. Giginya bertabrakan, mengisyaratkan sebuah rasa kesal yang begitu mendalam.
"Bagaimana bisa sesakit ini? Aku sedang dalam Rage mode, sial!" Batin Naufal, mengeluh akan keadaannya saat ini.
"Bajuku jadi penuh darah gini," ujar Rehan. Ia menjulurkan lidahnya, dan tersenyum menghina Naufal.
Seketika amarah Naufal memuncak. Ia memukul lantai dengan keras hingga hancur, kemudian ia berusaha berdiri. Setelah itu ia memasang kuda-kuda taekwondo, dan melompat-lompat pendek.
"Akan aku kalahkan kau, Rehan!"
...##Sistem Raja Pecundang##...
#Note from Author
Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf sebesar-besarnya pada para pembaca. Selamat merayakan hari raya idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin:)
__ADS_1
Untuk kedepannya insyaallah saya selaku author akan berusaha untuk update secara konsisten lagi