Sistem Raja Pecundang

Sistem Raja Pecundang
Fight Club


__ADS_3

3 Hari telah berlalu sejak kru Eternity beraliansi dengan Twenty Seven. Hari ini, Fight Club resmi dibuka. Gedung olahraga di SMK Plus 27 menjadi arena nya. Sekarang, disana sudah disediakan sebuah ring, dan fasilitas bertarung lainnya.


Apa keuntungan mengikuti Fight Club? tentu saja menguntungkan. Partisipan akan mendapatkan sejumlah uang dari sponsor. Bagaimana cara agar dapat uang? tentu saja itu sangat simpel, kau harus jadi yang terkuat.


Jika seorang partisipan memenangkan 1 pertandingan, maka ia akan diberi hadiah uang senilai 300 ribu rupiah. Harga yang cukup fantastis. Selain itu, keselamatan para partisipan akan dijamin oleh penyelenggara, tanpa bayaran sedikitpun.


Belum lama ini, pihak Fight Club telah mengumumkan 'Top Rank¹' di Fight Club. Mereka berjumlah 10 orang. Masing-masing dari mereka adalah petarung terkuat di sekolah, atau geng nya.


[Top Rank \= Peringkat partisipan yang memiliki keterampilan bertarung di atas rata-rata]


Para Top Rank itu adalah....


|Top Rank|



Kenshin Adiputra


Rehan Ahmad


Purnama Aryadi


Riyan Aryadi


Santoso Supriyadi


Aldi Aryanta


Rengga


Jefri


Varel Januar


Naufal Setyadi



Mereka semua adalah Top Rank di Fight Club. Sekarang mereka adalah orang-orang yang akan disegani oleh seluruh partisipan. Setidaknya 9 diantaranya, Naufal tak diperlakukan berbeda oleh Partisipan lainnya.


Peringkat 10 dianggap sebagai titik paling rendah, semua orang menganggap bahwa Naufal akan mudah dikalahkan. Tentu jika partisipan bisa mengalahkan 1 Top Rank, maka ia akan dihadiahi uang sebesar 5 juta.


Akankah Naufal bisa meraih peringkat 1 di Top Rank? kita lihat saja.


...~~~...


[Pov Naufal]


Akhirnya hari ini tiba, hari dimana tugas ku untuk menyatukan seluruh kota Jakarta dimulai.


Aku terbangun di kelas 10 TKJ 1. Hari ini adalah hari senin, hari yang sangat aku benci. Di samping ku ada seorang gadis yang tengah memainkan Hp-nya.


Dia adalah Fanni Wijaya Kusuma, paca- eh temanku. Aku bekerja sebagai pengawalnya. Ayahnya Bambang Wijaya Kusuma, secara paksa membuatku menjadi pengawal anaknya.


Kalau dipikir-pikir, waktu berjalan begitu cepat. Rasanya seperti baru saja kami bertemu. Fanni melirik ke arahku, tatapannya datar.


"Apa?" tanyanya, sedikit kesal. Dia berdiri, lalu berjalan meninggalkanku.


"Eh" batinku heran.


Gadis itu pergi ke arah pintu keluar, dia berhenti sejenak dan menoleh kepadaku. "Aku mau ke kantin. Fight Club akan dimulai setelah istirahat, sampai jumpa." Fanni bicara, lalu pergi.


Aku tersentak, seketika berdiri lalu menggebrak meja. Semua murid yang ada di kelas menatapku, kaget. "Oh iya! Hari ini Fight Club akan dimulai!" teriakku, sedikit kaget.


Aku menatap semua murid disana. Aku menggaruk kepala, malu. "Kalian semua... jangan lupa nonton, ya?" ucapku, sembari tersenyum ragu.


"Hah? apa-apaan itu. Liatin lu berantem? gak ya!" jawab salah satu murid perempuan. "Lu itu peringkat 10, gak level sama mas Kenshin yang ada diperingkat 1."

__ADS_1


Sialan. Kenapa aku ada diperingkat 10? si Purnama saja yang sudah aku kalah berada di peringkat 3. Pikirku, sangat kesal.


Aku tersenyum, menatap murid perempuan itu. "Ayolah, setidaknya dukung teman sekelas mu ini" ujarku pelan.


"Sudahlah Naufal. Sistem peringkatnya memang error!" teriak seseorang dari belakangku, suaranya terdengar sangat kesal. Aku menoleh kearahnya.


Dia adalah Zulfi, temanku. Wajahnya terlihat geram. "Masa aku tidak masuk peringkat?!" teriaknya.


Aku tertawa pelan sembari menatapnya, "Santai saja. Mungkin pihak Fight Club itu keliru." Aku bicara, berusaha membuat Zulfi tenang.


"Dude..." Suara seorang lelaki memanggilku. Aku menoleh, dan melihat Rizki yang tengah bersandar di kursi, wajahnya ditutup oleh buku.


"Sekarang kita kesana aja, ah. Menunggu disini sangatlah membosankan." Ucap Rizki, menyingkirkan buku yang berada di wajahnya. Dia berdiri lalu berjalan melewati aku, dan Zulfi.


"Kalau tidak mau, aku berangkat duluan saja." Katanya sembari melambaikan tangan. Lalu Rizki pergi keluar, menuju gedung olahraga.


"Semangat sekali dia, tidak seperti dirimu." Ujar ku sembari menunjuk Zulfi dengan jari jempol.


Aku berjalan, menyusul Rizki. Tiba-tiba langkahku terhenti. Seorang gadis berambut hitam berdiri di hadapanku. Gadis itu mendongak, menatap wajahku.


"A-anu..." Gadis itu bicara, terdengar gemetar. Mungkin dia pemalu.


"Tolong bilangin ke Rizki, jangan memaksakan diri." Ucap gadis itu, lalu ia mengepalkan sebuah kotak di tanganku.


"Apa ini?" tanyaku. Namun gadis itu malah langsung pergi saat aku tanya. Ya sudahlah. Pikirku. Aku melanjutkan perjalanan, diikuti oleh Zulfi dari belakang.


Kami berdua berjalan di lorong sekolah, menuju gedung olahraga. Sesekali aku bertanya kepada Zulfi, "Hei Zul, apa si nolep itu sekolah hari ini?" tanyaku, penasaran.


Zulfi sedikit kaget dengan pertanyaan ku, matanya membulat sempurna. "Ya, dia sekolah. Tapi aku tak yakin dia bakal datang ke acara itu." jawab Zulfi.


Kami berdua telah tiba di gedung olahraga, tempat ini ramai. Semua siswa bermasalah dari setiap sekolah datang kemari. Ada juga yang membawa gengnya.


Saat aku datang melewati kerumunan orang-orang, samar-samar aku mendengar orang berbisik, membicarakan diriku.


"Hei lihat, dia si peringkat 10."


"Dia kelihatan seperti anak culun."


Aku sedikit membungkukkan badan, meminta maaf. "Maaf, aku tak lihat-lihat" ujarku, sedikit khawatir. Namun orang yang tabrak malah tertawa hambar, dia menarik kerah ku.


"Ini si peringkat 10, ya?" ujar orang itu, dia tertawa jahat. Aku hanya menatapnya, heran.


"Ada apa, ya?" tanyaku, suaraku gemetar.


Orang itu menghempaskan tubuhku, aku terjatuh duduk di lantai. "Hah? apaan sih?" aku mendongak, menatapnya.


"Lu kira lu itu yang paling kuat disini?" tanya orang itu, mengejekku. Aku berdiri. Aku melihat Zulfi yang berada di belakang orang itu, bersiap meninjunya.


Aku melambaikan tangan pada Zulfi, menghentikannya. Kembali menatap orang itu. "Kau ada masalah denganku?" tanyaku, heran.


"Aku? tidak-tidak. Bukan aku, tapi kami semua." Orang itu bicara, kemudian semua orang yang ada disini menertawakan aku. Hanya ada beberapa orang yang tidak tertawa, mereka adalah Top Rank, dan para juri Fight Club.


Baru hari pertama, ternyata sudah banyak yang ingin bertarung dengaku. Pikirku. Aku balik badan, dan berjalan. Mengabaikan orang itu. Aku sudah sedikit menjauh darinya, akan tetapi dia malah menyerang ku dari belakang.


Aku reflek berbalik, dan menangkap tangannya. Aku memelototi dia, marah. "Hei, apa maksudmu?" tanyaku, geram.


Orang itu tertawa kecil. "Jangan panggil 'Hei', panggil aku Arkan." Ujarnya, dia bernama Arkan.


Arkan menepis tanganku, lalu berbalik. Dia mendongak ke atas, menatap beberapa orang yang berdiri mengamati kami. "Oi, aku ingin bertarung dengan pecundang ini!" teriak Arkan, sedikit merasa senang.


Orang-orang itu mengangguk. Lalu pandanganku menjadi gelap, lampu dipadamkan. Tiba-tiba cahaya terlihat, menyorot arena ring.


Arkan berjalan melewati ku. Dia menaiki tangga kecil, lalu masuk ke dalam ring. Arkan menatap remeh padaku. "Kemarilah, pecundang." Tantang Arkan, senyumnya menyeringai.


Aku kebingungan, menggaruk rambutku. Zulfi datang dari belakang, lalu menepuk pundak ku. Aku menoleh, dan melihatnya tersenyum penuh kemenangan.


Ngotot banget sih pengen jadi lawanku. Pikirku. Aku berjalan menuju ring, berniat meladeni Arkan. Semua orang meneriaki aku, rasanya seperti menjadi bahan tontonan mereka.

__ADS_1


Aku menaiki tangga kecil, lalu masuk ke dalam ring. Tiba-tiba lampu yang menyoroti ring, padam. Lalu terdengar suara seseorang bergema.


"Cek.. Cek..."


"Baiklah, sudah ok."


"Para partisipan sudah siap!? kita akan memulai pertarungan perdana hari ini."


"Mari kita mulai.."


Tiba-tiba cahaya menyoroti tubuh Arkan. Dia mengangkat kedua tangan, melambaikannya. Raut wajahnya penuh percaya diri.


"Dari sisi kiri, sudah berdiri satu partisipan. Arkan, seorang preman dari SMA 1 Kemenangan. Dijuluki sebagai mesin penghancur batu."


"Lalu..."


Cahaya lampu yang menyoroti Arkan, tiba-tiba berpindah kepadaku. Aku menutupi cahaya itu dengan tanganku, silau.


"Di sisi kanan, berdirinya seorang Top Rank peringkat 10. Naufal Setyadi, salah satu murid tuan rumah acara event Fight Club ini. Dia adalah ketua kru Twenty Seven, dan dijuluki sebagai Raja Pecundang."


Kau serius, itu terlalu memalukan bodoh. Pikirku geram. Aku mendengar semua orang tertawa setelah mendengar julukan ku.


"Yang benar saja. Pecundang?! lucu sekali." teriak salah satu partisipan.


Tiba-tiba lampu kembali menyala, menerangi seluruh wilayah. Aku melihat Arkan yang sudah bersiap. Dari kuda-kudanya, dia adalah pengguna bela diri boxing.


[Tuan, anda yakin tak ingin menggunakan identifikasi?]


Sebuah suara bergema di telinga ku. Itu adalah Luxxi. Aku tersenyum kecil, lalu menajamkan mataku.


"Tidak usah, dari penampilannya saja sudah kalau dia ini kroco." batinku pada Luxxi.


"Baiklah, biar aku jelaskan dulu aturannya. Pertama, tidak boleh saling membunuh. Kedua, tidak menyerang titik vital. Ketiga, tidak menggunakan benda untuk menyerang. Keempat, tidak boleh mati."


Semua orang seketika terdiam setelah mendengar peraturan itu. Mereka semua tersenyum puas.


"Kalau begitu, pertandingan dimulai!"


Teng... Teng!


Tiba-tiba Arkan melesat menuju arahku. Dia melayangkan pukulan yang tampak kuat. Entah kenapa, gerakannya terlihat lambat. Aku berhasil menghindari pukulannya hanya dengan merubah posisi saja.


Arkan menabrak tali ring, lalu terhempas kembali melewati ku. Dia ngapain sih? pikirku. Lalu Arkan melayangkan pukulan bertubi-tubi kepadaku. Tentu, aku menghindarinya sembari mundur beberapa langkah.


"Kenapa kau cepat sekali." Gerutu Arkan. Lalu dia melesatkan tendangan kepadaku. Aku berhasil menahannya dengan kaki ku.


Arkan nampak terkejut, matanya membulat. Dia mengatupkan rahangnya. Menatapku penuh amarah. "Berhenti menghindar sialan!" teriaknya, geram.


Aku melompat ke belakang sejauh 2 langkah. Aku tersenyum kemenangan, laku tertawa pelan. "Hei, kau lucu sekali." Ujarku sembari tersenyum.


"Kau kan seorang petinju, kenapa kau menggunakan kakimu untuk menyerang?" tanyaku, seperti mengejek.


Arkan marah. Dia kembali melesat ke arahku, namun kali ini dengan sedikit melakukan weaving. Penonton terkagum dengan Arkan, mereka menganggap gerakan Arkan sangatlah cepat.


Akan tetapi di mataku dia bergerak lambat sekali. Mungkin karena aku tak selevel dengan kroco sepertinya. Arkan melayangkan pukulan ke arah kepala ku, namun aku bisa menghindarinya.


Dia terus melayangkan pukulan, namun aku bisa menghindari semuanya. Wajahnya terlihat sangat kesal. Aku melompat mundur, lalu berhenti.


Arkan nampak kelelahan, wajahnya memerah padam. "Oi sialan! berhenti menghindar, dan lawan aku!" Arkan berteriak kesal, matanya tampak merah.


Aku mengangguk, lalu bersiap. Eh, aku harus pakai bela diri ala ya? Boxing, Muay Thai, atau Taekwondo? Ah sudahlah. Taekwondo saja biar cepat.


Aku melompat-lompat pendek. Bersiap melawan Arkan. Kroco itu tersenyum puas, lalu melesat ke arahku. Sebelum dia mendekat, aku berputar.


Arkan sudah berada di hadapanku, bersiap melayangkan pukulan. Namun pukulan itu gagal. Aku melakukan 360° kick tepat mengenai wajahnya.


Arkan terpental ke samping, melewati tali pembatas ring. Dia jatuh di luar ring, tak sadarkan diri. Semua orang memusatkan pandangannya padaku, tak menyangka.

__ADS_1


"Eh? sudah kalah?" aku kebingungan.


...##Sistem Raja Pecundang##...


__ADS_2