Sistem Raja Pecundang

Sistem Raja Pecundang
Kru Eternity (End)


__ADS_3

Mata Naufal membulat, seolah terkejut. Rengga mengungkapkan sesuatu yang tak mereka tahu. "Kru Eternity?" tanya Naufal kebingungan.


"Benar. Kru Eternity." jawab Rengga. Purnama menghampiri rengga, lalu secara tiba-tiba menarik kerah bajunya. Wajah keduanya saling berdekatan.


"Hei, apa maksudmu?" tanya Purnama geram.


"Hah?" Rengga menatap dingin Purnama. Tiba-tiba Purnama sudah melayang di udara, dengan tubuhnya yang terbalik. "Aikido"


Purnama terjatuh. Rengga menatapnya datar. Ia kembali melirik Naufal. "Bagaimana? kau mau mendengar cerita kami?"


"Luxxy, identifikasi mereka"


[Mengindentifikasi...... Mengindentifikasi selesai.]


Didalam pandangan Naufal, muncul empat layar berwarna ungu didepannya. Masing-masing layar itu menunjukkan status empat orang yang mengaku kru Eternity itu.


...\=\=\=...


...Rengga...


...180 cm...


...78 kg...


...Kekuatan S...


...Kecepatan S...


...Ketahanan A+...


...Kepintaran B...


...Bela diri [Aikido]...


...\=\=\=...


...Purnama Aryadi...


...178 cm...


...70 kg...


...Kekuatan S...


...Kecepatan S...


...Ketahanan S...


...Kepintaran A...


...Bela diri [Taekwondo]...


...\=\=\=...


...Jefri...


...165 cm...


...60 kg...


...Kekuatan S...


...Kecepatan A...


...Ketahanan S...


...Kepintaran B...


...Bela diri [Forged Boxing]...


...\=\=\=...


...Varel Januar...


...180 cm...


...79 kg...


...Kekuatan S+...


...Kecepatan B...


...Ketahanan S+...


...Kepintaran C...


...Bela diri [Street Fighter]...


...\=\=\=...


"Mereka kuat...!" batin Naufal.


Naufal mengernyit, kebingungan. Ia mendongak menatap Rengga. "Apa yang ingin kau ceritakan?" tanya Naufal.


"O-oi... Naufal!" Zulfi berteriak tak terima. Lalu ia berlari ke arah Rengga, berusaha menyerangnya. Namun langkahnya terhenti, setelah Naufal mengarahkan tangan kepadanya.


"Berhenti." ucap Naufal. Ia menatap datar wajah Rengga. "Tunggu apa lagi? ayo ceritakan."


...~~~...


Kru Eternity adalah sebuah kelompok yang dibuat oleh Parfait Saputra. Tujuan kru ini dibuat adalah untuk menghentikan rencana Franz yang ingin menguasai seluruh kota Jakarta.


Tahun lalu, seorang remaja bernama Purnama Aryadi menarik perhatian Parfait. Kemudian Parfait mengujinya dengan bertarung dengannya secara langsung.


Tentu, Purnama kalah. Bagaimanapun tak akan ada yang bisa mengalahkan Parfait seorang diri. Akan tetapi hasil pertarungan itu cukup membuat Parfait terkesan.


Purnama berhasil membuatnya sedikit terdesak. Namun bukan Parfait namanya jika dia kalah.


Singkat cerita. Purnama menjadi anggota Kru Eternity pertama. Perlahan tapi pasti, Purnama merekrut orang-orang yang dia kenal agar masuk ke dalam Kru itu.


Hingga akhirnya, Purnama berhasil merekrut 9 anggota lainnya. Kesepuluh orang itu, termasuk Naufal, mulai dilatih keras oleh Parfait dan Doni.


Sayangnya, kru Eternity tak berjalan sesuai dengan keinginan Parfait. Salah satu anggota Eternity, yang ternyata adalah saudara Purnama, mengkhianati kru Eternity.


Penghianatan itu membuat Kru Etenity menjadi terpecah belah. 5 dari mereka memilih untuk tidak berhubungan lagi dengan kru Eternity, sedangkan sisanya yaitu Purnama, Jefri, Rengga, dan Varel tetap menjadi kru Eternity.


...~~~...


"Begitu, ya... Jadi kalian ini senior yang dikatakan oleh Kak Parfait waktu itu" ucap Naufal.


Semua orang disana tampak duduk di kursi yang telah disediakan. Anggota kru Twenty seven, dan Eternity saling berhadap-hadapan.


"Benar." Rengga menatap datar Naufal. Begitupun sebaliknya. "Tapi apa boleh kutanya sesuatu... Kenapa kau memanggil pak Parfait dengan sebutan 'kak'?" tanya Rengga, mengernyit heran.


"Itu tak penting" jawab Naufal. Lalu ia berdiri. Setelah itu ia menyamakan tingginya dengan Rengga. Wajah mereka berdekatan. "Jadi... apa yang kalian inginkan dari kami?" tanya Naufal dengan senyumnya yang terlihat licik.


Naufal melirik kearah Fanni. "Fan, menjauhlah" ujarnya pelan. Fanni langsung mundur beberapa langkah.


Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di wajah Naufal, membuat terhempas kebelakang. "Sombong sekali anak ini!" ujar Purnama sembari tersenyum lebar. Ia yang telah memukul Naufal.


Sontak Rain, Zulfi, dan Rizki berdiri. Mereka langsung menyerang Purnama secara bersamaan. Akan tetapi serangan mereka ditahan oleh Jefri seorang diri. Tanpa ragu Jefri langsung menyerang Rain.

__ADS_1


Lalu Varel langsung menangkap tubuh Zulfi, dan membantingnya ke lantai sampai hancur. Kini yang tersisa hanya Rizki. Tentu saja sudah bisa ditebak, saat ini ia sedang berhadapan dengan Rengga.


Di sisi lain, Purnama terlihat berjalan menghampiri Naufal yang terbaring di lantai. "Ayo kita bertarung sebagai ketua" Purnama tertawa kecil. Namun tiba-tiba matanya membulat, Naufal dengan sekejap menghilang dari pandangannya.


"Hei... apa kau pernah dipukul sampai muntah-muntah?" bisik Naufal yang tiba-tiba saja sudah ada dibelakang Purnama.


Seketika Purnama langsung memutar, dan melayangkan sikutnya. Namun tak mengenai apa-apa. Naufal kembali menghilang dengan sekejap mata. Lalu Purnama terhempas setelah menerima suatu pukulan.


Ternyata Naufal memukul yang Purnama. "Akan ku beritahu... alasan kenapa aku disebut 'raja pecundang'. " Naufal langsung berlari, dan menarik kupluk hoodie Purnama yang masih melayang di udara.


Naufal membantingnya ke lantai. Partikel-partikel kecil mulai menutupi pandangan Naufal. Setelah itu, ia terlihat kaget. Naufal menyadari bahwa ia tak membanting Purnama, malahan saat ini ia hanya memegangi hoodie putih milik Purnama.


Matanya membulat. Lalu Naufal mendongak keatas. Ia melihat Purnama yang sudah bersiap menendangnya. Tendangan itu dengan cepat langsung mengenai kepala Naufal.


"Raja pecundang apanya?" ujar Purnama yang masih melayang di udara.


Akan tetapi, sebuah tangan meraih pergelangan kaki Purnama. Lalu dengan cepat tangan itu membanting kan Purnama ke lantai sampai hancur.


"Sekarang, apa julukan mu?" tanya Naufal sembari tersenyum. Keningnya mengucurkan darah.


Purnama tertawa pelan, ia masih dengan posisinya yang terbaring. Lalu perlahan ia berdiri. Membersihkan debu-debu yang ada di tubuhnya.


Terlihat otot-otot yang terlatih milik Purnama, namun tertutupi seragam sekolah. Ia menatap jahat pada Naufal. "Sialan. Kau pasti seorang peniru."


Purnama menarik paksa semua kancing bajunya, lalu melepaskan seragam sekolahnya. Kini ia hanya mengenakan tank top berwarna putih, terlihat ketat sampai-sampai dadanya sedikit menonjol.


"Dulu aku mempunyai julukan..." Purnama berlari cepat ke arah Naufal. Ia berputar, dan menendang Naufal dengan kaki belakangnya sampai terhempas.


"...si rubah licik!"


Beralih ke pertarungan Zulfi dan Varel. Saat ini mereka sedang beradu pukulan dengan kekuatan yang berbeda. Terlihat keduanya sama-sama tersenyum. Mereka sangat menikmati pertarungannya.


Lalu Varel melayangkan pukulan ke dagu Zulfi. Untuk sesat Zulfi kehilangan keseimbangannya. Varel memanfaatkan itu, dan memeluk erat tubuh Zulfi. Ia membawanya keluar ruangan, dan melompat ke arah lobi markas Twenty Seven.


Zulfi yang sudah tersadar, lalu ia memberontak. Dengan sekuat tenaga Zulfi mencoba melepaskan cengkraman Varel yang begitu kuat.


Akhirnya Zulfi terlepas dari cengkeraman Varel. Namun sebuah gelas kaca dihantamkan ke kepalanya. Zulfi terhuyung, lalu terjatuh. Darah mulai bercucuran dari kepalanya. Ternyata Varel sengaja melepaskan Zulfi hanya untuk memukulnya.


"Kau petinju, kan? disini tak ada wasit, jadi aku main curang saja" ujar Varel lalu melemparkan gelas tadi. Ia menjilat darah Zulfi yang terciprat ke tangannya. "Aku ini petarung jalanan. Jadi aku tak terikat dengan peraturan" Varel tertawa pelan.


Varel berjalan ke arah lain. Ia menghampiri sebuah kursi kayu. Varel mengangkat kursi itu, lalu berniat menggunakannya untuk memukul ke Zulfi.


Zulfi berdiri sempoyongan. Matanya tertutup bayangan. Zulfi melesat dengan kuda-kuda boxing. "1" satu pukulan ia lancarkan ke wajah Varel.


Varel akan menggunakan kursi untuk memukul Zulfi. Namun berhadil dihindari. "2" pukulan straight Zulfi layangkan tepat mengenai ulu hati Varel. Zulfi memutar badannya, sikutnya ia arahkan ke pelipis Varel. "3!"


Bugh!


Varel tersungkur, jatuh ke lantai. Matanya memudar. Nampaknya ia pingsan. Zulfi langsung menimpa tubuh Varel. Setelah itu, dengan membabi buta Zulfi memukul kepala Varel.


"Rasakan ini, sialan!" Zulfi meneriaki Varel.


Di saat Zulfi sibuk memukulinya, tangan Varel perlahan meraih sebuah balok kayu. Lalu tanpa sepengetahuan Zulfi, Varel menghantam kepalanya dengan balok kayu itu. Zulfi langsung terbaring lemas.


Varel bangkit. Ia mengusap darah dari mulutnya. "Bocah ini kuat juga." Varel tertawa kecil. Kemudian ia bersiap menghantamkan balok kayu itu lagi.


Syuutt...


Balok kayu itu mengarah ke Zulfi. Tiba-tiba balok kayu itu patah. Zulfi meninju balok kayu itu dengan tangannya. Zulfi mendongak, menatap tajam Varel. Matanya mulai bercahaya.


"Yah... sayang sekali aku serius melawannya" pikir Zulfi. Lalu ia melakukan step ke depan, dan melayangkan tinju ke perut samping milik Varel. Air liur Varel bercipratan kemana-mana.


"Rasakan ini, petarung licik!" Zulfi berteriak marah. Lalu dengan sekuat tenaga ia meninju wajah Varel. Varel terhempas jauh, menabrak tembok sampai hancur.


Wajah Varel langsung lebam. "Itu adalah Forged Boxing. Camkan itu." ujar Zulfi sembari mengusap darah dari hidungnya.


Walaupun wajahnya tertutup rambut, tapi Zulfi masih bisa melihat Varel tersenyum jahat. Varel tertawa pelan.


Sekarang beralih lagi. Ke pertarungan antara Rizki dan Rengga. Mereka terlihat hanya saling menatap satu sama lain. Keduanya memiliki aura intimidasi yang kuat.


"Begitulah." jawab Rizki singkat. Ia mengamati tubuh Rengga, lalu kembali menatap datar matanya. "Kau... pengguna aikido?" tanya Rizki. Rengga hanya mengangguk untuk memberikan jawaban.


"Tak ada gunanya aku melawan mu. Tapi..." ujar Rizki pelan. Lalu Rizki melesat, dan melayangkan tendangan ke arah Rengga. Akan tetapi, dengan mudah Rengga menangkap kaki Rizki.


Tiba-tiba pandangan Rizki menjadi terbalik. Saat ini Rengga berhasil membuat Rizki melayang di udara dengan posisi badan terbalik. Lalu Rengga memukul Rizki.


Rizki terhempas jauh, menabrak rak buku sampai hancur. Rizki merintih kesakitan. Punggungnya menabrak bagian ujung rak buku yang tajam.


Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Rengga kembali menyerang Rizki dengan tendangan. Tendangan itu tepat mengenai wajah Rizki, sampai-sampai kepalanya menghantam ke tembok.


"Aku sebenarnya bukan orang terkuat di Eternity. Tapi jika hanya kau, kurasa kroco-kroco pun bisa mengalahkanmu" ujar Rengga. Ia tertawa pelan. Ia menjambak rambut Rizki. Mendekatkan wajahnya.


"Kalau tak salah... kau ini hampir mati oleh Santoso, ya?" Rengga menyeringai, mengintimidasi Rizki. Namun berbeda dengan apa yang dia harapkan, Rengga malah melihat Rizki yang tak terintimidasi sedikitpun.


Rizki menatap datar Rengga. Ia tersenyum kecil. "Hei..." Rizki meninju wajah Rengga, membuatnya tersungkur dan terduduk di lantai. "apa kau pernah membunuh teman mu?" tanya Rizki sembari tersenyum. Tampak rasa bersalah di wajahnya.


"Aku pernah membunuh teman latihan ku." ujar Rizki pelan.


[Fyi: Yang dimaksud 'teman' oleh Rizki adalah babi hutan yang dikalahkannya dulu]


Lalu ia menendang wajah Rengga. Namun Rengga berhasil menangkisnya dengan tangan. Dengan teknik Aikido miliknya, Rengga kembali membuat Rizki melayang di udara dengan posisi badan terbalik.


Tapi kali ini berbeda. Rizki berputar di udara, ia bersiap menyerang Rengga. "Whirlwind kick!" teriak Rizki, lalu menendang Rengga sampai terpental.


Tak mau kalah begitu saja. Rengga menggunakan tangannya untuk menahan tubuhnya. Lalu dengan cepat kembali melesat menuju Rizki.


Rizki langsung melayangkan tinju, namun usahanya gagal. Rengga menangkap tinjunya, dan membanting Rizki ke lantai. Terdengar suara lantai hancur. Partikel kecil mulai berterbangan mengotori seragam Rizki.


Rengga menatap pada Rizki, datar. "Ini kekuatanmu? yang katanya sudah membunuh temanmu?" tanya Rengga dengan tawa merendahkan. Aura intimidasi Rengga semakin terasa menyeramkan. Dibelakang punggung Rengga, Rizki melihat semacam bayangan beruang besar.


"Beruang?" Mata Rizki membulat sempurna. Ia merasakan perasaan yang menggebu-gebu di hatinya. Itu adalah rasa haus bertarung. Tubuhnya menjadi panas. "Sempurna." gumamnya pelan.


Lalu dengan sekuat tenaga Rizki bangkit. Melancarkan serangan bertubi-tubi pada Rengga. Nampaknya sang anggota kru Eternity itu sangat kesusahan. Pukulan Rizki sangatlah cepat, dan tak bisa ia tahan.


"One inch punch." Rizki menaruh tangannya tepat di area ulu hati Rengga. Lalu dengan sekuat tenaga ia melepaskan pukulan keras. Rengga langsung merasa kesakitan hebat, tubuhnya terhempas sampai membentur dinding.


"Pertahanannya tak sekuat yang aku kira." batin Rizki. Lalu berlari dengan cepat menuju Rengga. Rizki melancarkan tendangan side kick yang langsung tepat mengenai kepala Rengga. Terdengar suara benturan keras, lalu dilanjutkan dengan tembok dinding yang hancur karena benturan kepala Rengga.


"Baiklah... sekarang ayo kita lihat pertarungan 'dia'." Rizki bicara, lalu menoleh kebelakang. Ia menyaksikan pertarungan antara Rain dan Jefri. "Orang 'itu' sekarang sudah menjadi kuat."


Tapi tiba-tiba, Rizki ditendang oleh Rengga dari belakang. Rizki langsung terjatuh dengan posisi terbalik. Kepalanya menancap di lantai. "Jangan mengalihkan pandanganmu, brengs*k." Rengga bicara sembari terengah-engah. Menatap datar Rizki.


Namun Rizki bangkit kembali. Ia menjambak rambut Rengga, lalu membenturkan kepalaku dengan keras ke tembok. "Oi, itu sakit loh!" Rizki bicara. Baik Rengga maupun Rizki keduanya saling tersenyum menyeringai.


Beralih lagi, kini ke pertarungan antara Rain dan Jefri. Terlihat keduanya saling membalas pukulan. Namun Jefri terlihat lebih mendominasi pertarungan itu. Teknik bela diri-nya sama dengan Zulfi, yaitu Forged Boxing.


Rain hanya bisa memberikan pukulan tanpa mengenai Jefri. Ia terus saja melakukan weaving dengan cepat, membuat Rain kebingungan.


Saat ini, Jefri terus melakukan weaving. Sepertinya ia memiliki sebuah rencana. Lalu sebuah pukulan keras mengenai wajah Rain, dilanjutkan dengan pukulan lain yang juga mengenai wajahnya. Ternyata Jefri menggunakan teknik Dempsey Roll.


Pukulan demi pukulan terus mengenai wajah Rain. Terlebih lagi kepalan tangan Jefri yang sangat keras bak sebuah besi, itu adalah kelebihan dari Forged Boxing.


Darah dari wajah Rain bercipratan ke segala arah. Ia tak mendapat kesempatan untuk membalas. Terlebih lagi Jefri tak hanya memukul wajahnya, saat ada kesempatan ia memukul perut samping Rain.


"Ayo, tunjukan kemampuanmu!" Jefri berteriak geram. Pukulannya semakin terasa sakit. "Terakhir kali aku kalah oleh anak yang bisa meniru kemampuanku ini!" ujarnya.


Sontak Rain langsung tersentak. Lalu ia menangkap tangan kanan Jefri. Rain menatap Jefri dengan marah. Matanya bercahaya merah. Sama seperti saat bertemu dengan Franz.


"Apa yang kau maksud 'anak yang bisa meniru kemampuanmu'?" tanyanya geram. Urat-urat lehernya bermunculan. Membuat Jefri terkejut.


"Hah?" Jefri kebingungan, lalu sebuah kepalan tangan menabrak wajah Jefri.

__ADS_1


Jefri mundur beberapa langkah, Wajahnya memerah lebam. Rain memasang kuda-kuda, kali ini ia tak menggunakan tinju untuk melawan Jefri. Kuda-kuda Rain terlihat tak memiliki celah. Rain akan menggunakan telapak tangannya untuk menyerang.


"Bersiaplah kakak kelas. Akan ku buat tulang-tulangmu itu hancur!" Rain bicara. Lalu melesat, dan berhenti tepat didepan Jefri. Satu serangan ia layangkan ke area dada Jefri.


Jefri langsung merasa kesakitan, reflek ia memegang dadanya itu. "Bahaya. Serangannya tadi langsung mengarah ke jantungku." batin Jefri.


Jefri mencoba menghindar dengan melakukan weaving. Akan tetapi telapak tangan Rain sudah berada di sisinya. Kali ini wajah Jefri yang terkena serangan Rain. Serangan itu mengenai rahang bawahnya


Jefri sedikit kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Namun Jefri menahannya dengan kaki, lalu melayangkan pukulan straight ke wajah Rain. Akan tetapi Rain berhasil menahannya.


"Memancing ular!"


Rain menarik tangan Jefri, dan melemparkannya ke belakang. Jefri melayang di udara. Rain tak membiarkan Jefri lepas begitu saja. Ia langsung melompat, memutar di udara. Rain melepaskan tendangan kuat, mengenai kepala Jefri.


"Petinju tak bisa menggunakan kakinya untuk menendang. Kenapa? tentu saja, itu karena footwork-nya akan kacau, mengakibatkan pukulan menjadi tidak efektif." batin Rain.


Jefri membentur dinding, membuat temboknya hancur. Nampaknya ia tak bisa bergerak karena kesakitan. Rain berjalan menghampirinya. Saat itu Jefri tersandar di dinding yang rusak.


Rain menyamakan posisinya dengan Jefri. "Hei, kau tau kenapa aku hanya menggunakan telapak tanganku?" tanya Rain pelan. "Simpel saja. Aku membalikkan tekanan pukulan mu itu. Terlebih lagi, dengan menggunakan telapak tangan tak membuat tanganku kesakitan." Rain menjelaskan.


Pemuda itu menjambak rambut Jefri, lalu mendekatkan wajahnya. "Sekarang... apa kau bisa menjelaskan yang kau katakan tadi?" Rain memelototi wajah Jefri. Namun, Jefri masih meringis kesakitan.


...~~~...


Kembali ke pertarungan antara Naufal dan Purnama. Keduanya terlihat kelelahan. Tubuhnya mereka juga terdapat banyak darah, apalagi seragam Naufal yang menjadi warna merah terkena darah.


Keduanya saling tersenyum. Baik Naufal maupun Purnama, keduanya nampak sangat menikmati pertarungannya. Naufal tertawa pelan. "Keren-keren. Taekwondo-mu itu sangat hebat!" teriak Naufal senang.


Purnama mengernyit senang, ia nyengir. "Bocah sialan. Kau dari tadi meniru gerakan ku, ya?" ujarnya. Purnama meloncat-loncat pendek, melakukan taekwondo stance. "Bocah ini mirip sekali dengan orang itu." batin Purnama.


Setelah itu Purnama melakukan step, mendekati Naufal. Melancarkan tendangan samping pada Naufal. Namun, Naufal menahannya dengan kaki. Naufal juga melakukan hal yang sama dengan Purnama.


|Gunakan mode Rage?|


"Apa itu mode Rage?" batin Naufal, bertanya.


[Mode Rage adalah mode dimana anda dapat menetralisir rasa sakit selama 3 jam. Jadi selama 3 jam itu, anda tak akan merasakan sakit saat terkena serangan.]


"Apa-apaan itu!? keren sekali. Baiklah ayo gunakan!"


|Mode Rage digunakan.|


Tiba-tiba tubuh Naufal diselimuti asap berwarna merah. Matanya juga bercahaya merah. Purnama melakukan 360° kick ke wajahnya. Namun Naufal tak merasakan apa-apa, benar-benar tak merasakan apapun.


Purnama tersentak, kaget. Lalu kembali melancarkan tendangan lain. Namun hasilnya tak berubah. Naufal benar-benar tak bereaksi dengan serangan Purnama.


"Sudah?" tanya Naufal, tengil. Tersenyum miring, memandang remeh Purnama. Lalu Naufal mendorong Purnama, membuat mundur beberapa langkah. Naufal melompat, dan melakukan serangan flying knee.


Teknik flying knee Naufal mendarat tepat di dada Purnama, mendorongnya sampai menabrak dinding. Dinding itu hancur, membentuk tubuh Purnama.


Purnama meringis kesakitan, ia tersandar lemas di dinding yang hancur itu. Naufal yang ada dihadapannya, tanpa ampun langsung memukulinya dengan membabi buta.


"Sekarang kau tau, kan? kenapa aku disebut raja pecundang." ujar Naufal sembari memukul. "Itu karena gaya bertarung-ku yang seperti pecundang." Tambahnya.


Naufal menghentikan pukulannya. Tubuhnya menjadi lemas. Ia memandang Purnama yang pingsan sembari bersandar di dinding. "Jika tidak ada 'mode Rage' mungkin aku sudah kalah." ujarnya.


Naufal menoleh ke belakang. Ia melihat Rain yang tengah menjambak Jefri, dan Rizki yang masih saling adu pukul dengan Rengga. Mereka tampak menyeramkan.


Naufal tertawa pelan. Lalu terduduk. "Sial. Padahal kami baru saja pulang latihan. Tapi kenapa? kenapa ada orang lain yang bisa menandingi kami." gumam Naufal, menjambak rambutnya sendiri.


Tiba-tiba dua tubuh manusia terhempas dari pintu, melewati Naufal. Itu adalah Zulfi dan Varel. Mereka mendarat di lantai. Sontak Naufal langsung berdiri, ia melirik ke arah pintu.


Seorang pria dengan setelan jas hitam berdiri disana, ia meminum sebuah kopi es. Pria itu melirik Naufal. Rain, Rizki, dan Rengga langsung menoleh ke arah pintu. Mereka bertiga tersentak.


Pria itu adalah Parfait Saputra, sang kepala sekolah SMK Plus 27. Wajahnya nampak masam. "Aku melihat dua bocah itu bertarung di bawah. Aku kira ada apa, ternyata... kalian lagi bentrok, ya?" Parfait bicara. Ia melempar kopi es nya kebelakang.


Tiba-tiba Parfait menghilang dari pandangan orang-orang. Ia muncul kembali dihadapan Rizki dan Rengga. Kedua remaja itu langsung terkena bogem mentah yang sangat keras dari Parfait. Rizki dan Rengga melayang di udara. Lalu Parfait memegang kaki mereka, dan membantingnya dengan keras ke lantai. Kedua remaja itu langsung terkapar tak berdaya.


Lalu Parfait menoleh ke arah Rain. Dengan cepat ia melesat, lalu menendang wajah Rain. Rain terhuyung, jatuh. Langsung tak sadarkan diri.


Tiba-tiba Parfait berdiri dihadapan Naufal, membuatnya tersentak. Pupil mata Naufal bergetar, ketakutan melihat Parfait.


"Kau... apa yang kau tunjukkan kepada Fanni?" tanya Parfait, menunjuk Fanni yang berada di pojok ruangan. Naufal menoleh ke arah Fanni.


Gadis itu terduduk, memegang kepalanya. Matanya melebar, ketakutan. Tubuhnya gemetaran. "Naufal... hentikan ini..." ucap Fanni sembari gemetaran.


Naufal kembali mengalihkan pandangannya pada Parfait. Mata mereka saling bertemu. Wajah Parfait terlihat biasa saja, namun Naufal bisa merasakan aura intimidasi yang sangat kuat keluar darinya.


Bugh!


Parfait memukul ulu hati Naufal. Pemuda itu terhuyung, lalu jatuh. Ia merasakan sesak akibat pukulan itu. Parfait menarik kerah baju Naufal, dan mendekatkannya ke wajah.


Wajah Parfait kini benar-benar terlihat marah. "Kau kira apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya Parfait, melotot. Lalu Parfait melayangkan pukulan keras ke wajah Naufal.


Naufal terhempas, membentur tembok, tak sadarkan diri. Parfait mendekati Fanni, lalu ia memeluknya. "Sudah... sudah." Ujar Parfait, mengusap puncak kepala Fanni.


...~~~...


Singkat cerita, kedelapan pemuda itu tersadar. Mereka terduduk rapih. Kepalanya menunduk. Parfait berdiri dihadapan mereka, melotot melepaskan aura intimidasi.


"Jadi... apa kalian bisa menjelaskan apa yang terjadi saat ini?" tanya Parfait datar. Para pemuda itu tak menjawab, takut dengan Parfait.


"Tidak ada yang mau menjawab?" Parfait membuka jas-nya. Terlihat lekuk tubuhnya yang terlatih. Parfait mendekati Naufal, menyamakan tingginya.


"Hei, tatap aku." Ucap Parfait, melotot pada Naufal. Seketika membuat bulu kuduk Naufal berdiri, ia mengangkat wajahnya. Mata mereka saling bertemu.


"Mereka ini," Naufal menunjuk Purnama, Jefri, Rengga, dan Varel, "tiba-tiba datang, dan menyerang kami." Naufal menjelaskan, suaranya terdengar gemetar.


Parfait melirik Purnama, dan tiga temannya. Sontak membuat mereka langsung mengalihkan pandangan, takut dengan Parfait. "Kalian..."


Parfait menghampiri mereka. Ia menarik tank top Purnama. Wajah mereka mendekat. "Bukannya aku sudah bilang padamu, jangan lagi ikut campur dengan urusanku!" Parfait bicara, geram.


Purnama mengatupkan rahangnya. Sedikit kesal. Urat mulai bermunculan di lehernya. " 'Jangan ikut campur' katamu?" tanya Purnama, pelan.


Purnama melotot pada Parfait. "Maksudmu aku harus meninggalkan adikku begitu saja? jangan bercanda!" remaja itu berdiri, lalu menunjuk Naufal. "Kau!" teriaknya.


Naufal menoleh. Ia mengernyit bingung, memiringkan kepalanya. "Hah?" Naufal tampak kebingungan.


"Kau berencana meruntuhkan 4 kru Jakarta, bukan?" tanya Purnama, sedikit berteriak. Wajahnya tampak serius. Ia dengan tergesa-gesa mendekati Naufal.


"Kalau iya, tolong ajak kami berempat." ujarnya, lalu menunjuk Jefri, Rengga, dan Varel. Mereka bertiga mengangguk.


Naufal tersentak, ia tak menyangka bahwa mereka ingin bergabung dengannya. Naufal bangkit, berdiri walaupun lemas. "Apa maksudnya? jadi tujuan kalian kesini hanya untuk itu?" tanya Naufal, suaranya gemetar.


Mereka berempat mengangguk. Naufal menepuk keningnya. Ia tertawa pelan. "Kenapa kalian tak bilang dari awal?" tanyanya.


"Maaf, aku terpancing emosi. Habisnya kau sangat menjengkelkan." jawab Purnama, menggaruk kepalanya. Lalu tersenyum tak bersalah.


"Hei, tunggu." Parfait menyela pembicaraan mereka. Ia berdiri di antara Naufal, dan Purnama. "Jadi kalian akan beraliansi?" tanyanya, sedikit ragu.


Parfait nampak ragu. Purnama dan Naufal menatapnya, lalu mengangguk polos. Kedua pemuda itu berjabat tangan. "Baiklah kalau begitu. Mohon bantuannya, senior!" Naufal bicara sembari tersenyum.


"Terserah kalian saja." Ujar Parfait. Ia berjalan meninggalkan mereka. Berhenti sejenak. "Jangan lupa dengan Fight Club-nya. Sekolah lain juga akan datang." tambahnya. Parfait meninggalkan ruangan.


Naufal menatap kepergian Parfait. Ia mengernyit kebingungan. "Bukannya aku tidak merasakan sakit selama 3 jam, bukan?" batinnya.


"Tapi kenapa pukulan dia tadi terasa sangat sakit?"


...##Sistem Raja Pecundang##...


...****************...

__ADS_1


Btw Author sudah membuat cerita CS (Chat Story) yang menceritakan kehidupan sehari-hari karakter di novel ini, namun author tak membuat perkelahian atau konflik dicerita itu. judulnya adalah "Sistem Raja Pecundang: SoL"


dibaca ya, wahai para reader. terimakasih


__ADS_2