
Mendengar itu, sontak Devan kebingungan.
"Apa maksudmu?" tanya Devan
"Kkekekeke" pekik Franz, "kau bertanya apa maksudku? tentu saja yang aku maksud adalah asal usul ibumu dan kemampuan silat mu itu," ucap Franz.
"Apa yang kau tahu tentang ibuku? padahal ayahku saja tak pernah menceritakannya padaku," kata Devan mencoba memancing Franz.
"Entahlah. Tapi jika kau penasaran, temui aku di alamat yang sudah ku kirim ke ponselmu, dah." Kata Franz yang langsung menutup telfonnya.
Setelah itu, terlihat Devan yang mengepalkan tangannya dengan kuat. Otot-otot ditubuhnya terlihat mengeras dan memunculkan urat.
Devan mengusap rambutnya, sorot matanya menjadi tajam dan bersinar merah.
"Sialan. Kau kira aku takut padamu?" gumam Devan sembari tersenyum kesal.
Besoknya. Pagi hari cerah seperti biasa, matahari bersinar terang menerangi dunia. Semua orang siap untuk mulai aktivitasnya masing-masing.
Didalam sebuah rumah, terlihat Devan yang sedang sarapan pagi bersama ibunya.
Tidak seperti biasanya, wajah ibu Devan tidak menunjukkan luka lebam akibat dipukul oleh ayahnya. Selama beberapa hari, ayah Devan tak kunjung pulang ke rumah, dan hanya meninggalkan segepok uang untuk mereka berdua.
"Aku seneng deh, bu," kata Devan.
"Hmmm? kenapa? kok tiba-tiba kamu bilang gitu?" tanya ibu Devan.
"Ya aku seneng aja. Karena ayah gak ada, ibu jadi gak dipukulin sama ayah," ungkap Devan sembari tersenyum kecil.
Mendengar itu, ibu Devan tersenyum manis. Ia mengusap-usap rambut Devan dengan senangnya.
"Kamu sejak kapan jadi lucu kayak gini?" tanya ibu Devan sembari tertawa kecil pada Devan.
Melihat ibunya, membuat pipi Devan berwarna merah. Bagaimana tidak, pasalnya ia baru pertama kali melihat ibunya tersenyum seperti itu. Ia menyadari bahwa ibunya sangatlah cantik.
"Oh iya, ibu mau nanya," kata ibu Devan.
"Tanya apa, bu?" sahut Devan.
"Temen kamu yang berdua itu kemana? kok ibu jarang liat kamu berangkat bareng mereka lagi?" tanya ibu Devan.
Mendengar itu sontak membuat Devan sedikit teringat dengan sahabat-sahabatnya, Rehan dan Siti. Kini mereka bertiga mempunyai kesibukan masing-masing yang membuat mereka berpisah.
"Ah kalau itu...."
Devan bingung harus menjawab apa pada ibunya.
"Kenapa, nak?" tanya ibu Devan sembari menatap Devan.
"Ah gak apa-apa. Mereka berdua sekarang sibuk. Jadi kami gak bisa bareng dulu," Jawab Devan.
Setelah sarapan selesai. Devan langsung bersiap-siap berangkat sekolah. Saat Devan akan membuka pintu, tiba-tiba ibunya menghentikannya.
"Devan, tunggu!" seru ibu Devan.
Devan menghentikan langkahnya, dan berbalik ke ibunya.
"Ada apa, bu?" tanya Devan.
"Gak ada apa-apa, cuman..." kata Ibu Devan.
"Cuman apa?" tanya Devan lagi.
Ibunya tersenyum kepada Devan.
"Jika nanti ibu udah gak ada, kamu jangan benci sama ayahmu, ya?" kata ibu Devan sembari tersenyum.
"Ibu bicara apa sih? mana mungkin ibu gak ada," kata Devan sembari tersenyum kecil.
"Tapi janji, ya?" tanya ibu Devan lagi.
"Iya-iya, aku janji. Udah, aku mau berangkat sekolah dulu." Kata Devan sembari keluar dari rumahnya.
Waktu menunjukkan pukul 14:30. Kegiatan sekolah Devan telah usai.
Tak seperti biasanya, Devan tak langsung menuju ke ruangan osis. Ia malah keluar dari area sekolah.
Sembari berjalan, Devan membuka ponselnya dan membuka aplikasi chat. Setelah itu ia mengklik dan membuka pesan dari [Kontak tidak diketahui].
__ADS_1
[Kontak tidak diketahui
Pesan: Hei, datanglah ke pabrik tua di dekat sekolah. Kalau tidak salah jaraknya ada 1 KM, kau harus sampai pukul 15:00, jangan sampai terlambat. Aku menunggumu.]
Setelah membaca pesan itu, Devan tanpa berpikir panjang langsung bergegas menuju ke tempat yang sudah diberitahukan.
"Aku akan menghajarnya!" ucap Devan dengan mata yang menyala merah.
Di ruang osis sekolah, terlihat Rehan yang sedang duduk sendirian sembari melihat laporan dari para guru.
"Tumben, sekarang banyak laporan dari guru-guru," gumam Rehan.
Rehan membuka setiap laporan dari para guru, kini kasus murid-murid nakal mulai kembali beredar. Kasus seperti murid merokok di wc sekolah, bolos dan menghancurkan benteng sekolah, murid melawan guru, dan lainnya.
"Ini kalau Devan sama Siti ada disini, pasti seneng sih mereka," ucap Rehan.
Kemudian raut wajah Rehan berubah, senyumnya redup, alisnya terangkat, matanya berubah menjadi sedih. Rehan terlihat sedih saat memikirkan kedua sahabatnya.
"Aku teringat sesuatu," batin Rehan sembari menundukkan kepalanya.
"Dua hari yang lalu, ayahnya Siti bertanya kepadaku."
Dua hari yang lalu, saat Rehan pulang sekolah. Tanpa sengaja ia melewati rumah Siti dan melihat ayahnya yang sedang duduk sendirian di teras rumahnya.
Rehan langsung menghampirinya, ia merasa bahwa ayah Siti sedang merasa kebingungan.
"Anu, sore pak," sapa Rehan sembari mendekati ayah Siti.
Ayah Siti melirik ke Rehan. Seketika wajahnya yang murung langsung berubah menjadi senang, sepertinya ia memang sedang menunggu Rehan.
"Ah akhirnya! sore nak Rehan," sahut ayah Siti yang langsung memegang pundak Rehan.
Rehan tampak kebingungan dengan sikap ayah Siti. Ia juga melihat sorot mata ayah Siti yang seolah sedang berharap.
"Nak Rehan, kamu lihat Siti gak? biasanya kan dia main sama kamu," tanya ayah Siti.
"Emmm.. anu,"
Ayah Siti tiba-tiba menyingkirkan tangannya yang ada di pundak Rehan.
"Aduh maaf, nak Rehan. Pasti kaget ya, tiba-tiba dipegang kayak gitu," kata ayah Siti.
"Eh nggak kok, pak. Gak apa-apa,"
Rehan menyangkal ucapan ayah Siti.
"Kalo soal Siti... jujur aja saya gak tau, pak. Tapi," kata Rehan.
"Tapi apa, nak Rehan?!" tanya ayah Siti dengan suara tinggi.
Rehan menundukkan kepalanya.
"Saya udah gak barengan lagi sama Siti, pak," jawab Rehan.
"Tapi, saya siap kok kalau harus car-"
Sebuah pukulan mendarat di pipi Rehan, dan membuatnya terjatuh. Menghentikan ucapan Rehan.
"SIALAN LU! DULU LU BILANG MAU JAGAIN ANAK GUE!" teriak ayah Siti dengan sedikit mengeluarkan air mata.
Mendengar itu, Rehan yang terkejut karena dipukul, tiba-tiba teringat dengan janjinya kepada orang tua Siti. Rehan pernah berjanji untuk menjaga Siti saat pertama kali bertemu.
"Anak gue sering pulang malem-malem! Baju nya selalu bau alkohol," kata ayah Siti sembari menunjuk-nunjuk Rehan.
"Dan lu tau apa?! dia sekarang jadi anak pembangkang. Sikap dia jadi kasar," lanjut ayah Siti.
"Ini semua gara-gara lu. Kalau aja lu jaga dia dengan baik, dia gak akan kayak gini!"
Rehan semakin terkejut dengan pernyataan ayah Siti. Ia tak menyangka bahwa Siti telah berubah sejauh itu. Lalu Rehan berdiri dan menghadapi ayah Siti.
"Sekarang Siti udah gak pulang selama seminggu. Gue harap lu bisa cariin dia, tepati janji lu,"
Rehan membuka mulutnya.
"Gak." katanya dengan tegas.
"Apa?!"
"Dia sendiri yang meninggalkan aku, dia juga yang tak mau berteman dengan ku. Lalu kenapa, lalu kenapa aku harus mencarinya?" batin Rehan.
Rehan menatap tajam wajah ayah Siti.
"Ya cari sendiri bajing*n! itu bukan kewajibanku, tapi itu kewajibanmu sebagai orang tuanya."
Setelah mengatakan itu, Rehan membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ayah Siti.
"Sialan!" teriak ayah Siti sembari mengejar Rehan.
Ia berniat untuk memukul Rehan. Di sisi lain, Rehan menyadari bahwa ayah Siti akan memukulnya, namun Rehan tak berniat menghindar.
Namun pukulan ayah Siti terhenti. Tubuhnya di tahan oleh ibu Siti yang memeluknya dari belakang dengan erat.
"Pak udah pak! bener kata anak itu, kita orang tuanya. Harusnya kita yang cari Siti!" teriak ibu Siti sembari menahan tubuh suaminya itu.
Mendengar perkataan istrinya, ayah Siti mulai luluh dan menangis terisak-isak.
"AAAAAAAA!" teriak ayah Siti sembari menangis.
Rehan melirik ke arah orang tua Siti. Mata Rehan terlihat sedih. Setelah itu, Rehan langsung pulang ke rumahnya.
Kembali ke masa sekarang.
"Ahh, aku sudah tanya ke temen-temen dia. Tapi gak ada yang tahu keberadaan Siti," kata Rehan.
Rehan menggaruk-garuk kepalanya, ia kesal karena tidak kunjung mendapat informasi tentang Siti.
Rehan membuka ponselnya, dan membuka aplikasi galeri.
"Yah, meskipun aku bilang gitu ke ayahnya. Sebagai teman, aku tak bisa meninggalkannya," ucap Rehan sembari memandangi foto Siti.
__ADS_1
"Aku suka, eh tidak-tidak. Aku cinta dia." Batin Rehan.
Tiba-tiba muncul bar notifikasi di ponselnya.
\[Pesan baru\]
\[Kontak tidak diketahui Mengirimkan sebuah gambar.\]
"Hah? chat dari siapa ini?"
Rehan tak langsung memencet dan mengabaikan bar notifikasi itu, ia curiga bahwa itu adalah pesan penipuan.
"Yah palingan juga penipuan. Oke, sekarang saatnya berpikir kembali perihal Siti,"
Rehan mulai berpikir keras, ia sedang memikirkan cara untuk menemukan Siti. Rehan memutar-mutar poni rambutnya, matanya tertutup, dan pikirannya hanya fokus terhadap Siti.
DING!!
Ponsel Rehan berbunyi, dan kembali memunculkan bar notifikasi.
\[Pesan baru\]
\[Kontak tidak diketahui: Woi, lu lagi cari dia kan?.\]
Mendengar bunyi telfon, Rehan langsung membuka matanya. Lalu ia memencet bar notifikasi itu.
"Siapa sih ini?"

Setelah memencet bar notifikasi itu, alangkah terkejutnya Rehan melihat foto Siti yang sedang terbaring lemas. Siti masih mengenakan seragam sekolah, namun beberapa kancing bajunya terbuka.
DING!
\[Telfon masuk.\]
\[Angkat panggilan / tolak panggilan\]
Rehan mengangkat telfon itu, lalu terdengar suara seseorang yang ia kenal.
"Halo pak ketos ~~~, ini aku Ridwan. Bagaimana foto si Siti? cantik bukan? kami habis bersenang-senang, haha!"
Ternyata yang menelfonnya Rehan adalah Ridwan.
"Siti mainnya hebat banget sih, haha. Aku gak nyangka anak se-polos dia bisa main hebat seperti itu, aku puas hahaha,
Mendengar itu Rehan langsung tak kuasa menahan amarahnya. Ia menggigit bibirnya sampai berdarah, matanya juga berubah menjadi sangat merah.
"Brengs\*k, apa yang lu lakuin ke Siti?" tanya Rehan dengan suara yang pelan.
"Gak banyak. Oh iya, kalau lu mau ikut main kesini, jangan lupa aku ada di gudang tua dibelakang SMK PLUS 27. Jangan sampai terlambat ya," kata Ridwan sembari menutup telfonnya.
Setelah itu Rehan berdiri. Lalu ia mengangkat kepalanya. Terlihat kedua matanya yang mengeluarkan darah, dan pandangan matanya menjadi kosong. Rehan pun segera meninggalkan ruang osis, dan segera pergi ke gudang tua yang Ridwan maksud.
"Armageddon." Ucap Rehan sembari tersenyum menyeringai.
Didalam gudang tua belakang sekolah SMK PLUS 27.
Ridwan berdiri diantara puluhan berandalan yang bersenjatakan benda tumpul. Terlihat Ridwan seperti seorang pemimpin yang siap bertempur.
"WOI DENGAR SEMUANYA!" teriak Ridwan.
Para berandalan itu langsung memalingkan pandangannya ke arah Ridwan.
"Hari ini, kita laksanakan tugas dari bos Franz. Sekarang kita semua harus siap-siap menahan Rehan," katanya dengan suara tinggi.
"Ayo bersiap-siap!!!" teriak Ridwan.
"WOOOOOO!!!!!!" sorak para berandalan itu.
Di tempat lain, terlihat Devan yang akhirnya telah sampai di pabrik tua yang dimaksud oleh Franz.
"Pukul 14:55. Itu artinya aku tidak telat." ucap Devan sembari memandangi bangunan tua itu.
...\#\#Sistem Raja Pecundang\#\#...
__ADS_1