Sistem Raja Pecundang

Sistem Raja Pecundang
Kencan bersama tunangan? (2)


__ADS_3

"Lepaskan tanganku,"


Dani melepaskan genggaman tangan Alisa. Entah kenapa, perasaan gelisah mulai muncul di hatinya. Genggaman tangan Alisa yang lembut itu, berhasil membuat kegundahan hati Dani.


"Benarkah itu?" tanya Dani sembari menatap Alisa dengan tatapan yang tajam. "Kamu akan meminta pak Broto untuk membatalkan pertunangan kita?"


Mendengar itu, Alisa terlihat sangat terkejut. Matanya melebar, dan bibirnya tertutup rapat. Sepertinya ada sedikit keraguan dalam hati Alisa, mungkin saja keputusannya itu akan membuatnya menjauh dari Dani.


"Tentu saja." jawab Alisa sembari tersenyum simpul. Namun bibirnya kembali terbuka, "Tapi ada syaratnya," ujarnya tiba-tiba.


"Syarat?" Tanya Dani, tentu saja ia sedikit terkejut dengan perkataan Alisa tersebut.


"Heem, syaratnya adalah hari ini aku akan memanggil kamu 'Mas Dani', lalu aku juga pengen kamu perlakukan aku kayak pacarmu sendiri. Sanggup?" Alisa mengungkapkan Syarat sembari tersenyum.


Keringat mulai bercucuran di wajah Dani, ia mulai ragu dan sedikit keberatan dengan syarat yang diajukan Alisa. Tangan Dani mulai bergetar saking ragu-ragu dengan keputusan yang akan ia buat.


"Gimana nih? ini syaratnya maksa banget!" batin Dani sembari mengigit ibu jarinya. Setelah berpikir sejenak, Dani memutuskan untuk menyanggupi syarat yang diberikan Alisa.


"Oke, aku terima syaratnya."


Mendengar itu Alisa langsung merasa senang, sampai-sampai sontak berdiri dan terbentur ke atap mobil.


"Aw, sakit!"


Dani hanya bisa keheranan, ia tak menyangka reaksi Alisa akan seperti itu. Dani sedikit kebingungan, dan mulai muncul 1 pertanyaan di kepalanya.


"Apa benar dia ini Alisa yang sering membully ku disekolah?"


Tanpa sadar, senyum mulai terbentuk di bibirnya. Dani tampaknya sedikit senang akan tingkah laku dari Alisa yang imut itu.


...~~~...


Akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuan mereka, yaitu sebuah taman wahana bernama Wahana Divan. Sebuah tempat wahana yang terkenal dikalangan para pasangan muda.


Sang supir keluar dari mobil, ia berjalan ke pintu kursi belakang, tempat Dani dan Alisa duduk. Supir itu membukakan pintunya, dan mempersilahkan Alisa dan Dani keluar bak pasangan kerajaan.


"Makasih ya, pak," ucap Alisa sembari memberika senyuman.


"... Ee anu non, saya pengen pergi dulu ke suatu tempat. Kalau mau pulang telfon saya aja, ya?"


"Siap pak."


Setelah itu Dani dan Alisa mulai berjalan memasuki kawasan taman itu, bersamaan dengan perginya supir yang membawa mobilnya itu.


Dani dan Alisa berjalan bersampingan bagaikan pasangan yang sedang dimabuk cinta. Alisa nampak senang sekali, bahkan ia bersenandung terus sedari tadi. Berbeda dengan Dani, ia malah merasa malu karena semua orang yang ada di sana memandang mereka berdua.


"Hei lihat itu, kayak pasangan artis banget gak sih?" seorang wanita berbisik ke temannya. Walaupun wanita itu berbisik-bisik, Dani masih bisa mendengarnya.


Lalu sebuah sentuhan terasa di pipinya, lalu Dani menoleh untuk melihat siapa yang menyentuhnya. Ternyata Alisa lah yang menyentuh Dani.


"Mas Dani!" Alisa tersenyum centil kepada Dani. Ia berharap Dani akan salah tingkah karena senyumannya.


Namun harapan Alisa seketika sirna tatkala ia melihat reaksi dari laki-laki itu yang sangatlah berbeda dengan yang ia harapkan.


"..A-apa?" sahut Dani dengan sedikit ragu.


"Cih, gak asik!" lirih Alisa walaupun masih terdengar ditelinga Dani.


"Hah, apa?"


Dani menarik pergelangan tangan Alisa, lalu mengangkat dagu gadis itu dengan tangan kirinya.


"Apa? Hah?"


Sontak Alisa langsung menyingkirkan tangan Dani. Wajahnya mulai memerah redup. Lelaki itu benar-benar membuatnya salah tingkah.


"Ih... apaan, sih?" Alisa menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Tadi kau yang manggil aku, kan?" tanya Dani sembari memalingkan wajahnya, terlihat juga telinganya yang juga ikut memerah.


"Jangan main-main denganku, Alisa." gumam lelaki itu. "Oh iya, mau makan apa?"


"Makan?"


Alisa menatap Dani dengan satu alisnya yang terangkat, seolah mengisyaratkan bahwa ia tak menyangka lelaki didepannya itu menawarinya makan.


"Makan burger aja dulu," jawab gadis itu sembari menunjuk kedai burger yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Habis itu... naik wahana, yuk!"


Dani menjawab pertanyaan tersebut dengan menganggukkan kepalanya. Lalu ia menyuruh Alisa untuk menunggu, sedangkan ia akan pergi sendiri untuk membeli burger seperti yang dikatakan Alisa.


Tak lama kemudian, Dani kembali dengan membawa 2 burger di tangannya. Ia pun memberikan 1 kepada Alisa, dan memakannya bersama-sama sembari duduk berdua disebuah kursi panjang.


...~~~...


Setelah selesai makan, Dani langsung mengajak Alisa ke sebuah wahana. Tentu saja hal itu membuat Alisa sangat senang.


Dani berjalan menuju wahana yang dituju, bersama Alisa dibelakangnya.


"Mas Dani, kita mau main wahana apa?" tanya Alisa.


Dani menoleh ke arah Alisa, dan menaruh jari telunjuknya didepan bibirnya, mengisyaratkan bahwa itu Rahasia.


Tentu saja Alisa juga merasa senang, ia merasa bahwa Dani akan memberikan kejutan padanya. Gadis cantik itu berangan-angan tentang Dani yang mungkin akan mengajaknya ke wahana untuk pasangan.


...~~~...


"Mas!"


Terlihat Alisa dan Dani didepan sebuah wahana yang terlihat seperti rumah tua. Namun nampaknya Alisa terlihat marah kepada Dani.


"Kok kamu bawa aku kesini sih? ini kan rumah hantu!" celoteh Alisa.


Ternyata Dani berencana mengajak gadis itu untuk bermain wahana rumah hantu, ia sengaja melakukannya karena ingin menjahili Alisa.


"Apa boleh buat, kan? kamu 'kan yang pengen main wahana," balas Dani sembari memalingkan wajahnya.


Alisa mendekati Dani, lalu menatapnya dengan mata yang lebar, dan pupil yang mengecil. Terlihat gadis itu seperti menahan amarahnya.


".... Apa?" Tanya Dani yang mulai berkeringat.


Lalu tanpa menjawab pertanyaan itu, gadis cantik itu menginjak kaki Dani. Tentu saja, Dani merasa sangat kesakitan. Walaupun begitu Alisa malah pergi meninggalkannya.


"Kamu jahat!" gadis itu melontarkan 2 kata yang seketika membuat Dani merasa keheranan.


"Hah? apa sih?! tadi 'kan dia yang ngajak naik wahana." Batin Dani dengan kesal.


Lalu Dani berlari menghampiri Alisa yang mulai menjauh. Saat ia hampir mendekati Alisa, tiba-tiba gadis itu berhenti secara tiba-tiba dan hampir membuat Dani menabraknya.


"Cih. Apa sih?"


Lelaki itu melihat Alisa yang seperti diam membeku sembari menatap lurus ke satu arah. Pandangannya terlihat kosong, seperti melihat sesuatu yang menakutkan.


Lalu Dani juga ikut menoleh untuk melihat apa yang dilihat oleh Alisa.


"Kamu liat apa s-" tanya lelaki itu yang terpotong.


Mata lelaki itu melebar tatkala ia melihat 2 orang yang ia kenal, bermesraan satu sama lain. Entah kenapa Dani merasakan rasa yang sangat aneh di hatinya, rasa yang terasa sangat sakit.


Ternyata Dani melihat Putri bersama seseorang lelaki. Tentu saja Dani juga mengenal lelaki itu, ia adalah Aldi. Orang yang dulu mengalahkannya saat kejadian penculikan 2 bulan yang lalu.


Lalu Alisa menyadari kehadiran Dani, ia juga melihat Dani yang terlihat sangat marah.


"Eh, Dani...." Gadis cantik itu berniat memegang tangan Dani yang terlihat marah itu. Namun terlambat, Dani sudah pergi menghampiri Aldi dan Putri.


...~~~...


Dani menghampiri Putri dan Aldi dengan penuh rasa amarah. Tentu saja lelaki ini merasa sangat marah, ia tak mungkin hanya diam ketika melihat pujaan hatinya bersama dengan musuh yang pernah mengalahkannya.


Alisa hanya bisa diam, ia hanya bisa melihat Dani yang mulai berjalan jauh darinya. Tubuh Alisa terlihat bergetar hebat, sampai-sampai membuatnya mengucurkan keringat deras.


Tentu saja rasa takut menyelimuti dirinya. Dulu Aldi pernah memukulinya saat ia diculik bersama Fanni, hal itu menyebabkan trauma yang cukup membekas didalam dirinya.

__ADS_1


Beralih ke sisi Dani. Saat ini ia sudah dekat dengan Putri dan Aldi. Langsung saja, lelaki itu menarik tangan Putri, dan melayangkan pukulan keras ke wajah Aldi.


Tentu saja pukulan itu membuat Aldi langsung tersungkur, pukulan Dani bisa dibilang lumayan cepat dan tak bisa dihindari.


"Oi bangs*t, ngapain kau?" kata Dani sembari menatap tajam kepada Aldi.


Perbuatan Dani itu seketika membuat pengunjung lain terdiam, mereka sangat terkejut dengan apa yang barusan terjadi.


"Hah?!"


Aldi terlihat sangat kesal. Lalu ia berdiri, diikuti dengan segerombolan orang yang datang menghampirinya. Lalu salah satu dari orang itu membantu Aldi, dan membersihkan pakaiannya dengan mengusapnya.


"Bos, apa bos tidak apa-apa?"


Aldi menepis tangan bawahannya itu. Lelaki itu tersenyum menyeringai ke arah Dani, "Hei anj*ng, berani sekali kau, ya?"


Lalu tanpa disangka-sangka, Putri menepis tangan Dani, dan memberikan tamparan keras di pipinya.


"Apaan sih? bikin merinding bajing*n!" kata Putri dengan wajah kesal.


Tentu saja, apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Putri membuat Dani terkejut. Otaknya tak bisa mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.


"Putri? kenapa....?" tanya lelaki itu.


Lalu sebuah tendangan 360° mendarat tepat di wajah Dani, sehingga membuat terpental dan melayang di udara. Lalu Dani terjatuh tepat didepan Alisa yang sedari tadi hanya diam.


Setelah itu, Aldi bersama gerombolannya menghampiri mereka berdua. Terlihat senyuman terbentuk di wajahnya.


"Heh.... bocah ini sudah berkembang, ya?" ujar Dani sembari memandang Dani dan Alisa.


"Kenapa?"


sebuah pertanyaan terlontarkan ke Aldi.


"Kenapa Putri bisa bersamamu?!"


"Oh itu! kamu ingat pas kejadian 'itu'? Yap benar. Putri lah yang merencanakannya, haha..."


Sontak Dani langsung terkejut sampai tak bisa berkata apa-apa. Beberapa kalimat yang dilontarkan oleh Aldi itu, membuat pandangan Dani lurus ke arah Putri.


"Yah. Karena kau sudah memukul ku, ayo ikuti aku ke area parkiran, sekarang!"


Lalu Aldi pergi ke area parkiran, diikuti oleh Putri dan bawahannya.


Dani hanya diam terpaku, sembari duduk melihat sang pujaan hatinya pergi bersama musuhnya. Tentu saja, rasa menyesal tertanam didalam dirinya.


Di sisi lain, Alisa hanya bisa melihat semua itu tanpa melakukan apapun. Trauma yang dialami gadis itu cukup menganggu, ia tak bisa melakukan apapun untuk membantu Dani.


"...Da- Dani, kamu gak apa-apa?"


Namun, Danu tak menjawab pertanyaan itu. Ia bangkit lalu bersiap pergi menyusul Aldi.


"Kamu diam disini, aja. Jangan ganggu aku."


Setelah mengatakan itu, Dani berlari menyusul Aldi, meninggalkan Alisa sendirian tanpa ditemani oleh siapapun.


"Kali ini kamu juga ninggalin aku, ya?" lirih Alisa sembari tersenyum menatap kepergian Dani.


Lalu Alisa mengambil ponsel dari tasnya, dan berniat menelpon supirnya.




Beralih ke sebuah tempat parkiran. Terlihat segerombolan orang berdiri mengelilingi 2 orang yang berada di tengah-tengahnya.



Mereka semua adalah bawahan dari Aldi, dan yang 2 orang yang berada di tengah-tengah adalah Dani dan Aldi, sepertinya mereka bersiap untuk bertarung.



"Oi, kalian semua. Dengar ya, jangan ganggu pertarungan ku. Hahaha..." pekik Aldi sembari meloncat-loncat, melakukan taekwondo stance.




Syut!



Sebuah tendangan yang cepat hampir mengenai wajah Dani, namun ia berhasil menghindarinya dengan tepat waktu. Lalu Dani membalasnya dengan menendang betis Aldi.



"*Dia akan terjatuh, harusnya aku bisa menendang kepalanya*!" batin Dani.



Benar saja, Aldi terjatuh karena ditendang oleh Dani. Aldi yang saat ini bebaring di aspal akan ditendang oleh Dani, menggunakan teknik Axe kick.



Akan tetapi Aldi masih beruntung. Ia berhasil menghindari tendangan kuat yang mengarah ke kepalanya itu, malahan aspal tepat ia berbaring malah hancur oleh tendangan Dani.



"*Dia menjadi kuat*!" batin Aldi sembari menghindar.



Lalu tanpa Aldi sadari, saat ini di samping kepalanya sudah ada kaki yang bersiap menendangnya.



"Tendangan memutar berat"



Buakk!!



Tendangan itu mengenai wajah Aldi, sampai-sampai ia terpental menabrak sebuah mobil. Dani bergegas berlari ke arahnya, dan akan melancarkan teknik Dwichagi.



"Sensei bilang kepalaku, aku ini hanya butuh rasa percaya diri dan latihan!" batin Dani, "akan aku balas perbuatanmu!"



Syut.... Bugghh!!



Dwichagi yang digunakan Dani mengenai perut Aldi, sampai membuat mobil dibelakangnya penyok. Lalu Dani melepaskan tendangan dari tubuh Aldi, dan menggunakannya kembali untuk menendang kepalanya.



Aldi terpental, ia mendarat di aspal. Namun Dani terlihat terkejut dengan Aldi. Ternyata Aldi berhasil menahan tendangan Dani.



"Hahahahahaha!" Aldi tertawa jahat. Lalu ia berdiri sempoyongan, "sempurna! kau lawan sparring yang sempurna!"



Lalu dengan kecepatan penuh, Aldi berlari menuju Dani. Ia dengan lihai melakukan gerakan zig-zag, dan mengecoh penglihatan Dani.



Lalu sebuah tendangan mengenai dagu Dani, membuatnya langsung tersungkur jatuh. Aldi tak memberi ampun, ia melompat dan bersiap menendang wajah Dani.

__ADS_1



"Rasakan ini, bajing\*n!"



Tendangan itu mengenai wajah Dani, ia tak sempat menghindar.



"Sial, aku kira dia akan mengalahkan aku" ucap Aldi sembari menghela nafas.



...\*\*\*\*...



"Eh, kau bertanya apa kemampuan anak bernama Dani itu?" ujar seorang pria tua sembari meminum minuman beralkohol.



"Ya, tentu saja. Dia itu terlihat lemah," sahut seorang pria dengan rambut hitam.



Mereka berdua adalah Parfait dan Doni.



"Aku melatih kelenturan kakinya, dan kekuatan kakinya"



"Aku pernah membuatnya mencium kakiku, hahaha..."



"Aku menginjak-injak wajahnya. Lalu.... tiba-tiba kakinya ada dibelakang kepalaku, aneh sekali. Padahal saat itu aku serang menginjak wajahnya, hahaha..."



"Kemampuan anak itu adalah kakinya yang bisa bergerak bagaikan ekor kalajengking. Aku saja bisa dibuat pingsan jika terkena tendangannya itu,"



"Tendangan itu mengarah langsung ke kepala bagian belakang, dan sangat berbahaya. Tapi yang aku tau pasti..."



"Musuhnya saat ini sedang ada di ujung hidupnya!"



Pria tua itu tersenyum jahat.



...\*\*\*\*...



Saat ini dibelakang kepala Aldi, sudah ada kaki Dani yang siap menendangnya.



Buak!!



Kepala Aldi ditendang oleh Dani, sampai membuatnya terpental jauh dan pingsan saat itu juga. Lalu Dani berdiri, hidungnya mengeluarkan darah.



"Pasti mati tuh..." Dani mengucap darah yang mengalir dari hidungnya.



"Oi, sialan!!" salah satu bawahan Aldi berteriak, dan menyerang Dani.



Dani bisa menahan serangan orang itu, namun bawahan Aldi yang lainnya langsung menyerang Dani secara bersamaan.



Tentu saja, Dani tak tinggal diam. Ia membalas mereka semua dengan menendang mereka.



Bawahan Aldi terlihat sangat lemah, dibuktikan dengan mereka yang sudah terpental karena 1 tendangan dari Dani.



Namun diantara mereka ada yang membawa batang besi dari tong sampah, dan memukulkannya kepada Dani.



Dani terkena pukulan dari batang besi itu. Membuatnya kesakitan. Lalu ia dipegangi oleh beberapa orang. Dani akan dipukuli tanpa bisa melawan.



"Sial\*n, kau kira kami akan melawan mu dengan adil?"



Lalu orang yang memakai batang besi itu, bersiap memukul wajah Dani.



Dani memejamkan matanya, dan bersiap terkena pukulan itu.



"Rasakan ini!"



Batang besi itu dilayangkan ke kepala Dani. Namun Dani tak merasakan apa-apa.



"Eh? aku tidak merasakan sakit!" batin Dani. Lalu perlahan ia membuka matanya.



"O-oi... siapa cewe ini?" orang yang akan memukul Dani, terlihat kaget sekaligus ketakutan.



"Eh.... EH?"



Dani terkejut setelah ia membuka matanya. Saat ini ia melihat Alisa yang menahan serangan itu, demi melindungi Dani.



"Kamu gak apa-apa?" tanya Alisa dengan darah yang mulai mengucur dari keningnya.



...\#\#Sistem Raha Pecundang\#\#...

__ADS_1


__ADS_2