SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 9


__ADS_3

Aku duduk di sofa ruang tamu menunggu mas Pras untuk mengantarku kesekolah. Ia masih belum turun dari tadi, entahlah aku tidak tahu mengapa, mungkin ia masih memikirkan uang untuk belanja bulanan kami.



Aku tak pernah menyangka ternyata selama seminggu lebih ini mas Pras selalu menggunakan uangnya untuk belanja, aku pikir uang itu dari bapak. Bukankah meski sudah menikah kembali tugas seorang ayah adalah tetap memberikan nafkah kepada anak - anaknya.



Aku sudah tak mengerti lagi dengan jalan pikir bapakku sekarang, semuanya sudah berubah. Ia sudah tak sama seperti dulu lagi, kini ia meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.



'jika untuk uang belanja saja bapak gak ngasih, gimana dengan biaya kelulusanku nanti?'


Tiba - tiba saja pikiran itu bersarang dibenakku, ketika memikirkan kelakuan bapak yang tenyata tidak bertanggung jawab menafkahi kami.


' Berarti itu tandanya aku benar - benar harus mencari pekerjaan, selain untuk membantu mas Pras, juga untuk biaya kelulusanku nanti. ' putusku kemudian, sudah tak ada alasan lagi untuk aku tidak mencari pekerjaan, kini yang ada hanyalah alasan yang mengharuskan aku untuk berjuang.



Mas Pras turun dari tangga, kemudian berjalan menghampiriku. Aku yang tak mau berlama - lama pun langsung berdiri ketika melihat masku semakin dekat ke tempatku berdiri.


" Yuk dek kita berangkat nanti telat lagi, kita sarapannya dijalan aja ya. " ajaknya kepadaku ketika telah sampai didekatku.


" Gak usahlah mas, nanti Ara sarapan disekolah aja. " tolakku yang sebenarnya tak enak karena aku tahu uang mas saat ini tidaklah banyak, dan aku ingin berusaha sedikit saja untuk tidak memakai uangnya. Aku tahu mas Pras pasti sedang pusing saat ini, terlebih ia pun harus memikirkan biaya kuliahnya, ya meskipun kuliahnya mendapat beasiswa tapi selalu ada saja keperluan yang harus dikeluarkannya. Selain itu, kebetulan aku pun masih memiliki tabungan yang mungkin cukup untuk uang jajanku beberapa hari ini.


" Ya sudah kalau gitu, nih buat sarapan dan jajan kamu hari ini. " ucap mas Pras sambil menyodorkan uang kepadaku.


" Gak mas, gak usah. Ara masih punya uang sisa kemarin kok. " Jawabku berbohong karena sebenarnya kenyataannya tidaklah seperti itu.


" Bener nih? " tanyanya.


" Iya mas bener. " ucapku lembut meyakinkan mas Pras yang sepertinya tak percaya dengan ucapanku.


" Ya sudah kalau gitu, tapi nanti kalau perlu apa - apa bilang mas ya. " ujarnya, kemudian memasukkan kembali uang yang tadi disodorkan kepadaku kedalam dompet.


" oke yuk kita berangakat sekarang. " lanjutnya kemudian.


......................


Aku berjalan cepat memasuki sekolah setelah tadi pamit kepada mas Pras yang mengantarku. Sekolah nampak lengang karena memang waktu telah menunjukkan pukul 06:55, itu tandanya 5 menit lagi bel akan berbunyi. Semua siswa telah masuk kedalam kelas, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih diluar, mereka adalah orang - orang yang baru tiba disekolah, sama seperri diriku.


Setibanya dikelas aku pun langsung duduk dikursi, dan tak lama berselang guru pertama datang. Aku langsung mengeluarkan buku untuk pelajaran pertama, lalu kemudian ikut berdoa sesuai intruksi dari ketua kelas.


" Tumben berangkat telat Ra? " tanya Nada seusai berdoa.


" Sengaja, sekali - kali Nad berangkat siang jangan pagi mulu, bosen. " candaku.


" Idih...sejak kapan seorang SYAHIRA ANASTASYA bosen pergi ke sekolah. " serunya dengan menekan namaku keras - keras.


" Suttttt....jangan berisik Nad, nanti yang lain pada denger. " ucapku sambil membungkam mulutnya.


" emmmbaka ahywreara..."


" Apa sih Nad, ngomong apa aku gak ngerti. "


" Emmanjbukanhs arahajn..."


" Apa sih yang jelas dong. " ucapku kesal karena Nada masih saja bicara tak jelas, kalau mau ngomong ya harusnya yang bener bukan gitu bikin kesel aja.

__ADS_1


" Ayo buruan ngomong. " titahku


" Hah...gimana mau ngomong, mulut aku masih disumpel kamu gini. " ucap Nada kesal sambil menghempaskan tanganku yang ternyata masih membungkam mulut Nada sejak tadi. Sontak itu membuat rasa malu tiba - tiba menggerayang dalam diriku.


" Hehehe...maaf lupa. " ucapku.


" Huh! Iya, iya " ujarnya yang seperti masih kesal.


" Yah...jangan gitu dong Nad. Maafin aku ya, kan gak sengaja. " bujukku padanya sambil menggoyang - goyangkan tangannya.


" Maafin aku ya Nad ya " lanjutku.


" ihh..iya Ra iya aku maafin. Udah ah, belajar Ra belajar, nanti dimarahin lagi sama guru gara - gara berisik mulu. " omelnya padaku,


padahalkan yang berisik duluan dia, kenapa jadi aku yang diomelin. Entahlah, lebih baik aku menurut saja daripada urusannya jadi tambah panjang.


Tiga jam telah berlalu, dan bel tanda istirahat pun berbunyi. Semua murid telah membaur menjadi satu, pergi beramai - ramai menuju kantin sekolah. Tidak halnya dengan ku yang masih duduk setia di bangku dengan telpon digenggamanku. Aku berselancar ria didunia yang selalu disebut orang dengan dunia yang fana, yakni penuh dengan tipu daya. Namun, ada pula yang menganggapnya sebagai hal yang berguna, seperti diriku saat ini.



Aku masih sibuk mengskroll layar handphoneku, melihat - lihat setiap laman yang sekiranya menampilkan iklan lowongan pekerjaan. Aku akan bekerja dan Keputusan itu sudah bulat aku pikirkan sepanjang perjalanan kesekolah tadi.


Lama aku mencari, tapi masih saja tak ku temukan lowongan pekerjaan yang cocok denganku yang masih sekolah ini. Aku menginginkan pekerjaan yang bisa dilakukan setelah aku pulang sekolah supaya tidak mengganggu kegiatanku belajar, tapi yang ku temukan sejak tadi rata - rata harus dilakukan dari pagi sampai sore atau lebih sering kita sebut full day.


" Lowongan pekerjaan. " sebuah suara mengangetkanku, hingga refleks aku berbalik menuju sumber suara.


" Bella!!" ucapku setelah tahu bahwa Bella lah yang mengagetkanku barusan.


" DICARI PENJAGA KASIR COFFE SHOP!!! Ra, kamu beneran mau kerja? " tanya Nada, handphone yang ku pegang pun sudah berpindah ditangannya.


" Iya " jawabku jujur.


" Enggak kok Bell, cuma masalah sepele aja. "


" kamu bohong kan Ra, gak mungkin kalo cuma masalah sepele. " seru Nada yang tak percaya dengan ucapanku.


Itulah Nada, selalu tahu jika aku tengah berbohong. Sulit rasanya bagiku jika harus menyembunyikan sesuatu darinya, karena pasti dia akan tahu jika aku tak berkata jujur.


" Emang susah ya kalau harus bohong sama kamu. " ucapku diiringi tawa.


" Iyalah, aku kan sahabat kamu, jadi pasti tahulah kamu lagi bohong atau enggak. "


" Iya Nad, kamu emang sahabat terbaik aku. "


Kupeluk Nada erat sebagai bentuk terima kasihku karena telah menjadi sahabat terbaikku.


" Jadi cuma Nada ajah nih yang disebut sahabat terbaik, tapi aku enggak. " sela Bella ditengah pelukan kami, bibirnya mengerucut pura - pura kesal.


Aku dan Nada pun saling pandang, aku tersenyum kepadanya dan seperti mengerti dengan apa yang ku maksud ia pun mengangguk. Kami sama - sama saling melepas pelukan, kemudian berjalan menghampiri Bella dan kemudian memeluknya.


" Ya ampun Bell, ya enggaklah kamu juga tetap sahabat terbaik aku kok. Pokonya kalian berdua emang sahabat aku yang paling the best deh. " kataku, karena memang nyatanyanya mereka berdua adalah sahabat terbaik yang Allah kirimkan buat aku.


" yang bener? Tar bohong lagi. "


" Ya iyalah bener Bell, masa aku bohong. Iya kan Nad? " ucapku meminta dukungan dari Nada.


" yaps, dan bagiku pun begitu. Kalian adalah sahabat terbaik untukku. " ujarnya menyetujui apa yang aku katakan.


bKami pun berpelukan erat bersama, meyalurkan rasa kasih sayang yang terkadang sulit untuk dikatakan.

__ADS_1


" oke jadi masalah kamu apa? " tanya Nada setelah kami usai berpelukan.


" Bukan masalah besar sih, hanya masalah keluarga biasa. "


" Kamu ini ya Ra, dari tadi bilangnya biasa - biasa mulu. Gak mungkin kalau masalah biasa nyampe kamu harus cari kerja kayak gini. Kamu bilang aku pasti tahu saat kamu bohong atau enggak, dan sekarang aku ngerasa kamu sedang bohong sama kita. Ayo cepet cerita Ra, biar semua itu gak menjadi beban berat buat kamu. " cerocos Nada.


" Iya, itu bener Ra. Jangan dipendem sendiri, siapa tahu kita bisa bantu buat ngatasin masalahnya. " timpal Bella.


' hah! ' aku menghela napasku berat, sejujurnya berat pula bagiku harus menceritakan masalah ini kepada mereka berdua.


" kalian tahukan ibuku baru saja meninggal, dan bapakku tiba - tiba saja menghilang setelahnya? " tanyaku dan hanya dijawab dengan anggukan kedua sahabatku.


" Nah, ternyata semenjak ibu meninggal bapak sudah gak ngasih uang lagi Nad, Bell. Selama ini, uang untuk belanja, sekolahku, dan keperluan lainnya, itu semua diambil dari uang tabungan hasil kerja paruh waktunya mas Pras. Aku gak tega kalau seandainya harus terus - terusan pakai uang mas Pras, kalian tahu sendirikan kalau dia pun pasti membutuhkannya untuk yang lain. Maka dari itu, aku mau cari pekerjaan buat bantuin mas Pras. Ya setidaknya aku bisa bayar uang sekolahku sendiri lah. " ceritaku panjang lebar.


" Ya ampun Ra, jadi gitu ceritanya. " ucap Bella setelah mendengar ceritaku.


" Hmm, gimana kalau kerja dibutik tanteku. Kemarin aku kesana dia bilang lagi cari karyawan, kamu mau gak Ra? Untuk waktu kerjanya nanti kita obrolin biar fleksibel sama waktu belajar. " ujar Nada


" Yang bener Nad? Mau aku mau, gak apa - apalah kerja apa pun yang penting halal. " jawabku bersemangat.


" Oke. Nanti sepulang sekolah kita langsung kebutik tante aku ya."


" oke siap "


" Tunggu Ra, tapi mas Pras tahu kalau kamu mau kerja? Apa mas Pras bakal ngizinin kamu kerja? " tanya Bella tiba - tiba.


" Oh iya kamu benar, mas Pras pasti gak ngebolehin deh. " ujarku yang baru teringat akan mas Pras, sudah dipastikan bahwa dia pasti tidak akan mengizinkanku untuk bekerja.


" Kalau begitu, aku gak bakalan izin dan kalian jangan ngasih tahu mas Pras kalau aku kerja. " titahku kepada mereka.


" Oke deh kalau gitu. " jawab mereka serempak.


" Ehh Ra, kenapa kamu gak ikutan lomba bikin novel aja, yang kemaren itu loh Ra. Kan lumayan hadiahnya bisa buat tambah - tambah. " usul Nada, mengingatkanku tentang brosur yang kemarin aku dapatkan.


" kamu bener Nad."


Aku pun langsung mencari brosur itu didalam tasku, terlihat sudah lecek memang tapi setidaknya masih bisalah untuk dibaca.


" Daftarnya harus lewat e-mail nih." Ucapku setelah membaca bagaimana cara mendaftar lomba itu.


" Ya ayo, langsung daftar aja Ra." Titah Bella antusiah.


" Tapi...."


" Gak usah tapi - tapian Ra, daftar aja, aku yakin kamu pasti bisa. " Seru Nada menyemangatiku.


" oke " akhirnya aku putuskan untuk mendaftar lomba itu, meskipun sebenarnya aku masih tidak yakin dengan kemampuanku mengenai pembuatan novel.


hai hai para readers semua...Author yang kurang cwantek kembali hihihi....


semoga suka ya sama ceritanya,


yuk vote


like


komen


Author tunggu dikolom komentar ya readers semua

__ADS_1


__ADS_2