SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 32


__ADS_3

Hai hai guys, gimana nih pada suka gak sama ceritanya???


jika kalian punya unek-unek dan ingin memberikan kritik dan saran boleh komen aja ya guys, tapi INGGAT!!! berikanlah kritik dan saran yang membangun jangan yang menjatuhkan ya👍👌🤗


semoga readers semua terhibur ya...


jangan lupa like, share, komen, dan vote ya


Author tunggu boom like and komennya🥳😘


🥤🥤🍿 👈 biar bacanya makin asyikk...


*🌸🌸Happy Reading guys📖🌸🌸


...****************...


" Alhamdulillah akhirnya sampai juga. " kata Bayu mengucap hamdallah.


" Iya nih, nah sekarangkan aku udah nyampe rumah. Jadi kamu mau langsung pulang atau mau mampir dulu? " tanya Syahira sekedar basa basi, sebenarnya ia tidak berharap kalau Bayu akan mampir.


Author: jahat bett dah syahira🤭😂


" Gak usah lah Ra udah sore soalnya, aku mau langsung pulang aja. " ucap Bayu.


Batin Syahira👉🥳💃💃


Author : 🤦🤦


" Ouh gitu ya udah, hati-hati dijalan kalau gitu. "


" Iya Ra makasih udah ngingetin, kalau gitu aku pulang ya Assalamu'alaikum. "


" Wa'alaikumsalam warahmatullah "


Dirasa Bayu sudah perlahan menjauh Syahira pun beranjak masuk kedalam rumah.


Assalamu'alaikum " salam Syahira namun tak ada jawaban sama sekali.


" kayaknya mas Pras belum pulang. " gumam Syahira dan kemudian pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


Sesampainya dikamar Syahira pun langsung menaruh tasnya dan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Seharian bekerja membuat tubuhnya lengket oleh keringat. Dua puluh menit berlalu Syahira keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih Fresh dari sebelumnya, rasa lelah yang sejak tadi menghinggapinya pun sudah mulai sedikit berkurang.


Kini waktunya untuk istirahat, Syahira naik keranjangnya dan mulai memainkan hpnya. Cukup lama Syahira menscroll layar hpnya, melihat-lihat akun sosial medianya yang jarang dibuka. Namun tiba-tiba saja iya mengingat tentang perkataan Nunik saat dibutik tadi, itu membuat dirinya terusik dan membuatnya memiliki sebuah pemikiran bahwa apakah dirinya benar-benar anak ayahnya atau bukan.

__ADS_1


" Aaaaaarrggghh!!!!! Pusing, entahlah aku gak tahu. " teriaknya sambil mengacak rambutnya frustasi memikirkan apa yang sebenarnya, hingga ia pun lelah dan akhirnya tertidur lelap.


........................


' PRANG ' terdengar suara pecahan benda, membuat Syahira terusik dalam tidurnya. Perlahan ia membuka matanya, kemudian mengedarkan pandangannya meneliti sekeliling dan mencari darimana sumber suara tadi. Namun ia tidak melihat ada satu benda pun yang jatuh dikamarnya.


" Mungkin hanya mimpi. " ucap Syahira dan kembali tidur.


Baru saja Syahira akan memejamkan matanya, tiba-tiba suara ribut terdengar dari arah luar.


" APA YANG BAPAK LAKUKAN!! " teriak Pras.


Mendengar kakaknya berteriak Syahira pun bergegas keluar dari kamarnya menuju kesumber suara.


Ditangga terakhir langkah Syahira tiba-tiba berhenti, ia terkejut melihat pemandangan yang ada didepannya. Rumahnya berantakan, seluruh barang elektronik tiba-tiba lenyap seketika hanya tersisa lemari, sofa dan barang-barang yang tidak memiliki harga jual.


' Apa yang terjadi? ' batinnya.


" KENAPA BAPAK SAMPAI HATI MELAKUKAN INI KEPADA KAMI PAK, APA SALAH KAMI KE BAPAK SELAMA INI. BUKANKAH KAMI SELALU MEMBERI BAPAK UANG! "


Mendengar kakaknya berteriak, membuat Syahira mengalihkan perhatiannya dari yang tadinya mengamati sekeliling menjadi tertuju kepada kakak dan ayahnya yang saling bertatapan dengan emosi yang membara.


" Memangnya kenapa, toh semua barang itu dibeli dengan uang yang aku berikan kepada ibumu dulu jadi aku pun pantas jika ingin menjualnya. " ucap Unang yang seakan tak peduli dengan amarah yang ditunjukkan Pras.


' guci antikku. ' ucap Syhaira dalam hati.


" Suruh siapa dia malah gak ngasih duit "


" Maksud bapak apa? "


" Tadi siang aku meminta uang padanya, tapi dia malah gak ngasih dan malah bohong bilang kalau uang itu udah digunain. Ya sudah, terpaksa bapak jual barang-barang yang ada disini. " ucap Unang enteng.


" Apa! Bapak minta uang? Pak Syahira iitu gak bohong, uangnya memang sudah habis karena harus bayar hutang ke lintah darat. Bapak pinjam uangkan? Lalu kemana uang itu? Bahkan bapak sering minta uang kepada kami, tapi kenapa bapak tetap meminjam dan malah menyuruh rentenir itu untuk menagih hutangnya kesini. " ujar Pras dengan emosi yang masih melingkupi dirinya.


" Memangnya kenapa? Itukan memang kewajiban kalian untuk berbakti kepadaku. Lagian aku dan istriku butuh duit, karena kalian ngasihnya terlalu sedikit, ya sudah aku pinjam saja. Soal barang yang dijual, kamu gak bisa nyalahin bapak, siapa suruh gak mau ngasih uang ke bapak. Dan kalian gak perlu marah, apalagi Syahira, ya anggap saja itu sebagai hutang budinya karena sudah bapak besarkan. "


" Bapak ini..." geram Pras dan bersiap untuk melayangkan pukulan ke bapaknya.


" Apa? Kau mau memukulku? Heh! Benar-benar tidak tahu terima kasih. "


" CUKUP!!!! Mas Pras hentikan. " teriak Syahira tiba-tiba, membuat Pras mengalihkan pandangannya.


" Ara, sejak kapan kamu ada disitu? "

__ADS_1


Syahira mengabaikan pertanyaan kakaknya, mulutnya diam membisu. Lalu ia berjalan mendekat kearah mas dan bapaknya itu. Syahira melepaskan tangan Pras yang sejak tadi mencengkram kerah baju kemeja bapaknya, kemudian berdiri dihadapan bapaknya menggantikan Pras.


" Kembalikan semua barang itu pak, terlebih gucinya. " ucap Syahira dingin.


" Untuk apa? Semua barang itu sudah aku jual. " jawab Unang acuh.


" Ara gak mau tahu, kembalikan semua barang itu. Kenapa bapak begitu tega menjual semua barang yang banyak kenangannya tentang ibu, kenapa pak, kenapa? " teriak Syahira.


" Masih bertanya? tentu saja karena...."


" Karena apa pak, hmm? Apa karena ibu itu gak penting, Syahira juga enggak, atau karena bentuk balas budi. Pak, kami ini anak bapak, Syahira ini anak bapak, apa pantas seoarang bapak meminta balas budi atas usahanya merawat anak? Bukankah itu adalah sebuah kewajiban, mengurus anak merupakan kewajiban setiap orang tua tapi kenapa bapak menjadi perhitungan seperti ini. " potong Syahira.


" Mana bapak Syahira yang dulu, yang lembut, penuh kasih sayang dan tidak pernah memperhitungkan apapun, mana pak mana? Mana bapak Syahira yang itu? " lanjutnya setengah berteriak, kesabarannya sudah habis, ia sudah muak dengan setiap perkataan yang dilontarkan bapaknya.


" Satu hal lagi, kenapa bapak selalu mementingkan istri baru bapak yang matre itu? Bapak setiap minggu datang kesini meminta uang hanya untuk memenuhi keinginannyakan, jika tidak terpenuhi maka istri bapak itu akan marah besar. Makanya ketika bapak tidak mendapatkan uang dari aku ataupun mas Pras bapak pun menjual barang dirumah ini. Kenapa sih bapak masih harus pertahanin dia, kenapa bapak gak cerai saja dengan perempuan matre itu. "


' PLAKKK!! ' sebuah tamparan mendarat dengan mulus dipipi Syahira, tamparannya begitu keras sehingga meninggalkan bekas merah, dan hal itu membuatnya begitu kontras karena kulit Syahira yang putih. Pras sampai terkejut melihatnya, ia tak mengira bapaknya akan melakukan hal itu kepada adiknya.


" TUTUP MULUTMU!!! kamu gak berhak menghina istri bapak. " ucap unang berteriak, mukanya merah padam dipenuhi emosi.


" Kenapa memangnya pak? Bukankah itu kebenarannya. Kenapa bapak masih membela dia? " ucap Syahira dengan tangan memegang pipinya yang kesakitan akibat tamparan.


" Karena dia adalah istriku, sudah pasti aku membelanya. "


" Iya dia istri bapak, tapi Syahira ini juga anak bapak. Tidak bisakah bapak juga mengerti apa yang Syahira dan mas Pras inginkan, tak bisa kah sekali saja bapak tidak membela dia? " Syahira sudah lelah, ia menumpahkan semua yang ada dihatinya hari ini.


" TIDAK! aku tidak bisa melakukannya, karena kamu, kamu BUKANLAH ANAKKU!!. " ucap unang sambil menunjuk Syahira.


' JLEGERRR ' .


Bagai petir yang menyambar, perkataan unang membuat Syahira terkejut dan tidak menyangka. Tiba-tiba apa yang diucapkan Nunik tadi siang dan pernyataan unang saat ini terasa saling bersahutan dikepalanya.


' apakah benar dia bapakmu? '


' kamu bukanlah anakku '


' apakah benar dia bapakmu? '


Kedua pertanyaan itu terus berulang dipikiran Syahira, sulit bagi dirinya untuk menerima kenyataan itu.


" Tidak! ini gak mungkin " Syahira berjalan mundur sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak terima dengan kenyataan yang baru didengarnya. Air mata sudah tidak terbendung lagi. melihat adiknya yang menangis tersedu-sedu Pras segera mendekat dan kemudian memeluknya.


## to be continue* ##

__ADS_1


__ADS_2