SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 30


__ADS_3

Hayoh ada yang udah nunggu-nunggu cerita ini update gak nih? hayoh ngaku, mana tunjukan acungan jarinya☝️😁


*sorry ya kalau author baru bisa up lagi, soalnya author lagi ada acara keluarga jadi lagi sibuk-sibuknya, dan sampai seminggu kedepan pun author mungkin akan gak tentu juga updatenya soalnya masih dalam lingkup acara keluarga. Tapi readers tenang aja author bakal usahain buat up meskipun cuman sedikit dan gak tiap hari. so, author harap para readers semua gak bosen ya nunggunya.


nantikan terus update-tannya ya, kuy langsung aja baca ceritanya*...


...🌸Happy Reading Guys📖🌸...


...****************...


' DEG '


' Benar juga apa yang dikatakan mbak Nunik, apakah aku ini benar-benar anak ibu sama bapak. Ataukah aku hanyalah seorang anak buangan? ' batin Syahira.


" Hus kamu ini ngaco Nik, yang namanya seperti itu kan bisa aja terjadi. Kamu disekolah gak pernah belajar ipa ya, kan disana dijelasin bahwa sifat yang dikeluarkan anak tidak selamanya sama seperti yang nampak pada ibu atau bapak mereka. Tapi bisa juga dari sifat yang selama ini tidak nampak dari kedua orang tuanya. Mungkin saja itu terjadi pada Syahira, kitakan gak tahu kalau misalnya ternyata ibu atau bapaknya Syahira memiliki sifat gen yang tersembunyi kemudian sekarang keluar dan berada pada diri Syahira. Itu semua bisa aja terjadi kan. " terang Nina mencoba menghilangkan praduga aneh Nina.


" Tapi mbak... "


" Udah jangan dibahas mulu, nanti Syahira jadi mikir macem-macem lagi gara-gara ngomong kamu gak jelas. Udah mending sana kamu jaga didepan aja, nanti ada pembeli kita gak tahu lagi. " titah Nina sengaja menyuruh Nunik untuk pergi supaya tidak berbicara yang aneh-aneh lagi karena ia tidak ingin Syahira menjadi terpengaruh dengan ucapannya, apalagi Syahira diam saja sejak Nunik berkata bahwa mungkin saja Syahira bukanlah anak dari bapaknya.


" Mbak apa menurut mbak aku ini bener anak bapak? " tanya Syahira tiba-tiba dan hal itu membuat Nina terkejut.


" Emang beneran bukan? " tanya Nina heboh.


" Gak tahu juga mbak. " jawab Syahira sambil menggeleng.


" Ih kamu ini Ra, bikin mbak jantungan aja. Pasti gara-gara omongan Nunik barusan ya makanya kamu jadi bilang kayak gitu, udah Ra kamu gak usah dengerin Nunik dia itu emang suka ngaco. " Ucap Nina.


" Tapi..."


" Udah-udah, lebih baik sekarang kamu solat aja, kamu belum solatkan. Udah gih sana pergi solat gak usah mikirin omongannya si Nunik. " perintah Nina yang tidak mau melihat Syahira terus-terusan berpikiran aneh.


" Ya sudah mbak, kalau gitu aku pergi solat dulu ya " ucap Syahira sambil berjalan dengan wajah yang murung.


" Iya Ra " jawab Nina kepada Syahira.


' semua ini gara-gara Nunik, ngapain coba pake bilang kayak gitu. Kan kasian Syahira jadi gak bersemangat gitu. Harus dikasih tahu nih biar gak ngomong sembarangan mulu.' batin Nina, kemudian ia pun pergi menghampiri Nunik yang sedang berjaga didepan.


" Nunik " panggil Nina.


" Iya mbak ada apa? " tanya Nunik yang berhenti sejenak dari aktivitasnya merapikan baju.

__ADS_1


" Denger ya Nik, lain kali kamu kalau mau ngomong tuh jangan suka langsung asal jeplak gitu aja dong. Kan kasian tuh Syahira jadi murung gitu mukanya gara-gara kamu. " seru Nina.


" Ya tapi kan mbak, aku cuman menyampaikan pendapat aku aja. Kan emang kelihatannya gitu kok. " ujar Nunik jujur dengan apa yang ia lihat.


" Iya Mbak ngerti, tapi jangan dibilangin langsung gitu juga kali. Syahira jadi berpikiran yang aneh-aneh tahu gara-gara kamu. "


" Iya mbak maaf. " jawab Nunik menyesal.


" Inget jangan diulangin lagi " kata Nina mengingatkan sekali lagi.


" Iya mbak gak bakalan. "


" Ya udah sana kerja lagi, mbak kedalem dulu mau cek laporan soalnya nanti sore si bos minta. " Pamit Nina yang hendak kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.


" Oh ya inget jaga omongannya ya. " Lanjutnya memperingati.


" Iya mbak..."


....


Hari sudah mulai petang, Syahira segera membereskan tasnya dan bergegas untuk pulang.


" Wa'alaikumsalam, hati-hati Ra dan inget jangan murung mulu. " ucap Nina memperingatkan karena semenjak kedatangan ayahnya tadi siang, wajahnya selalu saja tak bersemangat.


" hmmm " deham Syahira dan kemudian berlalu pergi.


Syahira berjalan mencari angkutan umum untuk dinaikinya, awan hitam sudah mulai bekumpul dilangit menandakan bahwa hujan sebentar lagi akan turun. Dan rasa letih yang dirasakannya membuat Syahira ingin cepat-cepat sampai dirumah.


Melihat subuah taksi melaju kearahnya, Syahira langsung menghentikannya lalu bergegas masuk kedalamnya.


" Huh!!! " Syahira menghembuskan napas berat.


" Cape ya neng? " tanya sang Sopir ramah.


" Iya pak, yah mau gimana lagi namanya juga kerja sudah pasti capekan. " jawab Syahira sambil tersenyum getir.


" Oh jadi eneng kerja, bapak pikir teh eneng habis jalan-jalan emmm....naonnya disebutna teh emm...oh Shopping nya eta, Shoping. Habisnya keluar dari butik, biasanyakan kalau anak-anak seusia eneng tuh suka pada main, ngabisin duit gitu. " ucap sopir taksi itu kepada Syahira.


" Saya gak punya waktu buat main-main kayak gitu pak, apalagi buat ngabisin duit. Saya sibuk kerja dan biasanya kalau main sama temen pun cuma sebulan sekali."


" Kenapa atuh neng? Emangnya bapak eneng teh kemana sampai eneng harus kerja? " tanya sang sopir penasaran.

__ADS_1


" Bapak saya ada kok, hanya saja semenjak ibu saya meninggal beliau sudah tidak bekerja lagi. Jadi mau tidak mau saya harus kerja, lumayan penghasilannya bisa saya tabung buat biaya sekolah. "


" Kamu itu anak yang baik ya, mau susah payah cari kerja buat sekolah. Anak bapak mah mana mau mikirin buat biaya sekolah, bahkan sekolahnya aja dia mah males, kedul tahu neng ku bapak atos dijiwir oge. " seloroh sang sopir membuat Syahira tertawa.


" Bapak ini ada-ada aja, anak gak mau sekokah kok dijiwir. " ujar Syahira yang masih diiringi dengan tawa.


" Ya gimana lagi atuh neng, bapak teh kesel nyuruh mulu tapi gak pernah didengerin. "


" Iya pak, tapi lain kali jangan dijiwir pak, yang ada kalau bapak kerasin gitu lama-lama anak bapak gak tahan terus kabur gimana? Lebih baik bapak jelasin aja pelan-pelan insya allah nanti juga pasti nurut. " tutur Syahira.


" Oh gitu ya neng, kalau gitu saya gak bakalan gitu lagi, bahaya kalau anak saya kabur. Meskipun anaknya pemales gitu tapi diakan tetap anak saya. Terima kasih ya neng udah ngingetin bapak. "


" Iya pak sama-sama " jawab Syahira. " Ehh...pak berhenti....Gang Rumah saya kelewatan ini. " ucap Syahira menyuruh sang sopir untuk menghentikan mobilnya karena gang rumahnya sudah terlewat.


" Ehh...kelewat yah neng. Hapunten atuh gara-gara bapak ngajak ngobrol mulu jadinya gak fokus deh. "


" Iya pak gak apa-apa, lagian kelewatnya gak terlalu jauh cuma sedikit aja kok. " jawab Syahira lembut.


" ini pak ongkosnya. " lanjutnya memberikan beberpa lembar uang.


" Gak usah neng. " tolak sang sopir.


" Kok gak usah pak? Kan Ara udah naik taksi bapak masa iya gak bayar. " jawab Syahira sambil menyodorkan uang itu kembali.


" Iya gak apa-apa, neng gak usah bayar ongkosnya. Bapak ikhlas kok. " tolak sang sopir lagi.


" Tapi pak..."


" Udah neng, mending uangnya eneng simpen aja buat kebutuhan yang lain. "


Karena sang sopir terus menolak uang yang diberikan Syahira sebagai ongkos, akhirnya mau tak mau Syahira menyimpan kembali uang itu kedalam tasnya.


" Kalau gitu terima kasih ya pak, saya doakan semoga hari ini bapak dapat penumpang yang banyak. " ucap Syahira berterima kasih dan mendoakan supaya si bapak sopir taksi itu mendapatkan banyak tumpangan.


" Aamiin, makasih doanya ya neng. "


" Iya pak sama-sama " jawab Syahira tersenyum lembut kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju rumahnya.


+++**To be continue+++


see you next chapter guys, bye i love you all😘

__ADS_1


thanks banget buat yang terus dukung dan like cerita author ini, semoga kalian gak bosen ya baca ceritanya**.


__ADS_2