SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 33


__ADS_3

" Iya dia istri bapak, tapi Syahira ini juga anak bapak. Tidak bisakah bapak juga mengerti apa yang Syahira dan mas Pras inginkan, tak bisa kah sekali saja bapak tidak membela dia? " Syahira sudah lelah, ia menumpahkan semua yang ada dihatinya hari ini.


" TIDAK! aku tidak bisa melakukannya, karena kamu, kamu BUKANLAH ANAKKU!!. " ucap unang sambil menunjuk Syahira.


' JLEGERRR ' .


Bagai petir yang menyambar, perkataan unang membuat Syahira terkejut dan tidak menyangka. Tiba-tiba apa yang diucapkan Nunik tadi siang dan pernyataan unang saat ini terasa saling bersahutan dikepalanya.


' apakah benar dia bapakmu? '


' kamu bukanlah anakku '


' apakah benar dia bapakmu? '


Kedua pertanyaan itu terus berulang dipikiran Syahira, sulit bagi dirinya untuk menerima kenyataan itu.


" Tidak! ini gak mungkin " Syahira berjalan mundur sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak terima dengan kenyataan yang baru didengarnya. Air mata sudah tidak terbendung lagi. melihat adiknya yang menangis tersedu-sedu Pras segera mendekat dan kemudian memeluknya.


...................


" Apa yang bapak ucapkan? Kenapa bapak bicara lelucon seperti itu, apa yang bapak dapatkan dengan bicara yang tidak-tidak seperti itu. " ucap Pras angkat bicara, sudah cukup dari tadi ia menahan amarahnya dan hanya diam menyaksikan. Pras sudah tidak tahan, apalagi ketika bapaknya berbicara seperti itu. Pras tidak menyangka jika ayahnya akan mengatakan sesuatu yang diluar batas seperfi itu.


" Ya kamu memang benar Pras, aku tidak akan mendapatkan apapun dengan berbicara seperti itu. Tapi memang itulah kebenarannya bahwa Syahira bukanlah darah dagingku." teriak unang.

__ADS_1


" Aku tidak mempercayainya. " ucap Pras sama berteriak.


" Kau tidak mempercayainya Pras? Sama aku pun awalnya begitu, tapi ibumu lah yang mengatakannya kepadaku sebelum ia meninggal. Sampai akhirnya aku pun berpikir tentang itu, dan akhirnya aku menyadari bahwa begitu banyak perbedaan yang ada didiri Syahira. Kulitnya putih, wajahnya kecil, matanya hitam mengkilat dan bulu matanya yang lentik itu, apakah ada dikeluarga kita yang seperti itu? Tidak kan. "


" dan asal kau tahu Pras, sebenarnya golongan darah Syahira bukanlah A sama seperti kita melainkan RH-NEGATIVE TYPE O. " lanjut unang menjelaskan.


" RH-NEGATIVE TYPE O, bukankah itu golongan darah yang langka dan sulit dicari? "


" Yah, kau benar. Dan dikeluarga kita tidak ada yang memiliki golongan darah itu. Ibumu telah memalsukannya, ia takut kalau bapak mengetahui semuanya. Bahkan jika bapak tidak menemukan surat keterangan tentang golongan darah Syahira mungkin ibumu masih akan tetap bungkam bahkan sampai dirinya tiada. " jelas unang.


" Anakku dan adikmu yang asli telah mati Pras, akibat benturan yang disebabkan karena ibumu jatuh diatas tangga sebelum ia dilarikan kerumah sakit. Saat itu aku tidak ada dirumah begitu pula dengan dirimu, maka dari itu aku tidak tahu kalau ternyata ibumu jatuh dan bayi yang ada didalam kandunganya tidak bisa terselamatkan. Ibumu menangis dan bimbang, ia takut aku marah dan kecewa jika mengetahui bahwa anak yang aku dambakan tidak bisa ia jaga dengan baik. Hingga ia menemukan Syahira ketika perjalanan pulang dan ia pun memungutnya untuk menggantikan bayi kami yang telah tiada supaya aku tidak marah. " ucap Unang menjelaskan, terlihat jelas ada semburat kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan dari sorot matanya.


" Apakah itu benar pak? " Kembali Pras bertanya karena masih tidak yakin.


" Kamu masih tidak percaya Pras, kamu lihat kalung yang dipakainya. Apakah kamu tahu dari mana kalung itu berasal? " ucap unang sambil menunjuk leher Syahira. Syahira dengan repleksnya langsung memegang kalung yang dikenakannya.


" Salah!!! Itu semua bohong. Mungkin kamu belum mengerti saat itu, tapi asal kamu tahu Pras saat itu bisnis keluarga ibumu sedang dalam keadaan yang kacau balau, bahkan untuk menggaji karyawan saja mereka tidak mampu, apalagi sampai harus membeli sebuah kalung mahal seperti yang dipakai Syahira." Ucap Unang setengah berteriak sambil menyingkab kerudung yang dikenakan Syahira saat itu, agar Pras dapat melihat kalung yang dikenakan Syahira.


" Coba kamu lihat kalungnya, ada sebutir berlian ditengah gantelannya, meskipun kecil tapi apa kamu pikir keluarga ibumu mampu membeli sebuah berlian semahal itu?Tidak bukan!! Ya keluarga ibumu mungkin termasuk keluarga berpunya tapi mereka tidak akan mampu membeli barang semahal itu. " ujar Unang dengan napas yang memburu karena emosi. " Asal kamu tahu, itu adalah barang yang ikut serta ketika Syahira ditemukan, dan mungkin itu adalah barang pemberian dari orang tua aslinya sebagai bekal atau permintaan maaf karena mereka tidak bisa merawatnya. Atau mungkin bisa jadi Syahira adalah anak haram dari anaknya orang kaya, karena tidak ingin malu makanya Syahira dibuang begitu saja. Huh! Lagian siapa juga yang mau mengurus anak tidak jelas. "


" Apakah itu benar..hiks..hiks jadi aku benar-benar bukan anak bapak?....mas apa benar aku anak haram?...mas aku bukan adikmu...aku anak haram mas huhuhuhu..." Syahira terpukul mendengar kenyataan yang terus dikataan Unang sejak tadi, ia menangis tersedu-sedu sambil menatap sang kakak mencoba untuk menanyakan kebenarannya karena dirinya tidak mau percaya dengan semua yang diucapkan bapaknya.


Melihat adiknya menangis membuat Pras ikut sedih pula, ia sama hancurnya ketika mendengar kenyataan bahwa Syahira bukanlah adik kandungnya. Pras tidak ingin percaya, karena bagaimana bisa gadis kecil yang selalu bermain sejak kecil bersamanya, yang selalu ia jaga sedari bayi, yang selalu menyayanginya itu ternyata bukan adik kandungnya.

__ADS_1


" Enggak dek, kamu adik kakak. Gak akan pernah ada yang bisa ngerubah itu. " ucap Pras sambil memeluk Syahira.


" Untuk apa kamu masih menganggapnya adikmu, bukankah kamu sudah tahu bahwa dia bukanlah adikmu Pras. "


" Apa masalahnya pak? Mau seperti apapun kebenarannya Syahira tetaplah adik Pras satu-satunya. "


" Tidak aku tidak mengizinkannya " ucap unang berteriak.


" Kenapa? Kenapa bapak tidak mengizinkan? " jawab Pras, kini ia sudah berdiri berhadapan dengan unang.


" Karena aku sangat membencinya. " seru Unang, dadanya turun naik akibat emosi.


" Andai saja ia tidak ada disini, mungkin hidup kita tidak akan seperti ini. Andai saja dirinya tidak pernah ditemukan mungkin ibu kamu tidak akan pernah berbohong. Dan mungkin jika saja aku tidak mengetahui kebenaran tentangnya, mungkin aku tidak akan sampai mendorong ibumu dan membuatnya meninggal. " lanjutnya. Terlihat jelas tersirat kesedihan, kemarahan, dan penyesalan didalam matanya.


" Maksud bapak ibu meninggal bukan karena penyakitnya? Melainkan karena bapak yang telah mendorong ibu sampai meninggal? Jadi, penyebab ibu meninggal itu gara-gara bapak? Apakah itu benar pak, jawab pak? Jawab!!!! " teriak Syahira, mendengar penyebab kematian ibunya membuat emosi Syahira semakin tak stabil. Ia marah dan kecewa dengan bapaknya.


" Tidak!!! Semua itu bukanlah salahku " sankal Unang. " Istriku meninggal itu gara-gara kamu. Jika saja aku tidak mengetahui bahwa dirimu bukanlah anakku, mungkin aku tidak akan murka dan tidak akan sampai mendorong istriku. Pokoknya semua ini salahmu, dan aku sangat membencimu, melihatmu membuatku teringat akan semua kebohonhan yang telah dilakukan istriku. Jika aku bisa memilih aku tidak akan pernah mau melihatmu dirumah ini. "


' apakah benar semua itu salahku? ' ucap Syahira dalam hati.


" Stop pak! Apa yang bapak katankan. " sela Pras.


" Kenapa? Itulah kenyataannya, semua ini adalah salahnya. Masalah yang timbul dikeluarga kita adalah akibat kehadirannya. Seharusnya dia tidak pernah muncul dikeluarga ini. "

__ADS_1


Mendengar perkataan Unang membuat Syahira semakin terluka, air mata semakin deras mengalir. Kini dirinya sudah tahu, mengapa bapaknya itu selalu bersikap kasar terhadapnya. Merasa sudah tak kuasa lagi menahan, Syahira pun berlari pergi menuju kamarnya meninggalkan Pras dan Unang yang masih beradu kata.


" Dek kamu mau kemana? " teriak Pras ketika melihat Syahira berlari cepat menaiki tangga.


__ADS_2