
...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...
Syahira memakan makanannya dengan begitu lahap. Hilang!, sudah hilang rasa malu yang Syahira rasakan tadi ketika lidahnya itu sudah menikmati enaknya rasa makanan.
Orek tempe, tumis kangkung, sambal, ayam goreng dan juga lalapan menjadi menu makan Syahira malam ini. Tak lupa ada secangkir besar teh hangat tawar sebagai minumnya.
Sebenarnya, pada awalnya bapak itu akan menggoreng ikan dan membuat beberapa lauk tambahan lagi, hanya saja Syahira melarangnya. Selain karena ia malu dan tahu diri, tapi juga karena ia merasa sayang saja, takut - takut nanti malah mubajir sebab lauk yang ada sekarang saja sudah lebih dari cukup bagi Syahira.
Bapak itu tersenyum ketika melihat Syahira yang lahap memakan masakan buatannya, ia menjadi teringat dengan anaknya yang juga selalu bersemangat saat memakan makanan yang ia buat.
Hanya saja itu dulu, saat anaknya masih kecil. Sekarang sih anaknya sudah besar dan dewasa, jadi sudah biasa saja ketika memakan masakannya. Yah, mungkin sudah bosan kali ya pikirnya.
" Uhuk...uhuk..."
Syahira memukul - mukul dadanya, ia tersedak karena makannya yang tergesa - gesa. Segala jenis makanan ia ambil dan langsung ia lahap denga cepat begitu saja, ia sudah seperti orang yang tidak makan berhari - hari dan ketika menemukan makanan malah menjadi kalap, tentu saja itu membuat dirinya tersedak kan.
" Pelan - pelan aja makannya, jangan buru - buru gitu. Keselek kan jadinya. " ucap bapak itu sambil menyodorkan segelas air kepada Syahira.
Dengan cepat Syahira menerima gelas dihadapannya dan meminum air yang ada didalamnya sampai setengahnya.
" Hehe...iya pak maaf, habis masakan bapak enak. " jawab Syahira tersenyum malu.
Dilain sisi ia tidak berbohong, sebab masakan yang dibuat bapak itu benar - benar lezat, jadi tanpa Syahira sadari dirinya menjadi kalap begitu saja.
" Oh iya, ngomong - ngomong nama kamu siapa? Dan kalau boleh tahu, alamat rumah kamu dimana? biar nanti bapak bisa anterin kamu pulang, ini udah malem takutnya orang tua kamu nyariin. " tanya bapak itu.
Syahira yang mendengar pertanyaan tiba - tiba itu seketika terdiam, mulutnya yang sejak tadi tidak henti - hentinya bergerak pun langsung diam seperti tidak ada tenaga.
Mata Syahira berkaca - kaca, sebuah butiran bening lolos begitu saja. Dengan cepat Syahira mengusap kasar matanya.
" Saya tidak punya rumah, pak. " jawabnya kemudian.
" Sebenernya saya baru datang ke kota ini sekitar dua hari yang lalu, tapi barang - barang saya hilang diambil orang pada hari itu juga. Jadi saya tidak bisa mencari tempat tinggal sebab uang saya pun ikutan hilang. " lanjutnya menjelaskan.
__ADS_1
Entah kenapa Syahira tiba - tiba saja berkata dengan jujur tentang keadaanya lagi kepada orang asing, seakan tidak kapok dengan kejadian yang ia alami tempo hari.
Mungkin karena ia merasa bapak - bapak itu terlihat benar - benar tulus kali ya, jadi ya Syahira percaya - percaya aja gitu.
Meski begitu ia tidak jujur sepenuhnya. Sebenarnya ia memiliki rumah kan, hanya saja itu di Jakarta, jauh. Itu pun bukan rumahnya yang asli, melainkan rumah kedua orang tuanya dulu. Dan entah kenapa, Syahira tidak bisa cerita tentang itu.
" Owalah....kasihan banget kamu, nak. " ucap bapak itu prihatin mendengar keadaan Syahira.
" Ya, sudah. Kalau gitu kamu bisa tinggal disini, kebetulan disini ada kamar kosong, biasa bapak pake kalau lagi gak sempet pulang. Tapi, mulai sekarang kamu bisa tempatin itu. Ya, emang gak besar sih, ruangannya kecil tapi cukup lah untuk kamu sekedar istirahat. "
" Yang bener, pak. Bapak ngebolehin saya tinggal disini? " tanya Syahira, matanya sudah berbinar bahagia.
" Iya...oh ya, kamu pasti gak punya kerjaan juga kan? "
Syahira mengangguk sebagai jawaban.
" Nah, kamu juga bisa kerja di tempat ini. Itu pun kalau kamu mau, kalau tidak juga tidak apa - apa. Kamu bi... "
" Mau, pak! mau...saya mau kok kerja ditempat bapak. Kerja apa aja boleh, yang penting halal. " ucap Syahira antusias bahkan sampai memotong bapak itu berbicara.
" Iya - iya, baiklah, kamu saya terima kerja disini. " ucap bapak itu, Syahira mengepalkan tangannya lalu bersorak `yesss´.
" Ngomong - ngomong, kalau boleh saya tahu nama kamu siapa? " lanjut bapak itu bertanya karena memang sejak tadi ia masih belum mengetahui nama dari anak yang ia ajak bicara itu.
" Nama saya Syahira, pak. "
" Oh....Syahira, nama yang bagus. Kalau nama bapak Saprudin, kamu bisa panggil saya Pak Udin, sama kayak orang - orang manggil saya. " kata bapak itu pula memperkenalkan diri. Sedang Syahira hanya mengganguk - anggukan kepala sebagai jawaban.
" Baiklah, Syahira. Karena ini sudah malam saya harus pulang, takut istri saya mencari sudah malam kok belum ada dirumah. "
" Ini kunci ruangan yang tadi saya sebutkan, dan ini kunci cadangan pintu depan. Kalau - kalau bapak datengnya agak siangan besok, kamu tolong bukain ya. " lanjutnya sembari menyerahkan dua buah kunci kepada Syahira.
" Bapak yakin nyerahin kunci ini ke saya? " tanya Syahira mengangkat sebuah kunci yang tak lain adalah kunci untuk membuka rumah makan itu.
__ADS_1
Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa bapak itu percaya kepadanya dan menyerahkan kunci yang berharga padanya begitu saja. Padahal mereka baru saja bertemu.
" Iya, saya yakin. Dan bapak juga yakin kalau kamu anak yang baik, jadi tidak apa - apa jika bapak menitipkan itu sama kamu. "
" Sudah ya, malam semakin larut. Bapak harus pulang sekarang. Kamu lanjutin aja makannya, jangan lupa dihabisin. Inget! saya titip tempat ini ya, assalamu´alaikum. " lanjutnya pamit untuk pulang.
" Wa ´alaikumsalam. " Syahira menjawab.
" Oh ya, jangan lupa kunci pintu kamar sebelum tidur ya dan kalau keperluan ibadah ada di laci paling bawah, kamu cari aja dikamar ya. " ucap bapak itu diambang pintu.
" Emm. " jawab Syahira sambil mengangguk.
Setelah bapak itu pergi, Syahira pun kembali melanjutkan makannya. Sebuah senyuman terbit di bibir mungilnya. Syahira sangat bahagia dan bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik dan seramah Pak Saprudin.
Syahira sudah seudzon, ia sudah berpikir yang buruk tentang bapak itu, tapi pada kenyataannya si bapak bukanlah orang yang jahat. Ia bahkan membantu Syahira ketika pingsan tadi, memberinya makan, dan mengizinkan Syahira untuk tinggal disitu, bahkan sampai memberinya pekerjaan.
Tak berselang lama, ia sudah selesai menghabiskan makanannya. Syahira pun membawa sisa makanan itu kedapur, kemudian mencuci piring bekas ia makan barusan.
Syahira berjalan menuju ke lantai atas, tempat yang tadi sudah ditunjukan oleh pemilik rumah makan itu kepadanya.
Syahira berbelok ke arah kiri kemudian membuka sebuah pintu dan masuk kedalamnya.
Tenyata itu benar, sebuah ruangan yang tidak begitu besar. Hanya cukup untuk sebuah kasur lipat ukuran kecil dan sebuah meja kecil pula disampingnya.
" Alhamdulillah, meskipun kecil setidaknya aku punya tempat untuk berlindung. Terima kasih, Ya Allah. " batin Syahira bersyukur.
Syahira meletakan paper bag yang ia bawa diujung tembok, kemudian berjalan menuju ke meja kecil samping tempat tidur untuk mencari mukena.
Syahira pun menunaikan kewajibannya, dan setelah selesai ia pun langsung merebahkan dirinya dikasur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Tak lupa ia pun mengunci kamarnya seperti apa yang diperintahkan Pak Saprudin tadi.
**To be continue**
Jangan lupa untuk terus dukung karya ini dengan cara like, share, vote dan komen sebanyak - banyaknya. Dan jangan lupa masukin ke daftar favorite ya biar kalian dapet notif kalau cerita ini up.
__ADS_1
see you next chapter guys
bye bye👋👋🤗