SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 62


__ADS_3

...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...


" Iya, gimana? Bagus gak? " Syahira meminta pendapat.


" Eupp...bwahaha....haha...."


.........


" Ihhhh! Laras! kok kamu malah ketawa sih. " ucap Syahira yang melihat sahabatnya itu malah terus tertawa tanpa henti. Ia bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit saking terus - terusan tertawa.


" Ya habisnya ahahaha.... "


Laras kembali tertawa ketika melihat ke arah benda yang Syahira buat. Entah kenapa ia benar - benar tidak bisa menahan tawanya.


Syahira memutar bola matanya lelah. Meminta pendapat dari sahabatnya itu benar - benar bukanlah ide yang bagus.


" Assalamu´alaikum. " ucap salam Pak Udin yang baru tiba.


" Wa´alaikumsalam. " jawab Syahira.


" Haha..wa`alaikumsalam. " Laras ikut menjawab di sela - sela tawanya.


" Kamu kenapa sih Ras? pagi - pagi udah ketawa membahana gitu, ada berita membahagiakan apa sih hari ini. " tanya Pak Udin kepada Laras saat melihatnya tertawa keras tanpa henti, bahkan ketika dirinya belum tiba disana saja ia bisa mendengar tawa Laras.


" Haha...ini loh pak, Syahira. Coba deh bapak liat. " ujar Laras sambil menunjuk sesuatu yang tadi Syahira perlihatkan kepadanya.


" Hah! ini bikinan kamu, Syah? " tanya Pak Udin dengan wajah terkejut.


" Iya, Pak. Gimana, menurut Bapak bagus tidak? " jawab Syahira balik bertanya. Namun, bukannya menjawab Pak Udin malah diam dan seperti menahan bibirnya untuk tidak tertawa.


" Hehe...jelek ya, Pak. " ucap Syahira dengan senyum canggung.


Kini dirinya sudah tidak percaya diri lagi, melihat Laras yang tak hentinya tertawa dan Bosnya yang tidak jauh beda, meski Udin hanya menahannya tapi tetap saja hal itu membuat Syahira berpikir bahwa karyanya itu benar - benar tidak layak.


" Enggak kok Syah, enggak jelek. Cuma... " jawab Pak Udin yang menjeda akhir katanya, membuat penasaran orang saja.


" Cuma? " tanya Syahira penasaran.


" Cuma...ini loh Syahira, coba deh kamu liat. " ucap Laras menimpali sambil berjalan mendekati benda yang Syahira buat.

__ADS_1


Sebelah tangannya terangkat mengarah kepada benda dihadapannya. Dengan perlahan ia mendorong benda itu pelan.


`BRUKK´


" Bwahaha... Nah, ini loh maksudnya Syah hahaha.... " kata Laras kepada Syahira. Tak lupa ia kembali tertawa melihat karya Syahira yang ambruk hanya karena dorongan pelan darinya.


Syahira hanya melongo melihat benda yang dengan susah payah ia buat hancur berantakan begitu saja hanya karena sentuhan pelan Laras. Padahal Syahira membuatnya dengan cukup lama, bahkan tangannya pun beberapa kali sempat tertimpa palu.


" Hhaha..Iya, Syahira. Sebenarnya gambar yang kamu buat ini bagus, hanya saja tidak terlalu sempurna dengan sanggahan yang kamu buat itu. " ucap Pak Udin menjelaskan apa yang membuat dirinya atau mungkin Laras tertawa melihat apa yang Syahira buat.


Bagaimana mungkin mereka tidak tertawa saat melihat papan menu yang baru Syahira buat. Sebenarnya tidak ada masalah dengan gambarnya, malah terlihat sangat bagus. Sangat - sangat menggambarkan menu makanan ditempat itu sekali, mungkin karena Syahira pandai menggambar kali ya.


Hanya saja terlepas dari semua itu, yang menjadi masalah adalah papan sandaran yang Syahira buat. Bukan apa - apa tapi ini lebih dari sekedar bukan apa - apa. Pak Udin tidak habis pikir, bagaimana mungkin Syahira bisa membuatnya dengan seluar binasa itu.


Bukan hanya kayunya yang berbeda bentuk tapi ukuran panjang kaki penyangganya pun berbeda - beda, yang sebelah kiri panjang sedangkan yang sebelah kiri pendek, bahkan ada salah satu kakinya yang melayang dari lantai. Terus, sepertinya Syahira bahkan tidak memakunya dengan benar. Pasalnya paku - paku yang menancab terliat asal - asalan, tidak sempurna dan ada beberapa paku yang bukannya menancab tapi malah sekedar menempel itupun terlihat bengkok. Maka dari itu papannya ambruk hanya dengan dorongan pelan dari Laras.


" Oh, gitu ya Pak. " ucap Syahira malu.


Yah, memang pada kenyataanya Syahira tidak mahir dalam hal pertukangan. Jadi mau gimana lagi, yah begitulah akhirnya. Hanya seperti itu yang bisa dirinya buat.


" Iya, tapi tidak apa - apa. Saya bisa mengerti, mungkin kamu memang tidak terbiasa dengan hal ini. Bapak menghargai usaha kamu yang sudah susah - susah membuat ini. Terima kasih ya Syahira, kamu udah mau repot - repot begini. " ucap Pak Udin tersenyum lembut kepada Syahira.


" Ya sudah, sekarang lebih baik kita masuk kedalam. Siap - siap buat buka, takutnya tiba - tiba ada pelanggan yang dateng. Masalah ini, nanti biar bapak yang lanjutin buat penyangganya. "


" Oke! siap Pak Bos hihihi.... " jawab Syahira sambil mengangkat tangannya hormat.


" Kamu ini yah ada - ada saja. " Pak Udin menggelang pelan melihat Syahira yang hormat kepadanya. Dikira lagi upacara apa pake hormat - hormatan.


" Laras ayo masuk, bantuin Syahira beres - beres. Gak cape apa dari tadi kamu ketawa mulu. " seru Pak Udin kepada Laras yang masih sibuk tertawa.


" Hahah...iya pak. " Laras menjawab sambil berusaha menghentikan tawanya.


" Ya sudah, ayo masuk. " ajak Pak Udin lalu berjalan masuk, Syahira pun mengikuti dari belakang.


" Astagfirullah haladzim! " ucap Pak Udin tiba - tiba menghentikan langkahnya.


Syahira yang sejak tadi mengekori pun dengan sepontan ikut berhenti. Untung daya kepekaannya tinggi jadi bisa berhenti dengan cepat, kalau tidak mungkin kepalanya sudah bertabrakan dengan punggung bosnya itu.


" Ada apa Pak Udin? " tanya Syahira, namun tidak mendapat jawaban sama sekali.

__ADS_1


Syahira yang merasa penasaran pun melangkahkan kakinya satu langkah kesamping.


" Astagfirullah! Ya ampun, maaf Pak Syahira lupa belum beresin. " ucap Syahira tak kalah terkejut melihat apa yang ada dihadapannya.


Ia baru menyadari bahwasannya dirinya belum membereskan kekacauan yang ia kerjakan sejak semalam. Dirinya terlalu fokus membuat penyangga didepan sampai - sampai lupa kalau didalam masih berantakan.


" Ommo!! Astagfirullah haladzim, ini kapan ada gempa Pak? kok berantakan gini. " Kata Laras yang ikut - ikutan terkejut melihat keadaan ruangan yang berantakan.


Sebenarnya tidak seluruh ruangan sih, hanya satu meja bekas Syahira saja yang menjadi berantakan, dan juga ada satu kursi didekat rak yang belum dikembalikan ketempatnya.


" Gak ada gempa Ras. " jawab Syahira.


" Lah! terus ini berantakan kenapa? ulah kamu? " Laras bertanya sembari menunjuk meja yang penuh dengan robekan kertas dan juga vas - vas bunga.


" Hehe...iya. " Syahira menjawab sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gata.


" Tapi tenang aja kok Pak Udin Syahira pasti beresin. " lanjutnya berbicara kepada Pak Udin, takut bosnya itu marah dengan kelakuannya.


" Kamu ngerjain ini semaleman ya? lalu kamu nyiapin vas - vas bunga ini buat apa Syah? " tanya Laras ingin tahu, pasalnya Syahira menyiapkan hampir semeja penuh bunga yang beraneka ragam.


" Oh! itu, jadi ceritanya aku mau dekor ruangan ini sama beberapa tanaman supaya lebih segar dan tidak monoton. Siapa tahu dengan begitu para pelanggan nyaman dan jadi sering datang kesini. Sesekali bolehlah ya Pak ganti suasana, kita juga butuh suasana baru kan biar gak jenuh. " jelasnya pada Laras dan juga Pak Udin.


Laras yang sejak tadi mendengarkan pun mengangguk - angguk paham.


" Bagus juga ide kamu Syah, mungkin benar tempat ini butuh sesuatu yang baru biar orang - orang gak bosan kalau datang kesini. Kebetulan memang sudah lama tempat ini belum ada perubahan sejak renop 5 tahun lalu, bahkan temboknya sudah mulai terkelupas karena saya belum cat ulang sampai sekarang. " ucap Pak Udin yang setuju dengan ide yang telah Syahira jelaskan.


" Jadi, Bapak setuju? Bapak gak marah saya sudah berantakin tempat ini kayak gini? " tanya Syahira beruntun, ia sangat bahagia karena bosnya itu tidak marah dan malah menyetujui idenya.


" Iya, tapi sekarang lebih baik kita cepat - cepat bereskan semua kekacauan ini. Takut keburu ada pelanggan yang datang, kan gak enak pelanggan datang tapi tempatnya masih kotor kayak gini. " ucap Pak Udin.


" Siap bos!! " jawab serempak Syahira dan juga Laras.


Dengan sigap, cekatan dan juga semangat 45 mereka pun mulai membersihkan tempat itu sambil menata satu - persatu vas bunga di beberapa tempat yang dirasa bagus. Tak ayal sesekali Laras bersenandung ria sambil terus bersih - bersih.


**To be continue**


Dukung terus karya ini ya, dengan cara like di pojok kiri bawah👇 dan jangan lupa untuk tambahin ke daftar favorit ya.


See you next chapter guys, author tunggu dukungan kalian.

__ADS_1


see you, bye - bye👋👋😘


__ADS_2