SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 68


__ADS_3

Hai guys, sesuai janji author yang kemarin jadi hari ini author update.


Gimana? ada yang udah nungguin gak nih dari tadi? atau malah udah ada yang mantengin terus novel ini?


Sorry ya guys upnya kemaleman, baru sempet nulisnya sekarang soalnya. Tadi authornya main dulu sama keponakan karena kebetulan lagi main kerumahnya. Udah deh ya pembukaannya. Semoga kalian suka bab ini ya, selamat membaca!


...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...


Mereka bertiga pun menikmati pisang goreng itu dengan khidmat sembari memandang mentari dilangit yang berwarna kemerahan.


...~~...


" Ahh....sungguh nikmat memang makan pisang goreng sambil liat pemandangan indah sore - sore gini. " Laras meletakan gelas minuman dingin yang baru ia seruput barusan itu diatas meja.


" Kamu bener Ras, apalagi cuaca hari ini bagus banget. Bikin betah lama - lama buat mandangnya juga. " ucap Syahira menimpali.


" Betah sih betah. Tapi kalian harus inget dong, tujuan awal kita kumpul disini tuh apa. Jangan malah keasikan terus lupa lagi. Mau bahas kapan lagi coba? Aku kan cuma beberapa hari aja disini, minggu depan harus balik lagi buat kuliah. Dan aku mau sebelum itu, kita udah menemukan cara untuk menyelamatkan tempat ini. " seru Ryan tiba - tiba kepada kedua wanita yang sedang menikamati pemandangan sore itu.


" Hehe...maaf kak lupa. " Laras menyengir kuda ke arah Ryan saat mendengar ucapannya. Tangannya terangkat membentuk huruf V.


Begitu pula dengan Syahira yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa bersalah karena melupakan niat awal mereka dan malah keasikan menikmati me time nya.


" Ya sudah tidak apa - apa, ayo kita mulai aja. Menurut kalian harus gimana? " Ryan kembali mengarahkan untuk membahas tujuan awal mereka.


" Aku gak tahu kak, bingung! hehehe... " ujar Laras jujur karena benar - benar tidak ada satu ide pun yang terlintas di otaknya. kalau seandainya saja ia punya, mungkin dari dulu sudah ia lakukan agar tempat itu ramai lagi dan tentunya ia bisa dapet bonus tambahan lagi.


" Kalau kamu Syah? " kini Ryan beralih kepada Syahira, ingin tahu bagaimana pendapat wanita itu.


" Aku kak?! " tanyanya memastikan, karena jujur ia pun masih belum tahu dengan pasti alasan yang sebenarnya kenapa tempat itu bisa sepi.


Ryan mengangguk mengiyakan pertanyaan Syahira.


Meski tidak percaya diri, dengan diawali bismillah Syahira pun akhirnya menjawab.


" Kalau menurut aku sih ya kak. Ini menurut aku loh ya kak, soalnya aku juga gak tahu yang sebenarnya. Ini baru menurut aku loh ya kak, menurut aku. " ujar Syahira dengan terus mengulang - ulang kata `menurut aku - menurut aku´.


" Iya, jadi apa? " tanya Ryan berusaha sabar menunggu jawaban Syahira yang malah mengulang - ulang katanya itu.

__ADS_1


" Menurut aku sih ya kak, gak ada masalah kalau soal makanan. Makanan disini enak - enak semua kok, bahkan lebih enak dari rumah makan yang pernah aku datengin selama ini. Jadi, sepertinya masalahnya terletak sama tempat ini deh kak kayaknya. Mungkin tempat ini kurang menarik bagi orang - orang kak, jadi mereka gak mau dateng kesini. Jadi gimana kalau kita renovasi atau ubah tempat ini mungkin? " tutur Syahira.


" Tapi aku juga gak tahu sih kak itu bener atau enggak. Soalnya aku juga masih belum tahu pasti apa penyebabnya. " lanjutnya.


" Ah! iya bener kamu Syah. Tadi siang aja ada orang ngelempar brosur yang kamu bagiin, sambil ngehina tempat ini jelek lagi gara - gara liat gambar dibrosurnya. " ujar Laras setuju dengan ucapan Syahira.


" Apa! kamu dilempar orang? kok bisa? " Ryan kaget saat mendengar Laras berkata bahwa Syahira dilempar orang.


" Iya kak, bener. Ya gak tahulah, tuh orang sarap kayaknya. Gak sopan banget lagi, bukannya minta maaf malah ngajak berantem. Syahira juga bukannya ngelawan malah diem aja, bikin aku emosi. " jawab Laras sedikit kesal teringat kejadian tadi.


" Padahalkan tempat ini sudah ada sedikit perubahan. kita udah hias sama tanaman susah - susah, terus Pak Udin udah bikin brosur, bukannya dapet pelanggan tapi malah dapet hinaan ma tu orang. Ihh..sebel banget deh. " lanjutnya.


" Jadi semua tanaman itu kalian yang taruh? " tanya Ryan.


Kedua gadis itu mengangguk bersamaan.


" kenapa kak? jelek ya? " ucap Syahira refleks bertanya.


" Ah, enggak! enggak jelek. Hanya saja mungkin masih kurang buat menarik perhatian orang, karena gak semua orang suka tanaman kan. Mungkin kita perlu yang lain, kalian ada ide gak? " tanya Ryan kembali meminta pendapat. Namun malah mendapat gelengan lagi dan kini bukan hanya Laras tapi Syahira juga ikutan menggelengkan kepala tanda tidak memiliki ide sama sekali.


" Haaah.....! "


" Oh, iya Ras. Memangnya sejak kapan sih tempat ini sepi? perasaan pas aku terakhir tinggal masih rame aja tuh. " tanya Ryan ditengah otaknya yang masih pusing mencari cara.


" Baru dari dua bulan yang lalu kak, sejak ada resto baru di ujung jalan itu loh. " jawab Laras dan Ryan hanya berkata `oh ´ sebagai jawaban.


" Hah...andai tempat kita kayak resto baru itu, mungkin gak akan kalah ramenya atau lebih rame disini. Aku jadi penasaran sebagus apa sih tempatnya sampe orang rela bondong - bondong buat ngantri masuk kesana. " celetuk Laras saat hendak kembali menikmati rebahannya setelah tadi bangun sebentar untuk menjawab Ryan.


" Memangnya kamu belum pernah kesana, Ras? " tanya Syahira terkejut mendengar gumaman Laras.


" Ya, belumlah Ras. Aku kan selama ini kerja disini, apalagi waktu awal - awal sebelum ada kamu cuma aku doang yang kerja disini karena yang lainnya udah pada resain, jadi mana ada waktu buat kesana. " tuturnya.


" Ya kirain gitu Ras, pernah meskipun kalo cuman sekali. "


" Boro - boro Syah. Tapi kayaknya tempatnya bagus deh. Andai kita pernah kesana, mungkin sekarang kita bisa jadiin tempat itu referensi supaya tempat ini bisa rame lagi. " jawabnya sembari berandai - andai, membayangkan tempat makan itu dalam keadaan ramai.


Mendengar penuturan Laras, membuat Syahira tiba - tiba menggebrak meja didepannya.

__ADS_1


" Kalau begitu, i have a good idea! " ucapnya setelah menggebrak meja didepannya.


" Buju buneng, pelan - pelan kali Syah. Gak usah gebrak meja juga, bikin kaget aja. " ujar Laras terkejut saat Syahira tiba - tiba menggebrak meja.


" Emang kamu punya ide apa Syah? " lanjutnya bertanya.


" Sekarang saatnya kita menjadi detektif. " jawab Syahira menaik - turunkan alisnya sembari tersenyum penuh arti.


Ryan yang seakan mengerti pun ikut tersenyum dan juga mengangguk, tanda setuju dengan apa yang Syahira pikirkan.


" Detektif?! maksud kamu kita mau jadi detektif - detektifan kayak si konan itu? " tanya Laras lagi meminta penjelasan.


" Ya, semacam itulah. Jadi gimana? setuju gak? " jawab Syahira kemudian bertanya kepada kedua manusia dihadapannya.


" Aku sih yes. " ucap Ryan.


Syahira melirik Laras meminta jawaban.


" Ya, aku juga tentu yes dong. Kayaknya seru deh, apalagi dari dulu aku pengen banget nyobain jadi detektif gitu. " jawab Laras antusias.


" Oke, jadi deal ya. Terus mau mulai kapan operasinya? " ucap Syahira dengan nada dan gaya seperti detektif - detektif pada umumnya yang bersiap menyelesaikan masalah.


" Gimana kalau besok aja? kebetulan kalian libur juga kan besok soalnya bapakku mau ke Bogor. " usul Ryan.


" Boleh, lebih cepat lebih baik. Kalau gitu janjian ketemunya gimana kalau jam 10-an aja biar gak terlalu pagi, sekalian makan siang gitu, gimana? "


" Oke aku setuju. " jawab Ryan.


" emm..aku juga setuju. " ujar Laras pun menimpali.


" Aaaa...aku gak sabar banget nunggu besok deh jadinya. " lanjutnya penuh semangat.


**To be continue**


Dukung terus karya ini ya, dengan cara like di pojok kiri bawah👇 dan jangan lupa untuk tambahin ke daftar favorit ya.


See you next chapter guys, author tunggu dukungan kalian.

__ADS_1


see you, bye - bye👋👋😘


__ADS_2