SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 34


__ADS_3

" Sudah cukup pak, jangan pernah bapak sakitin Syahira lagi. Jika memang Syahira bukanlah anak kandung bapak itu tidak apa-apa, tapi bagi Pras dia tetaplah adik kesayangan Pras satu-satunya. Dan mulai sekarang, pras mohon bapak jangan pernah ganggu Syahira lagi. " tutur Pras, kemudian beranjak pergi menyusul Syahira.


Sesampainya diatas, pras segera menuju kamar syahira. Namun ia tidak bisa masuk karena pintunya terkunci. " Tok..Tok..Tok... dek, buka pintunya kakak mau bicara. " seru Pras, namun tak ada jawaban sama sekali.


" Dek kakak mohon jangan kayak gini, buka pintunya dek. " kembali Pras bersuara, ia khawatir akan keadaan adiknya. Pras tahu adiknya pasti sangat terguncang mengetahui kebenaran ini.


Lama menunggu Pras pun langsung saja membuka pintu kamar Syahira yang ternyata tidak terkunci.


Hancur sudah hati Pras saat melihat adik kesayangannya tengah meringkuk dilantai samping tempat tidur sambil memukul-mukul dirinya sendiri.


" Huu...gak guna..bodoh bodoh bodoh... " racau Syahira masih terus memukul badanya.


Pras yang merasa sudah tak kuasa melihatnya pun segera mendekat dan memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang.


" Dek, udah dek jangan terus-terusan mukulin diri kamu sendiri. "


" Lepas mas lepasin Ara " ucap Syahira memberontak.


" Ini memang pantas Syahira dapatkan mas huu...gak seharusnya hikh..gak seharunya Syahira hadir didunia ini. Ini semua salah Syahira mas, keluarga mas hancur berantakan gara-gara Ara huu..." lanjutnya dengan derai air mata.


" Apaan sih Ra, bukan keluarga mas dek tapi KITA. Kita ini satu keluarga dek, kamu adalah adik mas dan keluarga kita seperti saat ini bukan gara-gara kamu sayang. Jadi kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri. "


" Aku ini orang luar mas, aku bukan adik kandung mas huuu... Seandainya aku gak ada mungkin ibu masih hidup dan keluarga mas akan utuh serta bahagia enggak kayak sekarang. "


" Dek, please dek. Jangan ngomong kayak gitu, kamu itu adik mas dan selamanya akan menjadi adik mas gak akan pernah tergantikan. " ucap Pras yang tidak mau mendengar ucapan ngelantur Syahira.


" Mas mohon dek, jangan pernah berpikir macam-macam. " lanjutnya sambil mengeratkan pelukannya.


" Lepas mas. " Kata Syahira tiba-tiba, namun Pras sama sekali tidak menggubrisnya.


" Mas, Syahira bilang lepas. " ucapnya kembali sedikit ditekan dan itu mampu membuat pras melepaskan pelukannya.


" Keluar mas. " lagi Syahira berkata dengan wajah tanpa ekspresi.


" Enggak dek, mas mau tetap disini sama kamu. " jawas Pras yang enggan meninggalkan adiknya dengan emosi yang masih belum stabil.


" Mas please, keluar. Syahira mau sendiri dulu. " ujar Syahira, kini tangisnya mulai sedikit mereda namun hatinya masih saja tetap bergemuruh bagai ombak malam dilautan.


" Tapi..."


" Mas..."


Melihat Syahira yang benar-benar enggan ada dirinya disampingnya Pras pun menurut dan pergi meninggalkan kamar Syahira.

__ADS_1


Baru saja Pras melewati pintu dengan cepat Syahira menutup lalu menguncinya.


" Ra, Syahira!! Kok dikunci pintunya. "


" Dek " kedua kalinya Pras mengetuk pintu, namun Syahira masih tidak menjawab.


Lama Pras menunggu dan sudah berkali-kali ia mencoba membujuk Syahira supaya iya membuka pintunya. Namun, itu tidak membuahkan hasil sama sekali hingga akhirnya Pras putuskan untuk membiarkan Syahira menenangkan diri terlebih dahulu.


Hati Syahira kini berkecamuk, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini.


Hal yang membuatnya risau akhir-akhir ini dan sebuah pemikiran yang tidak pernah ia inginkan kini malah menjadi kenyataan.


Sakit, perih itulah yang melandanya saat ini.


Perkataan Unang yang menyalahkan kehadirannya membuat Syahira merasa bersalah.


Ia merasa bersalah karena telah membuat keluarga yang selama ini harmonis dan baik-baik saja menjadi hancur berantakan.


" Semua ini salah ku, gak seharusnya aku lahir kedunia ini. " rintihnya menyalahkan diri sendiri.


" Ya Allah, kenapa kau ciptakan aku jika aku hanya membuat masalah saja. "


" Apa salahku ya Tuhan?? bahkan kehadiranku saja membuat orang lain terluka. Apa aku tidak pantas untuk hidup? Ya Allah ya Rabb apa salahku..." racau Syahira dengan tangis yang kembali hadir mewakili rasa sakit yang tengah ia rasakan.


..............


" Ra...."


" Syahira sayang bangun Nak. "


Sebuah suara membangunkan Syahira dari tidurnya. Perlahan matanya terbuka dan ia melihat sosok wanita setengah baya mengenakan baju gamis dan kerudung berwarna putih bersih tengah tersenyum kearahnya.


" I...ibu.."


" Ini beneran ibu kan? " ucap Syahira yang terkejut melihat ibunya yang kini tengah menatapnya.


" Iya sayang, ini ibu nak. " Jawab wanita itu.


" Ibu..." teriak Syahira langsung


memeluk ibunya.


" Bu, ini beneran ibukan? Syahira kangen sekali sama ibu. " rengek Syahira.

__ADS_1


Wanita setengah baya itu hanya tersenyum melihat tingkah manja dari anak perempuan kesayangannya.


" Nak, apakah kamu sudah menangis? "


" Hah! Bagaimana ibu bisa tahu? " terkejut, Syahira malah balik bertanya.


" Tentu saja ibu tahu, kamu kan anak ibu masa iya seorang ibu gak tahu gimana anaknya. Lagian kamu tuh suka jelek kalau habis nangis, nih buktinya. " ucap si ibu sambil mengelus mata sembab Syahira.


" Loh...loh...kok sekarang malah nangis lagi, kenapa sayang hmm? " tanya sang ibu yang melihat Syahira tiba-tiba menangis setelah ia bicara tadi.


" Bu...apa benar Syahira bukan anak ibu? " Syahira bertanya karena tiba-tiba saja ia ingat perkataan Unang tadi dan ia harus memastikannya langsung.


" Kamu dengar dari siapa sayang? "


" Bapak bu. " Jujur Syahira.


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum melihat Syahira.


" Bu..kok ibu malah senyum. Jadi apa benar kalau aku bukan anak kandung ibu? " tanya Syahira penuh penasaran.


" Menurut kamu? " ucap si ibu balik bertanya.


" Jadi beneran ya..." Seru Syahira yang kini wajahnya telah berubah mendung.


" Syahira Sayang ibukan? "


" Sudah pasti bu. " Jawab Syahira dengan masih sendu.


" Nah kalau gitu dengar omongan ibu, ibu mungkin belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu sama mas mu tapi kasih sayang ibu buat kalian itu sungguh besar dan tak ada bedanya, jadi mau bagaimana pun kamu darimana pun kamu berasal ibu tetap sayang sama kamu sama seperti ibu sayang sama mas Pras, dan ibu bersyukur sekali memiliki kamu. "


" Tapi...gara-gara Syahira ibu jadi..."


" Syut...jangan bicara sembarangan sayang Allah tidak suka itu, ibu udah bilang kan kalau ibu bersyukur telah memiliki kamu dan jika Allah suruh ibu untuk memutar waktu dan memilih, ibu akan tetap memilih untuk dipertemukan dengan kamu. Jadi kamu gak boleh menyalahkan diri kamu sendiri, ini bukan salah kamu sayang. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah menjalani hidup kamu sebaik-baiknya dan yang paling penting selalu bergantunglah kepada Tuhan yang Maha Esa yakni Allah swt. Ya sayang. "


" Iya bu.."


" Ya sudah, sepertinya sekarang hatimu sudah sedikit mereda setelah ini solatlah dan memohonlah kepada Allah untuk dimudahkan dalam urusanmu. Waktu ibu tidak banyak, ibu harus pergi sekarang. " pamit si ibu yang perlahan menjauh.


" Bu jangan pergi, bu...ibu......."


" Ibu...hah! Hah!...bu ibu dimana. " teriak Syahira melihat kesegala penjuru kamarnya dan ia hanya menatap kekosongan.


Ternyata kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi, mimpi yang amat terasa nyata andai waktu bisa dihentikan mungkin dia akan bisa bersama dengan ibunya.

__ADS_1


Hatinya sudah lebih tenang, ia pun teringat dengan pesan ibunya untuk solat. Ia pun akhirnya pergi mengambil wudu kemudian solat sunah tahajud setelah ia mengerjakan solat isya terlebih dahulu karena memang ia belum solat isya akibat kejadian yang tak terduga itu.


__ADS_2