
..." Jalan jalan ke pasar baru...
...Jangan lupa membeli sepatu...
...kalau reader reader sayang karya ku...
...Jangan lupa vote dulu yuk "...
...Author comel😚😚😆...
...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...
" hah...hah....Alhamdulilah...akhirnya ketemu juga. " ucap Syahira dengan napas yang engos-engosan.
" Lo kenapa? " tanya seseorang yang keheranan melihat Syahira berlari-lari dan juga ngos-ngosan dihadapannya seperti sudah lari maraton saja pikirnya.
Syahira seketika menatap sebal ke arah orang itu. Pertanyaan menyebalkan macam apa itu, kenapa katanya? tentu saja itu gara - gara dia yang susah ditemukan. Syahira berlarian menyusulnya tapi tidak bisa menemukannya, kemudian ia mencari kesana kemari tapi ujung-ujungnya ternyata malah ada didalam bus. Tahu gitu dari awal dia pergi kesini.
" Kenapa kenapa, dasar cowok nyebelin, semua ini gara-gara elo tahu. " dengus Syahira.
" Hah kok jadi gara-gara gue sih, kan lo sendiri yang dateng-dateng ke sini udah gitu kayak yang abis lari maraton gitu lagi. "
Syahril tidak mengerti kenapa bisa ia yang jadi disalahkan. Padahal dari tadi dia tidak ngapa - ngapain Syahira, bahkan dia hanya duduk diam dikursinya sendiri tanpa ada Syahira pula disampingnya. Apa ini mengenai sendal Syahira yang tak sengaja Syahril lempar tadi? apa Syahira masih tidak terima akan hal itu?.
" Masa iya dia nyari aku gara-gara itu, aku kan udah ganti tadi. " batinya dalam hati.
" Lo kenapa emangnya sih? " tanya Syahril sekali lagi.
" Gue tuh nyari-nyari elo dari tadi tahu gak. Gue lari nyusulin lo ke arah toilet tapi gak ada, gue muter-muter sekitaran sana juga gak ada, tahu-tahunya lo malah ada di dalam bus, nyebelin dasar. " gerutu Syahira.
" Lo nyariin gue mau ngapain? "
Aneh, cukup aneh pikir Syahril, Kenapa Syahira tiba-tiba mencari dia.
" Nih.." Syahira menyerahkan sebuah kantong plastik kearah laki-laki itu.
" maksudnya? " Syahril tidak paham maksud Syahira menyodorkannya sebuah kantong kresek.
" Ya ini buat lo. "
" Apaan tuh isinya? " tanya Syahril ingin tahu.
__ADS_1
" Ya ampun nih cowok bener-bener nyebelin dari tadi nanya mulu, gak bisa apa cari tahu sendiri gitu gak usah pake nanya-nanya. " gerutu Syahira dalam hati.
" Lo liat aja sendiri. " ucap Syahira kesal sambil memberikan kantong keresek itu supaya dipegang oleh Syahril.
"Auhhh..." Syahril sedikit meringis kala kantong kresek yang diberikan Syahira mengenai telapak tangannya.
" Eh lo gak apa-apa? " tanya Syahira saat melihat Syahril yang meringis kesakitan. Dengan refleks ia mengipas-ngipasi dan meniup lembut telapak tangan Syahril yang terluka.
" Nah gitu dong neng yang lembut sama pacarnya, jangan kasar - kasar kayak tadi kasian pacarnya lagi sakit gitu. " sela seorang ibu-ibu yang hendak lewat mencari tempat duduknya.
" Hah! dia bukan pacar saya bu. " jawab Syahira cepat dan tanpa sengaja langsung menghempaskan tangan Syahril kasar sampai si empunya meringis kesakitan.
" Aduh maaf - maaf, lo gak apa-apa kan? " tanya Syahira khawatir takut-takut luka Syahril samakin parah gara-gara dirinya.
" Hemm...dasar anak muda jaman sekarang, malu-malu kucing. " gumam ibu-ibu itu pelan sambil mengeleng - gelengkan kepalanya melihat tingkah Syahira dan Syahril. Sebuah senyuman kecil terukir diwajah ibu itu.
" Enggak kok, gue gak apa-apa. "
" Yakin? " tanya Syahira memastikan.
" Lagian elo sih pake banyak tanya, jadinya kan gue kesel. Itu tuh isinya obat sama perban buat ngobatin luka lo. " ucap Syahira menjelaskan isi dari kantong plastik yang tadi ia berikan.
Setelah mendengar penjelasan, Syahril pun mengeluarkan isi dari dalam kresek itu perlahan. Dan benar saja apa yang dikatakan Syahira, didalam kantong kresek itu terdapat sebuah salep dan sebuah perban.
" Kenapa lo bisa tahu kalau gue luka? " tanya Syahril penasaran.
" Ya gimana gue gak tahu, orang gue liat langsung pas lo megang panci panas itu dengan tangan kosong. "
" ouh....jadi ceritanya lo diam - diam merhatiin gue. " Syahril mengangguk - anggukan kepalanya sambil tersenyum.
" Eh..eh..itu..bukan gitu ya maksudnya. Lo jangan ge´er ya, gue ngeliat itu cuman karena tuh bocah nunjuk elo. Kalau enggak juga gak mungkin gue merhatiin elo. " ucap Syahira berdalih. semua perkataannya benar, ya meskipun gak semuanya benar karena Syahira memang sedikit memperhatikan Syahril tadi saat ia berjalan pergi makanya dia bisa melihat tangan Syahril yang terluka, hanya dia tak ingin sampai Syahril tahu akan hal itu.
" Ouh...gitu.. " Syahril menjawab dengan senyum yang semakin merekah karena melihat ekspresi Syahira yang gelagapan. Padahal Syahril juga tahu bahwa tadi Syahira sempat memperhatikannya.
" Kok lo kayak yang gak percaya gitu sih. " ucap Syahira sebal melihat Syahril yang senyum - senyum seperti mengejeknya.
" Iya, iya gue percaya deh. Oh ya ngomong - ngomong thanks ya buat obatnya. "
Setelah mengucapkan terima kasih Syahril pun mulai untuk mengobati lukanya. Dengan perlahan dan hati-hati dibukalah tutup obat itu meskipun diiringi dengan ringisan halus karena beberapa kali badan salep itu mengenai tangannya yang terluka.
Syahira yang melihat kejadian itu dari ekor matanya pun merasa kasihan. Hingga akhirnya memutuskan untuk membantu.
__ADS_1
" Sini biar gue bantu olesin. " Syahira merebut salep yang ada ditangan Syahril. Nada bicaranya sudah mulai sedikit lembut tapi ia masih belum bisa mengubah panggilan lo - gue nya.
" Lukanya tadi udah direndam air dingin (air kran) dulu kan? " tanya Syahira dan hanya dibalas anggukan oleh lawan bicaranya.
Syahira mengoleskan salep pada luka Syahril perlahan sambil sesekali meniup-niupnya.
" Untung lukanya gak terlalu dalam, kalau gini beberapa hari juga udah bisa sembuh. " ucap Syahira sambil terus mengolesi obat.
" Oh iya, sendal dari lo udah gue terima. Sendalnya simpel dan nyaman, gue suka, terima kasih y..." kata-kata Syahira tiba-tiba terputus, jantungnya berdegup kencang, ia merasa terkejut saat mengangkatkan kepalanya untuk berterima kasih ternyata Syahril pun tengah melihat kearahnya dan sekarang jarak mereka jadi terlalu dekat.
Keduanya saling pandang namun hal itu tidak berlangsung lama karena tersadarkan oleh suara kenek bus yang menyuruh semua penumpang untuk masuk kedalam bus sebab bus akan segera berangkat.
" Lo..lo lanjutin sendiri aja. " ucap Syahira buru-buru memberikan salep kepada Syahril. Entah kenapa hatinya tiba-tiba saja berdegup sangat kencang, ia menjadi gugup dan begitu pula dengan Syahril yang juga ikutan salah tingkah.
............................
" Nah sudah selesai. " ucap Syahira ketika sudah selesai memerban tangan Syahril yang terakhir.
Yah meskipun pada awalnya ia tidak ingin membantu lagi tapi akhirnya Syahira tetap membantu juga karena tidak tega melihat Syahril yang kesusahan saat hendak memerban tangannya.
" Perbanan lo ternyata rapih juga, terima kasih sudah membantu. " puji Syahril saat melihat tangannya diperban dengan sangat rapi, seperti oleh seorang ahli saja.
" Gak tahu aja nih babang Syahril, kakaknya Syahira kan calon dokter jadi pasti tahulah kalau soal perban memerban. " 👈(author)
" jelas dong gue gitu loh, iya sama-sama. " jawabnya kepada Syahril.
" Oh iya, meskipun lukanya gak terlalu parah dan bisa sembuh dalam beberapa hari tapi ingat tetap harus diperhatikan supaya jangan kena air dulu ya. " lanjutnya.
Syahril hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah selesai mengobati, syahira pun membereskan obat dan sisa perban yang barusan dipakai kedalam kantong plastik lagi. Kemudian ia memperbaiki letak duduknya dan kembali menikmati perjalanannya yang kini berubah menjadi sebuah kemacetan.
" Huh....macet lagi. " gumamnya pelan dengan napas yang lesu.
**To be continue**
Jangan lupa untuk like, share, vote dan komen sebanyak-banyaknya readers semua supaya authornya bisa terus semangat buat nulis.
Semoga kalian suka dengan cerita ini, kritik dan saran boleh kok kalian ajukan. Tapi author cuma ingetin jika ingin mengeritik gunakanlah kata-kata yang lebih baik dan mudah diterima jangan seperti menjatuhkan atau menyakiti orang lain. Ini bukan untuk author aja ya tapi kesemua orang juga harus seperti itu.
oke guys see you next chapter
__ADS_1
dadah bye bye👋😘