SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 61


__ADS_3

Hai - hai author kembali...


Ada yang kangen gak nih sama cerita ini?


Maaf ya baru bisa up jam segini, maklum authornya lagi sibuk. Semoga kalian gak jenuh kelamaan nunggu ya.


Semoga Part ini bisa ngobatin rasa kangen kalian sama cerita ini. Udah ya, selamat membaca.


...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...


" Yakin nih gak mau dibantuin? "


" Iya Ras, gak usah. Lagian cuma sedikit kok, aku bisa sendiri. " jawab Syahira kepada Laras.


Mereka berdua telah selesai makan. Setelah tadi sempat berduduk - duduk santai menikmati indahnya langit sore hari, Syahira beranjak ke dapur untuk mencuci piring bekas makan mereka.


Awalnya Laras menawarkan diri untuk membantu. Namun, karena piring yang dicuci hanya sedikit jadi Syahira merasa bahwa dirinya saja itu sudah cukup.


" Ya sudah, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya, Syah. Takut keburu magrib, nanti ada sanekala kan takut. " ucap Laras pamit untuk pulang karena memang hari semakin sore dan langit pun sudah semakin gelap.


" Iya, Ras. Hati - hati dijalan ya, jangan lupa berdoa dulu supaya selamat sampai rumah. "


" Sipp! pasti, sampai ketemu besok ya, Syah. Dah..assalamu´alaikum. " salamnya sebelum benar - benar menghilang dari balik pintu.


" Wa´alaikumsalam warrahmatullah. " ucap Syahira menjawab salam Laras yang pada nyatanya sudah tidak nampak wujudnya karena sudah keburu pergi.


Yah, meskipun orangnya sudah tidak ada tapi menjawab salam itu penting kan hukumnya. Apalagi posisinya tadi orangnya sempat ada dan Syahira mendengarnya.


Syahira kembali fokus untuk menyelesaikan mencuci piring - piring dihadapannya.


" Akhirnya selesai juga. "


Syahira meletakan piring terakhir yang ia cuci di rak piring, kemudian berjalan dan duduk ditempat yang ia pakai saat pingsan dulu.


Pandangannya menatap sekeliling, memperhatikan setiap sudut dan celah rumah makan tempat ia berada saat ini.


" Gimana ya, supaya rumah makan ini bisa banyak pelanggan lagi. "


Batinnya dalam hati, berpikir untuk kelangsungan rumah makan Pak Udin. Sebab, jika terus - terusan seperti ini dan tidak bertindak apapun maka pada akhirnya tempat itu akan bangkrut atau mungkin tutup total. Dan jika itu terjadi, bagaimana dengan nasib Syahira kedepannya? masa iya, dirinya harus jadi gelandangan.


" Kayaknya bukan karena makanan deh yang ngebuat orang - orang gak tertarik datang kesini. "

__ADS_1


Syahira bergumam masih dengan posisi yang sama dan memandangi seluruh ruangan. Ia seakan baru menyadari suatu hal yang mungkin saja itu adalah salah satu penyebab orang - orang kurang tertarik datang kerumah makan itu.


Bukan karena makanannya yang tidak enak, harganya yang mahal, atau pun tempatnya yang tidak higienis, sebab tempat itu walaupun sudah tua tapi masih tetap mementingkan kebersihan. Melainkan karena jika diperhatikan tempat itu terlihat sedikit monoton sehingga akan membuat orang bosan jika berlama - lama disana, dan juga cet - cet di tembok yang sudah mulai terkelupas disana sini akibat terlalu lama belum dicet ulang.


" Tapi, gimana cara ngatasinnya ya? " batin Syahira yang masih bingung, bagaimana caranya ia mengubah tempat itu.


" Arrrghrrghh!!! "


Syahira menggaruk kepalanya frustasi. Kepalanya terasa mau pecah, ia benar - benar bingung.


Syahira terlarut dalam pikirannya sampai - sampai tidak menyadari bahwa adzan magrib sudah berkumandang sejak tadi.


" Astagfirullah, kok udah jam segini aja. Kapan adzannya? Bisa - bisanya aku ngelamun sampe gak denger suara azan. Astagfirullah haladzim, ya allah ampuni hamba. " ujar Syahira terkejut saat melihat jam yang menunjukkan pukul 18:30, itu artinya adzan magrib sudah berkumandang 30 menit yang lalu dan dia bahkan tidak menyadarinya karena terlalu fokus berpikir.


Syahira pun bergegas lari ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, kemudian berlari kecil menuju ke kamarnya. Namun, karena terlalu terburu - buru dan juga tidak fokus kakinya tak sengaja tersandung kaki meja dan berakhir malah menubruk sebuah rak yang ada didekat tangga.


" Aduh... " ringisnya sembari memegangi kaki dan kepalanya yang terhantuk rak.


´Brakk´


Sebuah kardus jatuh dari atas rak, beberapa benda yang ada didalamnya pun dengan bebas menggelinding ke luar.


Syahira yang masih memegangi kepala dan kakinya pun melihat itu. Tiba - tiba matanya berbinar, sebuah ide terbersit dibenaknya saat melihat gulungan kertas dan spidol menggelinding dan berserakan di lantai.


" Kayaknya ini bisa dipake deh. " ucapnya sambil menaruh kardus itu diatas meja.


" Astagfirullah!! Lupa, aku kan belum solat magrib. " lanjutnya tersadar dari memperhatikan barang didepannya.


Syahira pun langsung berlari cepat menuju kamarnya karena takut akan kehabisan waktu solat.


.................


Syahira masih tetap duduk diatas sajadah. Mulutnya tak henti - henti berdzikir, begitu pula dengan tangannya yang sibuk bergerak menghitung jumlah dzikir yang ia baca.


Selepas solat magrib tadi dirinya tak beranjak dari tempat solat, ia langsung melanjutkan dzikir sembari menunggu datangnya waktu isya. Sekalian, tanggung sebab adzan isya sebentar lagi berkumandang.


" Allahu Akbar! Allahu Akbar! "


Terdengar suara adzan dari speaker masjid dekat sana. Syahira pun menyudahi dzikirnya dan beralih menjawab bacaan adzan.


Syahira bangkit berdiri ketika adzan sudah selesai, lalu kembali melaksanakan solat isya.

__ADS_1


Lima menit berselang, kini Syahira pun telah selesai salat isya. Ia pun merapihkan alat solatnya kemudian berjalan kelantai bawah untuk melaksanakan ide yang muncul di otaknya.


.............


" Oo..oo...ooooo...... kongkorongokk.... "


Suara ayam berkokok kembali terdengar. Syahira yang sejak tadi tertidur nyenyak pun mulai mengerjap - ngerjapkan matanya.


Sinar mentari sudah mulai masuk melalui celah - celah jendela. Hari sudah siang, jam sudah menunjukkan angka 06:30 wib. Sebenarnya Syahira sudah bangun subuh tadi dan melaksanakan solat, namun kembali teridur setelahnya karena lelah bergadang semalaman.


Syahira bangkit dari kursinya. Ya, setelah solat tadi ia kembali ke bawah untuk menyelesaikan pekerjaannya dan berakhir malah tertidur diatas meja.


Syahira berjalan ke luar sembari membawa sebuah palu dan juga benda yang telah ia buat semalaman itu.


" Tok..getok...tok... "


Terdengar bunyi Syahira yang mulai memalu.


" Selesai deh. " serunya bahagia melihat karyanya kini telah ia selesaikan. Syahira mengelap peluh didahinya.


" Assalmu´alaikum. " salam seseorang yang baru tiba disana.


" Wa´alaikumsalam, eh Laras. Tumben datengnya pagi? " tanya Syahira saat melihat Laras yang sudah tiba pagi ini, biasanya juga suka agak siangan datangnya.


" Sengaja, kan aku mau bantuin kamu beres - beres sebelum buka. " jawab Laras.


" Oh ya, ngomong - ngomong kamu lagi ngapain? pagi - pagi kok udah pegang palu aja. " lanjutnya bertanya saat melihat ada palu ditangan Syahira.


" Ohh...palu ini? Ini loh...aku tadi abis bikin sesuatu. Coba deh kamu liat. " ucap Syahira sambil memperlihatkan apa yang tadi ia buat.


" I..ini, buatan kamu Syah? " tanya Laras saat melihat apa yang dibuat oleh Syahira.


" Iya, gimana? Bagus gak? " Syahira meminta pendapat.


" Eupp...bwahaha....haha...."


Bukannya menjawab Laras malah tertawa membuat Syahira menjadi bingung karenanya.


**To be continue**


Jangan lupa untuk terus dukung karya ini dengan cara like, share, vote dan komen sebanyak - banyaknya. Dan jangan lupa masukin ke daftar favorite ya biar kalian dapet notif kalau cerita ini up.

__ADS_1


see you next chapter guys


bye bye👋👋


__ADS_2