
...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...
Syahira terus berlari dengan sekuat tenaga sampai kakinya terasa lemas.
Syahira berhenti berlari, ia memegangi kedua kakinya yang sudah tidak kuat lagi untuk digerakkan.
" Woy! cepetan larinya, keburu hilang lagi tuh bocah. "
" Aduh...hosh..ya ampun, boss. Bisa istirahat dulu gak? Saya sudah cape bos, rasanya udah mau mati hosh...hosh..."
" Istirahat - istirahat, lo mau dikebiri, hah?! "
Syahira menengok kebelakang, melihat kesumber suara. Ia terkejut melihat para pria tadi lari tergopoh - gopoh tak jauh dari tempatnya.
" Duh, kok bisa sih mereka masih ngejar. "
" Ya allah, aku harus gimana? Kaki aku juga udah cape lagi, jadi mana mungkin kuat buat lari, yang ada nanti malah ketangkep. " Syahira menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Heh! cepetan lari, malah pada selonjoran gitu lagi. " ucap sebuah suara di belakang Syahira.
Syahira kembali melihat kesumber suara, ia menjadi semakin panik karena ternyata orang - orang yang mengejarnya tadi semakin dekat dengan dirinya.
Tak jauh dari tempat itu, tepatnya disamping sebuah pohon, Syahira melihat ada sebuah kotak tong sampah yang lumayan cukup besar. Dengan cepat ia pun berlari dan bersembunyi dibalik tong sampah itu.
Syahira mengeratkan kedua tangannya saat terdengar bahwa orang yang mengejarnya sudah sampai ditempatnya tadi, dan kini berada dekat dengannya.
" Kemana lagi tuh bocah, cepet amat larinya. " gumam pria kekar dengan kepala botak.
" huh...hosh...hosh...tungguin ngapa bos...hosh... " ucap pria berkuncir yang berlari sempoyongan, napasnya sudah hampir habis karena lelah mengejar bosnya yang berlari sangat cepat, disusul pula dengan dua orang lainnya yang tidak berbeda jauh dengan pria berkuncir itu.
" Tunggu - tunggu, lo pikir kita lagi tamasya minta ditungguin. Liat nih, gara - gara kalian tuh bocah jadi ngilang kan. " ucap pria botak kesal, punya bawahan kok leletnya minta ampun.
" Lah bos, kok jadi nyalahin saya. Tuh, salahin si Bonny, kan dia yang dari tadi istirahat mulu bukannya lari. " kata pria berkuncir sambil menunjuk salah satu temannya, pria kekar yang memiliki badan sedikit berisi.
" Kok lo nyalahin gue sih, kan lo juga sama aja tadi. " sulut Bonny tidak terima kalau dirinya yang disalahkan.
" Iya, tapi gue kan cuma sekali, gak kayak elo yang terus - terusan. Baru aja lari sebentar udah minta istirahat, dasar karung beras. " ucap pria berkuncir itu meledek.
" Apa lo bilang?!!! "
" Udah!! Udah cukup!! Kalian ini semuanya sama aja, gak becus kalau disuruh kerja. " ucap pria botak menghentikan pertikaian itu.
" Sekarang, dari pada kalian ribut lebih baik kalian cari tuh bocah sampai ketemu. Kalian gak mau kan dikebiri sama tuan cuma gara - gara gak bisa nemuin tu bocah. " lanjutnya membuat semua orang menggeleng dan bergidig ngeri membayangkannya.
" ya sudah, cepet cari bego!! cari sekitaran sini, gue yakin tuh bocah pasti belum jauh dari sini." perintah pria itu kepada para bawahannya. Mereka yang disuruh pun mengangguk dan mulai menjalankan tugasnya.
Mereka menyebar kesana kemari tapi masih belum menemukan wanita yang mereka cari.
Salah seorang pria kekar dengan kaos berwarna putih tiba - tiba melihat ke arah sebuah tong sampah besar yang tak jauh dari tempatnya berdiri kini, dengan perlahan ia berjalan ke arah sana.
Syahira memeluk paper bagnya dengan erat, tak henti - henti hatinya berdzikir meminta perlindungan dari tuhan yang maha kuasa. Jantung Syahira berdetak dengan cepat ketika tidak sengaja melihat salah satu pengawal yang mengejarnya tadi berjalan mendekat ke arahnya.
" Ya allah, hamba mohon lindungi hamba ya allah. Jauhkan hamba dari segala keburukan, aamin. " doa Syahira dalam hati.
Pria itu terus berjalan dan perlahan - lahan mulai mengikis jarak dengan Syahira. Saat satu langkah lagi pria itu mendekati Syahira tiba - tiba langkahnya terhenti, seorang bapak - bapak muncul entah dari mana menghadang pria itu.
" Mau buang sampah ya, kang? " tanya bapak - bapak itu ramah.
__ADS_1
" Enggak! " jawabnya ketus, kemudian kembali berjalan ke arah tong sampah dan membukanya.
" Kosong?! mungkin memang gak disini kali ya. " ucap pria itu dalam hati saat menemukan bahwa tidak ada Syahira didalam tong sampah itu.
Ya jelas gak ada lah, orang sembunyinya diluar kok bukan didalam tong sampah😝
" Lah, terus mau ngapain kesini atuh, kang? " tanya bapak itu kembali.
" Cari orang. " pria itu menjawab dingin sambil berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
" Nyari orang kok ditong sampah, aneh. " gumam bapak itu menggeleng heran, ia pun membuka tong sampah dan memasukan sampah yang dibawanya lalu kemudian pergi menjauh.
" Gimana? Ketemu gak? "
" Gak ketemu, bos. " Jawab pria berkuncir.
" Kamu? " tanya pria botak lagi kepada pria bernama Bonny, namun si empu hanya menggeleng sebagai jawaban.
Pria botak itu melirik ke orang yang terakhir. Seakan mengerti pria itu pun menjawab.
" Saya juga gak nemu bos, bahkan saya sudah cari ketempat - tempat yang memungkinkan untuk bersembunyi tapi tetap saja tidak ditemukan. " ucap pria berbaju putih itu menjawab.
" Kalau gitu ayo kita cari ketempat lain, mungkin dia sudah pergi dan siapa tahu dia masih belum jauh dari sini. " putus pria botak itu menyuruh untuk mencari Syahira ditempat lain.
" Ayo, cepet cari!! Malah diem aja. " perintah pria botak itu sedikit berteriak karena melihat bawahannya yang masih diam belum bergerak sama sekali.
" Oh, iya, siap bos! " jawab mereka serentak kemudian berlari pergi mencari Syahira.
" Dasar, sial banget sih gue, punya bawahan kok pada bego semua ya. " gumam pria botak itu lalu menyusul bawahannya pergi.
Disisi lain Syahira akhirnya bisa bernapas lega saat mendengar keempat pria yang mengejarnya itu sudah pergi menjauh.
" Kayaknya aku harus tetep disini deh sampai besok, takutnya nanti kalau aku pergi dari sini malah ketemu lagi sama mereka. "
" Hoaaaamm....aduh aku udah ngantuk, sebaiknya aku tidur disini aja. "
Syahira akhirnya memutuskan untuk tidur ditempat itu, ia pun memperbaiki duduknya dan menyenderkan punggungnya ke pohon. Lama - kelamaan, ditemani oleh desiran angin malam Syahira pun mulai menutup matanya dan terlelap dalam tidur nyenyaknya.
............
Pagi mulai menyingsing, mentari mulai menunjukkan sinarnya ke permukaan. Beberapa orang berlalu lalang, berlari - lari kecil sambil membawa sebuah botol ditangannya. Sebuah headset menggantung ditelinga mereka, mungkin karena weekend, jadi hari ini banyak orang yang sedang berjogging.
Syahira tengah duduk direrumputan pingir jalan sembari memakan sebuah roti yang ia beli dari uang sisa kemarin menjual perhiasan.
Seorang ibu - ibu mengenakan baju lusuh dan lumayan kotor berjalan menghampiri, ia duduk begitu saja disamping Syahira sambil meletakan sebuah kaleng kosong didepannya.
Pengemis itu mengamati Syahira yang sedang memakan roti, sesekali ia menelan ludahnya ketika melihat Syahira menelan makanannya yang sepertinya begitu nikmat.
Syahira yang melihat itu tidak tega, akhirnya ia pun memberikan sebungkus rotinya lagi yang tersisa, kebetulan uang nya tadi cukup untuk membeli dua buah roti dan satu botol air mineral.
Pengemis itu dengan cepat merebut roti yang ada ditangan Syahira, dan memakannya dengan lahap seakan - akan kalau dia belum makan berhari - hari.
" Maawacih ya wneng..." ucap pengemis itu dengan mulut yang penuh dengan makanan, sedang Syahira hanya tersenyum sebagai jawaban.
Ketika sedang asik - asiknya menikmati roti yang biasanya Syahira jarang sekali memakannya karena memang dirumahnya selalu dibiasakan untuk makan nasi jadi jarang baginya untuk memakan roti sebab kurang terbiasa, tiba - tiba segerombolan orang yang terdiri dari anak - anak kecil dan beberapa orang dewasa dengan baju compang - camping berlari ke arah Syahira sembari berteriak - teriak menyuruh agar ibu - ibu yang ada disamping Syahira itu lari.
" Ini uwaada apa, Pret? " tanya ibu disamping Syahira kepada salah satu wanita yang ia stop larinya. Mulutnya masih sibuk bersusah payah, berusaha untuk menelan roti yang ia makan.
__ADS_1
" Biasa, mbak. Ada patroli, ayo cepetan mbak kita lari sebelum mereka pada dateng. " jawab Prety ketakutan.
" Apa?! uhuk...uhukk!!...waduh gawat, ya sudah ayo kita lari. " ucap ibu itu, ia tersedak sebab kaget medengar jawabab Prety, sahabatnya.
" Eh, ayo neng kita lari, jangan diem aja nanti kita bisa ketangkep. Ayo neng kita susul yang lainnya. " lanjutnya tergesa - gesa menyuruh Syahira agar ikut berlari dengannya, mengejar Prety yang baru saja berlari tapi sudah tidak terlihat, macam tutul aja.
Syahira yang ditarik - tarik itu pun hanya pasrah, dengan bodohnya ia juga malah ikutan panik dan berakhir ikut berlari pula tanpa tahu sebabnya karena apa.
" Hah...hah...hosh..."
Syahira berlari dengan sekuat tenaga bersama ibu - ibu yang tadi disampingnya, ia mulai kehabisan napas, napasnya terengah - engah akibat berlari sejak tadi, berusaha untuk menghindari sesuatu hal yang bahkan sampai saat ini Syahira tidak tahu apa itu.
" Bu...hosh...sebenernya kita ngehindarin apa sih? hosh... Kenapa hosh..kita harus lari -lari... hosh..kayak...hosh...gini? " tanya Syahia ditengah larinya.
" Hosh..kita ngindarin satpol pp neng, hosh....bisa gawat pengemis kayak kita kalau ketangkep. " jawab ibu itu tak kalah terengah - engah.
" Dipersimpangan depan eneng belok kiri ya, kita mencar biar tuh satpol pp gak bisa nangkep. " lanjutnya memerintah.
Syahira yang mendengar itu pun dengan repleks langsung berbelok ke arah kiri, memisahkan diri dari ibu itu.
" Hei! berhenti disitu!!! " teriak seseorang dari arah belakang. Syahira yang medengar itu pun tak menghiraukannya, ia terus berlari menghindar.
" HEI, Berhenti!!! " lagi orang itu berteriak.
" Duh...tuh satpol pp kenapa sih masih ngejar aja, aku kan bukan pengemis. " gumam Syahira dalam hati sembari terus berusaha mempercepat laju larinya.
" Eh....tunggu - tunggu! "
Syahira tiba - tiba berhenti berlari, ia baru saja menyadari sesuatu. Sesuatu hal yang membuktikan bahwa sejak tadi otaknya tidak bekerja, alias bodoh.
" Aku kan bukan pengemis ya, jadi kenapa aku harus lari? kalau aku diem juga kan gak bakalan ditangkap. " gumam Syahira pelan, menyadari kebodohannya.
" Yaa...akhirnya ketangkep juga. " ucap kedua bapak - bapak satpol pp memegangi tangan Syahira.
" Eh...pak, kok saya ditangkap sih, kan saya bukan gelandangan, pak. " Syahira terkejut ketika kedua tangannya tiba - tiba ada yang memegang.
" Bukan - bukan, kalau kamu bukan pengemis lantas kenapa kamu lari pas kami kejar tadi? " tanya Satpol PP itu mengintrogasi.
" Nah, itu dia pak. Saya juga gak tahu kenapa saya lari, mungkin karena banyak yang lari - lari jadi saya repleks deh ikutan lari. " jawab Syahira jujur, karena memang ia tidak tahu kenapa harus berlari, ia berlari tadi karena repleks diajak oleh ibu pengemis itu.
" Alah...alesan aja, kamu lari itu artinya kamu sadar kalau kamu gelandangan dan takut saya tangkap makanya kamu lari. " ucap Satpol PP itu tak percaya denga omongan Syahira.
" Engak pak, saya bener - bener bukan pengemis pak? saya mohon pak tolong lepasin tangan saya. " ucap Syahira membela diri sambil terus berusaha melepaskan tangannya, namun nihil, karena pegangan kedua Satpol PP itu cukup kuat.
" Udah, jangan banyak alesan. Sekarang kamu ikut kami ke kantor, silakan nanti kamu jelaskan saja disana. " kata Satpol PP itu masih tidak percaya.
" Tapi pak..."
" Udah, cepet jalan! " perintah Satpol Pp itu.
Dengan pasrah, dan tanpa perlawanan akhirnya Syahira pun berjalan mengikuti Satpol PP yang satunya lagi untuk menuju ke mobil.
Syahira naik ke atas mobil dengan hati - hati. Tak lama kemudian mobil pun melaju dan menjauh dari tempat ia berhenti tadi, membawa Syahira dan beberapa pengemis lainnya.
**To be continue**
Dukung terus karya ini ya, dengan cara like di pojok kiri bawah👇 dan jangan lupa untuk tambahin ke daftar favorit ya.
__ADS_1
See you next chapter guys, author tunggu dukungan kalian.
see you, bye - bye👋👋😘