SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 64


__ADS_3

...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...


Awal pagi yang cerah. Semburat sinar mentari semakin meranjak di upuk timur, bersemi seperti bunga - bunga cherry blossoms pada pertengahan bulan Maret hingga akhir April itu.


Syahira merapihkan tempat tidurnya kemudian beranjak keluar dan berjalan ke arah balkon yang ada dilantai dua.


Angin berhembus pelan menerpa jilbab yang dikenakan Syahira dan membuatnya menari - nari mengikuti ke arah mana angin itu pergi.


Sebuah burung pipit terbang mendekati Syahira, lalu medarat dipagar pembatas balkon, tak jauh dari tempat Syahira berdiri saat itu.


" Kamu lapar ya burung? "


Syahira bertanya saat melihat burung itu bertengger didekatnya. Dia mengelus - elus pelan kepala burung itu yang ternyata sama sekali tidak takut saat Syahira sentuh.


Burung itu hanya menengok ke kanan - kiri tak merespon sedikit pun pertanyaan Syahira. Sesekali burung itu mematuk - matuk besi pagar seakan mencari makanan.


" Kamu tunggu dulu sebentar ya burung. Jangan kemana - mana, nanti aku balik lagi. " ucap Syahira menyuruh burung itu agar tidak pergi, ia kasihan melihat burung itu yang sepertinya kelaparan. Ia pun masuk kedalam untuk mengambil sesuatu.


" Nih, makan!. "


Syahira menaruh sepotong roti bekas ia semalam didepan burung itu, dengan lahap burung pipit itu memakan roti yang Syahira berikan.


Syahira tersenyum melihat burung pipit yang sepertinya sangat menikmati makanannya.


" Sepertinya kamu kelaperan banget ya. Kasihan banget kamu burung, pasti susah banget kan cari makanan sendiri. " monolog Syahira mengajak burung yang ada di depannya berbicara.


" Saudara kamu ada dimana burung? apa kamu juga sendirian di tempat ini sama seperti aku? " lagi katanya sembari menatap burung pipit yang masih sibuk berusaha menghabiskan makanannya.


Sebuah tetesan air bening nan hangat tiba - tiba meluncur dari sudut mata Syahira. Dadanya terasa sesak, sebuah rasa rindu seakan - akan menyeruak dalam dadanya dan membuatnya sedikit kesulitan untuk menyembunyikan suara tangis yang sejak tadi ia tahan.


Syahira menangis tersedu. Ia sudah berusaha, benar - benar sudah sangat - sangat berusaha, tapi entah kenapa ia masih tetap tidak bisa menghentikan tangisannya.


Rasa rindu terhadap masnya yang tiba - tiba itu sungguh sangat membuatnya tidak kuat. Apalagi setelah melihat burung pipit di depannya yang terbang kesana - kemari sendirian, mencari makan dan hidup sendirian tanpa siapa pun di sisinya, seperti yang Syahira alami saat ini.


Bagaimana kabar Mas Pras, Nada, dan juga Bapaknya sekarang?


Apakah Masnya itu masih tetap mencari dan mengkhawatirkannya?


Apakah Nada, sahabat terbaiknya itu sudah mengetahui bahwa dirinya sudah tidak berada di kota itu?

__ADS_1


Dan apa mungkin, Unang, Bapaknya itu mungkin sedikit merindukannya?


Itulah yang Syahira pikirkan ditengah tangisnya yang masih saja tidak mau berhenti.


Syahira menangis cukup lama. Untunglah masih belum telalu siang, jadi Pak Udin dan juga Laras belum datang.


Syahira menatap sebentar langit yang cerah pagi itu sebelum kemudian beranjak kedalam dan turun kelantai bawah.


Syahira mulai bersiap membuka rumah makan itu, pintu yang terkunci kini ia buka dan tirai jendela pun satu - persatu ia naikkan.


Setelah bagian depan sudah sepenuhnya dirapihkan, ia pun beranjak ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan yang lainnya. Tak lupa ia melimpir dulu ke kamar mandi sekedar mencuci mukanya agar tidak bengkak sehabis nangis tadi.


Syahira mengambil beras lalu kemudian ia cuci di wastafel. Dirasa sudah bersih, ia pun menyudahinya dan memasukan beras yang telah ia cuci ke dalam penanak nasi, tak lupa ia menuangkan air secukupnya.


Menanak nasi untuk dagangan menjadi tugas Syahira sekarang, setelah beberapa hari lalu Pak Udin membebaskan dirinya untuk membuat sarapan sendiri, karena takut Syahira mungkin bosan jika ia terus membawakannya nasi uduk untuk sarapan.


Sebenarnya Syahira sih tidak masalah jika harus terus diberi sarapan nasi uduk, bahkan ia sangat bersyukur karena setidaknya Pak Udin masih memperhatikannya. Syahira sempat menolak dan berkata baik - baik saja, tapi untuk menghormati Pak Udin yang terus memaksanya pada akhirnya ia setuju. Dan sebagai gantinya Syahira pun menawarkan diri untuk sekalian saja memasak nasi untuk jualan supaya Pak Udin tidak perlu datang pagi - pagi sekali untuk menyiapkan semua dagangannya.


Kini Syahira sudah ada dimeja kasir. Ia membereskan uang receh sisa pendapatan kemarin untuk kembalian hari ini.


Ia bekerja sangat fokus sampai tidak menyadari kalau Laras sudah berada didekatnya.


" Astagfirullah haladzim!! " Syahira melonjat kaget saat mendengar teriakan selamat pagi dari Laras, apalagi dengan posisi dia yang berada tepat didepannya.


" Ya ampun, Laras!. Bisa pelan - pelan gak sih ngomongnya, bikin kaget tahu gak. " ucap Syahira sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang. Laras hanya menyengir kuda.


" Lagian kamu Ras, dateng tuh salam dulu kek atau apa gitu. Bukannya ngagetin kayak gini. " lanjutnya menasehati.


" Aku udah salam kali Syah, kamu nya aja yang terlalu fokus jadinya gak denger. " jawab Laras yang memang pada kenyataannya begitu.


" Oh...masa sih? "


" iya Syahira, beneran ih. " kata Laras karena melihat Syahira seperti tidak percaya dengan ucapannya.


" Udah ah, daripada ladenin kamu yang gak percaya sama aku. Mendingan siap - siap, siapa tahu bentar lagi pelanggan dateng. " lanjutnya kemudian berjalan menuju sebuah meja untuk menaruh tasnya.


" Tumben semangat amat mau nungguin pelanggan. " ucap Syahira. Padahal kemaren masih males - malesan dan berniat untuk bolos kerja, tapi sekarang malah sebaliknya.


" Kan kamu sendiri Syah yang bilang, kita tuh haru optimis! gak ada yang tahukan, bisa aja hari ini banyak pelanggan yang dateng. " jawa Laras mengingatkan Syahira akan perkataannya sendiri.

__ADS_1


" Wah...bagus itu, saya suka kalau kalian kerjanya pada semangat gitu. " seru Pak Udin yang baru tiba dan langsung nimbrung begitu saja.


" Karena kalian lagi semangat, gimana kalau kalian lakuin satu tugas dari saya?. " lanjutnya berbicara.


" Tugas?! tugas apa pak? " Laras bertanya tak mengerti, begitu pula dengan Syahira yang mengerutkan keningnya saat mendengar kata tugas dari bosnya.


" Iya, Tugas. Tugas busat bagiin brosur rumah makan ini ke orang - orang. " jawab Pak Udin sambil memperlihatkan setumpuk brosur kepada mereka berdua.


" Brosur? Bapak mau kita bagiin semua brosur ini?! " tanya Laras sedikit berteriak saat melihat tumpukan kertas diatas meja.


" He´em, kalian bagiin semuanya. Siapa tahu dengan cara ini bisa meningkatkan penjualan. Kalian bagiinnya disekitar taman aja, disana biasanya kan suka rame tuh. "


" Tapi Pak, ini banyak banget brosurnya. Lagian masa iya kita ninggalin Bapak sendirian disini, nanti kalau ada pelanggan gimana? " ucap Laras.


" Udah! kalian gak usah khawatir, lagian yang dateng belum tentu banyak kok. Saya bisa handel disini, jadi kalian cepetan pergi keburu siang lagi. " ucap Pak Udin menyuruh mereka berdua untuk segera pergi melaksanakan tugasnya.


" Tapi Pak, ini banyak banget loh. kayaknya saya gak bakalan sanggup deh, apalagi diluar kan panas Pak. " alibi Laras yang tak ingin pergi.


" Udah - udah gak usah banyak alesan, ayo! cepet sana pergi. Mau kamu saya pecat? " ancam Pak Udin yang tak mau mendengar alasan apapun dari Laras.


" Eh....gak mau atuh Pak. Jangan pecat saya, kalau saya dipecat nanti saya gak punya uang dong buat beli kuota. " jawab Laras cepat.


" Ya sudah kalau gitu cepetan pergi, nanti keburu siang lagi katanya gak mau pasas. " titah Pak Udin lagi.


" Iya.. "


Dengan langkah gontai Laras pun mau tidak nau menurut, dari pada kehilangan pekerjaan kan, lebih baik ia panas - panasan saja lah.


" Laras tunggu? " seru Syahira saat melihat Laras sudah berjalan menuju ke luar.


" Saya berangkat dulu, Pak. Assalamu´alaikum. " pamit Syahira kemudian berlari menyusul Laras.


**To be continue**


Dukung terus karya ini ya, dengan cara like di pojok kiri bawah👇 dan jangan lupa untuk tambahin ke daftar favorit ya.


See you next chapter guys, author tunggu dukungan kalian.


see you, bye - bye👋👋😘

__ADS_1


__ADS_2