
...🌸🌸Happy Reading guys🌸🌸...
" Udah Pras dengerin aja kata Reena, lagian lo tenang aja gue udah minta bantuan temen - temen yang lain buat bantuin cari Syahira. Jadi lebih baik sekarang lo makan biar besok punya tenaga buat cari adik lo lagi. " ucap Doni memotong Pras berbicara.
Mendengar ucapan Doni membuat Pras terdiam, ia merasa sedikit tenang dan dengan terpaksa ia pun bersedia untuk makan. Disetiap suapannya pikiran Pras terus melayang jauh, mencemaskan keadaan adiknya diluar sana.
.........
#sementara itu ditempat lain....
" Aaaaaa!!!! Setannn!!!!! "
Syahira berteriak, ia berlari kencang saat sebuah tangan menyentuh pundaknya. Syahira berlari terburu - buru hingga sesekali ia terjatuh namun kemudian bangun dan berlari lagi.
" Lah..lah neng mau kemana?! " teriak seorang bapak - bapak yang tadi menyentuh pundak Syahira.
" ckck...dasar anak muda jaman sekarang padahal cuma mau nawarin makan sate gratis, eh malah lari sambil bilang setan lagi, dasar gak sopan!. " decak bapak itu kemudian berjalan kembali menuju grobak satenya.
Syahira terus berlari sekuat tenaga menghindari sosok yang iya kira sebagai setan.
Syahira menengok kebelakang dan ternyata kosong tidak ada yang mengikutinya lalu ia pun berhenti.
" Hosh...hosh...ahh...cape! " ucapnya dengan napas terengah - engah.
" Aduh serem banget sih, untung tuh setan gak ngikutin. " lanjutnya bergidig ngeri.
Syahira kembali berjalan saat napasnya sudah mulai teratur dan rasa lelahnya sedikit berkurang. Ia berjalan tanpa tahu arah karena sekarang ia benar - benar tidak tahu harus pergi kemana, ia sudah tidak memiliki uang bahkan hpnya pun ikutan hilang.
Jalanan semakin redup. Sinar bulan perlahan mulai menghilang tertelan awan hitam.
`Clikk´
Sebuah cairan bening jatuh mengenai kepala Syahira. Lama - lama cairan itu semakin bertambah dan berubah menjadi deras hujan.
Syahira dengan cepat berlari mencari tempat untuk berteduh. Ia berhenti di sebuah ruko yang sudah tutup. Syahira duduk disebuah kursi yang kebetulan ada disana.
Hujan turun semakin deras dan Syahira tidak bisa pergi kemana - mana. Syahira menaikan kedua kakinya keatas kursi lalu memeluknya untuk mencari kehangantan. Ia menggosok kedua tangannya lalu diletakan kepipinya.
" Biasanya kalau hujan - hujan gini mas Pras pasti buatin aku coklat panas sama cookies. Hiks...mas, Syahira kangen. " Syahira berucap sambil memandang derasnya air hujan yang turun.
" Aaaa!! "
Syahira berteriak kala sebuah petir datang menyambar. Ia memeluk kakinya dengan erat.
" Mas Pras, Syahira takut...aaaa!! " ucapnya lirih. Syahira kembali berteriak saat sebuah petir kembali menyambar.
Syahira gemetar ketakutan. Kemudian ia menyembunyikan kepalanya diantara kedua kakinya, kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi telinganya dan kedua matanya terpejam sedangkan bibirnya tak henti - henti menyebut - nyebut nama mas Pras.
__ADS_1
Malam semakin larut dan langit sama sekali tak menunjukkan bahwa hujan akan segera reda. Syahira masih ketakutan karena suara petir terus menemani derasnya hujan yang turun. Ia semakin dalam menyembunyikan kepalanya hinga lama kelamaan rasa kantuk pun datang dan Syahira pun terlelap dalam tidurnya.
..................
Sinar mentari menyinari pagi dengan indahnya. Rumput dan pohon - pohon terlihat begitu segar dengan sisa embun diatasnya.
Syahira masih terlelap dalam tidurnya. Seseorang tampak berjalan mendekat, ia duduk disamping Syahira.
" Ra, Ara! bangun Ra. " ucapnya sambil menggoyang - goyang badan Syahira lembut.
" Engh..."
Syahira melenguh, ia meregangkan tangannya ke atas. Di kucek - kucek kedua matanya yang masih tertutup itu agar terbuka.
" Hah! mas Pras!! " ucapnya sedikit berteriak. Ia sangat terkejut melihat bahwa kakaknya berada dihadapannya.
" Akhirnya mas bisa menemukan kamu dek. " Pras mengusap rambut Syahira lembut. Ia tersenyum bahagia melihat adiknya.
" Aaaa...mas Pras, Syahira kangen!!! " Jeritnya kecil dan langsung menghambur ke pelukan kakaknya. Dengan sedikit limbung Pras menerima pelukan adiknya.
" Mas juga kangen sama kamu dek. " balas Pras setelah melepaskan pelukannya.
" Huhuuu...mas tahu gak? Syahira sial banget tahu, Ara kemarin kena tipu terus setelah itu kena curi juga, semua barang - barang Syahira hilang termasuk hp. Lalu selamem hujan sama petir Ara takut mas. " rengek Syahira menceritakan apa yang sudah ia alami.
" Kamu sih lagian udah tahu gak pernah pergi kemana - mana sendiri malah so so-an kabur dari rumah. " ucap Pras meledek. Ia mengacak kerudung Syahira gemas.
" Ihhh...mas Pras! " pekik Syahira sebal karena kerudungnya berantakan. Ia mengerucutkan bibirnya kesal dan Pras yang melihat itu hanya tertawa.
" Gak bisa mas. " Syahira melepakan tangannya.
" Kenapa Ra? " Syahril menatap adiknya. Kini ekspresinya telah berubah, senyumnya tiba - tiba menghilang.
Syahira hanya menatap diam kearah kakaknya. Ia bingung harus menjawab apa, dirinya sangat ingin sekali pulang bersama kakaknya tapi entah kenapa ia merasa tidak bisa apalagi setelah bapaknya memberi tahu bahwa dia bukanlah anak kandung dari keluarga itu.
" Kenapa Ra? Apa karena masalah bapak jadi kamu merasa takut tidak bahagia jika bersama mas? "
" Enggak mas, enggak gitu... " Syahira memegang tangan Pras, ia menggeleng tidak setuju dengan ucapannya.
" Lantas karena apa Syahira?! "
" Apa kamu gak sayang lagi sama mas? " tanya Pras lirih.
" Enggak mas, Syahira sayang kok sama mas Pras. "
" Lalu kenapa Ra? Kenapa kamu gak mau pulang? " Pras bertanya dengan wajah yang sudah mulai putus asa.
" Apa karena kita ini bukan saudara kandung jadi kamu merasa bahwa mas ini orang asing makanya kamu gak mau ikut mas pulang. "
__ADS_1
Syahira terdiam ia tidak bisa menjawab perkataan kakaknya.
" Heuh...jadi ternyata hubungan kita cuma sampai disitu aja. " Syahril berdecak kecewa.
" Mas gak nyangka dengan mudahnya kamu melupakan hubungan kita yang sudah terjalin lama hanya gara - gara masalah itu. Kamu udah berubah Ra, ternyata kamu udah gak sayang lagi sama mas. " ucapnya dengan wajah yang sedih dan juga kecewa.
Syahira menggeleng mendengar perkataan Pras, butiran air menetes dari matanya.
" Baiklah kalau memang itu mau kamu, mas akan pulang sendiri. Semoga kamu akan bahagia dengan hidup mu yang baru. "
Pras melepaskan pegangan Syahira dari tangannya. Syahira menggeleng tidak ingin dilepaskan, air matanya terus menetes semakin deras.
" Mas..."
Syahira memelas namun Pras seakan tidak memedulikannya, ia menghempaskan tangan syahira begitu saja dan berjalan menjauhi tanpa menatap adiknya sedikit pun.
" Mas...tunggu! "
Syahira berteriak dan hendak menyusul kakaknya. Namun...
`BYURR...´
Tiba - tiba Syahira terperanjat, ia terbangun dari tidurnya karena basar tersiram air.
" Hah...mimpi? Jadi itu hanya mimpi? " batin Syahira. Ia mengusap wajahnya yang basah terkena air.
" Nah gimana enak?! "
Sebuah suara mengejutkan Syahira. Terlihat seoarang ibu - ibu mengacak pinggang sambil memegang sebuah gayung. Dengan wajah sinis ia berbicara kepada Syahira.
" Enak sekali ya kamu tidur di warung saya, siapa yang kamu izinin tidur disini? Bisa - bisanya ya kamu, kamu pikir ini tempat penampungan apa, hah!. " Kata ibu itu sarkastis.
" Maaf bu kalau saya salah, semalem hujan deras jadi saya neduh disini. " jawab Syahira kepada ibu itu.
" Alaaah...alesan, udah deh gak usah banyak alesan, basi!!!. Gelandangan dengan motif kayak kamu itu udah banyak akhir - akhir ini jadi mending sana kamu pergi dari sini jangan ngalangin pemandangan, nanti gak ada yang mau dateng ke warung saya lagi gara - gara kamu. " usir ibu itu sambil menarik Syahira dan mendorongnya sampai jatuh ke aspal.
" Awww...." pekik Syahira pelan saat tanganya bergoresan dengan aspal.
" Nih jangan lupa bawa barang kamu. " Lanjutnya melempar sebuah paper bag kehadapan Syahira.
" Heh dasar, buat apa punya wajah cantik tapi malah jadi gelandangan. " gumam ibu itu sambil berlalu masuk kedalam rukonya.
Syahira berdiri dengan tertatih, ia pun mengambil paper bagnya dan berlalu pergi menjauhi ruko.
**To be continue**
Jangan lupa untuk terus dukung karya ini dengan cara like, share, vote dan komen sebanyak - banyaknya. Dan jangan lupa masukin ke daftar favorite ya biar kalian dapet notif kalau cerita ini up.
__ADS_1
see you next chapter guys
bye bye