
... jalan jalan ke pasar minggu...
...jangan lupa membeli jambu...
...daripada bengong melulu...
...mending baca cerita author dulu yuk...
🌸Happy Reading guys📖🌸
...****************...
Burung-burung berkicauan, dan daun pun ikut bergoyang seiringan dengan hembusan angin pagi ini. Syahira tengah berada ditaman belakang rumahnya, duduk santai diatas ayunan dengan sebuah buku novel dipangkuannya.
Syahira sengaja menikmati sejuknya pagi ini karena kebetulan jadwal kerjanya dimulai pukul 9 nanti.
" Dek kok belum siap-siap? " tanya Pras ketika melihat adiknya yang masih mengenakan baju tidur.
" Eh mas, belum soalnya masuk kerjanya agak siangan mas. "
" Oh...ya sudah kalau gitu mas berangkat duluan ya, maaf gak bisa anter kamu. " pamit Pras.
" Iya mas. "
" Assalamu'alaikum. "
" wa'alaikumussalam " setelah menjawab salam, Syahira langsung kembali pada kegiatannya yang semula.
Dirasa sudah cukup lama ia berada disana, Syahira pun beranjak masuk kedalam untuk bersiap-siap pergi bekerja. Gamis hitam polos, berpadu dengan kerudung bermotif bunga teratai yang baru kuncup menjadi style Syahira hari ini. Setelah selesai bersiap-siap Syahira pun bergegas untuk berangkat.
Sebuah taksi sudah menunggu didepan rumahnya. Hari ini sengaja Syahira pergi menaiki taksi, bukan karena apa-apa hanya saja ia sedang malas untuk berdesak-desakan dengan orang lain.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Syahira telah sampai dibutik tempatnya bekerja. Syahira kemudian keluar dari taksi dan berjalan masuk kedalam butik.
" Assalamu'alaikum mbak Nina, mbak Nunik. " Sapa Syahira kepada kedua pekerja lainnya.
" Wa'alaikumussalam, langsung cek persediaan barang ya Ra. " titah Nina
" Oke mbak siap " Syahira langsung mengambil buku dan berjalan menuju gudang. Setelah selesai dia pun kembali kedepan.
" Udah beres Ra, apa aja yang kosong? " tanya Nunik yang sedang duduk dimeja.
" Tuh cek aja bukunya mbak, udah aku tulis disana. " jawab Syahira sambil menunjuk buku yang ditaruhnya tadi.
" Ra, bantuin sini. " Teriak Nina dari arah depan, sepertinya ia tengah kesusahan karena melayani banyak pembeli.
" Mbak aku kedepan dulu ya. " pamit Syahira kepada Nunik.
__ADS_1
" Iya "
Hari semakin siang, jam sudah menunjukkan pukul dua belas pas artinya waktu istirahat sudah tiba.
" Aduh...Capenya. " ucap Nina yang sudah ambruk dilantai dengan tangan yang digibas-gibaksan ke mukanya berharap itu bisa mengurangi rasa gerah yang dirasakannya.
" Namanya juga lagi ramai mbak, ya emang pasti cape lah. " Timpal Syahira.
" Iya tapi biasanya gak secape ini. Sekarang itu cape banget, mbak sudah berasa kayak jombi haus darah gini. " ucap Nina lebay.
" Apaan sih mbak Nina inih ada-ada aja hahaha..." syahira tertawa mendengar ucapan Nina yang ngawur.
" Ihh beneran tahu. "
" ya udah deh terserah mbak " Syahira mengalah. " kita beli makan yuk mbak Syahira laper nih. " ajaknya kemudian.
" yuk, kebetulan mbak juga laper." Jawab Nina.
" Nik, kamu mau nitip makanan gak? " tanya Nina sebelum beranjak keluar toko.
" seperti biasa aja. " Seru Nina yang terlihat masih sibuk menghitung uang di meja kasir padahal sudah waktunya untuk istirahat.
" Oke, ya udah yuk Ra kita capcyusss...." ajak Nina kepada Syahira.
Lima belas menit kemudian Syahiran dan Nina telah selesai membeli semua makanan yang mereka inginkan, begitu pula dengan makanan titipan Nunik. Kemudian mereka pun bergegas berjalan kembali menuju kebutik.
" Ra, bukannya itu bapak kamu ya? " ucap Nina sambil menunjuk seseorang yang tengah berdiri didepan butik.
" Ah iya itu bapak. " jawabnya kemudian berjalan menghampiri pria yang berada didepan butik itu.
" Assalamu'alaikum pak " salam Syahira lembut.
Syahira menjulurkan tangannya berniat untuk mencium tangan sang ayah, namun hal itu tidak diindahkan. Unang langsung menghempas tangan Syahira begitu saja. " Gak usah bayak basa basi kelamaan. " ujarnya kasar.
Syahira yang diperlakukan seperti itu hanya menghela napas, bersabar dengan apa yang dilakukan ayahnya. Lagi pula sekarang ia sudah mulai terbiasa dengan kelakuan bapaknya itu, jadi ia tekadkan untuk tetap tenang menghadapinya meskipun Syahira tidak tahu sampai kapan ia bisa terus bertahan dengan sikap bapaknya itu.
" Mana duit. "
" Maksud bapak apa? " tanya Syahira tak mengerti.
" Aduh...Gak usah belaga bego deh. Mana sini kasih duit, bapak lagi butuh. " desak unang.
" Gak ada. "
" Heh! Jangan suka pura-pura, bapak tahu gaji kamu disini lumayan kan. Jadi pasti kamu punya duit. "
" Gak ada pak. "
__ADS_1
" Bapak udah bilang jangan pura-pura, cepetan mana kasih bapak duit. " ucap unang berteriak sambil mencengkram bahu Syahira.
" Sakit pak " ujar Syahira kesakitan akibat cengkraman yang dilakukan bapaknya.
" SAKIT?? makanya jangan ngelawan kalau orang tua ngomong tuh, kalau gak mau sakit cepetan sini kasih bapak duit. " ucap unang yang masih mendesak Syahira supaya memberikan uang kepadanya.
" Pak jangan seperti itu, kasihan Syahira kesakitan. " bela Nina, ia merasa kasihan melihat syahira yang disakiti oleh bapaknya itu.
" DIAM!!! Gak usah ikut campur masalah orang lain, lebih baik diam saja atau pergi dari tempat ini. " ucap unang yang merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Nina.
" Gak ada pak, gak ada. Syahira udah gak punya uang lagi, semua uang syahira udah habis digunain.."
Belum sempat Syahira menyelesaikan ucapannya, dengan cepat unang menyela. " Benar- benar anak gak berguna, udah susah diurus dari kecil sampai sebesar ini, tapi apa? Cuman sia-sia doang, udah gede tapi gak bisa balas budi sedikit pun. Buat apa gue ngebesarin elo hah! Kalau akhirnya lo ternyata gak berguna sama sekali. " teriak unang sambil mendorong Syahira kasar hingga Syahira terjatuh.
Dengan wajah yang masih dipenuhi emosi, unang berlalu pergi meninggalkan Syahira yang masih berada diposisi terjatuhnya dengan air mata yang mengalir. Meskipun dirinya sudah terbiasa dengan ucapan kasar bapaknya tapi tetap saja jika setiap kali Syahira mendengar ia merasakan sakit yang luar biasa.
Melihat Syahira yang masih berdiam diri ditempat, Nina dan Nunik yang sejak tadi melihat kejadian antara Syahira dan bapaknya pun mendekat.
" Ra, kamu gak apa-apa kan? " tanya Nunik khawatir.
" Ihh... kamu ini Nik, gak lihat apa tuh tangan Syahira berdarah. " ucap Nina sambil menunjuk tangan Syahira yang berdarah dengan matanya. " Udah Ra, ayo kita kedalem dulu. Kita obatin luka kamu nanti takut infeksi. " ajak Nina, kemudian memapah Syahira untuk masuk kedalam butik.
" Kamu duduk dulu ya, mbak mau ambil obat dulu. " ucap Nina lalu pergi mencari kotak P3K.
" Ra, jadi yang tadi itu beneran bapak kamu? bapak kamu yang asli gitu Ra? Atau...."
" Hus..apaan sih Nik, nanyanya gak jelas gitu. " sela Nina menghentikan pertanyaan ngawur dari Nunik. " Ya udah pastilah itu bapaknya Syahira, kan tadi Syahira bilang ke pria itu bapak, bener kan Ra? "
" Iya mbak, bener itu bapak aku. " jawab Syahira.
" Masa sih, tapi kok aneh. "
" Aneh gimana? " tanya Nina tak mengerti.
" Ya aneh aja gitu, kok bisa ada bapak yang sekasar itu sama anaknya nyampe bilang lo gue lagi bahasanya. Bapak aku aja yang galak gak pernah tuh nyampe bilang lo gue, bicara kasar juga jarang. Selain itu, wajahnya sama sekali gak mirip sama Syahira. " tutur Nunik menjelaskan keanehan yang ia rasakan.
" Ya kan bapak kamu sama bapak dia beda Nik. "
" Tetep aja rasanya aneh, atau jangan-jangan Syahira bukan anak kandung bapaknya deh. Secara kulit Syahira itu putih, muka dan bibirnya kecil, bulu matanya lentik dan lihat warna matanya yang hitam mengkilat itu. Beda banget kan sama keluarga Syahira, kamu kan selalu bilang Ra kalau semua keluarga kamu memiliki bola mata yang berwarna coklat dan hanya kamu yang memiliki mata berwarna hitam. " kembali Nunik berbicara dengan praduganya.
' DEG '
+++To be continue+++
***Jangan lupa untuk terus dukung karya author ini ya... 😁👌
see you next chapter guys
__ADS_1
Bye😘***