
...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...
Syahira berjalan dengan lesuh di pinggir jalan sembari menenteng paper bag yang ia ayun - ayunkan disebelah tangan kanannya.
Sesekali kakinya menendang batu krikil yang menghalangi jalannya.
Syahira menghembuskan napasnya kasar, ia begitu lelah hari ini. Begitu banyak peristiwa yang ia alami belakangan ini, Syahira benar - benar sial, nasibnya begitu sangat buruk.
Entah kenapa, dan entah oleh sebab apa, ia selalu tertimpa musibah, perisiwa - peristiwa tak mengenakan silih berganti menghampiri nya.
Dimulai dari di goda preman saat pertama kali naik bus, Sendal hilang, kena tipu saat mencari kos-an, barang - barangnya hilang sampai ia harus menjual perhiasan dan mencari pekerjaan, dimana ujung - ujungnya ia hampir saja dijadikan sebagai wanita penghibur, dan yang terakhir yang lebih parah, yakni ia disangka sebagai gelandangan dan harus ikut di bawa oleh Satpol PP untuk diamankan.
Dan karena itu pula, ia harus menjalani proses yang panjang, ditanya ini itu sampai akhirnya ia diperbolehkan untuk pergi, itu pun waktu sudah menunjukkan sore hari.
Sepertinya alam sedang tidak bersahabat dengannya saat ini, atau mungkin karena tuhan marah karena ia kabur begitu saja dari rumah, bukannya menghadapi masalah, ia malah lari sampai tak tentu arah seperti sekarang dan malah menerima lebih banyak masalah lagi.
Syahira berjalan entah kemana, ia bingung sebab tidak memiliki tempat untuk dituju. Uang?! Ia bahkan sudah tidak memilikinya lagi, uang yang ia punya terakhir kali hanya sepuluh ribu, karena sisanya hilang saat ia dikejar - kejar tadi malam, dan uang itu pun sudah Syahira belikan untuk roti dan minumnya tadi pagi.
" Kruyukkk "
Seakan tidak mengerti dengan keadaan yang ada, perut Syahira berbunyi. Meminta agar si empunya memberi cacing - cacing diperutnya itu makanan, makanan bergizi agar mereka memiliki energi.
" Laper... " batinnya dalam hati, ia memegangi perutnya yang terasa perih.
" Aku harus cari makanan kemana coba? uang tidak punya, bahkan mau minta belas kasihan orang pun gak bisa. "
Syahira bergumam pelan, ia bingung sebab jalan yang ia lalui saat ini adalah jalanan kosong, tidak ada satu orang pun disana yang bisa Syahira mintai tolong.
Syahira pun akhirnya terus berjalan sembari memegangi perutnya yang semakin terasa perih.
Lama sekali ia berjalan tanpa arah sampai - sampai ia tidak sanggup lagi untuk melangkah, kakinya merasa lelah. Syahira berjalan sempoyongan, perutnya semakin terasa sakit dan perih.
Tiba - tiba keringat dingin mulai bercucuran, penglihatan Syahira mulai kabur. Syahira memegangi kepalanya terasa berputar - putar, Syahira merasa sangat pusing.
Meski begitu Syahira tetap memaksakan dirinya untuk terus berjalan dengan tertatih. Ia tidak bisa pingsan disini, apa lagi ditempat ini tidak ada siapa - siapa, ia takut kalau saat dirinya pingsan ada hewan liar yang menerkamnya.
Ya meskipun kemungkinannya kecil tapi bisa jadi kan, apalagi jalan itu kosong dan disisi jalannya pun nampak seperti hutan, sebab hanya dipenuhi oleh pepohonan.
Namun, keinginan hanyalah sebuah keinginan, dan rencana kadang tidak sesuai dengan realita.
Niat hati ingin mencari tempat yang aman untuk beristirahat harus hancur begitu saja karena dirinya sudah tidak kuat lagi untuk berjalan.
Kepalanya semakin pusing, bumi seakan - akan berputar mengelilinginya. Tubuh Syahira ambruk begitu saja, dirinya pingsan karena kelelahan dan kelaparan.
" Neng, kenapa neng? bangun, neng! "
ucap sebuah suara yang Syahira dengar saat kesadarannya belum terenggut semua.
__ADS_1
.............
Syahira mengerjap - ngerjapkan kedua matanya kala sebuah cahaya masuk menembus iris dan menyilaukan retinanya.
Syahira mengucek matanya perlahan, berusaha menyesuaikan cahaya yang ia terima agar penglihatannya tidak terganggu.
Sebuah ruangan tidak terlalu besar dengan dekorasi yang terbilang sudah cukup tua, alias kuno. Beberapa meja dan kursi tertata rapih diruangan itu.
Syahira melihat ke atas, ternyata masih ada lantai dua di tempat itu. Disana pun terlihat sama, Syahira bisa melihat ada meja dan kursi juga yang tertata rapih disana.
" Sepertinya ini sebuah restoran. "
Syahira bergumam dalam hati, ketika tak sengaja melihat tulisan `kasir´ dimeja panjang tak jauh dari pintu masuk.
" Kamu sudah bangun. "
Sebuah suara mengagetkan Syahira, terlihat seorang pria paruh baya, sekitar umur 40 tahunan keluar dari ruangan yang ditutupi tirai.
" Ba-bapak ini siapa? " tanya Syahira terbata, ia beringsut mundur ketakutan.
" Ehh....gak apa - apa dek, kamu gak usah takut, saya gak akan ngapa - ngapain kamu kok. " ucap bapak itu yang sepertinya tahu kalau Syahira merasa takut.
" Tunggu sebentar. " lanjutnya, kemudian kembali masuk ke ruangan yang bertirai tadi.
" Nih, kamu minum dulu. Tadi saya sudah buatin teh manis anget tapi udah dingin lagi, untung aja bapak sudah buat lagi yang baru di dapur barusan. Nih minum. "
Ia merasa ragu, bayangan tentang sepasang suami istri yang awalnya baik, lalu kemudian menipunya itu terus terngiang dibenaknya, membuat Syahira tidak bisa mempercayai bapak di depannya ini begitu saja.
" Ayo dek, diminum dulu, nih. Jangan kebanyakan mikir gitu, lebih baik minum biar lebih baikan. " ucap bapak itu sembari memberikan gelas yang ia pegang ke tangan Syahira karena melihat Syahira yang nampak ragu.
Dengan terpaksa Syahira pun menerima gelas itu, meski awalnya ia menolak sampai air yang ada di dalam gelas sedikit tumpah mengenai bajunya.
Syahira menatap gelas itu menyelidik, sebab takut kalau - kalau bapak itu menambahkan sesuatu kedalamnya.
" Tenang aja, minumannya murni kok gak ada racunnya. " ucap bapak itu tiba - tiba seakan tahu apa yang ada dipikiran Syahira.
Syahira yang mendengar itu hanya bisa tersenyum kikuk.
Syahira meminum teh hangat ditangannya, meskipun masih ragu tapi ia tetap berusaha menghabiskannya, untuk menghormati usaha bapak itu yang telah susah - susah membuatkannya.
" ahhh...alhamdulillah. " Syahira mengucap hamdalah setelah air yang ada digelas itu hilang masuk ke dalam perutnya.
" Gimana? Kamu gak ngerasa pusing atau mual kan setelah minum itu? " tanya bapak itu kepada Syahira, memastikan.
Syahira menjawab dengan gelengan, karena memang benar ia tidak merasakan efek apa pun, yang ada dia malah merasa lebih segar.
" Tuh kan, apa saya bilang. Minuman yang saya buat itu murni, gak ada apa - apanya. Kamu pake ragu gak mau minum tadi. "
__ADS_1
" M-maaf pak hehe... " cicit Syahira meminta maaf dengan senyum malu - malu.
" Iya, tidak apa - apa. Saya bisa mengerti, mana mungkin kamu bisa percaya sama orang yang baru kenal gitu aja, kan. " jawab bapak itu tersenyum ramah kepadanya, yang dibalas senyuman pula oleh Syahira.
" Oh, iya pak. Ngomong - ngomong saya ada dimana? dan kenapa saya ada disini? " tanya Syahira yang merasa heran kenapa tiba - tiba dirinya ada disitu, perasaan tadi dia pingsan dijalan deh.
" Kamu sekarang ada di rumah makan bapak, tadi bapak temuin kamu pingsan didepan. Karena gak tega, jadi bapak bawa masuk aja ke sini. " bapak itu menjelaskan.
" Oh iya, kamu udah makan? kamu pasti laper ya, apalagi kamu pingsan dari sore tadi dan ini udah malem. Tunggu sebentar, saya ambil makanan dulu. "
" Gak usah pak, saya gak laper kok. " ucap Syahira menghentikan langkah bapak itu.
Bohong, Syahira berbohong, karena pada kenyataannya ia sangat kelaparan. Namun ia tidak enak untuk berkata jujur, masa ia dia harus ngerepotin bapak itu terus sih.
" Kamu, yakin gak laper? " tanya bapak itu memastikan.
" Sa.."
`kruyuk...´
Keduanya terdiam sejenak, lalu tak lama kemudian sebuah tawa meledak terdengar. Bapak - bapak itu tertawa renyah saat mendengar bunyi dari perut Syahira.
" Hahaha....aduh, kamu tuh lucu banget sih. Kalau laper ya bilang, gak usah malu - malu. Tunggu ya, bapak angetin dulu makanannya didapur. " ucap bapak - bapak itu merasa lucu dengan tingkah anak yang ia tolong itu.
Syahira hanya tersenyum kikuk, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu.
" ck ck ck, ada - ada aja, hhaha.. " gumam bapak itu terkekeh kecil sembari melangkah menuju ke arah dapur.
" Dasar perut nakal, gak peka banget sih. Pake bunyi segala lagi, kan malu jadinya. "
Syahira memukul perutnya pelan, ia merasa kesal sebab perutnya itu selalu tidak bisa diajak bekerja sama. Dengan tidak tahu malunya malah berbunyi disaat Syahira berusaha untuk menolak tawaran bapak itu.
Aduh.....Syahira, Syahira, udah tahu dirinya belum makan dari siang. Itu tandanya perutnya kosong, dan sudah pasti perutnya akan berbunyi karena kelaparan.
**To be continue**
Gimana - gimana? seru gak nih ceritanya? author lanjut jangan? hihihi....
Semoga kalian menikmati cerita ini ya, jangan lupa untuk tekan like dipojok kiri bawah dan komen sebanyak - banyaknya biar othor semangat buat ngelanjutin nulisnya.
Tambahin cerita ini kedaftar favorite kalian juga ya, supaya dapet notif pas cerita ini up.
Author minta maaf jika karya ini masih banyak kekurangan, maklumlah masih penulis amatiran🙊😅. kalian boleh kok ingetin author, tapi yang baik ya ngomongnya jangan galak - galak nanti author atut lagi hihi...
udah ya, see you next chapter guys
bye bye👋
__ADS_1