SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 5


__ADS_3

Waktu terasa begitu lama syahira lalui hari ini. Berkali - kali ia melihat jam yang melingkar ditangannya, tapi waktu seperti tak menunjukkan pergerakkannya sedikit pun. Pelajaran telah berlangsung sejak dua jam yang lalu dan kini sudah berganti dengan mata pelajaran selanjutnya. Namun, selama itu tak satupun pelajaran yang bisa syahira tangkap diotaknya. Sejak melihat isi dari hp yang disodorkan Nada tadi pagi membuat dirinya tak fokus belajar, ia menjadi gelisah dan khawatir, duduk tenang pun rasanya tak bisa syahira lakukan, ia ingin segera pulang kerumah untuk memastikan. Ia berharap bahwa apa yang dilihatnya tidaklah benar - benar terjadi. Meski ada perubahan tapi syahira yakin bahwa jika seseorang telah berjanji pasti tidak akan pernah diingkari, apalagi jika janji itu diucapkan kepada orang yang disayanginya.



Bel tanda pulang pun berbunyi, syahira yang memang sudah menunggu sejak tadi pun bergegas membereskan tasnya. Ia ingin cepat - cepat pulang supaya apa yang telah dipikirkannya bukanlah suatu hal yang nyata.


" Nad, Bell, aku pulang duluan ya, assalamu'alaikum." Pamit syahira kepada kedua temannya dan langsung berlari keluar kelas.


" Iya Ra, hati - hati Wa'alaikumsalam." Jawab Bella setengah berteriak.


" eh...eh...Ra tunggu dulu...kita ikut," cegah Nada


" eitt...Nad jangan ikut. Kamu tahukan Ara gak suka kalau ada yang tahu tentang masalah keluarganya, apalagi kalo ikut campur dan ada ditempat kejadiannya langsung. Syahira pasti sedih." Ucap Bella sambil menarik tangan Nada yang tadi hendak pergi mengejar syahira.


" Tapikan Bell, aku gak tega kalo liat syahira sedih. Aku cuma mau ngehibur dia kalo misalnya dia nanti udah memastikan kebenarannya secara langsung." Jawab Nada.


" Iya aku ngerti Nad maksud kamu baik, tapi lebih baik kita biarin dulu syahira. Lagian siapa tau vidio yang kamu tunjukin itu salah kan."


" Salah dari mana, orang itu aku dapet dari mamang aku kok."


" ya siapa tahukan, kalau ternyata salah gimana ?,"


" Hmm iya juga sih. Ya udah kalau gitu yuk kita pulang aja." Ajak nada kepada Bella.


" Eh..emmm anu Nad, aku gak bisa pulang bareng kamu." Tolak Bella dengan wajah yang tampak gelisah.


" Kenapa ? "


" Emm...itu..anu...aku ada urusan, ya aku ada urusan. Emm aku mau ke toko buku sama keponakan aku, soalnya udah janji kemarin mau nemenin. Gak apa - apa kan Nad kalau kamu pulang sendiri hari ini? " terang Bella ragu - ragu.


" Oh gitu, oke kalau gitu aku duluan ya Bell, assalamu'alaikum. Have fun ya Bell." Pamit Nada sambil melambaikan tangan ke arah Bell.


' Aneh, kenapa Bella jawabnya ragu - ragu sama gugup gitu ya, kayak lagi ada yang disembunyiin.' Batin Nada ketika beranjak pergi meninggalkan Bella.


......................


Orang bilang luka adalah sesuatu yang menyakitkan. Luka adalah hal yang cukup perih untuk dirasakan. Mungkin luka yang tercipta dari luar masih bisa cepat sembuh dan juga bisa hilang tanpa jejak. Namun, jika luka itu tersayat didalam raga, mana bisa sembuh dengan begitu saja. Apalagi jika yang memberi luka adalah dia yang biasa selalu menghalangi duka dan lara, meski lukanya kian sudah tak kentara tapi akan membekas memenuhi relung jiwa.


__ADS_1


Syahira tak ingin merasakannya, baginya lebih baik mendapatkan seribu tusukan pisau dibanding harus mendapatkan satu luka yang sulit dilihat oleh mata. Rasa takut menghantui setiap langkah yang syahira lalui menuju rumahnya, bayangan tentang hal - hal yang menakutkan terus terngiang dibenaknya.


Penggalan vidio yang ditontonya tadi pun ikut memenuhi pikirannya yang kacau saat ini. Ia tak mau apa yang dilihatnya adalah sebuah kenyataan, karena sulit baginya untuk menerima hal tersebut untuk saat ini dan dengan cara yang seperti itu.


Syahira mempercepat langkahnya menuju rumah, ia bahkan melupakan kakaknya yang akan menjemput dan berencana pergi menuju pemakaman sang ibu. Entahlah karena baginya yang terpenting saat ini adalah mengetahui kebenaran perihal vidio yang diperlihatkan Nada tadi pagi kepadanya.



Dengan napas yang tersenggal - senggal dan keringan yang membanjiri tubuhnya akibat berlari akhirnya syahira sampai dirumahnya.


Terlihat pintu rumah yang terbuka dan sebuah koper besar yang terletak di teras rumah. Syahira tahu betul siapakah pemilik dari koper itu, yakni tiada lain dan tiada bukan adalah ayahnya sendiri.


Merasa penasaran, syahira pun bergegas memasuki rumah. Terlihat Pras dan Unang yang tengah adu mulut. Dan ada pula seorang wanita yang acuh tak acuh berdiri didekat unang, seakan ia tak peduli dengan perdebatan yang terjadi didepannya. Wanita itu terlihat lebih muda dan cantik. Namun, bagi syahira kecantikannya tidak bisa mengalahkan mendiang sang ibu. Syahira tak mengenal wanita yang ada disamping ayahnya itu, hingga tiba - tiba sebuah penggalan vidio berkelebat dibenaknya, dan betapa terkejutnya syahira bahwa ternyata wanita itu sangat mirip, ah tidak tidak, bukan hanya mirip, tapi memang wanita itulah yang ada di vidio yang ditontonya tadi pagi.


" Udahlah mas lebih baik kita pergi saja dari sini, aku udah gak tahan lama - lama disini, sumpek. " rengek wanita yang ada disamping unang itu.


" Kau benar, lebih baik kita pulang kerumah kita. " jawab unang.


" APA? rumah kalian, apa bapak gak malu? Seharusnya itu rumah milik syahira pak, karena bapak membelinya dari uang hasil menjual tanah ibu. Seharusnya bapak gak berhak jual tanah itu karena itu adalah tanah pemberian ibu buat syahira agar syahira bisa melanjutkan sekolahnya, bapak tahu kan kalo ibu sayang banget sama syahira? makanya ibu kasih tanah itu ke syahira supaya dia gak harus susah - susah cari uang buat biayanya kuliah nanti." Ucap Pras penuh emosi.


" Lalu, sekarang dengan tiba - tibanya bapak pulang kerumah membawa wanita ini, wanita ganjen dan matre yang tentunya hanya ingin uangmu saja, dan mengatakan bahwa kalian sudah menikah tanpa sepengetahuan dari kami, disamping itu kalian akan pindah kerumah baru yang ternyata dibeli dari uang yang seharusnya milik syahira. "


' DEG '


Jantung syahira rasanya tiba - tiba berhenti setelah mendengar apa yang dikatakan kakaknya barusan. Sebuah kenyataan yang tak ingin syahira dengar. Bukan perihal tanah yang dijual, melainkan kebenaran bahwa sang bapak kini telah memiliki pedamping hidup yang baru. Berarti vidio mengenai proses akad nikah yang terekam di hp Nada itu benar adanya.



' jadi apa yang ada dividio itu benar. Bahwa bapak sudah menikah lagi, tapi kenapa tidak bilang dulu sama aku dan mas. Dan kenapa bapak menginkari janjinya.' Batin syahira.


Tenggorokan syahira tercekat, tak bisa ia mengeluarkan satu kata pun. Air mata mulai menagalir bersamaan dengan kenangan yang tiba - tiba muncul dibenaknya.


*Flasback on.


Satu tahun yang lalu, disaat libur semester Syahira sekeluarga pergi berlibur kepantai. Ya, Pantai adalah destinasi yang sering keluarga syahira kunjungi disetiap liburannya. Sangat jarang mereka pergi ke taman hiburan atau tempat liburan lainnya. Hingga pada liburan semester kemarin karena penasaran akhirnya syahira memberanikan diri bertanya kepada bapaknya kenapa selalu mengajak kepantai ketika liburan tiba.


" Pak, Ara mau nanya boleh? "


" Boleh dong sayang " jawab unang lembut dengan wajah yang tak luput dari senyuman.

__ADS_1


" Memangnya kamu mau nanya apa hem..? " lanjutnya.


" Pak, kenapa sih kita kalo liburan suka ke pantai? Sekali - kali ketempat lain gitu pak yang lebih indah dan bagus daripada pantai, bosen tau pak."


Unang hanya tersenyum, ia mendekati syahira dan duduk disebelahnya. Dipeluknya syahira dengan sayang dan dikecupnya.


" kamu mau tahu alasannya? " tanya unang dan hanya dijawab anggukkan oleh syahira.


" Jadi kenapa bapak suka sekali ngajak kalian ke pantai itu karena pantai adalah tempat pertama kali bapak bertemu ibu kamu, dan sejak itu pula bapak mulai suka sama ibu. Selain itu, dipantai pulalah awal dimana kami tahu bahwa kamu atau pun masmu, anak yang selalu bapak impikan akhirnya allah kabulkan, karena selalu dipantailah kalian ketahuan sedang hidup didalam rahim ibu kalian. Hahaha....sungguh aneh bukan." Ucapnya yang merasa lucu dan aneh dengan apa yang dialaminya.


" Nah, maka dari itu bapak selalu mengajak kalian kepantai supaya bapak selalu bersyukur kepada allah telah memiliki kalian semua. Terutama karena bapak sangat mencintai ibu kalian makanya bapak ingin selalu mengenangnya dengan liburan ke pantai. Benar begitu bu? " Lanjutnya dan tak lupa melirik sang istri yang kebetulan baru bergabung dengan mereka berdua.


" Iya mungkin sekarang begitu, tapi gak tau nanti kalo ibu udah gak ada mungkin bapak kamu udah cari cinta yang baru kali." Ledek ibu


" Ya ampun sari, ya gak mungkinlah. Kamu kan cinta pertama dan selamanya buat aku. Jadi gak mungkin aku berpaling dari kamu."


" Yang bener nih pak? " tanya saripah.


" Tapi menurut aku sih bapak iya Gak mungkin, tapi gak mungkin kelewat maksudnya hahaha.... " ucap syahira bercanda.


" ehh...kamu ini ya ra. Bapak pikir bakalan ngebela bapak eh nyatanya malah nusuk bapak dari belakang. Huh!!" Kata unang pura - pura kesal.


" Hahaha...iya maaf pak, jadi bener nih bapak gak bakalan berpaling dari ibu? " tanya syahira


" Iyalah gak akan, kamu liat aja nanti, bapak gak bakalan nikah lagi kalau misalnya ibumu udah gak ada."


" Janji ya pak, ada ibunya loh ini."


" Iya bapak janji." Jawab unang penuh keyakinan.


* Flasback off.


" Diam kau! Jangan pernah kau menghina istri baruku, bagaimana pun dia dan seperti apapun sikapnya, kini dia adalah ibumu juga." Sulut unang dengan tangan yang menunjuk pras karena emosi. Dan itu berhasil membuat syahira tersadar dari lamunannya. Kemudian ia menyeka air mata yang membasahi pipinya.


" Haha..Ibu? Sampai kapan pun aku gak akan sudi menyebutnya sebagai ibu, karena dia bukanlah ibuku. Ibuku hanya satu yakni Saripah Widayanto dan dia sudah meninggal seminggu yang lalu." Ucap pras tak kalah meninggikan suaranya.


" Kau..."


" STOP!!!! "

__ADS_1


__ADS_2