SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 31


__ADS_3

Hai hai guys author comeback nih🎉🎉😊


semoga kalian suka ya dengan kembalinya author curat coret lagi disini.


jangan lupa untuk like,komen,vote,dan share ya....


Author tunggu boom komen dari para readers semua😘 dan author tunggu juga kiriman bunga mawarnya🌷😁


happy reading guys.


...****************...


Syahira berjalan menyusuri komplek perumahan menuju rumahnya. Sengaja ia berhenti digang tadi supaya bisa berjalan santai menikmati udara sore sambil mencoba menenangkan pikirannya.


Entah kenapa perkataan Nunik terus terngiang-ngiang dalam benaknya seperti sebuah cd yang terus berputar.


Rasa gundah menyelimuti hatinya, ia merasa khawatir takut-takut apa yang diomongkan Nunik adalah sebuah kenyataan yang harus ia hadapi.


Jika itu benar, apa yang harus ia lakukan??


Dapatkah ia menerimanya??


Bisakah ia percaya?? Bahwa ternyata orang yang selama ini ia anggap ibunya ternyata bukan ibu kandungnya.


Dan apakah sikap bapaknya yang kasar akhir-akhir ini itu karena bapak baru tahu kalau aku ternyata bukan anak kandungnya?


Jika benar begitu akankah semua baik-baik saja dan tidak akan pernah berubah???


Entahlah....yang bisa Syahira lakukan saat ini adalah berusaha untuk tidak menghiraukan segala pikiran yang berkecamuk diotaknya.


' Ra...'


' Hira...'


' Syahira!!!!..."


Sebuah suara memanggil Syahira, ia pun berhenti dan melihat sekeliling.


Tak jauh dari sana, tepatnya disebrang jalan terlihat dua orang wanita setengah baya sedang menatapnya.


" Sini " ucap salah satu ibu-ibu itu sambil melambaikan tangan menyuruh Syahira untuk menghampirinya.


" Assalamu'alaikum. " Salamnya ketika tiba didepan kedua ibu-ibu tadi lalu menyalami mereka berdua.


" Wa'alaikumsalam. " Jawab keduanya serempak.


" Oalah....ini to anaknya, ternyata beneran cantik plus sopan ya. " puji salah satu ibu-ibu yang Syahira tidak kenal siapa.


" Iya benar ini, gimana? Saya gak bohong kan bu, anak ceweknya bu sari emang cwantik tenan. " kata Bu Retno menimpali.


" Terima kasih " Syahira tersenyum manis menjawab pujian yang diajukan kepadanya.


" Oh iya...kalau boleh tahu ada keperluan apa ya bu Retno memanggil Ara? " tanya Syahira kepada Retno.


" Ah iya....ini tadi Bu Sugeng katanya pengen ngeliat kamu, soalnya kalau tiap arisan ibu-ibu yang lain suka ngomongin kamu. " terang Retno.


" Hehe...iya gitu Syahira, habisnya ibu-ibu bilang kamu tuh cantik bwangettt...setara sama model-model diluaran sana jadinya ibu kepo deh. Eh...ternyata emang aslinya cantik malah model diluaran sana aja kalah sama kamu. " seru Bu Sugeng memberi alasan.


" Eh..tapi..tapi..." Lanjutnya dengan menjeda ucapannya membuat Syahira dan Retno dibuat penasaran.

__ADS_1


" Tapi apa to bu? Ngomong kok setengah-setengah. " ucap Bu Retno penasaran.


" Iya nih Syahira juga jadi penasaran. " timpal Syahira kemudian.


" Hahaha....maaf saya gak bermaksud buat bikin kalian penasaran." jawabnya diselingi tawa.


" Saya cuma sedikit heran aja " Lanjutnya.


" Heran kenapa? " tanya Retno tak mengerti.


Syahira hanya mengangguk setuju dengan ucapan yang Retno lontarkan.


" Iya saya heran, saya tahu wajah bapak dan ibu kamu. Saya teman dekat mereka saat sekolah dulu dan saya akui mereka sama-sama cantik dan tampan, tapi menurut saya kecantikan kamu itu beda gak mirip mereka berdua sama sekali...kayak emm...gimana ya ngomongnya..."


" Gimana opo toh, bu sugeng ini suka diempret-empret gitu loh ngomongnya. " Ucap retno yang merasa sedikit kesal akibat sugeng yang kembali menjeda ucapannya.


" Hah...diempret-empret itu apa bu? " tanya Syahira yang tidak mengerti dengan ucapan bu Retno.


" Iya nih bu Retno, sejak kapan bu Retno bisa bahasa sunda bukannya ibu sama suami itu keturunan jawa ya? Apanan diempret-empret mah orang sunda biasana nu nyarios. " timpal Sugeng.


" Ya suka-suka saya dong...wong saya yang ngomong to, wes wes udah ah bu Sugeng gak usah mau tahu saya bisa bahasa sunda dari mana mending jeng ini terusin aja omongan jeng yang kepotong itu jangan bikin saya jadi penasaran dong. " jawab Retno yang malah meminta Sugeng meneruskan ucapannya.


" Dih bu Retno inih ditanya malah bales nyuruh bukannya jawab. "


" Iniloh maksud saya Syahira tuh gak mirip sama kedua orang tuanya malah lebih kayak bertolak belakang gitu jadi kayak kamu tuh bukan anak mereka. " lanjut Sugeng.


'DEG'


Jantung Syahira tiba-tiba berhenti, ia terkejut mendengar penuturan Bu Sugeng. Entah kenapa perkataan Bu Sugeng itu sama persis dengan yang diucapkan Nunik tadi siang.


Retno yang menyadari perubahan wajah Syahira pun segera mengiku lengan Sugeng.


" Hus...ngomong tuh jangan ngawur bu, udah jelas-jelas Ara ini anaknya Bu Sari. Orang pas pulang dari rumah sakitnya aja saya ngeliat kok, jangan ngomong yang enggak-enggak deh. Udah ya Ra kamu gak usah dengerin omongannya Bu sugeng, dia tuh orangnya emang suka ngawur. " ucap Retno menghibur Syahira.


" Ya udah kalau gitu kami pamit ya Ra, oh iya dan ini uang arisannya ibu kamu. Maaf baru sempet ibu kasih sekarang soalnya kemaren ibu masih sibuk. " Pamit Retno sambil menyerahkan amplop putih berisi uang kepada Syahira.


" Eh..loh..loh bu Retno mau ajak saya kemana? Saya kan masih pengen ngobrol sama Syahira. " ucap Sugeng yang masih ingin berbincang dengan Syahira namun tangannya sudah ditarik-tarik oleh Retno.


" Ih kita kan emang masih ada urusan, lupa ya kita kan hari ini mau kepengajian dirumahnya bu Endang. Udah ayo cepet nanti telat malu. " ucap Retno memberi alasan padahal aslinya karena ia takut kalau Sugeng bicara ngelantur kesana kemari, apalagi dia tahu kalau tabiatnya Sugeng itu emang suka ceplas ceplos.


" Tapi itukan masih lam..."


" Ya udah kalau gitu kami duluan ya Ra, assalamu'alaikum. " Kata Retno memotong ucapan Sugeng.


" Wa'alaikumsalam warahmatullah " jawab Syahira dengan wajah yang sendu.


Sepeninggal Bu Retno dan Bu Sugeng Syahira pun melanjutkan perjalanannya. Selangkah demi selangkah berjalan menuju rumahnya dengan pikiran yang berkelana kemana-mana sampai ia tidak menyadari bahwa ada batu dihadapannya.


" Aduh..." rintih Syahira akibat tersandung batu.


Syahira berjongkok ditempat ia terjatuh, diusapnya sedikit luka gores yang ada dikakinya.


Pandangannya terus menatap luka kecil itu, hingga tiba-tiba...


'clik...'


'clik...'


'clik...'

__ADS_1


Air mata jatuh begitu saja membasahi lukanya. Dia menangis bukan karena luka yang ia dapat akibat tersandung batu barusan tapi karena hatinya yang merasa sedikit lelah dengan hidup yang ia jalani akhir-akhir ini dan juga perkataan-perkataan yang menunjukkan bahwa dia bukanlah anak kandung dari wanita yang selama ini merawat dan membesarkannya.


" Sakit banget ya? " ucap sebuah suara.


Mendengar sebuah suara membuat Syahira mendongak kesumber suara itu. Terlihat seorang laki-laki sebayanya tengah menunduk kearah Syahira hingga wajah mereka terlihat dekat sekali.


" Bayu..." gumam Syahira yang masih bisa didengah oleh makhluk yang ada dihadapannya itu.


" Ya ampun Ra...lo nangis?? luka lo beneran sakit banget ya sampe lo nangis-nangis gitu. Makanya Ra kalau jalan tuh hati-hati. " Kata Bayu saat melihat mata Syahira yang merah dan sedikit jejak air mata.


" Hah!!...nangis...hahah...siapa yang nangis sih yu, kamu nih ngaco deh. " dalih Syahira yang langsung mengusap matanya kasar untuk menghilangkan jejak air mata yang tersisa.


" Aku gak bodoh kali Ra...orang mata kamu merah gitu juga. " ucapnya sambil menunjuk mata Syahira.


" Ah...ini cuma kelilipan aja tadi kok makanya merah bukan karena aku abis nangis. " seru Syahira berkilah.


" Tapi... "


" Eh...yu kamu ngapain ada didaerah sini? Rumah kamukan jauh banget dari sini. " potong Syahira mengalihkan pembicaraan.


" Ya yu ya yu nama aku Bayu kali Ra bukan Ayu, bisa gak manggilnga jangan Yu.. Yu.. kesannya ke aku tuh cewek gitu. " ucap Bayu merajuk ketika tersadar panggilan Syahira terhadapnya.


Yah begitulah Bayu sangat tidak suka jika ada yang memanggilnya dengan sebutan yu.


" Hehehe...sorry Yu ups🤭 Bayu maksudnya hihi, habisnya enak aja gitu lebih simpel. "


" Simpel apanya coba, bilang aja kalau kamu suka ngeledekin aku kan. "


" Enggak Bay, kamu nih suka seudzon aja ya."


" Ya habisnya..."


" Udah udah, aku minta maaf sama kamu. Sumpah aku gak pernah bermaksud buat ngeledekin kamu atau apa pun, udah ya lupain aja. Oh iya kamu belum jawab pertanyaan aku, mamu disini lagi ngapain bukannya rumah kamu jauh banget ya dari sini. "


" Iya deh aku maafin, ini loh aku habis dari rumahnya Toni nganterin barang. " jawab Bayu.


Syahira yang mengerti ternyata Bayu pergi kerumah sahabatnya hanya menjawab 'oh' sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


" Kamu sendiri mau kemana? " lanjut Bayu bertanya.


" Sudah pasti mau pulang lah Bay, inikan arah kerumah aku. "


" Mau aku anterin? Biar nanti ada yang megangin kalau mau jatoh. " ucap Bayu menawarkan diri.


" Ih...apa sih Bay, jadi ceritanya kamu bales ngeledek aku gitu. "


Gantian kini Syahira yang merajuk karena merasa diledek oleh Bayu.


" Eh..eh.. enggak gitu Ra, maksud aku bukan gitu. Aku cuma mau nganterin kamu aja kok biar gak sendirian pulangnya, apa lagi ini udah sore takutnya ada bahaya kan. " ucap Bayu menjelaskan.


" Kamu pikir ini dimana, ini kan masih daerah rumah aku lagian rumah aku juga udah deket kok mana mungkin ada bahaya. "


" Ya kita kan gak tahu, yang namanya bahayakan gak ada yang bisa memprediksi mau deket jauh sama aja. Udah yuk aku anterin aja. "


" Gak usah lah Bay, aku pulang sendiri aja lah ya, Assalamu'alaukum. " pamit Syahira sambil berlalu menjauhi Bayu.


" Aku tetep mau nganter kamu titik. " ucap Bayu yang menyusul langkah Syahira.


" Tapi Bay..."

__ADS_1


" Please Ra jangan nolak ya. " pinta Bayu memohon pada Syahira.


Syahira yang melihat Bayu begitu kekeh ingin mengantarkannya akhirnya ia pun mengizinkan Bayu untuk mengantarkannya.


__ADS_2