SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 50


__ADS_3

...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...


" Ternyata bajunya bagus juga. " ucap seorang wanita tersenyum. Ia menatap pantulan dirinya dicermin sambil melenggak - lenggokkan badannya. Wanita itu baru saja selesai mengganti bajunya yang basah tersiram air.


" Bajunya pas. " batinnya bermonolog.


" Kok bisa pas gini ya? gimana dia bisa tahu ukuran bajuku? " ucapnya sambil terus memperhatikan baju yang ia kenakan.


" Ah tahu ah, masa bodo dia tahu dari mana, bisa jadi cuman kebetulan aja kan. " gumam wanita itu sambil mengangkat bahu. Ia menyudahi kegiatannya yang menatap cermin, bajunya yang basah tadi ia masukkan kedalam paper bag kemudian berlalu meninggalkan toilet.


" Hup...haaa...."


Syahira menghirup napas dalam - dalam setelah keluar dari toilet. Saat ini dia berada disebuah taman yang sejuk, yah kebetulan tadi ia melewati taman dan akhirnya mampir untuk mencari kamar mandi.


" Kruyukkk..."


Syahira memegang perutnya yang terasa sakit. Ia sangat lapar, cacing - cacing diperutnya kini tengah berdemo meminta di isi karena memang sudah sejak kemarin malam Syahira belum makan apa - apa sama sekali.


" Aduh...laper banget. Mau makan tapi kan aku gak punya uang. Duh, kenapa sih barang - barangku harus dicuri kemarin. "


Syahira akhirnya memutuskan untuk pergi. Perlahan-lahan ia mulai menjauh tempatnya tadi sambil memegang perutnya yang kelaparan.


Syahira berjalan tak tentu arah sampai lah ia tiba di area luar taman. Semilir bau harum menusuk indra penciumannya membuat Syahira yang tengah kelaparan pun semakin menjadi - jadi.


" Harum banget..." gumamnya ketika mencium bau harum dari daging yang di bakar.


Syahira menelan ludahnya kala melihat orang - orang yang melahap makanannya. Mereka tampak menikmati apa yang mereka makan sampai membuat Syahira tergiur dan hampir meneteskan air liurnya.


" Kayaknya enak banget deh, apa aku minta aja ya? kali aja ada orang baik yang mau ngasih. " batinnya dalam hati mengintruksikan agar Syahira meminta makanan.


" Astagfirullah!....sadar Syahira sadar! Ingat!!tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah. " ucap Syahira menggeleng - gelengkan kepalanya tersadar akan apa yang baru saja terbersit dipikirannya.


" Aku harus cepet - cepet pergi, bisa gak beres kalau aku terus - terusan ada disini. "


Syahira berjalan pergi meninggalkan area taman. Ia takut tidak bisa mengendalikan nafsunya makanya ia pergi, berusaha untuk menjauhi jejeran para pedagang makanan itu. Yah meskipun sesekali ia masih menengok ke arah sana disebabkan karena insting perutnya.


..............


" Gak bisa lebih lagi ci? "


" Maaf ini sudah penawaran dari saya yang terakhir. Ini pun sudah terbilang lebih dari yang seharusnya, saya tidak bisa memberikan harga lebih lagi. "


" Ayolah ci, biasanya juga gak segitu. " bujuk seorang wanita muda. Ia tengah menego harga barang yang ia jual.


" Iya memang biasanya kalau orang pada ngejual saya gak kasih segitu, tapi kan mereka bawa surat - suratnya sedangkan kamu bahkan tidak membawa suratnya sama sekali, jadi harganya pun berbeda. "


" Sekarang terserah kamu, kalau kamu mau jadi jual emas kamu ya saya cuman bisa ngasih harga segitu, tapi kalau gak mau juga tidak apa - apa. "


Wanita itu berpikir keras, antara iya dan tidak menjual emas yang ia punya. Kalau tidak, maka ia akan kelaparan tapi kalau iya maka wanita itu harus merelakan cincin kesayangannya dan setuju dengan hanya mendapatkan setengah dari harga aslinya.


" Baiklah saya setuju, saya akan menjual cincin saya. " jawab Syahira dengan keputusan akhirnya.


Ya, Syahira adalah wanita muda yang sejak tadi menego harga dengan penjual emas. Ia memutuskan untuk menjual perhiasannya setelah tadi ia tak sengaja terjatuh dan melihat sebuah cincin yang melingkar dijarinya.

__ADS_1


Tidak rela memang, apalagi itu cincin pemberian ibunya. Tapi apalah mau dikata, karena perut Syahira yang sudah tidak lagi bisa tertahan akhirnya ia memutuskan untuk menjual cincin itu.


" Baiklah, ini uangnya. " ucap penjual emas itu sambil menyodorkan lima lembar uang seratusan.


" Iya, terima kasih. " Syahira mengambil uang itu kemudian pergi meninggalkan toko emas itu.


" Yah setidaknya aku bisa makan. " gumam Syahira sambil melihat uangnya.


" Aduh..."


Sebuah rintihan mengalihkan Syahira. Ia melihat ke sumber suara. Seorang kakek tengah terduduk di pinggir jalan dengan barang - barang yang berserakan didekatnya.


Syahira memasukan uangnya kedalam paper bag dan bergegas menghampiri kakek itu, kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh.


" Kakek gak apa - apa? " tanya Syahira ketika tiba dihadapan si kakek.


" Kakek gak apa - apa cu. "


Dengan perlahan Syahira membantu kakek itu untuk berdiri. Kemudian satu persatu ia memunguti barang si kakek.


" Udah cu gak usah, biar kakek aja. " ucap kakek itu saat melihat Syahira membantunya memunguti barang.


" Gak apa - apa kek, kakek lebih baik tunggu aja. Jangan banyak bergerak, pinggang kakek sakit kan? biar Ara saja. "


Syahira menyuruh kakek itu untuk diam karena tidak tega melihat jika harus melihat kakek itu kesusahan mengumpulkan barang, apalagi Syahira juga melihat kalau kakek itu terus saja memegangi pinggangnya.


" Alhamdulillah selesai juga. "


" Oh ya, kakek mau pergi kemana? ayo biar Ara anter. " ucap Syahira menawarkan diri.


" Dengan senang hati dong kek, ayo! "


Syahira memapah kakek itu perlahan menyebrangi jalan. Dengan hati - hati akhirnya Syahira berhasil membawa kakek itu dengan aman.


" Nah, ini kek barangnya. Hati - hati ya kek, jangan sampai terjatuh lagi. " ucap Syahira setelah membantu kakek itu masuk ke dalam taxi.


" Iya, terima kasih ya manis udah mau bantuin kakek. "


" Iya kek sama - sama. " jawab Syahira sambil tersenyum.


" Kalau gitu kakek pamit ya, kamu juga hati - hati. Semoga nanti kita bisa ketemu lagi, assalamu´alaikum. " pamit kakek itu.


" Siap kek, wa´alaikumsalam. "


Taxi itu perlahan mulai menjauh dan Syahira pun ikut pergi juga dari sana untuk mencari makan karena perutnya sudah kembali bersuara.


...................


Syahira berhenti disebuah kedai yang bertuliskan MIE AYAM BAKSO. Ia duduk disebuah meja dibawah pohon rindang setelah tadi sudah memesan seporsi mie ayam bakso plus es teh manis.


Tak lama pesanannya datang. Membuat mata Syahira berbinar bahagia karena sebentar lagi cacing - cacing diperutnya ini akan berhenti demo.


" Ini neng pesenannya. "

__ADS_1


" Iya pak, terima kasih. "


Pertama - tama Syahira menyeruput minumannya untuk membasahi tenggorokannya, lalu mulai meracik bumbu untuk melengkapi mie ayamnya.


" Emmm...makan mie ayam itu emang the best. " ucap Syahira setelah memakan sesuap mie ayam.


" Ehh...sana pergi, ganggu banget sih. Bikin orang gak nafsu makan aja. "


Syahira melihat seorang bapak - bapak dimeja yang tak jauh darinya, ia tengah mengusir anak kecil yang sepertinya seorang pengemis, terlihat dari bajunya yang terlihat kotor dan sudah usang.


Anak itu perlahan mulai menjauh dari meja itu dan malah mendekati meja Syahira. Namun, anak itu tak berani mendekat, ia takut diusir lagi seperti tadi jadi akhirnya ia memilih untuk berdiri sedikit jauh dan hanya menatap Syahira yang sedang asik makan.


Tak sengaja tatapan Syahira bertemu dengan bocah pengemis itu. Awalnya Syahira ingin mengabaikannya. Ia berpura - pura tidak melihat bocah itu. Namun, nalurinya berkata lain, ia tidak tega saat melihat bocah pengemis itu menampilkan puppy eyes nya, memohon agar Syahira bersedia berbagi makan dengannya.


" Dek, sini! "


Syahira memanggil bocah itu. Dengan gembira bocah itu menghampiri Syahira.


" Kamu laper? Kamu belum makan? " tanya Syahira dan hanya dijawab anggukan oleh bocah itu.


" Ya sudah, sana pesen. " perintah Syahira.


Namun, bukannya pergi memesan bocah itu masih tetap berdiri didekat meja Syahira.


" Ada apa? " tanya Syahira pada bocah itu karena terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi sepertinya takut.


" Anu kak...emmm saya boleh ajak temen saya juga gak? soalnya temen saya juga sama, belum makan dari kemarin. " ucap bocah itu hati - hati takut Syahira tidak setuju dengan permintaannya.


" Tapi kalau gak boleh juga gak apa - apa kok kak. " lanjutnya.


" Kasihan sekali, masih kecil tapi sudah mengalami nasib yang seperti ini. " batin Syahira kasihan melihat bocah itu.


" Ya sudah, kamu boleh kok ajak temen kamu juga. "


" Beneran kak?! " tanya bocah itu tak menyangka dengan jawaban Syahira.


" Iya. "


" Kalau gitu saya panggil temen saya dulu ya kak. " ucap bocah itu, dengan bahagia ia pun pergi untuk mengajak temannya.


Syahira tersenyum melihat bocah itu. Kemudian ia pun kembali melanjutkan memakan makanannya.


" Kak, kami beneran boleh pesen kan? "


Bocah pengemis itu bertanya ketika ia sudah kembali dan mengajak temannya. Syahira yang sejak tadi menunduk menikmati makanannya pun perlahan mengankat kepalanya.


" Iya bole....uhuk..uhuk..."


**To be continue**


Gimana seru gak nih part ini? jangan lupa komen ya👌


Author tunggu like dari reader semua, jangan lupa juga untuk vote dan share sebanyak - banyaknya. Terus follow akun author yuk @cumicookie.

__ADS_1


See you next chapther


bye bye👋😘


__ADS_2