
...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...
Syahira berjalan dengan lesu keluar dari dalam rumah makan. Ia berjalan menjauh, sesekali kepalanya menengok ke arah rumah makan itu.
Syahira berhenti, ia duduk disebuah kursi di pinggir jalan. Ia bingung harus pergi kemana, rumah tidak punya, dan bahkan pekerjaan pun tidak ia dapatkan.
Syahira menyenderkan kepalanya ke belakang, kedua matanya pun terpejam. Ia memijat pelan kepalanya yang sedikit pusing, pikirannya berkecamuk.
" Haahh.....ternyata nyari kerja itu susah. " Syahira menghela napas, kedua tangannya memegang kepalanya yang menunduk.
" Adek, adek lagi cari kerja ya? "
Seorang wanita tiba - tiba berbicara. Syahira yang sedari tadi melamun pun menggeser duduknya karena terkejut.
Seorang wanita dan laki - laki yang sepertinya adalah pasangan itu berdiri dihadapan Syahira.
" Kamu lagi cari kerjaan ya dek? " tanya wanita itu pada Syahira ramah. Sedangkan suaminya pamit untuk menjawab telepon.
" i..iya, kok ibu bisa tahu? " tanya Syahira sedikit ragu. Bagaimana bisa wanita itu tahu kalau Syahira sedang mencari pekerjaan.
" Oh, itu. Tadi, saya denger kalau adek lagi cari kerja. Gimana, dapet gak dek kerjaannya? " ucap ibu itu.
Syahira hanya mengeleng pelan untuk menjawab pertanyaan, sebab memang sudah sejak tadi ia masih saja belum mendapatkan pekerjaan.
Ibu - ibu itu tiba - tiba tersenyum, matanya bersinar seakan - akan telah menemukan sebuah berlian.
" Kamu udah lulus sekolah, dek? dan kamu masih perawan kan? Kamu, juga bisa dandan kan? " tanya ibu itu kepada Syahira.
Meski sedikit takut, tapi entah kenapa kepala Syahira tetap saja mengangguk. Ia mengiyakan setiap pertanyaan yang diajukan oleh wanita dihadapannya.
" Ehh..bentar deh, kenapa ibu itu tiba - tiba menanyakan pertanyaan itu, dan kenapa pula dia nanya aku perawan atau enggak ya? " batin Syahira yang merasa ada yang janggal.
" Kenapa ibu tanya - tanya saya perawan atau enggak, apa hubungannya? " ucap Syahira menanyakan langsung kejanggalan yang ia rasakan.
" Ah..oh..emmm itu, jadi gini dek. Saya itu punya sebuah tempat makan, sejenis restoran atau cafe gitu lah. Nah, saya sedang membutuhkan orang. Rencananya saya ingin merekrut adek untuk bekerja di tempat makan saya gimana? kamu mau, kerja di tempat saya? " dengan sedikit gelagapan ibu itu menjawab pertanyaan Syahira.
" Apa?!! kerjaan?!! ibu mau nawarin saya kerjaan? " tanya Syahira sedikit berteriak diawal, ia tidak menyangka bahwa ibu itu akan menawarinya sebuah pekerjaan.
__ADS_1
Ibu itu mengangguk sambil memegang kedua telinganya yang terasa sakit saat mendengar teriakan Syahira.
" Tapi, apa hubungannya ibu nawarin saya kerjaan sama pertanyaan ibu tadi? " tanya Syahira masih belum percaya sepenuhnya dengan ibu - ibu itu.
" Oh, itu. Ya iyalah itu ada hubungannya, soalnya kalau enggak gitu cintra rumah makan saya bisa buruk. Coba kamu bayangin, kalau misalnya para pelanggan saya tahu soal itu, bisa berabe. Apa lagi kamu tahu sendiri kan pelanggan jaman sekarang, sukanya sama pelayan yang cantik, baik dan menarik. " ucap ibu itu menjelaskan.
Syahira mengangguk - anggukan kepalanya, berusaha untuk mencerna semua perkataan wanita didepannya.
" Jadi, gimana dek? adeknya mau kerja sama saya? " tanya si ibu memastikan.
" Baiklah, saya mau. " putus Syahira pada akhirnya. Sebenarnya Syahira belum yakin sepenuhnya, hanya saja ini adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan ia harus bingung mencari pekerjaan seperti tadi.
" Oke "
" Oh ya, ngomong - ngomong saya bisa minta nomber hp kamu? atau mungkin alamat rumah? " ucap wanita itu lanjut bertanya.
" Saya tidak punya rumah, dan kebetulan hp saya baru hilang kemarin. "
" Bagus. " gumam wanita itu pelan.
" Ah..itu, maksud saya bagus, bagus kalau kamu gak punya rumah jadi kamu bisa tinggal dirumah saya. Kebetulan dirumah saya juga masih ada kamar kosong, gimana, mau? "
" Beneran bu? Ibu ngizinin saya tinggal dirumah ibu? " tanya Syahira bersemangat.
Syahira tidak menyangka bahwa dirinya bisa bertemu dengan orang yang baik, yang bisa memberinya pekerjaan sekaligus mengizinkan Syahira untuk tinggal dirumahnya.
" Iya, bener. Kalau gitu, ayo kamu ikut saya ke mobil. Kita akan pulang dulu sebelum nanti malam kamu mulai bekerja. " ajak ibu itu kepada Syahira.
Tanpa pikir panjang Syahira pun langsung mengikuti ibu itu, ia bahkan tidak menyimak perkataan ibu itu dengan baik.
" Mas, ayo pulang. " teriak wanita itu kepada suaminya. Dengan cepat laki - laki itu mematikan teleponnya dan pergi menyusul istrinya masuk kedalam mobil.
.................
Roda mobil berhenti berputar, tepat didepan sebuah rumah berwarna hijau telur asin. Rumah bergaya minimalis dengan bentuk liter L itu terlihat sangat bersih dan nyaman untuk ditinggali.
Syahira turun dari mobil, kemudian diikuti oleh sepasang suami istri itu.
__ADS_1
" Ayo kita masuk. " ajak ibu itu kepada Syahira.
" Iya, mari dek masuk. " ucap bapak itu pula mempersilahkan.
Syahira yang diajak pun hanya menurut, ia berjalan pelan mengikuti pasangan itu untuk masuk ke dalam rumah.
" Nah, ini kamar kamu. "
Wanita itu membawa Syahira kesebuah kamar. Kamar yang sederhana dan cukup bersih, sepertinya sepasang suami istri itu orang yang rajin, buktinya setiap sudut dari rumah itu tertata sangat rapih dan bersih.
" Ini beneran kamar untuk saya, bu? " tanya Syahira karena merasa cukup terkejut, ia tidak menyangka akan diberikan kamar yang ya meskipun sederhana tapi ukurannya cukup luas, bahkan sedikit melebihi ukuran kamar Syahira yang dulu.
" Ya, iyalah. Ini kamar untuk kamu, kalau bukan untuk siapa lagi coba. Lagi pula saya kan harus memperlakukan pegawai saya dengan baik, supaya nanti kerja kamu juga baik dan pelanggan saya pun senang. " katanya menjawab.
" Sekarang lebih baik kamu istirahat, saya keluar dulu. " lanjutnya menyuruh Syahira untuk istirahat.
" Baik, terima kasih sebelumnya. " Syahira menjawab dengan senyuman.
" Oh iya, jangan lupa kamu pake masker yang ada di atas meja ya, biar kamu keliatan lebih fress. Tenang, itu masker bagus kok jadi kamu gak perlu takut kenapa - kenapa pas pakenya. " ucap ibu itu diambang pintu.
Mendengar perkataan ibu itu Syahira pun langsung melihat ke arah meja, dan ternyata benar, sudah ada jejeran masker dan bahkan rangkaian skincare terpajang rapih disana. Dan ibu itu benar, bahwa produk ini pasti aman sebab Syahira tahu beberapa dari merek skincare itu, bahkan disana ada pula skincare yang harganya mahal.
" Kok ibu itu bisa baik banget gini sih, padahal kan kita baru ketemu. " gumam Syahira merasa aneh dengan sikap ibu itu.
" Ahh...entahlah, aku gak tahu. Mungkin ibu itu memang gitu, selalu baik bahkan sama orang yang baru kenal. Iya, aku yakin pasti begitu. " ucap Syahira berusaha menghilangkan pikiran negatifnya.
" Ibu itu benar, mending aku maskeran aja biar wajah aku sedikit fress dari pada mikirin yang enggak - enggak kan. Kebetulan udah lama banget aku gak pernah lagi ngerawat wajah. "
Syahira mengambil sebuah masker, lalu memakainya dan kemudian ia pun berbaring di atas kasur untuk beristirahat.
**To be continue**
Jangan lupa untuk terus dukung karya ini dengan cara like, share, vote dan komen sebanyak - banyaknya. Dan jangan lupa masukin ke daftar favorite ya biar kalian dapet notif kalau cerita ini up.
see you next chapter guys
bye bye👋👋😘
__ADS_1