SKENARIO DARI TUHAN

SKENARIO DARI TUHAN
Part 60


__ADS_3

Hai - hai author kembali...


Ada yang kangen gak nih sama cerita ini?


Maaf ya baru bisa up jam segini, maklum authornya lagi sibuk. Semoga kalian gak jenuh kelamaan nunggu ya.


Semoga Part ini bisa ngobatin rasa kangen kalian sama cerita ini. Udah ya, selamat membaca.


...🌸🌸Happy Reading Guys🌸🌸...


" Total semuanya jadi 127 ribu, Pak. " ucap seorang wanita kepada Bapak didepannya.


Bapak itu pun menyerahkan selembar uang ratusan dan selembar lagi uang lima puluh ribuan.


" Uangnya 150 ribu, jadi kembaliannya 23 ribu ya, Pak. Ini, terima kasih dan jangan lupa nanti mampir lagi ya, Pak, Bu. " lagi wanita itu berucap sembari memberikan kembalian kepada keluaga kecil, pelanggan terakhirnya itu.


" Huh....! " hembusan napas panjang terdengar dari arah samping tempat kasir.


Wanita yang baru saja melayani pelanggan terakhir itu pun menengok ke arah samping, terlihat sahabat barunya itu nampak tidak begitu bersemangat, bahkan ia sampai menaruh kepalanya di atas meja.


" Ada apa sih, Ras? Kok ngehela gitu sih. " tanya Syahira, gadis yang sejak tadi menjaga kasir itu kepada sahabatnya.


" Ya, habis aku bosen Syah. Dari pagi kita jaga, tapi yang dateng cuma sedikit. Bahkan gak lebih dari 20 orang. " katanya menjawab masih dengan posisi yang sama, kepala di atas meja. Hanya saja sekarang berganti arah menjadi ke sebelah kanan manghadap Syahira.


" Hari ini mending kali Ras, bisa nyampe lah itu tadi 20 orang. Gak kayak dua hari kemaren, yang dateng kesini cuma satu atau dua orang doang. " ucap Syahira memberi perbandingan.


Ya, memang betul. Hari ini adalah hari ketiga Syahira bekerja di rumah makan itu dari sejak pertama kali ia diterima.


Dan anehnya rumah makan itu jarang sekali kedatangan pelanggan. Selama tiga hari Syahira bekerja, baru hari ini tempat itu sedikit ramai tidak sepi seperti dua hari terakhir.


Padahal setahu Syahira makanan ditempat itu enak - enak, dan untuk tempat pun lumayan cukup strategis lah sebab tempatnya ada dipinggir jalan. Ya, meskipun termasuk jalan kecil dan tidak sama seperti jalan raya utama, tapi lumayan cukup banyak kendaraan yang berlalu lalang lewat di sana.


" Iya sih, tapi kalau keterusan begini, bisa aja lama - lama gak akan ada lagi orang yang dateng. Terus rumah makan ini bakalan tutup karena bangkrut dan kita bakalan didepak, gak bisa lagi kerja disini. "


" Hus! kamu tuh ya Ras, ngomongnya suka sembarangan. Kalau Pak Udin denger gimana? bisa tersinggung nanti. Udah kita positif thinking aja, jangan mikir macem - macem. " tegur Syahira kepada Laras, sahabatnya.


Ia tidak habis pikir kenapa sahabatnya itu malah berpikir yang enggak - enggak bukannya ngomong tuh yang baik - baik biar hasilnya baik, ini malah pesimis.


" Iya - iya, maaf. "


" Ya udah, mending sekarang kita beres - beres aja. Ini udah sore, bentar lagi kan mau tutup. Ayo, cepetan dari pada lemes kayak gitu. " ucap Syahira karena memang hari sudah mulai petang, semburat senja sudah datang dan itu artinya sebentar lagi tempat itu harus segera tutup.


" Haa...gak mau ah males. " ucap Laras yang enggan melakukan apa yang dikatakan Syahira.


" Ihh...ayo! cepetan, tadi katanya bosen. Ya kalau bosen ayo bantuin beres - beres biar cepet selesai. " ajak Syahira lagi sedikit memaksa sembari menarik tangan Laras supaya tidak terus - terusan berdiam disana, seperti koala saja yang terus - terusan diam tidak mau bergerak.


Mau tak mau Laras pun menurut meski dengan ogah - ogahan.


" Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. " ucap Syahira setelah meletakan kursi terakhir diatas meja.

__ADS_1


" Huh...huh...cape. " keluh Laras sembari mengipas - ngipasi dirinya dengan tangan.


" Wah, kalian udah selesai beres - beres ya. " kata Pak Udin yang tiba - tiba muncul dari arah dapur.


" Ah, iya Pak, alhamdulillah. " jawab Syahira.


" Kalau gitu, ayo ke belakang, kita makan. Kebetulan pas pesenan terakhir barusan Bapak masaknya banyak jadi udah sisain buat kalian. " ucap Pak Udin mengajak Syahira dan Laras untuk makan.


" Oke, Pak. "


" Asik!! Makan, tahu aja nih Pak Bos kalau karyawannya udah pada kelaperan. " sorak Laras kegirangan saat bosnya itu mengajak mereka untuk makan.


" Laras - Laras, kalau soal makanan aja ijo. Coba kalau disuruh kerja bawaannya males mulu kamu, Ras. Heran saya jadinya. " Pak Udin menggeleng - gelengkan kepalanya heran.


" Ya sudah, ayo cepet pada kebelakang. " lanjutnya menyuruh dua karyawannya itu untuk segera makan.


" Ya elah, Pak. Itu kan beda judul ceritanya. Kerja ya kerja, kalau soal makanan sih ya gimana. Namanya juga perut kan gak bisa kita atur buat laper atau enggak. " ucap Laras menimpali.


" Ya iya deh, terserah kamu. Tapi lain kali usahain kerja juga harus gesit, jangan soal makan aja yang langsung sat set. "


" Oke! pak, akan Laras usahakan. " jawabnya yang pada kenyataannya ia pun tidak tahu itu bisa terwujud atau tidak.


" Sekarang lebih baik kita segera ke belakang, kita makan. Laras udah gak tahan, udah laper banget ini pengen makan. "


" Ya, ayo! lagian siapa yang ngalangin kamu buat makan coba. "


" Ya, Bapak lah. Siapa lagi coba. " ucap Laras kepada Bos nya itu.


" Barusan! bahkan dari tadi bapak udah ngalangin saya. Pak Bos terus - terusan ngajakin saya ngomong, dan gak ngebiarin saya untuk pergi makan. " jawab Laras sedikit kesal karena bosnya itu terus saja bicara. Padahal perut Laras sudah teriak - teriak minta diisi.


" Ya ampun, Ras. Ya, itu karena kamu juga kali. Kan kamu juga terus ngejawab pas saya ngomong dari tadi. Kamu gak ngerasa ya. " ucap Pak Udin tak mau disalahkan sendiri.


" Tuh kan apa saya bilang, Bapak ngajak saya bicara lagi. Kalau gini terus kapan kita makannya coba. " Keluhnya ketika Udin kembali berbicara.


" Oke! Oke! saya gak akan bicara lagi. Kalau gitu ayo cepetan ke belakang kalau udah laper. " ucap Pak Udin yang akhirnya mengalah.


" Nah gitu dong, Pak. " seru Laras merasa puas.


" Yuk Syah, kita makan. " lanjutnya mengajak Syahira untuk pergi makan.


" Kamu duluan aja deh Ras ke sananya. Aku mau mandi dulu bentar, gak enak nih badan udah lengket - lengket rasanya. " ucap Syahira menyuruh sahabatnya itu untuk pergi terlebih dahulu.


" Oke! kalau gitu aku duluan ya, jangan lama - lama loh mandinya. Kalau lama nanti aku habisin baru tahu rasa. "


" Iya - iya...bawel ih. Udah sana pergi, katanya laper kan. "


Syahira mendorong punggung Laras pelan, menyuruhnya untuk segera pergi. Laras yang memang sudah merasa sangat lapar itu pun dengan senang hati berjalan ke arah belakang, sedangkan Syahira berjalan menuju ke lantai atas untuk mengambil handuknya karena dia akan mandi terlebih dahulu.


.........

__ADS_1


" Uhh...seger banget deh rasanya kalau udah mandi. "


Syahira bergumam selepas mandi. Ia merasa sangat segar karena badannya sudah bersih dan wangi.


Kini ia sedang berjalan menuju ke belakang restoran. Tempat dimana Laras dan Pak Udin, bosnya itu tengah menunggunya untuk makan bersama.


" Lah! Ras, kok cuman kamu doang disini. Pak Udinnya kemana? " tanya Syahira ketika tiba disana dan hanya menemukan Laras saja, sedangkan bosnya tidak terlihat.


" Oh...itu, si bos pamit duluan tadi. Soalnya tadi ditelpon, katanya istrinya udah masak dirumah jadi harus langsung pulang. Kalau enggak bisa berabe soalnya istrinya itu agak galak, suka marah - marah gitu. "


" Oh.... "


Syahira mengangguk - angguk mendengar jawaban dari Laras. Kemudian ia pun menghampiri Laras dan duduk di bale tempat biasa mereka makan.


" Loh! kok masih utuh, kamu belum makan Ras? katanya laper. "


Syahira tekejut saat melihat semua makanan masih tertata rapih dan masih belum tersentuh sedikit pun.


" Ya belumlah, aku nungguin kamu dulu. Gak enak tahu kalau makan sendirian tuh. "


" Ayo cepetan kita mulai aja makannya. " lanjutnya yang sudah sangat kelaparan.


" Iya - iya, sabar kali. Ini juga kan mau mulai. " ucap Syahira, kemudian mulai menyendokkan nasi untuk dirinya dan juga Laras.


Laras memakan makanannya dengan lahap, kebetulan sekali menu makanan hari ini adalah makanan kesukaannya. Begitu pula dengan Syahira, ia sangat menikmati makanan yang dibuat oleh Pak Udin.


Entah kenapa makanan yang dibuat bosnya itu selalu enak. Seperti cumi krispy saus padang yang ia buat sebagai lauk makan mereka kali ini, rasanya benar - benar enak menurut Syahira. Padahal Syahira tipikal orang yang tidak terlalu suka seafood tapi semenjak mencoba masakan Pak Udin ia jadi sangat menyukai seafood.


" Oh ya, Ras. Emangnya sejak kapan sih rumah makan ini jadi sedikit sekali pengunjung? bukannya kamu bilang dulu selalu ramai ya. " tanya Syahira sedikit penasaran.


Soalnya aneh aja kan kalau dulu tempat ini ramai, sedangkan sekarang tidak. Apa lagi makanan ditempat ini hampir semuanya enak - enak menurut Syahira.


" Sejak dua bulan yang lalu sih, tepatnya sejak ada restoran baru diperempatan depan. " jawab Laras sembari sibuk melahap makanannya.


" Restoran baru? "


" Iya, resto baru yang semacam cafe gitulah kalo kata orang - orang mah. Kemungkinan sih makanannya enak jadi karena itu mereka lebih milih kesana dibanding ke tempat yang udah terkenal tua kayak ini. " ucap Laras menjelaskan.


" Masa iya sih cuma gara - gara makanan aja. Kalau soal makanan sih, disini jauh lebih enak - enak dibanding rumah makan yang pernah aku kunjungi dulu. Pasti bukan cuma karena itu. " gumam Syahira dalam hati sembari melihat rumah makan tempat ia bekerja.


" Udah - udah, jangan kebanyakan mikir. Ayo cepetan habisin makanannya, keburu magrib loh entar. " tegur Laras saat melihat temannya itu malah termenung, bukannya makan.


" Iya, ini juga aku makan. Bawel deh. " ucap Syahira kemudian melanjutkan makannya.


Mereka pun makan dengan damai sembari menikmati sejuknya angin yang berhembus sore itu.


**To be continue**


Jangan lupa untuk terus dukung karya ini dengan cara like, share, vote dan komen sebanyak - banyaknya. Dan jangan lupa masukin ke daftar favorite ya biar kalian dapet notif kalau cerita ini up.

__ADS_1


see you next chapter guys


bye bye👋👋


__ADS_2