Soul Devourer System

Soul Devourer System
Chapter 52 - Pendekar Pedang Tingkat Atas


__ADS_3

Setelah makan, Shin memeriksa isi cincin penyimpanannya kalau ia masih memiliki daging kering Shin akan melanjutkan memahami isi aturan yang ada di batu prasasti yang satunya.


Ketika ia membuka cincin penyimpanannya, Shin melihat ada berbagai macam isi di dalamnya yang adalah bekas barang jarahan yang ia ambil sebelumnya.


Ada banyak senjata, beberapa obat yang ia beli di toko seorang Apoteker, dan ada sekumpulan cincin penyimpanan yang masih belum Shin periksa. Ketika melihat ada beberapa bungkus sisa daging kering, ia merasa akan melanjutkan berlatih disini.


"Aku harap dalam sisa waktu ini aku dapat memahami 100 aturan pedang yang ada di dalam batu prasasti kedua ini." gumam Shin sambil memegang dagunya dan menatap batu prasasti kedua.


Alasan mengapa Shin tidak memeriksa sekumpulan cincin penyimpanan yang ia dapatkan dari jarahan sebelumnya, karena bukan berarti Shin tidak ingin memeriksanya, namun ia lebih memfokuskan diri pada latihannya daripada memeriksa cincin penyimpanan. Shin tidak tertarik pada kekayaan.


Setelah berpikir sejenak, Shin berbicara kepada sistem.


"Sistem, apakah kau bisa membangunkan ku ketika aku berada dalam kondisi pencerahan?" tanya Shin.


[Bisa, ini adalah hal mudah bagi saya untuk membangunkan anda ketika dalam kondisi pencerahan.]


Mendengar jawaban dari sistem, Shin mengangguk dan bertanya, "Jika aku memasuki kondisi pencerahan kembali, bisakah kau membangunkan ku 10 hari dari sekarang?"


[Ya, jika itu yang anda inginkan, saya akan membangunkan anda ketika hari ke-10 nanti.]


Setelah mendengar ini, Shin menutup matanya dan melanjutkan memasukkan energi spiritualnya kedalam batu prasasti yang kedua.


Pada saat yang sama di ruang pelatihan rahasia utama dalam Klan Pedang.


Ada dua orang yang salah satunya sedang duduk sambil menatap lukisan besar di depannya, dan satunya lagi terlihat sedang mengawasi.


Mereka adalah Elisa dan Tetua Ardan.


"Tetua Ardan, aku mendapatkan berita Shin yang saat ini sedang berada di lantai 3 Menara Pelatihan Pedang. Bagaimana pendapatmu tentang ini?" ujar Elisa yang saat ini sedang duduk sila sambil menatap ke arah sebuah lukisan besar di depannya.


Tetua Ardan yang saat ini sedang mengawasi Elisa mendengarnya ia menghela nafasnya dan berkata, "Yah … tampaknya pendapatku tentang pemuda bernama Shin itu salah, aku tidak menyangka kalau pemuda Shin itu telah meningkat dengan kecepatan yang berbeda dari orang biasa." jawabnya sambil menatap Elisa.


Menurut Tetua Ardan sebelumnya, ia melihat Shin hanya seperti orang pejuang biasa pada umumnya, namun ketika ia mendengar berita tentang Shin saat ini berada di lantai 3 Menara Pelatihan Pedang, ia tentu saja terkejut mendengarnya.


Elisa yang saat ini mendengar kata-kata yang diucapkan Tetua Ardan, ia tersenyum dan melirik Tetua Ardan dan berkata, "Inilah alasan mengapa aku membawanya ke Klan Pedang dan mengundangnya, aku memiliki firasat tertentu terhadap Shin ini. Dan ketika melihat perkembangan Shin saat ini, aku merasa firasatku adalah benar." ujar Elisa.


"Sepertinya insting yang dikatakan olehmu sebelumnya adalah benar …" jawab Tetua Ardan tersenyum masam.


"Lalu bagaimana perkembanganmu saat ini?" lanjut Tetua Ardan sambil menanyakan perkembangan Elisa yang saat ini sedang memahami lukisan yang berisikan niat pedang di dalamnya.


Elisa menatap lukisan di depannya dengan wajah serius, dan menjawab, "Perkembanganku saat ini hanya meningkat sedikit saja, aku tidak berharap kalau niat pedang yang ada di dalam lukisan ini sangat rumit." jawabnya.


Lukisan ini memiliki gambar seorang pria berpakaian jubah putih, berdiri di atas sebuah batu besar, dan memegang pedang panjang di lengannya.


Lukisan ini terlihat sederhana, namun memiliki arti yang sangat mendalam.


Sekilas, lukisan ini seperti terintegrasi ke dalamnya, ada perasaan kesepian, dingin dan sombong, tidak takut, perasaan putus asa dan sebagainya.

__ADS_1


Pada saat ini, Elisa tampak sedang berada di Dunia Pedang, dengan niat pedang yang kuat muncul dari seorang pria berjubah putih dan membuat tekanan kepada Elisa.


Jika orang biasa melihat lukisan ini mereka tidak akan memiliki reaksi besar terhadapnya, tapi jika seorang Pendekar Pedang yang melihat lukisan ini, mereka akan sensitif terhadap niat pedang. Sama halnya dengan Aura Pedang yang dikeluarkan oleh seseorang.


Elisa samar-samar memahami artistik ini dari lukisan ini. Pendekar Pedang yang ada di lukisan ini tampaknya sedang dalam memahami arti pedang yang sesungguhnya, dan pria berjubah putih ini terlihat sedang dalam pertempuran yang menentukan kedua sisi.


"Seperti yang diharapkan dari harta Kaisar Wymar …" ujar Tetua Ardan sambil menatap lukisan ini dengan wajah yang tampak mengaguminya.


Menurutnya harta ini memang sangat sulit untuk dipahami, bahkan Nona Elisa yang memiliki konstitusi tubuh pedang yang seharusnya dapat memahami ini dengan lancar namun tampaknya masih kesulitan dalam memahaminya.


Elisa mengangguk dan menjawab, "Untuk harta dari peninggalan Kaisar Wymer ini memang sangat sulit di pahami, aku penasaran bagaimana jika aku memahami keseluruhan dari niat pedang dalam lukisan ini … Mungkin aku akan mencapai tingkat Pendekar Pedang yang lebih tinggi." jawab Elisa sambil menatap lukisan ini yang terlihat bersemangat, namun setelah memikirkan kesulitannya ia menghela nafasnya, "Tampaknya aku harus memahaminya secara bertahap, dan aku tidak tahu seberapa lama sampai aku memahami niat pedang yang ada di dalam lukisan ini." lanjutnya.


***


Di Menara Pelatihan Pedang, waktu berlalu dari hari ke hari.


Shin yang sebelumnya berhasil memasuki kondisi pencerahan lagi, namun tampaknya sedikit lebih lambat dibandingkan sebelumnya ia memasuki kondisi pencerahan.


Shin memasuki kondisi pencerahan pada hari ke-3 setelah mencoba memahami berbagai gerakan visual yang ada dalam benaknya.


Gerakan yang ada di dalam batu prasasti ini sedikit lebih banyak dari batu prasasti yang pertama. Ini membuat Shin sedikit memakan banyak waktu dalam memperhatikan gerakan-gerakan yang ada di dalam benaknya.


Pada hari ke-6 Shin berhasil memahami dan mengingat dari 1.120 gerakan pedang dan jumlah aturan yang ia pahami mencapai 85 aturan pedang, ia berhasil memahami 10 aturan baru yang ada di dalam batu prasasti ini.


Saat ini Shin memiliki fokus ganda di dalam kondisi pencerahannya yang membuat kecepatan pemahamannya sedikit melambat akibat ia memahami dan mengingat dari aturan pedang dan gerakan pedang yang ada di batu prasasti ini.


Pada hari ke-10 Shin berhasil memahami dan mengingat 1.980 gerakan pedang baru, dan pemahaman aturan pedangnya akhirnya mencapai 102 aturan pedang.


Penjaga lantai 3 saat ini sedang bermalas-malasan merasa ada ledakan aura kuat di lantai 3 Menara Pelatihan Pedang, ia segera melesat dan memasuki lantai 3 Menara Pelatihan Pedang.


Pada saat memasuki lantai 3 Menara Pelatihan Pedang, ia merasa tekanan kuat di sekitar ruangan lantai 3 ini.


Penjaga ini melihat ke sekelilingnya kalau orang-orang yang sedang berlatih memahami aturan pedang, mereka tampak tidak bergerak dan banyak orang yang terlihat berkeringat.


"Apa yang terjadi disini, siapa yang mengeluarkan Aura Pedang ini?" ujar penjaga itu merasakan pusat dari Aura Pedang in dani menatap ke arah seorang pemuda yang sedang menutup matanya.


"Bocah ini … Apa dia berhasil menerobos ke tingkat Pendekar Pedang tingkat atas?" ujar penjaga itu sambil menatap pemuda di depannya dengan ekspresi tidak percaya dan tercengang.


Saat ini Shin merasa ada perasaan hangat di dalam benaknya, perasaan hangat ini membuat Shin terbangun dalam kondisi pencerahannya.


Setelah Shin terbangun dari kondisi pencerahannya, Aura Pedang dari tubuhnya menyusut kembali dan keadaan sekitar seperti biasanya. Lalu suara sistem terdengar dalam benaknya.


[Saya telah membangunkan anda, karena hari ini adalah hari ke-10.]


Ketika membuka matanya, Shin merasa pandangannya dan temperamennya tampak berbeda dibanding sebelumnya, saat ini ia merasa persepsi dan mentalnya memiliki perubahan yang signifikan.


"Tidak terasa sudah 20 hari aku berada di Menara Pelatihan Pedang ini …" gumam Shin.

__ADS_1


Lalu Shin menghela nafasnya dan melihat ke arah sekelilingnya dan tertegun. Orang-orang di sekitarnya tampak sedang menatap Shin dengan kondisi yang sedikit kacau, Shin melihat orang-orang ini sedang menatap dirinya dengan ekspresi ketakutan, marah dan beberapa dari mereka menatapnya dengan kagum.


Shin bertanya kepada sistem, "Sistem apa yang telah terjadi?"


[Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, saya akan mengucapkan selamat kepada anda yang telah menerobos ke tingkat Pendekar Pedang tingkat atas.]


[Alasan mengapa orang-orang disekitar anda terlihat seperti ini, karena sebelumnya pada saat anda menerobos ke tingkat Pendekar Pedang tingkat atas membuat Aura Pedang anda bocor sehingga menekan seluruh orang-orang yang ada di ruangan ini.]


Setelah mendengar ini, Shin tertegun. Sepertinya ini adalah kejadian kedua kalinya ia membuat sedikit masalah di Menara Pelatihan Pedang ini.


Bersambung


[Soul Devourer System] Update dengan chapter terbarunya~


——————————————————————————


Saya ingin berterima kasih kepada pembaca yang sudah memberikan vote terhadap novel ini pada tanggal 18. (Update untuk tanggal 19 akan di update besok, terima kasih!)


Daftar nama yang sudah vote:


1. Cheni Chuslher \= Vote 300 Poin


2. Bill Sopios \= Vote 200 Poin


3. Bebek_Liar \= Vote 100 Poin


4. 🎉 sofian 👅 Jamily 🎉 \= Vote 100 Poin


4. Pak Wid Sentral \= Vote 100 Poin


5. Roni Setyawan \= Vote 90 Poin


6. NONE \= Vote 70 Poin


7. awan_mendung186 \= Vote 60 Poin


8. Kyouya Onodera \= Vote 60 Poin


9. Drexsseleer \= Vote 40 Poin


10. Yoga Saputra \= Vote 20 Poin


11. Gito Chan \= Vote 20 Poin


12. Lidya Mariska \= Vote 10 Poin


Saya berterima kasih kepada pembaca yang sudah vote novel ini sejak lama ataupun baru,  vote ini membuat saya bersemangat untuk menulis.

__ADS_1


——————————————————————————


Silahkan di like dan komen, semoga kalian menyukai cerita dari chapter baru ini. Terima kasih!


__ADS_2