
Mendengar perkataan pemuda itu, Shin hanya tersenyum melihat ini, mungkin pemuda ini mengira dirinya adalah seorang pengguna kekuatan murni.
"Begitukah? Apakah aku sudah bilang kalau aku sudah mengeluarkan semua kekuatanku?" ucap Shin dengan nada rendah.
Saat ini Shin sedikit waspada terhadap pemuda di depannya, karena dari aura kekuatannya pemuda ini sama seperti wanita sebelumnya, namun apa yang ia rasakan dari tekanan pemuda ini lebih besar dari wanita sebelumnya yang telah ia kalahkan.
"Aku tidak peduli dengan ucapanmu itu, tapi bersiaplah karena selanjutnya lawanmu adalah aku!" balas pemuda itu dengan senyuman menyeringai di wajahnya.
Setelah mengatakan ini pemuda itu menengok saudaranya yang ada di sebelahnya.
"Dimia, tenang, bocah ini akan segera ku kalahkan dan derita yang akan ia rasakan akan melebihi dari yang kau rasakan." ucap pemuda itu.
"Saduaraku … kau harus membalaskan apa yang telah bocah itu lakukan kepadaku. Aku ingin melihat wajah menderitanya!" jawab Dimia sambil menatap Shin dengan kebencian yang mendalam.
Pemuda itu mengangguk dan berkata, "Tentu saja, akan kupastikan bocah ini akan menderita!"
Shin yang saat ini sedang menatap kedua orang itu dengan tatapan bingung, karena dia dapat mendengar perkataan yang kedua orang itu katakan.
"Sepertinya pemuda ini sudah merasa dirinya akan memenangkan pertarungan ini … kalau begitu aku akan sedikit serius!" gumam Shin dengan tatapan serius ke arah pemuda ini.
Shin lalu mengeluarkan pedang kegelapannya dari penyimpanan sistem, dan memegangi pedang kegelapannya di tangan kanannya dan bersiap.
"Baiklah, jika kau sudah menganggap dirimu jauh lebih kuat daripada aku, aku akan sedikit serius sekarang!" ucap Shin sambil menyebarkan Aura Pedang miliknya.
Sesaat Aura Pedang ini menyebar ke seluruh aula besar ini yang bahkan membuat semua orang memelototi ke arah Shin dengan tatapan terkejut.
Tekanan ini membuat semua orang yang ada di aula besar ini merasakan tekanan yang membuat di setiap orang di ruangan ini terdiam, bahkan orang-orang yang saat ini berada di tingkat Komandan memandang Shin dengan hati-hati dan waspada.
Bahkan diantara orang-orang ini terdapat seorang pendekar pedang juga, ketika mereka merasakan aura pedang ini, mereka terkejut dan sedikit memalingkan wajahnya, karena mereka tahu dari tekanan ini saja Shin sepertinya Pendekar Pedang Tingkat Atas!
Melihat ini pemuda itu mengernyit setelah merasakan tekanan pada dirinya, tekanan ini membuat dirinya sulit untuk bergerak dan tubuhnya terasa sangat berat.
Helie Valgard merasakan ini ia terkejut dan terpana sesaat, karena perubahan ini benar-benar diluar ekspektasinya.
Setelah itu ia tersenyum dan mengangguk lalu menatap Shin, "Hehe … Sepertinya pilihanku tidak salah!" gumamnya.
"Tch … Jangan kau pikir hanya dengan ini aku takut padamu …" ucap pemuda itu dengan nada kesal lalu melesat ke arah Shin.
"Tinju Harimau Api!"
Roaarr!
Suara raungan Harimau terdengar, setelah tinju yang dilakukan oleh pemuda ini, tiba-tiba seekor harimau raksasa dengan tubuh setinggi 4 meter dan panjangnya 8 meter dikelilingi oleh api merah yang menyelimuti tubuh harimau ini, harimau ini mengayunkan cakarnya mengarah ke arah Shin.
Pada saat yang sama tinju ini memiliki kekuatan 8.000 kg.
Shin melihat serangan ini ia merasa sedikit waspada, walaupun dirinya memang sedikit serius, tapi ia tidak akan mengekspos kartu trufnya di hadapan para pejuang ini.
Karena yang sebelumnya mereka percaya kalau dirinya adalah pengguna fisik murni, Shin saat ini mengayunkan pedangnya dan memfokuskan aura tubuhnya dan kedalam pedang kegelapan nya, setelah itu ia memasukkan aturan pedang ke dalam serangannya.
"Sword Moon Art!"
Energi Pedang berbentuk bulan sabit berwarna hitam terbang ke arah Harimau itu dengan 50 aturan pedang di dalamnya.
Pada saat yang sama energi pedang dan cakar harimau itu bertabrakan, namun apa yang terlihat adalah serangan Shin merobek cakar dan terus menembus tubuh harimau itu dan membelahnya menjadi dua bagian seperti tahu.
Karena harimau itu adalah energi yang dibentuk oleh vitalitas pemuda itu, tampaknya serangan Shin jauh lebih kuat dari serangan yang dilancarkan oleh pemuda itu.
Energi Pedang Shin tidak menghilang namun terus terbang ke arah pemuda itu dengan aura pedang yang kuat.
__ADS_1
Melihat ini pemuda itu membelalakkan matanya dan sedikit panik melihat serangan yang ada di depannya.
Bahkan orang-orang sekitar memandang ini mereka tampaknya mengerti satu hal, jika energi pedang ini mengenai pemuda itu, pemuda itu tidak akan menahan energi pedang ini dan membuatnya meninggal.
"Sialan!!"
Pemuda itu melambaikan tangannya dan meninju lagi dan mencoba untuk melawan energi pedang yang mengarah ke arahnya.
Boom!!!
Tinju itu mengenai energi pedang Shin dan pada saat yang sama pemuda itu merasa dirinya tidak dapat menggerakkan tangan kanannya, dan ketika ia melirik tangan kanannya, tangan kanannya sudah hilang, digantikan darah merah yang terus keluar mengalir.
Saat ini energi pedang terus mengarah ke tembok aula ini dan meledak.
Boom!!!
Seluruh ruangan perjamuan sedikit bergetar, kaca, piring, semua cangkir dan semua pisau di atas meja berdentang.
Setelah suara ledakan ini terdengar, semua orang menatap Shin dengan pandangan yang berbeda dari yang sebelumnya.
Orang-orang yang sebelumnya memprovokasi Shin, saat ini sudah dua orang dari mereka yang terluka, satu orang tangannya patah dan satunya lagi lengan kanannya hancur karena tidak dapat menahan serangan Shin.
Terutama wanita bernama Dimia ini setelah melihat saudaranya terluka dan kalah oleh bocah yang ia provokasi sebelumnya.
"Saudaraku …" ucap Dimia dengan nada sedih.
Melihat pemuda itu tampaknya tidak terlihat akan menyerah, Shin melangkah dan menggunakan Shadow Stepnya lalu menghilang dari tempatnya digantikan oleh bayangan afterimage dirinya.
Karena jarak dirinya dan pemuda itu hanya 18 meter tidak jauh, Shin hanya melangkah sedikit saja sudah sampai di depan pemuda itu dan mengayunkan pedangnya mengarah ke leher pemuda itu.
Saat ini Shin benar-benar akan membunuh pemuda ini, dengan kecepatan ayunan pedang Shin pedang itu akan menebas leher pemuda ini.
Drak ….
Shin menatap ada sebuah tombak yang menahan pedangnya, ketika ia melihat siapa orang yang memegangi pedang ini, ia mengenali orang itu. Orang itu adalah Federic, ia memasang senyuman di wajahnya dan menatap Shin sambil menggelengkan kepalanya.
"Shin, di sini tidak boleh ada yang membunuh ataupun terbunuh, jadi urungkan niatmu itu dan kembalilah, kau sudah memenangkan pertarungan ini." ucap Federic sambil mengingati Shin.
Mendengar ini, Shin mengangguk dan menarik pedangnya dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya.
Saat ini Shin menatap pemuda di depannya yang lengan kanannya hancur dengan tatapan menghina dan berkata, "Lemah!" ucap Shin dengan nada dingin.
Pemuda itu mendengar ini dan merasa dihina oleh bocah di depannya, ia sangat marah dan tatapannya penuh kebencian. Namun, walaupun begitu ia saat ini tidak berdaya, karena semua orang di ruangan ini tahu pertarungan antara dirinya dengan pemuda itu telah terlihat hasilnya.
Pemuda itu hanya menggertakkan giginya dan menerima ini dengan wajah malu.
Shin yang saat ini melihat pemuda itu tampaknya malu ia tertawa di dalam hatinya, lalu saat ini ia melirik ke arah seorang lainnya yang memprovokasi Shin sebelumnya.
"Baiklah! Sekarang giliran mu!" ucap Shin dengan nada dingin.
Pria yang akan menjadi lawan selanjutnya, ia terlihat takut setelah melihat temannya dikalahkan dengan mudah. Kekuatan miliknya jauh dibawah pemuda sebelumnya yang telah kehilangan lengan kanannya, jadi ia kehilangan kepercayaan dirinya.
"Tidak perlu, aku menyerah …" jawab pria itu dengan nada berat dan terpaksa.
Semua orang di aula ini mendengar perkataan ini, mereka terkejut mendengarnya, karena semua orang yang ada di aula ini adalah peserta yang mengikuti turnamen nanti. Melihat pria itu menyerah tanpa perlawanan tentu saja membuat semua orang di aula ini menatap pria itu dengan tatapan menyedihkan dan menghina.
Kehilangan wajah!
Malu!
__ADS_1
Ini yang mereka rasakan saat ini, bukan hanya dengan secara terang-terangan memprovokasi Shin, tetapi juga dikalahkan dengan telak!
Bersambung
...[Soul Devourer System] Update dengan chapter terbarunya~...
——————————————————————————
Daftar nama yang sudah vote:
1. hadi suandi \= Vote 1.400 Poin
2. J.Froos \= Vote 540 Poin
3. Lidya Mariska \= Vote 290 Poin
4. harimau suci \= Vote 200 Poin
5. Muhamad Alfiansyah \= Vote 120 Poin
6. Legs \= Vote 120 Poin
7. Exiled \= Vote 100 Poin
8. Nanank Chaniago \= Vote 100 Poin
9. kresno sunugrahendro \= Vote 100 Poin
10. Sugeng Budi \= Vote 100 Poin
11. said Irfan \= Vote 70 Poin
12. NONE \= Vote 70 Poin
13. yoga hernand \= Vote 60 Poin
14. Andrey Pratama \= Vote 50 Poin
15. Ares \= Vote 50 Poin
16. Abifandya Ryu \= Vote 50 Poin
17. Drexsseleer \= Vote 40 Poin
18. Novita \= Vote 30 Poin
19. Yoga Saputra \= Vote 20 Poin
20. Ade Eka \= Vote 20 Poin
21. Astang Beleng \= Vote 20 Poin
22. Gito Chan \= Vote 10 Poin
23. Maulana Hasanudin \= Vote 10 Poin
Saya berterima kasih kepada pembaca yang sudah vote novel ini sejak lama ataupun baru, vote ini membuat saya bersemangat untuk menulis.
——————————————————————————
__ADS_1
Silahkan di like dan komen, semoga kalian menyukai cerita dari chapter baru ini. Terima kasih!