
Annie dan Nisha yang saat ini melihat kedatangan Shin yang tiba-tiba mereka terkejut dan menatap Shin dengan ekspresi senang, namun setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Shin, terutama Annie yang sekarang sepertinya menyukai Shin dan mendengar kata-kata Shin akan pergi wajahnya memasang wajah enggan.
Nisha pun juga sama menatap Shin dengan wajah enggan. Walaupun ini adalah pertemuan pertama Nisha dan bertemu belum lama ini, karena kejadian yang ia lihat sebelumnya dirinya merasa ingin terus bersama Shin.
"Kakak Shin, apakah kakak akan pergi?" ucap Nisha dengan memasang wajah enggan.
Annie melihat Nisha berbicara ini, ia mengangguk dan menatap Shin yang saat ini memasang wajah serius.
Shin mendengar kata-kata yang diucapkan Nisha, ia yang sebelumnya memasang wajah serius segera tersenyum dan berkata, "Ya, aku akan pergi dari desa ini, karena jika aku tinggal di desa ini sedikit lebih lama, para orang-orang jahat itu akan datang kembali." kata Shin sambil memberitahu Nisha.
"Tapi kak …," jawab Nisha yang saat ini memegangi baju kakaknya dan terdiam sebentar, "Kalau begitu, bisakah aku ikut dengan kakak Shin?" lanjutnya.
Annie yang mendengar ini ia terkejut dan menatap Nisha dengan heran, mengapa adiknya ingin mengikuti Shin? Namun setelah berpikir sejenak, ia mengerti kalau Nisha ini masih kecil dan belum mengerti dunia luar.
"Nisha, mengapa kamu ingin pergi dengan Shin? Apakah kamu ingin meninggalkan kakak?" ujar Annie.
Nisha menundukkan kepalanya dan sepertinya ia tersadar kalau ucapannya itu salah, "Maaf kak, aku tidak sengaja mengatakan itu …" jawab Nisha yang saat ini merasa dirinya bersalah.
Annie melihat ini ia tersenyum dan mengelus kepala Nisha, "Kamu tidak salah mengatakan itu, tapi kamu tahu apa yang telah terjadi sekarang? Jika kita yang berada di desa ini saja masih penuh bahaya dan bagaimana dengan dunia luar?" ujar Annie,
Ia mengerti walaupun jika Nisha benar-benar mengikuti Shin, Shin dapat melindunginya, namun karena ia tidak tahu latar belakang Shin, Annie tidak dapat membiarkan Nisha mengikuti Shin.
Shin yang saat ini menatap kedua kakak beradik ini, ia tersenyum dan berkata, "Aku tidak bisa membawamu bersamaku untuk saat ini, karena ada masalah dan urusan yang belum aku selesaikan. Tapi tenang saja, setelah aku menyelesaikan semua ini aku akan kembali ke desa ini." ujar Shin sambil memberitahu beberapa hal tentang dirinya.
"Kalau begitu aku akan segera pergi dari sini, seseorang dari kelompok penjahat itu berhasil pergi dan sepertinya melaporkan ini ke markasnya, jika aku terus berada disini, ini akan membuat masalah pada desa ini." ucap Shin dengan wajah serius nada serius.
Annie melihat nada dan wajah Shin menjadi serius ia mengerti, sepertinya masalah ini berada diluar tingkat kekuatan yang ada di desa ini.
Dan Nisha mendengar ini ia mengerti kalau situasinya saat ini sedang bahaya.
"Kalau begitu, kita akan bertemu lagi lain kali, dan kau harus berhati-hati." ucap Annie yang saat ini memasang wajah malu.
"Ya, kakak Shin harus berhati-hati!" ujar Nisha.
Melihat ini, Shin mengangguk lalu berbalik dan segera melesat pergi dari desa ini.
Shin yang saat ini sedang berlari ia menatap ke sekitarnya yang dalam pandangannya adalah persawahan dan angin yang ia rasakan sangat sejuk. Ia menghela nafasnya dan bergumam, "Walaupun ini adalah pertemuan singkat, tapi ini bukan hal buruk." gumam Shin sambil tersenyum lalu menambah kecepatannya segera pergi ke Kerajaan Tesaria.
***
Di pedalaman lembah tersembunyi, markas Geng Tengkorak Hitam.
Seseorang pria berjalan ke arah pintu ruangan pemimpin Geng Tengkorak Hitam lalu mengetuk pintunya.
Pemimpin Kelompok Geng Tengkorak Hitam yang saat ini sedang menunggu kabar tentang pembunuhan anaknya dari bawahannya, ia mendengar suara ketukan pintu lalu menatap ke arah pelayan yang saat ini sedang berdiri di sudut ruangan dan mengangguk yang adalah tanda untuk menyuruh pelayan itu untuk membukakan pintunya.
Pelayan itu menunduk lalu berjalan ke arah pintu ruangan dan membukanya.
__ADS_1
Pria itu melihat pintunya terbuka, ia menatap ke arah pelayan yang ada di depannya lalu berucap, "Ada informasi penting yang harus diberikan kepada pemimpin secara langsung." ucapnya.
Pelayan itu menatap pria yang di depannya mengatakan kalau ada informasi penting ia mempersilahkan pria itu untuk memasuki ruangan pemimpin Geng Tengkorak Hitam.
Melihat ini, pria itu segera berjalan ke dalam ruangan ini dan melihat ada pemimpinnya yang sedang duduk di kursi menatap dirinya.
"Pemimpin, berita tentang siapa pembunuh yang membunuh anak Anda telah di temukan, dan ini adalah lukisan visual dari seorang pembunuh itu." ujar pria itu sambil mengeluarkan kertas yang memiliki visual seorang pemuda yang adalah gambar Shin.
Pemimpin itu mengambil kertas yang ada di tangan pria itu lalu melihatnya, ia melihat kalau gambar yang ada di dalam kertas ini adalah seorang pemuda yang terlihat berusia 17 atau 18 tahun. Lalu ia meremas kertas ini sampai hancur dan menatap pria yang ada di depannya.
"Jadi, bagaimana dengan bocah itu? Apakah sudah ditangkap?" tanya Pemimpin Geng Tengkorak Hitam ini.
"Sekelompok elit kita telah mengepung mereka, namun orang-orang yang sedang mengepung ini tampaknya telah meninggal, dan dari token mereka, mereka meninggal secara bersamaan." jawab Pria itu.
Mendengar ini, Pemimpin Geng Tengkorak Hitam merasa kesal dan membentak, "Dasar orang-orang tidak berguna! Hanya menangkap seorang bocah saja tidak mampu!" bentaknya lalu menatap pria itu, "Kau bisa kembali ke tempatmu." lanjutnya.
Mendengar ini Pria itu segera berbalik dan pergi.
"Kau, cepat panggil ke-enam jenderal lainnya untuk segera datang ke ruanganku." perintah Pemimpin Geng Tengkorak Hitam kepada pelayan yang sedang berdiri di depan pintu masuk.
***
Saat ini Shin sedang berlari di jalan utama Kerajaan Tesaria, ia melihat banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang di jalan utama ini.
Tidak lama kemudian akhirnya ia melihat ada sebuah benteng besar yang terlihat dari kejauhan yang tampaknya ia akan sampai di Kerajaan Tesaria.
***
"Dari yang dilihat jejaknya, tampaknya pemuda itu berlari ke arah Kerajaan Tesaria. Aku telah menempatkan ratusan tikus yang mengejar, dari Desa Careth yang sebelumnya pemuda itu berada bau nafasnya berada di arah Kerajaan Tesaria.
Tikus pengejar adalah pelacakan rahasia Geng Tengkorak Hitam kami. Dari indera penciumannya seribu kali lebih kuat dari anjing pemburu, karena tikus pengejar telah kembali memberikan informasi, pemuda itu sedang berjalan di jalan utama Kerajaan Tesaria." ucap seorang yang memiliki kekuatan Komandan Tingkat Rendah.
"Hahaha … Pemimpin Semer, kelompok pemburumu sungguh luar biasa, aku bahkan tidak dapat merasakan pemuda itu karena pikiran spiritualku hanya berjarak 100 meter." ucap pria gemuk dengan panah di punggungnya.
"Aku bahkan tidak mengerti mengapa dengan tubuhmu yang gemuk itu memilih panah sebagai senjata utama mu Pemimpin Dasom." ucap Pemimpin Semer sambil menatap tubuh gemuk Pemimpin Dasom yang berada di sebelahnya.
Saat ini sekelompok elit dari Geng Tengkorak Hitam ini segera mengejar Shin yang saat ini akan sampai di Kerajaan Tesaria.
…
Dalam pandangan Shin, tepat di depannya, tembok besar berwarna perak menjulang tinggi dan lebar.
Tembok ini sangat megah dan panjangnya ribuan km, tingginya puluhan meter dengan bendera di atas tembok kota. Di masing-masing setiap bendera memiliki diukir dengan lambang seekor elang berwarna emas.
Di depan tembok kota ada sebuah parit selebar beberapa puluh meter dan panjang dari parit ini tampaknya mengelilingi Kerajaan Tesaria, di atas permukaan parit ini terdapat beberapa jembatan gantung.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat sebuah tembok kota yang tinggi dan menjulang di kejauhan, Shin merasa seperti sedang bermimpi namun ini adalah kenyataan.
__ADS_1
Memikirkan dirinya yang sebelumnya hanya melihat di film-film saja, dan sekarang ia merasakan kenyataan ini ia terpana sesaat.
"Jadi ini ibukota Kerajaan Tesaria? Yang dimana keluarga kerajaan Tesaria berada, ini sangat mengesankan!"
Shin melangkah melewati jembatan gantung dan mendekati gerbang kota, namun ia melihat ada antrian panjang di gerbang kota.
Bersambung
[Soul Devourer System] Update dengan chapter terbarunya~
——————————————————————————
Daftar nama yang sudah vote:
1. Zhima 10 \= Vote 600 Poin
2. Legs \= Vote 570 Poin
3. Maulana Hasanudin \= Vote 130 Poin
4. Heri Putra Bungsu \= Vote 120 Poin
5. Abifandya Ryu \= Vote 100 Poin
6. Nanang Zainuddin \= Vote 60 Poin
7. Alya Sintia Putri \= Vote 60 Poin
8. Drexsseleer \= Vote 50 Poin
9. Lidya Mariska \= Vote 40 Poin
10. Yoga Saputra \= Vote 20 Poin
11. said Irfan \= Vote 20 Poin
12. Arshilla \= Vote 20 Poin
13. Rasya KH \= Vote 20 Poin
14. Gito Chan \= Vote 10 Poin
15. zen chomsu \= Vote 10 Poin
16. Ares \= Vote 10 Poin
Saya berterima kasih kepada pembaca yang sudah vote novel ini sejak lama ataupun baru, vote ini membuat saya bersemangat untuk menulis.
__ADS_1
——————————————————————————
Silahkan di like dan komen, semoga kalian menyukai cerita dari chapter baru ini. Terima kasih!