
Geo berada di depan ruangannya. Di samping pria itu seorang gadis yang beberapa menit lalu Kiara temui. Amanda dengan senyum merekah dan sikap sopan, memperkenalkan dirinya di hadapan beberapa karyawan perusahaan itu.
"Halo,selamat pagi semua. Ini adalah Amanda,dia akan menjadi sekertaris perusahaan untuk saat ini. Menggantikan sekretaris terdahulu," ucap Geo.
"Terima kasih pak,halo semua. Perkenalkan saya Amanda. Mohon kerja samanya ya," ucap Amanda.
Semua orang yang ada di sana menyambutnya dengan baik.Begitu juga Kiara. Setelah perkenalan mereka kembali bekerja di ruang masing-masing.
"Kiara, tunjukkan ruang kerja Amanda!" perintah Geo pada Kiara yang berdiri tak jauh dari pria itu.
"Baik pak," jawab Kiara.
"Silahkan ikut saya!" ajak Kiara pada Amanda.
"Baik," Amanda mengikuti Kiara ke salah satu ruang di lantai itu.
Keduanya berjalan melewati beberapa ruangan. Amanda memperhatikan Kiara dari pakaiannya. Meski tadi sudah pernah bertemu,namun di matanya gadis itu terlihat biasa-biasa saja.
"Bagaimana mungkin dia bisa menjadi asisten CEO utama disini. Aku harus mendekati pak Geo,dia sangat tampan dan berwibawa," batin Amanda dengan niat buruknya.
Langkah Kiara berhenti pada salah satu ruang di depannya. Amanda juga menghentikan langkahnya.
"Ini nona Amanda,ruang kerja mu, semoga bisa bekerja sama dengan baik ya?" ucap Kiara.
"Tentu saja, nona Kiara.Terima kasih ya, oh iya boleh tanya sesuatu tidak?" tanya Amanda.
"Tentu saja boleh,apa itu?"
"Ngomong-ngomong, pasti kamu tahu kan tentang pak Geo. Apakah dia sudah memiliki pasangan saat ini?" tanya Amanda sambil tersenyum. Kiara bisa merasakan bahwa gadis di depannya itu mulai tertarik dengan Geo. Tapi Kiara tidak bisa menjawab bahwa dialah istrinya. Tentu saja akan menimbulkan hal yang tidak di inginkan nantinya.
"Maaf, saya kurang tahu tentang masalah pribadi pak Geo," jawab Kiara. Wajah Amanda tampak kecewa setelah mendengarnya.
"Benarkah? Sayang sekali ya," jawab Amanda.
"Kalau begitu saja kembali ke ruangan saya dahulu. Jika ada hal yang perlu di tanyakan lagi,silahkan hubungi saya," ucap Kiara.
"Baik, terima kasih."
__ADS_1
Kiara segera pergi dari hadapan Amanda. Gadis itu tampak menghela napas panjang.
"Kenapa dia begitu populer? Apa para gadis itu buta, pria dingin yang sangat menyebalkan bisa membuat mereka menyukainya?" batin Kiara mengingat sifat Geo yang selama ini dia tahu.
Saat memikirkan pria itu, Kiara yang tidak fokus dalam berjalan tidak sengaja menabrak seseorang.
"Ah maaf-maaf!" ucap Kiara panik sebelum dia melihat siapa yang dia tabrak barusan. Ketika wajahnya menengadah, ternyata Geo lah yang ada di depannya.
"Pak Geo ,maafkan saya pak!" ucap Kiara meminta maaf.
"Kamu kalau melamun jangan di perusahaan!" gertaknya.
"Iya maaf pak," jawab Kiara dengan wajah menunduk.Dia memang salah dan pantas jika Geo memarahinya.
"Cepat buatkan aku kopi!" perintah Geo pada Kiara.
"Ah baik pak!" Kiara segera berbalik menuju ke ruang pembuatan minuman.Dia tidak boleh membuat Geo marah lagi.
"Ternyata masih enak kerja di toko, ngomong-ngomong sudah lama tidak mampir ke sana. Nanti sepulang kerja sepertinya harus ke sana deh!" gumam Kiara sambil membuat kopi untuk Geo.
"Buat siapa nona Kiara?" tanya Amanda.
"Oh ini buat pak Geo," jawab Kiara.
"Oh buat pak Geo. Kalau begitu biar saya bantu berikan," pinta Amanda sambil merebut cangkir berisi kopi dari tangan Kiara.
"Ta-, tapi!" Kiara ingin mencegahnya namun Amanda tidak memperdulikan gadis itu. Kiara menghela napas berat.
Amanda segera menuju ke ruang kerja Geo. Mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Pandangan Geo segera teralihkan dari laptop ke arah gadis yang membuka pintu.
Dahinya berkerut ketika melihat siapa yang masuk dan membawakan kopi untuknya. Amanda tersenyum ke arah Geo.
"Ini pak Geo kopi anda," ucap Amanda sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja Geo dengan hati-hati.
"Dimana Kiara? Kenapa kamu yang mengantarnya?" tanya Geo memastikan.
"Itu nona Kiara ada urusan sebentar, jadi aku membantunya mengantarkan kopi ini," jawab Amanda.
__ADS_1
"Urusan? Sepenting itukah sampai membuat pekerjaannya terganggu?" tanya Geo lagi.
"Saya juga kurang tahu pak, mungkin memang sangat penting." Amanda tidak berhenti menebarkan senyum pada Geo. Bahkan sesekali dia merapikan rambut yang menutup leher jenjangnya. Agar terlihat di mata pria itu.Namun Geo masih tidak memperdulikan hal itu.
"Baiklah, kamu bisa kembali ke ruangan mu!" pinta Geo tanpa menatap wajah Amanda. Gadis itu tampak kecewa karena Geo tidak sedikitpun menaruh perhatian padanya.
"Baik pak," jawab Amanda. Dia segera berbalik untuk kembali ke ruang kerjanya. Dengan wajah sedikit di tekuk.
Beberapa menit kemudian,Geo ingin mencari Kiara. Dia ke ruang kerja gadis itu. Namun pemandangan yang menyebalkan lagi-lagi dia dapati.
"Jadi ini urusan yang penting tadi?" gumam Geo kesal.
Arman tengah berdiri di samping meja Kiara. Keduanya sedang membicarakan urusan pekerjaan. Tapi di pikiran Geo tak seperti itu. Geo membatalkan niatnya, dia segera kembali ke ruang kerjanya.
Duduk dengan gelisah di atas kursi miliknya.
"Menyebalkan sekali, kenapa bisa-bisanya dia berpacaran di kantor. Di jam kerja lagi!" gumam Geo di penuhi rasa kesal.Ingin sekali dia memberi hukuman bagi gadis itu sepulang kerja nanti.
Geo harus pulang sendiri kali ini,memang biasanya dia sendiri.Namun di belakang mobil pria itu, motor milik Kiara pasti mengikutinya. Kini gadis itu entah berbelok kemana lagi.
Wajah Geo sangat tidak bersahabat sepanjang hari ini. Dia sampai di rumah terlebih dahulu, dan dua jam kemudian pun masih belum ada tanda-tanda Kiara akan pulang.
Geo yang sudah tidak sabar ingin segera mencarinya. Dia menyahut kunci mobil yang ada di atas meja.
Baru saja dia menarik gagang pintu, Kiara juga hendak mendorongnya. Alhasil Kiara tidak sengaja jatuh dalam pelukan Geo.
"Ah maaf!" ucap Kiara canggung setelah kedua mata mereka bertemu. Kedua tangan Geo langsung memeluk erat tubuh Kiara. Menggendongnya dan tak lupa menutup pintu rumah mereka. Bahkan Geo sempat menguncinya.
"Hei apa yang kamu lakukan?" teriak Kiara yang tubuhnya sudah berada di pundak Geo. Dia mencoba meronta ingin melepaskan diri.
Kiara bisa merasakan aura berbahaya dari Geo. Dia tidak berhenti memukul punggung pria itu.
Sedangkan malam mulai larut, suasana rumah yang sepi menambah ketakutan bagi Kiara.
"Geo lepaskan aku!" teriaknya sekali lagi,namun Geo menambah kekuatan dalam mencengkeram tubuh Kiara. Agar tak lepas dari gendongannya.
Langkah kaki pria itu menuju ke kamarnya.Kiara semakin kalut, bertanya di dalam hati. Apa yang sebenarnya terjadi dengan pria dingin itu.
__ADS_1