
Sudut mata Kiara berlahan basah. Dia teringat oleh kejadian semalam. Dimana dia akhirnya menyerahkan dirinya pada Geo. Pria yang saat ini masih mendekapnya dari belakang.
Keduanya tanpa busana, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka. Rasa sakit tepat di bawah milik Kiara membuatnya mengerang. Geo terjaga mendengar Kiara yang sedang kesakitan.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Geo khawatir, kini keduanya saling berhadapan. Kiara memandang kesal pada pria itu, dia begini juga karena Geo.
"Aku gak apa-apa kok, awas aku ingin ke kamar mandi!" ucap Kiara dengan nada kesalnya sambil menyingkap tangan Geo dari tubuh gadis itu. Tapi Geo tidak membiarkan dia lolos begitu saja.
"Kamu marah?" tanya Geo kembali mendekap Kiara.
Kiara menatap kedua mata Geo, ingin sekali memukul wajah pria itu. Untuk melampiaskan amarahnya.Tapi dia tidak bisa melakukannya begitu saja.Tubuhnya terasa lemas, tak ada tenaga setelah semalam tak di izinkan Geo untuk beristirahat.
"Untuk hal semalam, sebaiknya kita lupakan saja. Anggap tidak pernah terjadi!" ucap Kiara dingin. Geo mengerutkan keningnya.
"Apa maksud kamu? Apa karena aku memaksamu?" tanya Geo.
__ADS_1
"Bukan,aku hanya tidak ingin terikat terlalu jauh denganmu!" jelas Kiara sambil mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit.
Mendengar hal itu, Geo dengan cepat meradang. Dia bahkan tidak mengizinkan Kiara untuk menjauh darinya. Geo ingin gadis itu menerima dirinya sebagai suami sahnya.Menjalin kehidupan sehari bersama-sama yang bahagia layaknya suami istri.
"Kiara dengarkan aku!" ucap Geo sambil memegang kedua pipi Kiara. Agar gadis itu melihat kedua matanya juga.
"Aku akan semakin memasuki hidupmu, meski kamu tidak mau. Aku merasa telah jatuh cinta padamu, apa kamu tidak merasakan hal yang sama?" tanya Geo pada Kiara.
"Apa? Jatuh cinta?" tanya Kiara tidak percaya. Geo menganggukkan kepalanya.
"Maaf Geo, aku butuh waktu untuk memikirkannya," jawab Kiara sambil melepaskan kedua tangan pria itu dari wajahnya. Kiara membalut tubuhnya dengan selimut lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Butiran air jatuh membasahi tubuh Kiara. Merasakan setiap bintik air membersihkan tubuhnya. Air mata mulai turun seiring dengan air yang mengguyur wajahnya.
Dia menangis sampai sesegukan, tubuhnya bergetar. Teringat tentang semua hal.
__ADS_1
Jika di bilang Kiara tidak memiliki rasa pada Geo. Semua itu salah,dia juga merasakan hal yang sama. Tapi Kiara takut jika cintanya akan menjadi bumerang bagi dirinya suatu hari nanti.
"Aku takut kamu akan mencampakkan ku nanti, maka dari itu aku tidak ingin masuk terlalu jauh dalam hidupmu," ucap Kiara.
"Lagi pula bukan kamu yang aku tunggu," gumam Kiara.
Setelah selesai membersihkan diri. Dia kembali masuk ke dalam kamar. Geo sudah tidak tampak di atas ranjang. Mungkin pria itu kembali ke kamarnya sendiri.
Kiara membuka laci di meja tak jauh dari ranjangnya. Mengambil sebuah kalung berliontin love dari sana.
Kiara membuka liontin itu, di dalamnya ada sebuah foto masa kecilnya dengan seseorang yang masih dia tunggu sampai saat ini.
"Maafkan aku, aku tak bisa menjaga kesucian ku untukmu, dimana kamu sebenarnya?" ucap Kiara sambil memandang foto keduanya.
Anak laki-laki yang pernah mengatakan akan menikahinya saat mereka masih kecil dahulu. Dan Kiara dengan senang hati menunggunya kembali. Meski hanya janji masa kecil. Namun Kiara sangat berharap dia masih bisa bertemu dengan anak laki-laki itu.
__ADS_1
Sayangnya sudah bertahun-tahun mereka kehilangan kontak. Karena anak itu harus pergi ke luar negeri. Meninggalkan harapan kosong untuk Kiara sampai saat ini.