
Pagi ini Via bangun kesiangan. Dia harus pergi ke tempat kerja setelah kemarin hanya masuk setengah hari saja. Banyak pekerjaan yang harus dia tangani.
"Uh sial! Kenapa kesiangan lagi sih?" gerutunya. Via sebenarnya tahu alasan dia bangun kesiangan. Sebab semalam dia tidak bisa tidur. Karena ada Arfa di rumahnya.
Pria itu memang tidak tidur di ranjangnya, dia tidur di sofa ruang tamu. Namun Via juga tetap waspada padanya.
"Hei sarapan dulu!" Arfa tengah memberikan selai di roti yang dia panggang.
Via menatap heran pada pria itu. Dia sudah bangun pagi dan membuatkannya sarapan. Tapi Via tidak sempat duduk untuk melahap sarapannya.
"Aku kesiangan!" jawab Via sambil memakai sepatunya. Tampilan sederhana Via mencuri perhatian Arfa.
Meski terlihat galak dan bar-bar, nyatanya gadis itu lumayan baik juga.
Arfa mendekat ke arah Via yang tengah mengencangkan tali sepatunya.
"Nih makan!" ucap Arfa sambil menyodorkan sepotong roti yang tadi dia bakar ke arah mulut Via.
"Hah!" Via yang merespon lambat tak sempat menolak karena roti itu sudah sampai di mulutnya.
Dia lalu memegang roti itu, sebagian sudah dia gigit.
"Terima kasih, lain kali jangan lakukan ini lagi!" Via segera pergi ke tempat kerja. Arfa kembali ke meja makan,dia segera sarapan.
__ADS_1
Memperhatikan sekelilingnya, rumah milik Via lumayan besar. Namun sayangnya sedikit berantakan. Karena memang Via tak sempat membereskannya.
"Lebih baik aku merapikannya," gumamnya sambil menikmati sepotong roti miliknya.
Via segera melajukan motornya ke tempat kerja. Hari ini toko akan sangat sibuk, karena banyaknya pesanan yang di terima. Dan juga pagi ini dia harus melakukan meeting dengan Kiara.
Untungnya dia sudah terbiasa dengan kesibukan seperti ini. Via sampai di toko dua puluh menit kemudian. Ketika masuk ke dalam toko. Ternyata Kiara sudah sampai terlebih dahulu.
Via merasa malu karena dia kesiangan. Dan lebih parahnya seorang ibu hamil bisa datang lebih awal darinya.
"Mbak Kiara, maaf Via terlambat," ucapnya.
"Iya Vi, tapi tumben kamu terlambat. Terus itu kenapa mata kamu kayak mata panda? Kurang tidur?" tanya Kiara memperhatikan Via.
"Kenapa memangnya?" tanya Kiara.
"Karena ada tikus mbak di rumah, iya tikus! hehe!" Via hanya bisa mencari alasan saja. Bagaimana mungkin dia mengatakan kalau di rumahnya ada seorang pria tampan. Bisa-bisa Kiara akan salah paham padanya.
"Oh, kamu ini. Jangan malas bersihin rumah dong, biar gak ada tikus di sana," ucap Kiara.
"Iya mbak, Vi akan bersihin rumah besok," jawab Via.
"Ya udah, kita bahas masalah pesanan saya ya," ajak Kiara.
__ADS_1
"Baik mbak, ini laporannya," Via dan Kiara mulai sibuk dengan catatan pesanan yang mereka terima.Keduanya larut dalam pekerjaan masing-masing.
"Ah akhirnya selesai juga!" Kiara melemaskan punggungnya. Meski bukan pekerjaan berat, namun banyak duduk juga membuat punggungnya pegal.
"Mbak istirahat dulu saja, biar Via yang mengerjakannya," pinta Via khawatir kepada ibu hamil itu.
"Baiklah, aku serahkan sisanya padamu ya, sudah waktunya makan siang. Hari ini mbak ada janji sama suami mbak," ucap Kiara.
"Cie-cie yang makin hari makin menebar cinta, kapan Via bisa kayak kalian ya,", ucap Via iri.
"Jangan mengiri ya Vi, kamu cepetan cari pacar biar gak gigit jari terus menerus," ucap Kiara.
"Ih mbak Kiara ini, emang semudah itu apa nyari pasangan."
Via tampak cemberut mendengar nasihat Kiara.
Kiara hanya tertawa kecil melihat tingkah Via yang masih saja sama seperti dulu. Gadis yang pemberani namun juga memiliki sisi manja pada orang yang sudah mengenalnya dengan baik.
"Udah ya, mbak pergi dulu. Jaga pakaiannya baik-baik. Anggap mereka pasanganmu," ejek Kiara.
"Aaaah mbak Kiara rese deh!" teriak Via ketika Kiara mengatakannya. Gadis itu semakin cemberut.
Kiara sangat senang bisa menggoda Via. Kadang dia juga memikirkan tentang gadis itu. Apakah akan ada pria yang menyukainya. Sedangkan Via sangat garang terhadap pria.
__ADS_1