
Kiara hendak pergi ke toko pakaian miliknya. Dia meminta sang sopir untuk tidak menunggu dirinya ketika sampai di sana nanti.
"Non, beneran ini gak di tungguin, nanti kalau tuan muda marah bagaimana?" tanya sang sopir pada Kiara saat mereka sudah sampai di depan toko.
"Tidak usah pak, dia gak akan marah kok. Soalnya dia nanti yang menjemput saya," jawab Kiara dengan seutas senyum tak lepas dari sudut bibirnya.
"Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu non."
"Iya pak, hati-hati di jalan," Kiara hendak masuk ke dalam toko setelah sang sopir pergi. Namun sebelum melangkah. Seseorang pria dengan memakai masker dari samping menarik lengannya dengan pelan.
"Siapa anda?" tanya Kiara pada pria yang terlihat sudah paruh baya.
"Bisa kita bicara sebentar, saya tidak akan macam-macam dengan kamu kok," ucapnya.
Kiara sedikit waspada, dia tidak mengenali siapa pria itu.
"Bicara di sini saja!" ucap Kiara.
"Baiklah, ini untuk kamu, jika kamu bingung tunjukkan ini pada ayahmu," ucap pria itu sembari memberikan sebuah amplop sedang. Entah apa isinya, Kiara menerima amplop itu.
"Apa ini? Dan siapakah anda sebenarnya?" tanya Kiara lagi.
__ADS_1
"Suatu saat kamu pasti akan tahu siapa saya," pria itu pergi begitu saja.
"Tunggu!" Kiara hendak mengejarnya namun karena sedang hamil besar. Dia sedikit kesulitan. Sedangkan langkah kaki pria itu sangat cepat.
"Mbak Kiara!" panggil Via dari belakang wanita itu.
"Via," balasnya sambil celingak celinguk mencari keberadaan pria tadi.
"Nyari siapa sih mbak?" tanya Via penasaran.
"Oh bukan siapa-siapa kok Vi, ayo masuk ke dalam toko," ajak Kiara.
"Mbak amplop apa itu?" tanya Via.
"Entahlah, mbak juga gak tahu Vi. Tadi ada yang ngasih ke mbak."
Kiara duduk di salah satu sofa di toko itu. Membolak-balikkan amplop yang tengah dia pegang tadi.
"Coba di buka mbak?" saran Via. Kiara menganggukkan kepalanya.
Dia perlahan membukanya dan mengeluarkan isi di dalam amplop itu. Sebuah foto keluarga, Kiara mengernyitkan dahinya melihat foto itu.
__ADS_1
"Foto siapa itu mbak?" tanya Via yang ikut penasaran.
"Mbak juga gak tahu,tapi kok kayak tidak asing ya?" Kiara mencoba mengingat-ingat siapa anak gadis yang berada di gendongan wanita di foto itu.
"Kok mirip mbak Kiara ya?" celetuk Via setelah memperhatikan foto itu.
"Eh iya, kenapa mirip masa kecilku?" ucap Kiara membenarkan.
"Jangan-jangan itu saudara kembarnya mbak Kiara?" tebak Via.
"Gak mungkin Vi, mbak anak sulung satu-satunya, sedangkan Rena adik beda ibu sama mbak."
"Benar juga, apa tidak ada pesan yang tertulis di dalam amplopnya mbak?" tanya Via.
"Entah, coba mbak lihat," Kiara kembali memeriksa isi amplop di pangkuannya itu. Tak ada lagi petunjuk, hanya ada sebuah cincin kecil dengan ukiran khusus di dalam sebuah kotak perhiasan kecil.
"Cincin?" Via ikut penasaran maksud dari foto dan cincin itu.
"Sudahlah, mbak gak mau mikir aneh-aneh. Biarin aja, nanti juga orang itu pergi,tidak mengganggu mbak lagi," Kiara tak mau berfikir yang tidak-tidak untuk saat ini.
Lebih baik mempersiapkan kebutuhan bayinya dahulu. Sebentar lagi sudah waktunya dia akan lahir ke dunia ini.
__ADS_1