Suami CEO

Suami CEO
Harus Kembali


__ADS_3

Via mencari Arfa ke kamar dan juga toilet rumahnya. Namun tak ada pria itu di sana.


"Kemana dia? Bukankah hari ini libur kerja?" gumam Via.


Dia ingin mengajak pria itu makan bersama karena kebetulan dia telah selesai memasak pagi ini.


"Eh itu dia?" Via tak sengaja melihat Arfa di luar rumah dari jendela.


"Siapa pria berbaju hitam itu?" gumamnya lagi. Arfa sedang bertemu dengan sopir pribadi keluarganya. Yang tengah memberi kabar bahwa mama pria itu sedang sakit dan meminta Arfa untuk kembali.


Via lalu keluar dari rumahnya tanpa Arfa tahu.


"Tuan muda, tolong kembali lah. Nyonya sedang sakit dan membutuhkan anda!" pinta pak An.


"Apa yang pak An benar atau hanya candaan dari mama saja?" tanya Arfa, karena mamanya sering melakukan hal seperti itu. Membohongi Arfa agar pria itu segera pulang ke rumah.


"Benar tuan muda, nyonya sedang berada di rumah sakit sekarang," jelasnya lagi.


"Tuan muda?" dari belakang Arfa, Via tiba-tiba muncul.


Arfa terkejut mendengar suara gadis itu.

__ADS_1


"Via?" Arfa tampak gugup karena gadis itu sudah mengetahui siapa dirinya.


"Jadi kamu sudah bertemu dengan keluargamu?" tanya Via.


"Maaf nona, tuan muda kami harus segera kembali. Tolong tuan muda, pikirkan kesehatan nyonya," pak An memohon kembali.


"Baik pak An, sebaiknya pak An kembali dulu. Jaga mama, aku akan ke sana nanti. Ada urusan yang harus aku selesaikan dulu," pinta Arfa.


"Baik tuan muda, nanti telepon saja saya. Akan saya jemput anda," ucapnya lalu pamit pergi.


Setelah pak An pergi, Arfa menatap serius Via.Begitu juga sebaliknya.


"Bagus lah kalau kamu sudah bertemu dengan keluargamu. Rumahku akan lebih longgar tanpa kamu!" cetus Via.


"Cepatlah pergi dari rumahku!" usir Via, dari dalam hatinya sebenarnya ada yanng membuatnya berat. Entahlah dia seperti tidak rela melepaskan pria itu.


Padahal hanya beberapa minggu saja mereka hidup satu atap. Tapi ada rasa aneh saat Arfa sudah bertemu dengan keluarganya.


Via segera berbalik badan,hendak masuk ke dalam rumah.


"Apa kamu tidak rela aku pergi?" tanya Arfa. Seketika langkah Via terhenti.

__ADS_1


"Rela, aku sangat rela!" jawab Via.Tanpa memandang wajah pria itu. Kemudian dia segera berlari ke dalam rumah. Menutup pintu rumah dan berlari ke kamarnya.


Di dalam kamar, Via mengunci diri. Duduk termenung di sudut kamar. Memikirkan beberapa hari ini hubungan keduanya.


"Kamu kenapa sih Vi? Dia hanyalah orang lain di rumah ini. Seharusnya kamu senang dia pergi," batin Via.


Sudut matanya mulai memerah, dia bukanlah gadis cengeng. Tapi entah mengapa dia ingin menangis pagi ini.


Hingga malam gadis itu tidak keluar dari kamarnya. Hari libur kerjanya dia sia-sia kan begitu saja.


Arfa yang berada di luar kamar, tak ingin mengganggunya. Dia telah membuatkan makan malam gadis itu. Dan menaruh selembar catatan tentang dirinya.


Dia harus pergi malam ini ke rumah sakit. Dan mungkin setelah hari ini, keduanya tidak akan bertemu. Arfa ingin berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Namun sayangnya Via tak mau keluar dari kamarnya.


"Via! Makanlah dulu!" Arfa mencoba membujuknya. Dia mengetuk pintu kamar gadis itu. Namu tak ada jawaban,sepertinya gadis itu ketiduran.


Arfa hanya bisa menghela napas panjang. Dia tak bisa berbicara dengan Via malam ini.


"Maaf aku harus pergi! Mama aku sedang membutuhkanku," batin Arfa merasa bersalah.


Setelah meninggalkan catatan kecil di meja makan. Arfa segera pergi, di luar rumah pak An sudah menunggunya.

__ADS_1


Sedangkan Via memang tengah ketiduran karena lelah menangis. Gadis itu tidak tahu bahwa Arfa sudah pergi dari rumahnya.


__ADS_2