
Kiara mempercepat langkahnya agar segera sampai di pintu utama rumah mereka. Suara bel berulang kali terdengar membuat telinganya risih.
"Siapa sih pagi-pagi bertamu?" gumam Kiara merasa terganggu dengan tamu pagi harinya.
Gagang pintu sudah Kiara putar. Tepat ketika pintu terbuka. Sosok wanita dewasa berdiri di sana. Kiara memperhatikan wanita itu dari ujung kaki ke ujung kepala.
Sangat cantik, tapi Kiara tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya.
"Maaf cari siapa ya?" tanya Kiara.
"Apa ini benar rumahnya....?" belum selesai wanita itu bertanya. Geo yang tadi mengikuti Kiara keluar dari dalam rumah. Dia berdiri di belakang Kiara.
"Siapa yang datang Kiara?" tanya Geo sebelum melihat tamu mereka.
Wanita yang berdiri di depan Kiara tersenyum senang. Dia berlari ke arah Geo yang baru melihatnya. Dan memeluk pria itu begitu saja.
Kiara berbalik untuk melihat adegan pelukan itu. Dia terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Kamu!" Geo juga terkejut, tapi dia lebih terkejut saat melihat raut wajah Kiara yang tidak bersahabat itu.
"Geo aku kangen banget! Kenapa sih tidak menjawab teleponku?" tanya wanita itu.
__ADS_1
Geo segera melepaskan pelukan dari wanita cantik di depannya. Namun wanita itu seolah enggan untuk berpisah.
"Alina lepas!" paksa Geo sambil mendorong tubuh Alina.
Kiara terdiam sambil menahan sesuatu di hati melihat keduanya.
"Aku permisi dulu!" ucap Kiara melangkah pergi meninggalkan Geo dan Alina.
Geo tahu apa yang tengah Kiara rasakan. Pria itu ingin mengejar Kiara yang masuk ke dalam rumah.
"Kamu mau kemana?" tahan Alina memegang tangan Geo.
"Lepaskan aku! Kamu sebaiknya pulang!" ucap Geo kesal.
"Pergilah, jangan lagi mengatakan tentang masa lalu!" Geo tidak memperdulikan ucapan Alina, saat ini yang ada dalam pikirannya adalah Kiara.
"Siapa gadis itu? Apa karena dia?" tanya Alina penasaran.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Geo. Dia segera melangkah ke dalam rumah dan menutup pintunya. Alina mengejarnya namun tak bisa masuk karena Geo mengunci pintu.
"Geo! Buka pintunya! Aku ingin bicara banyak hal!" teriak Alina sambil memukul pintu.
__ADS_1
Namun Geo tidak perduli,dia segera berlari ke kamar Kiara.
"Kiara!" panggilnya sambil mengetuk pintu kamar gadis itu. Namun tak ada jawaban.
"Kiara!" ulangnya lagi.
Klek.
Pintu kamar terbuka, tampak Kiara tengah mengikat rambutnya.
"Ya kenapa Geo?" tanya Kiara tenang.
"Ah itu,apa kamu baik-baik saja. Maksudku kamu marah?" tanya Geo hati-hati dan juga terasa canggung.
"Marah? Kenapa aku harus marah?" tanya Kiara balik.
"Aku pikir kamu marah, tentang wanita tadi dia hanya...," ucapan Geo terpotong oleh Kiara.
"Tunangan kamu yang sesungguhnya kan?" ucap Kiara. Geo terkejut bagaimana bisa Kiara mengetahui tentang Alina. Sedangkan dia tidak pernah menceritakan tentang wanita itu.
"Aku tahu dari kakek, kamu tenang saja. Aku tidak marah, lagi pula seharusnya dia yang menjadi istrimu saat ini," ucap Kiara masih tenang.
__ADS_1
"Jangan bahas dia lagi, tolong buatkan sarapan untuk kita!" pinta Geo melihat Kiara yang biasa-biasa saja pada sikapnya. Geo terlalu berpikir berlebihan. Mengira Kiara akan cemburu saat dirinya di peluk oleh wanita lain. Ternyata gadis itu masih bisa bersikap biasa saja.
"Baiklah, aku akan membuatkannya," jawab Kiara.