
Mobil Arman melaju di jalanan menuju ke tempat tinggal Arin. Pria itu berharap tidak terlambat untuk menghentikan Arin menikah dengan orang lain.
Di belakangnya,mobil milik Geo mengikuti. Geo, Kiara dan juga Via ada di dalam mobil itu, beserta sopir pribadi mereka.
"Menurut mbak Kiara? Apa Arman akan serius dengan Arin kali ini?" tanya Via.
"Mbak harap begitu Vi, mbak tahu bagiamana perasaan Arin saat ini."
Di tempat lain, Arin menatap dirinya di cermin dengan sedih. Pagi tadi dia hampir kehilangan bayinya, untung saja pria yang akan menikahi dirinya menghentikan keinginan kedua orang tua Arin.
Pria bernama Rangga dengan senang hati mau menerima calon bayi di dalam perutnya. Meski pun Arin tak memiliki perasaan apapun pada pria itu.
"Seandainya ayahmu tidak mengabaikan mu nak, mungkin kita akan hidup bahagia bersama," gumam Arin sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Di balik pintu, Rangga mendengar apa yang di ucapkan oleh Arin. Dia kasihan pada wanita itu, ketika hamil tak di hiraukan oleh lelaki yang telah menodainya.
Rangga lalu mengurungkan niatnya untuk menghampiri Arin. Dia akan meminta kedua orang tua Arin untuk menjemputnya saja. Karena sebentar lagi pernikahan mereka akan di mulai.
Arman menambah laju mobilnya, dia takut tak akan sempat menghentikan pernikahan itu.
Tepat di depan rumah milik Arin, para tamu sudah berkumpul di sana. Mereka bersiap untuk menyaksikan akad nikah. Sedangkan pada anggota keluarga sudah berada di dalam rumah. Menantikan pengantin perempuan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Saat langkah Arin mulai terlihat di balik pintu kamar. Rangga menatap takjub pada calon istrinya itu. Arin sangat cantik dengan kebaya putih yang dia kenakan.
"Silahkan duduk nak Arin," pinta pak penghulu pada Arin.
"Baik pak," jawab Arin, ekor matanya tak berhenti menatap ke arah luar rumah. Seolah berharap seseorang datang untuk dirinya.
"Bagaimana? Kalian sudah siap nak?" tanya penghulu di depan mereka.
"Sudah pak," jawab Rangga, namun tidak dengan Arin. Dia masih sibuk menengok ke arah luar. Dia tidak mendengarkan pertanyaan dari pak penghulu.
"Arin," ibu dari Arin menyenggol putrinya agar fokus pada pernikahan ini.
"Baiklah kalau begitu acara kita mulai sekarang ya," penghulu itu menjabat tangan Rangga. Dia harus segera mengucapkan ijab qabulnya.
"Bagaimana para saksi?Sah?" tanya pak penghulu ketika Rangga telah menyelesaikan kalimat ijabnya.
"Tidak sah!" sebuah suara lantang tiba-tiba menghentikan acara sakral itu.Dari arah pintu utama,Arman masuk tanpa memperdulikan pandangan orang-orang pada dirinya.
"Pernikahan ini tidak sah! Karena Arin sedang mengandung anakku!" ucap Arman.
Arin terkejut dengan kedatangan Arman yang tiba-tiba. Terlihat di belakangnya ada Kiara, Geo dan Via yang menyusul.
__ADS_1
"Kamu siapa? Jangan merusak acara anak saya ya?" tanya bapaknya Arin.
Arman tiba-tiba berlutut di depan ayahnya Arin.
"Saya Arman pak, saya yang akan menikahi Arin. Dia akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Tolong restui lah kami."
Sang ayah menatap wajah Arin. Meminta penjelasan dari anak perempuannya itu.
"Arin apa benar dia pria itu?" tanyanya.
"I-iya pak," jawab Arin takut.
"Berdirilah!" pinta sang ayah pada Arman.
Arman menuruti keinginannya, namun sang ayah langsung menampar wajah Arman. Menyalurkan kekesalan seorang ayah karena putrinya harus rusak dan malu atas perbuatannya.
"Bapak!" Arin berteriak histeris melihat Arman di tampar.
"Silahkan pak, berapapun bapak menampar saya. Saya siap, saya tahu saya salah. Tapi sebelum semuanya terlambat, saya akan tetap menikah dengan Arin." Arman tidak peduli seberapa sakit tamparan itu. Dia harus bertanggung jawab pada Arin.
Rangga hanya bisa diam, menyaksikan kisah cinta calon istrinya itu. Sebenarnya dia juga sangat mencintai Arin terlepas dia tengah mengandung anak dari pria lain. Rangga tidak peduli.
__ADS_1