
Beberapa bulan berlalu setelah Arin dan Arman menikah. Kiara juga menikmati masa-masa kehamilannya. Wanita itu tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Tak lagi bekerja di perusahaan, namun sesekali Kiara pergi ke toko miliknya. Melihat perkembangan bisnis yang mulai memiliki cabang di berbagai daerah itu. Dan Via sebagai manager utamanya. Kiara mempercayakan bisnisnya pada wanita itu.
Sedangkan Arin belum bisa bergabung karena dia juga tengah hamil. Arman melarangnya untuk terlalu lelah setelah mereka bersama.Pria itu bertanggung jawab sepenuhnya pada Arin.
Siang ini Via ingin membeli sesuatu. Ketika di jalanan sepi, dia melihat sesuatu yang aneh. Empat pria tampak seperti preman sedang mencoba menganiaya seorang pria.
"Haih kenapa harus siang bolong sih!" gerutu Via. Dia amat sangat membenci jika ada orang yang main keroyokan seperti itu. Menindas seseorang yang lemah.
"Bukan urusanku, lebih baik aku putar balik saja!" Via memutar arah motornya. Namun baru beberapa meter melaju.Via kembali memutar arah ke jalan yang tadi.
"Bantu, ya bantu saja lah. Tidak usah takut!" ucapnya pada diri sendiri.
Via melajukan motornya dengan kencang ke arah segerombolan preman itu.
"Ada polisi!" teriak Via sambil menunjuk ke arah belakang.
Para preman tadi berhenti memukuli pria itu. Mereka seketika melihat ke arah yang di tunjuk oleh Via. Benar saja memang ada mobil polisi di ujung jalan.
Via memang sudah tahu akan ada polisi yang lewat. Dia sering melewati jalanan itu, makanya dia hafal kapan polisi akan berpatroli.
"Sial! Kenapa ada polisi segala!" kesal salah satu dari preman itu.
__ADS_1
"Cepat pergi!" ajak yang lain. Mereka segera menaiki motornya dan pergi meninggalkan pria tadi.
Via menghentikan laju motornya, dia segera turun untuk melihat keadaan pria yang kini terduduk di atas jalan beraspal itu.
"Hei! Kamu baik-baik saja kan?" tanya Via.
"Ya, terima kasih sudah menolong!" jawab pemuda itu sambil menahan sakit. Di sudut bibir darahnya mengalir. Begitu pula hidungnya pun terluka.
"Kalau begitu aku pergi dulu!" Via hendak berdiri untuk kembali ke motornya.
"Tunggu!" pria itu menahan lengan Via. Membuatnya harus terduduk kembali.
"Kenapa lagi? Mereka sudah pergi, kamu sekarang sudah bebas," ucap Via.
"Tolong bawa aku pergi!" ucap pria itu.
"Wajahnya sih lumayan tampan. Tapi jangan-jangan dia orang jahat?" batin Via curiga.
Belum juga pria itu menjawab, tiba-tiba dia jatuh pingsan. Via panik, karena pria itu jatuh ke tubuhnya. Dia dengan sekuat tenaga harus menopangnya.
"Astaga, mimpi apa aku semalam. Ketemu orang super merepotkan seperti ini!" gumam Via kesal.
Dia melihat ke sekelilingnya, tak ada orang ataupun kendaraan yang melewati jalanan itu. Hanya ada mereka berdua saat ini.
__ADS_1
Dengan sisa tenaganya, Via menarik tubuh pria itu ke atas motornya.
"Duh jatuh nggak ya?" gumamnya ketika sudah berhasil naik ke atas motor.
"Terpaksa deh! Harus gini!" Via membiarkan punggungnya sebagai sandaran bagi pria yang tidak dia kenal itu.
Dengan laju pelan,dia mengendarai motor miliknya. Jalanan siang itu benar-benar sepi. Via kebingungan harus membawa pria itu kemana. Sedangkan jarak ke rumah sakin begitu jauh.
"Lebih baik bawa ke rumah dulu saja. Biarkan dia siuman baru memeriksakannya ke rumah sakit," gumamnya lagi.
Via lebih memilik ke rumahnya karena jarak mereka lebih dekat dari pada ke rumah sakit. Dia tidak bisa bertahan lama jika harus menahan berat badan pria yang jelas-jelas lebih besar darinya itu.
"Awas kamu! Berhutang budi padaku!" gerutunya lagi.
Via sampai di depan tempat tinggalnya. Dia kembali menyeret tubuh pria itu. Dengan susah payah, akhirnya dia bisa membaringkannya di atas ranjang miliknya.
"Huft! Capeknya!" Via ikut terbaring di samping pria itu. Rasa lelah sangat dia rasakan kali ini.
"Kenapa belum sadar juga ya? Jangan-jangan dia meninggal!" Via mulai khawatir jika hal buruk terjadi. Bukankah dia akan menjadi tersangka jika ada yang meninggal di rumahnya.
"Oh tidak, jangan sampai!" Via segera bangun dan memeriksa jantung pria itu. Dengan menempelkan telinganya di dadanya.Lalu berpindah ke hidung, memeriksa masih bernafas atau tidak.
"Untungnya masih hidup!" ucapnya lega.
__ADS_1
"Sepertinya lukanya sedikit serius. Aku bersihkan dulu saja. Barangkali nanti bisa cepat sadar," Via mengambil peralatan pertolongan pertamanya.
Membersihkan luka-luka di wajah dan tubuh pria itu. Lalu mengobati dan membalutnya dengan hati-hati.