Suami CEO

Suami CEO
Terlambat


__ADS_3

Sudah satu bulan sejak Arman berkunjung ke tempatnya bekerja. Arin hampir di buat pusing oleh pria itu. Arman sering memintanya untuk bertemu. Sedangkan tidak mungkin jika Arin membawanya ke tempat kerja terus menerus.


Arin takut Via akan mencurigainya. Dia belum siap bercerita pada sahabatnya itu.


"Rin, makan dulu yuk!" ajak Via.


"Iya, udah beli makanannya?" tanya Arin.


"Udah ini!" Via menunjukkan sekantong berisi beberapa bungkus makan siang mereka.


Ketika hendak mengambil makanan, lonceng di toko itu berbunyi. Tanda ada yang masuk ke dalam toko.


Arin dan Via menatap ke arah pintu. Rupanya yang datang adalah Kiara. Keduanya tampak begitu senang melihat wanita itu tiba siang ini.


"Mbak Kiara?" Via berlari kecil ke arah Kiara. Merangkul manja wanita itu, sambil sesekali menengok ke arah luar pintu. Seperti tengah mencari seseorang.


"Iya Via, jangan manja gini dong," ucap Kiara melihat tingkah manja pegawainya itu.


"Abis udah lama gak lihat mbak Kiara ke sini sih," balasnya.


"Oh iya mbak sendirian, tidak di antar sama mas Geo?" tanya Via lagi.


"Iya mbak sendirian aja,dia lagi sibuk di kantor deh Vi," jawab Kiara.

__ADS_1


"Gitu itu ya mbak. Oh iya kita mau makan siang nih. Mbak Kiara udah makan belum?" tanya Via sambil menggandeng Kiara menuju ke kursi yang ada Arin di sana.


"Udah, mbak udah makan. Kalian aja, sana makan dulu!" jawab Kiara.


"Ya udah kalau begitu, kita makan dulu ya mbak?" Via dan Arin segera membuka makanannya.Namun tiba-tiba Arin merasa mual mencium bau makanan yang baru saja di buka olehnya.


Dia segera berlari ke toilet di toko itu. Via dan Kiara saling memandangnya. Apa yang tengah terjadi pada Arin.


Via dan Kiara segera mengikuti Arin ke toilet. Di sana Arin tengah memuntahkan sesuatu. Namun pintu toilet telah ditutup oleh gadis itu.


"Arin kamu baik-baik saja?" tanya Kiara.


"Iya Rin, kamu sakit ya?" tanya Via juga.


Beberapa detik kemudian, Arin keluar dengan wajah pucat. Via dan Kiara semakin khawatir melihatnya.


"Kamu sakit?" tanya Kiara sambil membantu memapah Arin.


"Tidak kok mbak, cuma masuk angin mungkin," jawab Arin dengan suara pelan.


"Kamu yakin?" tanya Kiara.Arin menganggukkan kepalanya.


"Ya udah kamu ambil cuti dulu deh Rin, istirahat di rumah. Biar Via yang handel sementara."

__ADS_1


"Iya Rin, aku bisa kok handel sendiri," ucap Via.


"Iya mbak, Arin minta maaf ya pulang duluan," pamit Arin.


"Iya gak apa-apa kok, mbak antar ya?"


"Tidak perlu mbak, Arin naik taksi aja."


Arin merasa tak enak jika harus merepotkan Kiara. Wanita itu tengah hamil muda. Arin takut membuat masalah bagi Kiara nantinya.


"Ya udah hati-hati ya Rin," ucap Kiara. Arin menganggukkan kepala.


Setelah itu Arin pamit pulang terlebih dahulu. Untungnya segera ada taksi di depan toko mereka. Arin tidak perlu menunggu lama.


Ketika di dalam taksi, Arin tengah kepikiran sesuatu. Sudah satu bulan lebih dia belum juga datang bulan seperti biasanya.


"Jangan-jangan aku,,," tebak Arin di dalam hatinya merasa ketakutan.


Sebelum tiba di tempat tinggalnya, Arin terlebih dahulu berhenti di apotik. Dia ingin membeli sesuatu.


"Mau cari apa kak?" tanya pegawai di sana.


"Saya mau beli testpack kak," jawab Arin malu-malu. Dia takut jika sampai ada yang melihatnya membeli barang itu saat dirinya belum menikah.

__ADS_1


Setelah selesai membelinya, Arin segera kembali ke taksi yang tadi dia tumpangi. Dia ingin segera sampai di kostannya.


__ADS_2